Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Salah Sangka


__ADS_3

Hai readers ... apa kabar semua? Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan ya?


Btw, aku mau ucapkan terima kasih banyak buat reader setia yang sudah support karyaku ini dengan meninggalkan jejak komentar atau like nya, jangan bosen ya untuk terus baca karya-karyaku 😘


Buat silent reader pun aku ucapkan terima kasih banyak, tapi aku minta tolong supaya kalian tinggalkan jejak baik di komentar, dan berbaik hati memberi cinta buat karyaku. Supaya aku tau kalo karyaku ternyata punya pembaca setia, bukan imajiku saja 😅🤭❤


Oh iya, part kali ini bisa dibilang long episode. Mudah-mudahan reader semua bisa enjoy ya ..


Monggo, selamat membaca .... ☺


----


Tak berapa lama, Bintang muncul bersama istrinya menemui Hendrawan dan putrinya yang sudah menunggu di ruang tamu.


Hendrawan langsung berdiri menyambut sang tuan rumah yang merupakan sahabat baiknya. Senyum sumringah tampak membingkai wajah Hendrawan.


Namun tak begitu dengan putri Hendrawan, ia tampak cuek dan hanya fokus pada ponselnya.


"Hendra ... akhirnya sampai juga! Apa kabar?" sapa Bintang antusias kemudian memeluk erat sang sahabat.


"Baik ... baik, alhamdulillah. Sori ya kalo kedatanganku ganggu kegiatan kamu, Bin." ujar Hendrawan.


"Enggak, santai lah ... Lagian kita kan lama juga enggak ketemu langsung begini."


"Iya, aku baru bisa anteng di Indonesia setahun belakangan, soalnya ... anak-anak udah selesai kuliah di Aussie."


"Oh ... I see ...." sahut Bintang sambil manggut-manggut.


Hendrawan mengarahkan pandangannya pada Bulan yang berdiri di samping Bintang.


"Oh iya Mbak Bulan, apa kabar?" tanya Hendrawan seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, tanda memberi salam.


"Alhamdulillah baik-baik saja, Pak Hendra. Kok cuma berdua? Istrinya enggak ikut?" sahut Bulan kemudian balik bertanya.


Hendrawan tersenyum getir, tampak ada gurat kesedihan di wajahnya.


"Bun ... istrinya Hendra itu udah meninggal setahun lalu." bisik Bintang pada istrinya.


Raut wajah Bulan lantas berubah, ia merasa bersalah.


"Ya Allah, ma-maaf ya Pak Hendra, saya tidak tahu."


"Ah, enggak masalah Mbak ... Oh iya, kenalin ini anak saya." ujar Hendrawan sembari menoleh ke arah putrinya yang masih tampak cuek.


Hendrawan terkejut ketika menyadari putrinya dari tadi bersikap cuek seperti itu, hingga ia menegurnya.


"Dan, berdiri dong ... Masa di depan orang tua begitu sih? Ayo kasih salam sama Om Bintang dan Tante Bulan!" tegur Hendrawan pada sang putri.


Gadis itu mendongak menatap wajah papanya, kemudian mengalihkan pandangan pada Bintang dan Bulan.


"Hai Om, Tante. Saya Danisha." ucap gadis cantik itu tanpa senyum dan masih di posisi yang sama, sambil duduk memegang ponselnya.


"Danisha, ayo berdiri dan salaman." tegur Hendrawan sambil menatap putrinya dengan sedikit marah.


"Santai aja Hen ... Ayo kita duduk, mungkin Danisha juga lagi capek." bujuk Bintang sambil tersenyum bijak pada sahabatnya itu.


Hendrawan tampak salah tingkah, ia merasa malu karena sikap cuek Danisha pada Bintang dan Bulan.


"Hmmm ... Danisha, you look so beautifull!" puji Bulan sambil menatap gadis berambut kecoklatan dan bermata biru itu.


Danisha mendongak menatap Bulan, seuntai senyuman menghias bibir tipisnya.


"Thank you." sahutnya singkat.


"Oh iya Bin, anak kamu mana? Dia artis terkenal kan? Terus ... gimana nasib perusahaan kamu nanti?" tanya Hendrawan.


"Iya, alhamdulillah. Dia lagi perjalanan pulang, mungkin sebentar lagi sampe. Soal perusahaan ... nanti anakku yang nerusin."


"Ya, memang begitu kan seharusnya? Dia kan anak tunggal, jadi harus jadi penerus."


Bintang mengangguk, "Kamu sendiri gimana, katanya anakmu ada dua. Satunya kok enggak ikut?" Bintang balik bertanya.


"Darren sedang di tempat usahanya, dia mengelola perusahaan jasa bidang pariwisata."


"Kalau Danisha, kegiatannya apa?" celetuk Bulan dengan ramah pada Danisha.


Danisha terdiam dan sejenak mengalihkan fokusnya dari ponsel. Ia mendengus perlahan, lalu menoleh ke arah Bulan.


"Kegiatan saya ... cuma bikin repot Papa, Tante." tukasnya.


Hendrawan terkejut dengan jawaban putrinya, begitupun Bintang dan Bulan.


"Lho ... kok ngerepotin? Enggak ada orang tua yang merasa anaknya itu ngerepotin, coba tanya papa kamu." timpal Bulan dengan lembut.


Danisha tersenyum sinis, lalu kembali tenggelam dalam permainan di ponselnya tanpa peduli tiga pasang mata yang menatapnya penuh tanda tanya.


Hendrawan bertanya-tanya, apa yang salah darinya pada sang putri. Karena ia merasa semenjak istrinya tiada, Danisha jadi uring-uringan dan susah diatur.


Ia berusaha meminta Darren putra sulungnya untuk mengawasi sang adik, bahkan mengawalnya kemana pun ia pergi. Namun kesibukan Darren dalam pekerjaan kadang membuatnya tak bisa terus mengawasi Danisha.


Hendrawan menyarankan Danisha untuk coba mendaftar di sebuah agensi model setelah beberapa bulan tinggal di Indonesia, berbekal postur tubuh yang proporsional, wajah yang cantik, ketertarikan putrinya di dunia modelling dan juga sudah fasih berbahasa Indonesia.


Ia pikir itu akan membuat Danisha lebih baik karena dapat bersosialisasi dengan banyak orang, dan berharap sikap pembangkang sang anak kepada dirinya bisa mulai berkurang.


Namun harapan tinggal harapan. Danisha justru sering pergi bersama teman-temannya sesama model sampai larut malam. Mereka mengajak Danisha pergi ke klub malam untuk minum-minum, untungnya Danisha tak pernah ikut mencicipi minuman haram itu, karena bagaimana pun ia berasal dari keluarga yang cukup taat agama.


"Assalamu'alaikum." suara Igan mengagetkan semua orang di ruang tamu, termasuk Danisha.


"Wa'alaikum salam ... Nah, ini dia jagoanku, Hen!" - Bintang berujar dengan bangga - "Nak, ini dia sahabat yang tadi ayah ceritain ke kamu, namanya Om Hendrawan dan itu anaknya, Danisha. Ayo kenalan." sahut Bintang.


Hendrawan menatap Igan dengan berbinar, seolah ia menaruh harapan padanya.


"Saya Igan, Om." ucap Igan sambil menyalami tangan Hendrawan.


"Iya ... om tau kok. Siapa sih yang enggak kenal penyanyi setenar kamu? Om senang bisa berkenalan langsung sama kamu, Nak Igan. Oh iya, ini anak om. Danisha." sahut Hendrawan, sumringah.

__ADS_1


Igan dan Danisha saling tatap beberapa detik tanpa senyum dan sapa, kemudian mengalihkan pandangan.


"Saya kenal kok sama anak Om. Dia model kan?" ujar Igan.


Hendrawan makin tampak sumringah mengetahui kenyataan bahwa Igan sudah mengenal Danisha.


"Wah, bagus kalo begitu! Kalian jadi makin cepat beradaptasi, ya kan?" ujar Hendrawan yang memancing respon keheranan dari yang mendengar, karena tak mengerti maksud ucapannya.


"Ma-maaf, maksudnya cepat beradaptasi tu bagaimana ya, Om?" tanya Igan, bingung.


Hendrawan tersenyum, "Jadi begini Bin, maksud kedatanganku ke sini bukan semata-mata silaturahmi ke kamu dan keluarga, tapi ada satu tujuan mulia dari kedatanganku hari ini." ujarnya seraya menatap Bintang.


"Tujuan apa, Hen?" tanya Bintang, penasaran.


"Aku mau menjodohkan anak kita, Danisha dan Igan. Ya ... untuk lebih mempererat hubungan baik kita lah ... Gimana menurut kamu?" terang Hendrawan tanpa beban.


Bintang, Bulan, Igan dan Danisha terperangah lalu menghela napas dalam-dalam. Mereka sama sekali tak menyangka akan demikian.


Igan yang mengira kalau kedua orang tuanya juga ikut merencanakan hal itu pun langsung menatap penuh tanya pada ayah dan bundanya.


"Tap-tapi kenapa ...." ujar Igan, tergesa.


"Nak, kamu tenang. Biar Ayah yang bicara." ujar Bintang.


Igan terdiam, ia terpaksa menutup mulut untuk mendengar penjelasan ayahnya.


"Begini Hen ... aku tau tujuan kamu mulia untuk jodohin anak-anak kita, tapi maaf ... Igan sudah punya tunangan. Baru aja dia pulang dari rumah tunangannya." tutur Bintang dengan hati-hati agar tak menyinggung perasaan sahabatnya itu.


Hendrawan tersentak, ia terdiam dan tertegun, sedangkan Danisha justru tampak makin kesal pada papanya.


"Papa nih apa sih, enggak bilang dulu kalo mau jodohin aku sama Igan! Coba kalo Papa bilang, aku pasti kasih tau kalo Igan itu udah tunangan. Kalo begini kan aku malu, Pa!" celetuk Danisha, kesal.


"Iya Om, saya sudah punya calon istri." imbuh Igan, sopan.


"Tapi ... kenapa enggak ada di berita?" tanya Hendrawan.


"Saya sengaja tidak mem-publish soal pertunangan saya, karena itu urusan privasi. Mungkin nanti saja kalau menikah, baru saya umumkan lewat konferensi pers." sahut Igan.


Raut wajah Hendrawan tampak kecewa, ia jelas sudah menaruh harapan besar jika bisa berbesan dengan sahabatnya itu.


Saat suasana hening, tampak dua orang ART datang membawakan minuman dan makanan kecil untuk disuguhkan.


"Makasih ya Marni, Wati." ucap Bulan pada dua ART nya setelah mereka selesai menata suguhan di atas meja tamu.


Marni dan Wati mengangguk dan tersenyum, kemudian tanpa bicara langsung kembali masuk.


"Ayo Hen, Danisha, silakan dicicipi." Bintang mempersilakan tamunya mencicipi hidangan yang tersedia.


Hendrawan tersenyum, namun masih tampak gurat kecewa di matanya. Ia menoleh ke arah Danisha, lalu menghela napas panjang dan dihembuskan seolah sedang coba melepaskan beban.


"Hmmm ... maaf semuanya, saya mau ngobrol sama Igan di luar." tiba-tiba Danisha meminta izin kemudian menatap Igan dan memberi isyarat lewat matanya agar keluar.


"Oh, ya Danisha. Silakan-silakan." sahut Bintang sambil tersenyum.


Danisha segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Di teras, Danisha sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya ke depan. Wajahnya tampak serius.


"Duduk di taman aja." saran Igan saat sudah berada di dekat Danisha.


Igan melangkah lebih dulu menuju taman rumahnya, Danisha mengikuti dari belakang.


"Ada apa?" tanya Igan ketika mereka sudah duduk di kursi taman.


"Kamu udah tau soal ini?" tanya Danisha dengan nada menginterogasi.


"Kamu liat kan ekspresi saya tadi? Apa itu keliatan kayak saya udah tau rencana papa kamu sebelumnya?" Igan membalas dengan balik bertanya.


Danisha tak menjawab, karena ia juga yakin kalau semua itu memang murni rencana papanya sendiri.


"Sorry, Papa ku memang keterlaluan!" tukas Danisha.


Igan menghela napas, "Lagian ... kenapa papa kamu sampai kepikiran buat jodohin kita?" tanya Igan, santai.


Danisha angkat bahu, "I don't know. Aku bahkan enggak tau rencana Papa." sahutnya.


"Sori Dan, saya menangkap hubungan kamu sama papa kamu itu kayak ...."


"Not good enough?"


Igan manggut-manggut, "Ya ... I guess so. Is it right?"


Danisha mengangguk, "Yes." jawabnya singkat.


Dahi Igan berkerut, "Kenapa?"


"Because of him, my mom ...."


Danisha berhenti bicara, raut wajahnya berubah sedih.


Igan tertegun melihatnya, ia yakin ada suatu cerita yang menjadi alasan Danisha dan papanya tak akur.


"My mom passed away!" tiba-tiba Danisha melanjutkan kalimatnya dengan sentimentil. Tangisnya pecah.


Igan hanya terdiam, ia bingung harus berbuat apa.


"Papa terlalu sibuk dengan bisnisnya, sampai enggak tau kalau Mami sakit keras. Dia sama sekali enggak pulang ke Aussie selama satu bulan dan cuma urus bisnisnya di sini." tutur Danisha sambil menangis.


"Bukan begitu, Sayang. Papa enggak ada niatan seperti itu." Hendrawan tiba-tiba muncul dan berdiri menghadap ke arah Danisha dan Igan, karena ia penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan di luar.


Bintang dan Bulan pun menyusul Hendrawan lalu berdiri di belakang Hendrawan. Mereka bertiga melangkah ke arah taman dan duduk bersama Danisha dan Igan.


"Kenapa kamu bicara begitu, Dan?" tanya Hendrawan.


Danisha yang terkejut melihat papanya sudah mendekat pun menatapnya sinis.

__ADS_1


"Karena itu fakta, Pa!" tukasnya.


"Dan, sebaiknya kamu jangan kasar begitu ke papa kamu." tegur Igan, membujuk.


"Setahun ke belakang kan papa bolak-balik ke Aussie untuk ikut merawat Mami, Dan." ujar Hendrawan.


"Ya, memang. Tapi itu setelah Mami sakit parah kan?"


Danisha sama sekali tak memberi ruang bagi papanya untuk membela diri.


"Tapi Mami yang merahasiakan sakitnya ke papa, sampai papa shock waktu tau Mami sakit separah itu. Walaupun papa berjauhan dengan kalian, tapi papa enggak menghilang kan? Papa tanggung jawab, kita komunikasi lewat video call , tapi Mami enggak pernah cerita soal sakitnya. Itu pun papa sesalkan sampai sekarang, Dan!"


"Kalau kamu marah karena papa lama enggak pulang ke Aussie sebelum Mami sakit parah, itu karena papa sibuk ngurusin usaha papa yang nyaris bangkrut gara-gara ditipu! Apa kamu tau soal itu? Enggak kan??"


Hendrawan terdiam sejenak menahan amarahnya.


"Semua itu papa pendam sendiri, papa cuma bilang ke kalian kalau papa masih urus bisnis di sini. Itu aja! Papa enggak mau bikin Mami dan anak-anak papa kepikiran, tapi nyatanya justru jadi bumerang!"


Bintang menepuk-nepuk pundak Hendrawan, berharap sang sahabat lebih tenang dan menahan emosi.


"Sudah Hen, kamu tenangin diri kamu dulu. Danisha cuma salah paham, kalian bisa omongin baik-baik." bujuk Bintang.


Hendrawan tak kuasa menahan air matanya. Air mata yang mewakili perasaannya yang sangat kalut, sedih, kecewa dan penyesalan. Semua bergumul dalam benak dan batinnya, menyisakan sesak yang teramat sangat.


Igan menarik tangan Danisha menjauh dari para orang tua yang masih duduk di taman.


"Mau kemana, Nak?" tanya Bulan pada Igan.


"Igan perlu ngomong sama ni anak, Bun!" sahut Igan sambil menggenggam pergelangan tangan Danisha dan dengan memaksa, mengajaknya menjauh.


Danisha yang terhenyak mendengar penjelasan papanya menurut saja kemana Igan membawanya.


"Duduk!" Igan menyuruh Danisha duduk di kursi ruang tamu.


Danisha menurut, wajahnya tampak tak kalah terpukul dengan penjelasan papanya.


"Kamu enggak seharusnya ngomong begitu ke papa kamu, Dan! Sekarang kamu baru tau kan alasannya apa? Terus, kamu mau apa sekarang? Masih mau benci orang yang udah berusaha keras jadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab itu, hah??" omel Igan pada Danisha.


"Kamu itu arogan, Dan! Jujur, waktu kita pernah ketemu di kafe terus enggak sengaja saya nabrak kamu sambil bawa minuman, saya bener-bener berharap enggak ketemu lagi sama kamu! Kenapa?? Inget-inget aja, gimana waktu baju kamu enggak sengaja ketumpahan minuman saya waktu itu!" imbuh Igan, kemudian melangkah hendak meninggalkan Danisha.


"Stop! Jangan pergi, Dan!" seru Danisha mencegah Igan berlalu.


Igan berhenti melangkah, namun ia tak berbalik arah.


"Aku ngaku salah, Papa ternyata enggak seperti yang aku sangka. Temenin aku minta maaf sama Papa." pinta Danisha.


Igan balik badan, menghadap Danisha.


"Kamu kan anaknya, kenapa harus minta saya temenin buat minta maaf?"


"Aku malu."


Igan berdecak kesal, "Ada syaratnya!" ucapnya.


"Whatever! Yang penting, sekarang kamu temenin saya ketemu Papa." tegas Danisha.


"Minta maaf dulu ke saya." celetuk Igan.


Mata biru Danisha lantas membulat.


"What?? Minta maaf buat apa??" seru Danisha.


Igan mendengus kesal, "Rupanya kamu belum inget kejadian di kafe waktu itu. Kamu ngomelin saya gara-gara enggak sengaja nabrak kamu pas lagi sama-sama jalan, terus minuman saya tumpah ke baju kamu." jelasnya.


Danisha mengerutkan dahi, ia sedang coba memutar ulang memori otaknya, hingga tak lama kemudian ia berseru.


"Ah, iya aku inget!! Aku pantas marah dong, kan itu salah kamu numpahin minuman ke bajuku!"


Igan menepuk dahi sambil geleng-geleng.


"Kayaknya kamu harus saya briefing soal menelaah kalimat. Barusan saya kan bilang, ENGGAK SENGAJA. Kalo kamu bilang saya numpahin, itu kesannya disengaja!"


Danisha terdiam sejenak, "I'm sorry." ucap Danisha, lirih.


"Enggak denger!" tukas Igan.


"I'm sorry!" Danisha mengulangi ucapannya dengan lantang.


"Diajarin siapa kamu minta maaf tapi ngegas begitu?" Igan mulai menguasai keadaan, lalu membuat Danisha serba salah.


"Ck, susah banget sih ngomong sama kamu??"


"Ya udah sana, minta maaf sendiri sama papa kamu!"


"Hei ... ya-ya, ya udah! Aku minta maaf atas kejadian di kafe itu. Puas??" Danisha mengalah namun berkata dengan membulatkan mata birunya pada Igan, namun hal itu membuat Igan tertawa.


Danisha berdecak kesal, lalu balik menarik tangan Igan keluar untuk menemui papanya di taman.


"Pa, Danisha minta maaf udah salah sangka ke papa. I'm so sorry ...." ucap Danisha di depan papanya yang masih didampingi Bintang dan Bulan.


Hendrawan mendongak menatap putrinya itu dengan bahagia, air mata kembali menggenangi pelupuk mata. Ya, air mata yang sama namun berbeda rasa. Kali ini, rasa bahagia.


Hendrawan tak menyahut, ia hanya merentangkan tangannya lalu beranjak memeluk erat sang putri dengan penuh kasih sayang sebagai seorang papa terhadap anaknya.


"Alhamdulillah, masalah sudah selesai keliatannya ya, Yah?" bisik Bulan pada Bintang, suaminya.


"Iya, Bun. Ayah terharu liatnya." sahut Bintang.


Hendrawan dan Danisha pun berniat untuk pamit pulang, mereka semua saling memberi salam perpisahan. Namun ketika Danisha ingin mendekat ke arah Bulan, ia tersandung kaki kursi taman dan nyaris terjerembab.


Tetapi Igan dengan sigap menangkap tubuh Danisha agar tak sampai membentur bagian kursi yang lain, sebab posisi Igan yang tepat berada di sebelah Bulan, sang bunda.


Tanpa ada yang menyadari, sepasang mata sedang menyaksikan kejadian itu. Mata indah itu menyiratkan kecewa saat melihat kejadian yang ia harap tak pernah terjadi.


Tak tahan menyaksikan itu, ia segera balik badan dan berlari menjauh. Suara hentakan kakinya menyita perhatian semua orang di taman itu, lalu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Mata Igan membelalak saat menyadari siapa yang sedang berlari menjauh itu. Tanpa banyak bicara, ia segera mengejarnya.


****


__ADS_2