Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Istimewa


__ADS_3

Tia bergegas sembunyi untuk menghindari Ilona. Ia pun memberi isyarat pada rekan-rekan yang sedang menunggunya itu untuk diam.


Ilona bangkit dan menyibak kerumunan wartawan di depannya. Matanya nanar menyapu pandang ke seluruh area itu.


"Kalian ada yang liat cewek selain wartawan, yang ikut berdiri di sini enggak barusan?" seru Ilona, bertanya pada para wartawan.


Mereka semua justru celingukan dan saling tatap, karena terlalu fokus pada Ilona hingga tak mengacuhkan sekitar.


Ilona berdecak kesal, ia pun melihat ke arah foodcourt. Dengan langkah cepat, ia bergegas menghampiri Tami dan kawan-kawan yang memang saat itu hanya ada mereka di area foodcourt.


"Sori, siapa di antara kalian yang barusan panggil nama 'Tia'?" Ilona bertanya dengan tatapan penuh selidik ke arah Tami dan lainnya.


"Euh? Tia? Ng ... enggak ada kok, Mbak salah denger kali." sahut Tami.


"Pendengaran saya masih normal! Saya jelas banget denger ada yang panggil nama 'Tia' barusan." tukas Ilona.


"Kalo enggak percaya sama kita ya udah! Lagian kalo emang kita manggil nama Tia, apa urusannya sama Anda?? Belum tentu juga Tia yang kita panggil itu orang yang Anda maksud! Maaf Mbak, kita mau pada makan nih!" tukas Jeni, mengeluarkan jurus juteknya.


"Kalian enggak kenal siapa saya??"


Jeni dan kawan-kawannya hanya menatap datar ke arah Ilona, kemudian tak mempedulikannya.


"Eh, kita mau pesen menu yang mana nih?" tanya Teguh, mengalihkan pembicaraan.


"Gue mau tongseng deh!" celetuk Jeni.


Mereka sengaja berlagak seakan tak ada Ilona di depan mereka. Dengan sangat kesal, Ilona berkacak pinggang dan kembali bersuara.


"Dasar orang-orang enggak jelas! Ditanyain malah ngobrol sendiri!" umpat Ilona seraya balik badan dan menjauh.


Jeni dan Tami kompak bertingkah seakan sedang mengusir sesuatu sambil bersuara, "Hush, hush, hush!!"


"Sst, Tia kenapa musti ngumpet sih? Emang ada apa?" bisik Gugun pada Teguh.


Teguh hanya mengangkat bahu, matanya pun terus membuntuti sosok Ilona untuk memastikan sang artis sudah tak ada lagi di area itu.


Setelah suasana kembali kondusif karena Ilona dan para wartawan sudah bubar, Tia akhirnya keluar dari persembunyian lalu menghampiri teman-temannya.


"Sori-sori, aku jadi bikin kacau." ucap Tia tergesa dan agak lirih sembari duduk di antara Tami dan Teguh.


"Ya udah makan nih, Ti. Entar keburu adem lho." ujar Tami.


"Kamu kenapa ngumpet, Ti? Emang kamu ada masalah sama artis songong itu?" tanya Jeni, kemudian menyuap sesendok nasi dengan lauk tongseng ke dalam mulutnya.


"Hmmm ... sebenernya aku udah beberapa kali ketemu sama dia, dan dari awal ketemunya udah enggak enak gitu." sahut Tia.

__ADS_1


"Tapi jujur ya, gue sih bersyukur bos muda enggak lanjutin hubungan sama dia." celetuk Gugun.


"Kenapa Gun? Biar lu bisa gaet tu cewek?" ledek Jeni.


"Bukan ... gue juga kan cowok, kalo ada cewek karakternya begitu ya ... ogah banget deket-deket, apalagi sampe hubungan serius." papar Gugun.


"Oh ... kirain! Ya udah yuk makannya buruan, jangan sampe kemaleman. Kasian yang nungguin di rumah." ujar Jeni.


Semuanya kembali menyantap makanan yang terhidang sampai habis. Tami, Tia dan Gugun kembali berbincang ringan setelah makan. Sedangkan Jeni dan Teguh menuju kasir untuk melakukan pembayaran, maklum ... karena mereka lah yang mengajak rekan divisinya sebagai bentuk syukuran sederhana atas kenaikan jabatan mereka.


*


Di kediaman Erlangga


Igan terduduk di ranjang dalam kamarnya, ia kembali termenung karena Jio baru saja mengabarkan pihak instansi yang menjadikan Igan sebagai duta di bidang pendidikan dan moralitas, tiba-tiba memutuskan kontrak secara sepihak.


Mereka menilai jika Igan sudah menyalahi aturan sebagai duta mereka, karena terlibat sebuah kasus yang bertentangan dengan moral dan aturan di masyarakat.


Ia kembali teringat ketika Jio meneleponnya.


"Bro, instansi yang jadiin lu duta buat mereka barusan mutusin kontrak. Katanya kasus lu yang diduga hamilin cewek itu udah melanggar aturan." ujar Jio via ponsel.


"Hah?? Astagfirullah ... Ta-tapi kan itu baru dugaan Bro, lu enggak bilang sama mereka? Orang gue aja enggak kenal dan enggak ngerasa berbuat kok!" seru Igan.


"Udah Bro, gue udah detil banget ngasih tau ke mereka. Tapi mereka enggak mau tau, mereka enggak mau citra instansi mereka jadi rusak kalo terus pake lu jadi duta buat mereka."


"Sabar Bro, kita juga enggak bisa salahin mereka Yang harus kita salahin itu yang bikin berita, soalnya udah tega fitnah orang!"


Igan tersentak ketika lamunannya dibuyarkan oleh dering ponselnya yang kembali berbunyi.


"Ck, ada berita apaan lagi nih Jio nelepon gue?!" gerutunya seraya berdecak lirih. tanpa menoleh ke arah ponselnya.


Ia langsung menekan simbol telepon warna hijau pada layar ponsel yang masih dalam genggamannya, kemudian menempelkan benda canggih itu di telinga kirinya, lagi-lagi tanpa melihat ke layar.


"Ya Bro, ada berita apaan lagi? Biar gue tampung sekalian deh malem ini!" ujar Igan melalui ponselnya.


"Hmmm ... assalamu'alaikum, Mas Igan?" sapa si penelepon, seorang perempuan.


Igan terhenyak, matanya menatap lurus tanpa berkedip beberapa detik dengan kedua alis yang kompak berkerut.


Kok cewek? Gue kirain si Jio! batin Igan.


Ia pun bergegas melihat layar ponselnya untuk memastikan siapa yang sedang menelepon.


Matanya kontan membulat, napasnya tertahan beberapa saat ketika melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


"Tia?" gumamnya.


"Iya, Mas. Maaf, saya ganggu ya?" sahut Tia.


"Oh, ng ... enggak kok, enggak! Sa-saya kaget aja tadi, kirain Jio manajer saya yang telepon lagi." timpal Igan, gugup.


"Oh gitu ... Mas Igan udah mau istirahat ya?"


"Enggak Ti, belum kok. Lagi ...."


"Lagi apa, Mas?"


"Lagi ngelamun aja, maklum lagi banyak pikiran nih. Eh, kamu ... tumben nelepon saya? Kenapa Ti, kangen ya?" ujar Igan, kemudian mulai meledek Tia.


Tia terdengar tertawa kecil kemudian menjawab, "Saya cuma mau kasih dukungan buat Mas Igan, supaya tetap kuat dan jaga kesehatan."


"Oh ... kalo itu sih iya, insyaa allah saya akan tetap jaga kesehatan dan jaga kewarasan kok."


"Alhamdulillah kalau begitu. Ya udah, saya tutup dulu ya Mas teleponnya? Biar Mas Igan bisa istrahat yang nyenyak."


"Eh ... janganTi, nanti dulu!" Igan mencegah Tia menutup teleponnya.


"Kenapa Mas?"


"Kamu ... mau kan sering ngobrol sama saya?" tanya Igan dengan malu-malu.


Tia terdiam sejenak, ia sedang berusaha sebisa mungkin agar tidak terbawa perasaan. Ia cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih pada sosok Igan.


"Halo, Ti? Kamu masih denger saya?" tegur Igan, panik.


"Hmmm ... iya Mas, mau kok. Asal jangan pas lagi jam kerja aja ngobrolnya, takut dimarahin sama ayahnya Mas Igan."


"Oh ... iya, kita ngobrolnya kalo pas sama-sama senggang aja, Ti."


"Ya udah Mas, oke kalo begitu. Saya tutup dulu ya teleponnya?"


"Ya udah Ti, enggak apa-apa tutup aja teleponnya." sahut Igan.


Asal kamu jangan nutup pintu hati buat saya, Tia. batin Igan, karena tak berani menggombal secara blak-blakan pada Tia.


"Ya udah Mas Igan istirahat ya? Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Percakapan berakhir, namun suasana hati Igan mulai berubah. Entah kenapa, jika ia mendengar suara Tia atau bertemu dengannya, ia merasakan tenang dan nyaman. Segudang beban yang sedang mendera batinnya seolah menguap begitu saja.

__ADS_1


Bagi saya, kamu memang istimewa Tia ....


****


__ADS_2