
Tia membuka aplikasi chatting di ponselnya dan tampak beberapa pesan yang belum terbaca. Namun mata dan hatinya sontak tertuju pada kontak milik Igan, walaupun tak tampak ada pesan baru yang belum ia baca.
Jari lentiknya langsung menekan nama kontak Igan di kolom chat dan muncullah pesan dari pemuda tampan itu.
[ Ti, maaf saya enggak bisa jengukin kamu malam ini. Badan saya lagi manja, minta istirahat lebih. Tapi besok atau lusa, saya bakal ke sana dan jagain kamu lagi. Cepet sembuh ya, Ti? Maafin saya, sudah buat kamu jadi sasarannya Yongki. ]
Mata Tia langsung fokus pada nama Yongki, dan itu sudah cukup menjawab pertanyaan atas mimpinya soal permintaan Maya.
"Jadi bener, pelakunya itu Yongki anaknya Bu Maya?? Pantesan dia dateng dan minta gue biar maafin anaknya!" gumam Tia.
Beberapa detik kemudian, ia kembali tersadar jika pesan chat dari Igan itu sudah terbaca dan jelas bukan dia yang membaca pertama kali.
Tia menoleh ke arah Hendra yang sudah kembali lelap, sambil bersedekap dan duduk di atas kursi.
Chat dari Mas Igan ini udah kebaca, padahal gue baru pegang HP sekarang. Berarti ... Kak Hendra udah baca duluan, tapi enggak kasih tau gue. batinTia.
Tia pun membalas pesan tersebut walaupun ia yakin jika Igan pasti tidak akan langsung membacanya, karena sudah tertidur.
[ Iya Mas, enggak apa-apa. Mas Igan enggak usah kuatir, kan ada Kak Hendra di sini. Mas Igan jaga kesehatan juga ya? Jangan lupa doain saya, biar cepet sehat lagi. ]
-Terkirim-
Saat Tia hendak menutup aplikasi itu, tiba-tiba tanda double centang sebagai tanda pesan sudah diterima, berubah warna menjadi biru yang artinya pesan tersebut sudah dibaca oleh si penerima.
"Lho, Mas Igan belum tidur, apa kaget denger HP nya bunyi??" celetuk Tia, lirih.
Ia segera menatap layar ponselnya dan benar saja, ada tulisan 'sedang mengetik' di bawah nama kontak dalam halaman chat itu.
[ Kamu enggak tidur, Ti? ]
Tia tersenyum membaca pesan dari Igan, lalu mereka pun mulai saling berkirim pesan.
[ Kebangun, Mas. Belum bisa tidur lagi. Mas Igan kok belum tidur jam segini? ]
[ Sama, kebangun juga inget kamu. ☺]
Hati Tia makin berbunga-bunga, bibirnya tak henti melengkungkan senyuman manis.
[ Malem-malem dilarang ngegombal, Mas. Udah tidur aja, besok kan kerja. ]
[ Iya, nanti kalo kamu udah tidur. ]
[ Ya udah ni saya mau tidur lagi. Mas Igan tidur juga ya? ]
[ Bener kamu mau langsung tidur lagi? M**ana coba**?? ]
Tia berusaha tak membalas chat dari Igan supaya dikira ia sudah mulai memejamkan mata.
Selang beberapa waktu kemudian ponselnya kembali menyala, dan muncul sebuah notifikasi pesan dari Igan. Tia yang memang belum bisa kembali tidur akhirnya membuka pesan tersebut.
[ Tuh kan kamu belum tidur?? Buktinya masih baca pesan ini, hehehe ]
Senyuman Tia makin mengembang kala membacanya. Ia membayangkan jika Igan yang langsung bicara begitu padanya.
__ADS_1
[ Ya udah deh, hitungan ketiga kita sama-sama matiin HP ya? ]
[ Oke ]
[ 1, 2, 3 ]
[ Good night Tia, mimpiin saya ya? ]
[ Mimpi apa? ]
[ Mimpiin saya jadi imam kamu, hehehe ]
[ Oh, cuma mimpi? ]
[ Emang kamu mau beneran?? ]
Tia mendadak salah tingkah, ia merasa terjebak oleh ucapannya sendiri.
Aduh, gue musti balesin apa nih?? Pake keceplosan lagi nih jari! batin Tia.
Belum juga Tia mendapatkan ide untuk membalas chat dari Igan, ternyata sebuah chat dari Igan sudah kembali masuk.
[ Ya udah deh Ti, kamu tidur aja. Cepet sehat ya ]
Balasan dari Igan itu menyiratkan kekecewaan karena Tia belum juga membalas pesannya.
Kayaknya Tia memang enggak ada hati sama gue, buktinya ... gue kasih kode begitu dia enggak respon! pikir Igan.
Igan menarik selimut, meletakkan ponselnya di atas meja kecil, lalu mulai memejamkan mata. Namun, yang ada dalam benaknya hanya senyum manis sang gadis pujaan, Tia.
Gue enggak boleh baper sama ucapan-ucapannya Mas Igan, dia emang orang yang supel dan ramah sama siapapun. Gue enggak boleh ke-GR-an! batin Tia sebelum akhirnya ia terlelap.
*
Tiga hari sudah Tia dirawat di rumah sakit, dan kondisinya semakin membaik. Ia pun meminta Hendra untuk kembali bekerja, karena tak enak hati jika kakaknya harus terus izin demi menjaganya.
"Kak, mending Kakak mulai berangkat kerja aja deh. Aku udah baikan kok." pinta Tia.
"Jangan lah Dek, nanti aja kalo kamu udah bisa pulang ke rumah."
"Tapi udah tiga hari lho Kakak enggak berangkat kerja?!"
"Kan kakak ijin, kantor juga tau alasannya kenapa."
Tia terdiam, ia tak bisa mendesaknya lagi. Ia tahu Hendra pasti akan tetap menjaganya, karena rasa tanggung jawab sebagai kakak sekaligus pengganti orang tua bagi Tia.
"Permisi, ini sarapan paginya ya Mbak ...." ucap seorang petugas rumah sakit sambil membawakan makanan jatah sarapan bagi pasien.
"Oh, iya Bu. Terima kasih." ucap Tia.
Petugas itu tersenyum lalu beranjak keluar untuk melanjutkan tugasnya.
"Ayo Dek, kakak suapin." ujar Hendra.
__ADS_1
Tia hanya bisa tersenyum tipis karena jika tertawa maka jahitan di perutnya pasti akan nyeri.
"Kenapa senyum?" tanya Hendra.
"Kak Hendra beneran kayak Ayah, kalo aku sakit pasti disuapin."
Hendra menghela napas, ia jadi teringat mendiang ayahnya. Suasana menjadi hening karena kakak beradik itu terbawa suasana saat teringat orang tua mereka.
Suara ketukan pintu dan ucapan salam membuyarkan suasana haru biru mereka. Hendra lantas membukakan pintu sambil menjawab salam.
Hendra terkejut ketika melihat siapa yang datang, ia hanya terpaku.
"Assalamu'alaikum, Mas Hendra ...." ucap orang itu yang tak lain adalah Igan.
"Wa-wa'alaikum salam. Mmm-Mas Igan, kok ke sini??" tanya Hendra gugup karena tak menyangka jika Igan akan datang sepagi itu dan belum saatnya jam besuk.
Igan tersenyum, "Iya Mas, sebetulnya tadi saya ragu kalau bakal diijinin, tapi ternyata satpam yang tugas perempuan dan dia penggemar saya, jadi dibolehin." sahut Igan, lirih.
"Emang ya kalo udah urusan perasaan, suka bikin jadi enggak profesional." celetuk Hendra.
Igan tersenyum mendengar celetukan Hendra.
"Siapa Kak?" tanya Tia.
Hendra menoleh ke arah Tia, "Mas Igan, Dek."
Igan pun menyembul dari balik pintu kemudian tersenyum menatap Tia.
"Assalamu'alaikum Tia, gimana kabar kamu pagi ini?" sapa Igan, sangat ramah.
Tia pun tersenyum, "Wa'alaikum salam, alhamdulillah kabar baik Mas. Ayo masuk, Mas!" ucap Tia mempersilakan.
Igan mengangguk dan tersenyum, lalu beranjak masuk sambil membawa tiga kotak sarapan.
"Kalian pasti belum sarapan kan? Ini saya bawain bubur ayam." ujar Igan sembari meletakkan kresek bening berisi tiga kotak makanan itu di atas meja.
"Kok jadi repot-repot begini sih, Mas?" ujar Tia.
"Enggak kok, sekalian saya juga mau numpang sarapan di sini." sahut Igan, cengengesan.
"Padahal sarapan di rumah kan enak, Mas. Di sini kan rumah sakit, makan enak pun rasanya beda." timpal Hendra.
"Iya sih, tapi saya inget sama kalian. Jadi langsung ke sini. Ya udah yuk, kita sarapan sama-sama?" ajak Igan.
"Kamu mau makan jatah dari rumah sakit apa yang dari Mas Igan, Dek?" tanya Hendra.
"Dari Mas Igan dulu deh, Kak." sahut Tia, mantap.
Igan tersenyum mendengarnya, ia pun terus menatap gadis itu dengan tatapan yang lembut.
Tia yang akhirnya menyadari jika Igan sedang menatapnya pun menjadi salah tingkah. Sedangkan Hendra merasa bingung harus bagaimana. Ia tahu jika Tia dan Igan saling menaruh hati, tapi ia tak mau jika adiknya kembali menjadi sasaran orang yang ingin mencelakai Igan.
Hendra berdehem untuk menyudahi tatapan romantis Igan pada adiknya itu, dan berharap Tia tidak terbawa perasaan.
__ADS_1
****