Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Firasat Buruk


__ADS_3

Jam kerja di kantor itu pun dimulai. Semua karyawan tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing, termasuk para staf di divisi promosi.


Igan yang baru pertama kali terjun langsung sebagai staf di sana jelas memerlukan bimbingan dari seniornya. Ia tak malu untuk bertanya jika memang ada yang kurang ia pahami.


"Guh, lu yang dampingin Mas Igan ya? Gue mau fotokopi dulu sebentar." ujar Jeni pada Teguh.


"Oh, oke siap!" sahut Teguh.


Teguh menarik kursinya lalu duduk di sebelah Igan, "Ada yang mau ditanyain enggak, Mas?" tanya Teguh.


"Hmmm ... belum ada lagi sih, Mas. Tadi udah dikasih tau sama Ci Jeni soalnya."


"Oh, oke. Nanti kalau ada yang ditanyain bilang aja ya, Mas?" ucap Teguh kemudian berdiri kembali ke meja kerja sembari menyeret kursinya.


Igan mengacungkan ibu jari lalu tersenyum pada Teguh.


Tia yang berada di sebelah meja Igan sesekali terlihat curi-curi pandang pada pemuda tampan itu.


Makin deket begini, makin bikin gue salah tingkah. Huff ... gue harus jaga perasaan ini supaya enggak makin kebablasan! Kalo gue maksain tetep naksir sama Mas Igan, ibarat upik abu ngarepin pangeran tampan! batin Tia sambil menatap Igan yang masih sibuk menatap layar komputernya.


Ketika Tia belum memalingkan wajah, tiba-tiba Igan menoleh dan memergoki gadis manis itu tengah menatapnya.


Tia terkejut dan buru-buru memalingkan wajahnya, kemudian sibuk mengetik sesuatu dengan keyboard-nya.


Igan tersenyum melihat reaksi Tia yang salah tingkah karena tertangkap basah sedang mencuri pandang.


Igan duduk lalu menggeser kursinya mendekati Tia. Ia tak berkata apa-apa, hanya ikut menatap ke layar komputer di hadapan Tia. Seketika ia tersenyum.


Sontak wajah Tia makin memerah dan sikapnya mendadak gugup ketika menyadari bahwa Igan sudah berada di dekatnya.


"Kamu ngetik apa?" tanya Igan lirih sambil tersenyum.


Tia dengan tergesa segera menghapus beberapa huruf tak beraturan, yang tadi ia ketik secara sembarang untuk menutupi groginya, karena ketahuan sedang menatap Igan.


"Hmmm ... enggak, ini ... salah ketik kok." sahut Tia, salah tingkah.


"Oh ... salah ketik?" timpal Igan kemudian mengulum senyum.


"Udah Mas Igan di sana aja ...." ujar Tia, meminta Igan untuk kembali ke meja kerjanya.


Igan mengerutkan dahi, "Kamu ngusir saya?"


"Eh, bukannya gitu ... tapi kalo Mas Igan di sini, saya jadi enggak bisa konsentrasi."


"Kok gitu? Kan saya enggak gangguin kamu? Saya cuma pengin tau yang kamu kerjain tu apa?"


Tia berdecak lirih, ia membuka box di bawah meja lalu mengambil satu bungkus kopi mix, kemudian bangkit dari kursinya.


"Mau kemana?" tanya Igan seraya mendongak menatap Tia.


"Mau ke pantri, bikin kopi. Mas Igan mau?" sahut Tia.


"Hmmm ... enggak."


Tia menghela napas perlahan kemudian bergegas keluar ruangan.


Igan menggeser kembali kursi ke meja kerjanya, kemudian bergegas bangkit dan hendak menyusul Tia.


"Mas Igan mau kemana?" tanya Teguh.


"Hmmm ... mau ke pantri."


"Oh, ya sudah." sahut Teguh.


Igan bergegas keluar mengejar Tia, karena ia memang belum tahu dimana letak pantri-nya.


"Ti, tunggu!" panggil Igan.


Tia menoleh, "Mas Igan ngapain ikut keluar?" tanya Tia.


"Pengin tau pantri ada di sebelah mana."


"Oh ...."


Tia kembali melangkah menuju pantri. Ada beberapa karyawan dari divisi lain yang tersenyum dan menyapa Igan saat saling berpapasan.


Saat tiba di pantri, Tia segera mengambil gelas dan sendok. Lalu menyobek ujung bungkus kopi yang ia bawa, kemudian diisi dengan air panas.

__ADS_1


Aroma khas kopi yang menggugah semangat sontak terhirup oleh indera penciuman mereka.


"Aroma kopi emang enggak pernah salah." celetuk Igan.


"Mas suka ngopi juga?" tanya Tia.


"Iya, kadang."


"Mas mau bikin minuman anget juga enggak? Biar saya buatin. Ada teh juga lho di sini. Mau?"


"Hmmm ... boleh-boleh." sahut Igan, sumringah.


"Ya udah, tunggu sebentar ya?"


Igan mengangguk lalu berdiri dengan menyandarkan punggungnya ke pintu pantri. Tangannya dilipat ke depan sambil menatap Tia yang sedang menyeduh teh.


"Ini, Mas." ucap Tia seraya menyodorkan teh hangat dengan wangi melati yang khas.


"Makasih ya, Ti."


Tia tersenyum, "Sama-sama. Ya udah, kita balik ke ruangan lagi yuk?" ajak Tia.


Igan mengangguk. Mereka pun melangkah bersama kembali menuju ruang kerja.


*


Waktu terus berlalu, Igan pun sudah semakin menguasai seluk beluk divisi yang ia jalani. Begitupun dengan kedekatannya dengan Tia, semakin hari mereka bertambah dekat. Hingga banyak desas-desus yang menggosipkan mereka memiliki hubungan spesial.


Suatu hari, Igan dan Tia sudah membuat janji untuk pulang bersama. Kebetulan hari itu motor Tia sedang ada di bengkel jadi ia berangkat kerja diantar oleh Hendra, dan pulang bersama Igan.


"Akhirnya kamu mau juga bonceng di motor saya." ledek Igan ketika mereka mulai keluar dari area parkir kantor.


"Motor saya kan lagi di bengkel, Mas." sahut Tia.


"Jadi kalo motor kamu enggak masuk bengkel, kamu tetep enggak mau?"


Tia mengangguk dan menyahut, "Iya."


"Kenapa?"


"Saya lagi menjaga hati."


Tia terdiam, tiba-tiba ia kembali merasakan perasaannya tidak enak. Memang sejak pagi Tia merasa feeling nya tidak karuan, ia menangkap bahwa akan ada sesuatu yang terjadi namun tak mendapat petunjuk apa-apa.


"Ti?" tegur Igan.


"Euh?"


"Kok diem?"


"Ng ... enggak, perasaan saya mendadak enggak enak aja. Kenapa ya?"


"Hmmm ... kamu lagi enggak enak badan mungkin?"


"Bukan ... dari tadi pagi saya ngerasa ada firasat enggak baik, Mas."


"Tentang siapa?"


"Enggak tau, saya enggak dapet gambaran. Cuma feeling yang bisa saya rasain."


"Ya udah, mungkin itu cuma perasaan kamu, Ti. Gimana kalo kita makan dulu?"


Tia masih tertegun, hatinya masih tak karuan. Tanpa disadari, ada sebuah taksi yang mengikuti motor mereka beberapa meter di belakang.


Taksi tersebut sudah berhenti di dekat kantor mereka beberapa saat sebelum jam pulang kantor.


"Ti? Kamu ngelamun lagi?" tegur Igan.


"Euh? Ke-kenapa, Mas?"


Igan menghela napas dalam-dalam.


"Kita makan dulu ya?" ucap Igan mengulangi ajakannya.


"Hmmm ... ya udah, boleh."


Igan menyetir motornya lebih laju, menuju ke sebuah restoran.

__ADS_1


"Lho, kenapa ke restoran Mas? Di rumah makan biasa aja lah ...." protes Tia ketika melihat sebuah bangunan restoran beberapa meter di depan.


Igan tetap memarkirkan motornya tepat di samping gedung restoran itu, kemudian turun dari motor.


"Emang kenapa, Ti? Ini salah satu resto favorit saya, enak-enak lho menunya. Yuk masuk?" ajak Igan.


Tia bergeming, ia tetap duduk di boncengan motor Igan.


"Ayo dong, Ti ...!" bujuk Igan.


"Enggak mau!"


Igan menatap Tia, lagi-lagi ia merasa gemas ketika melihat wajahnya yang manis jadi bertambah imut saat cemberut.


Tanpa aba-aba, mendadak Igan mendekat lalu hendak membopong Tia turun dari motor. Alhasil Tia pun langsung memukul tangan Igan dan mengomel.


"Ih, mau ngapain sih Mas??" omel Tia sembari turun dari punggung motor.


Igan justru tergelak saat melihat reaksi Tia yang berubah galak.


"Akhirnya kamu mau turun juga, kalo enggak gitu pasti kamu nangkring aja di motor! Yuk masuk?"


"Enggak mau!" Tia masih bersikeras.


Tak lama kemudian terdengar suara petir membahana hingga membuat orang-orang terkejut.


"Tuh kan, mau hujan juga! Ayo masuk?" bujuk Igan.


"Pulang aja lah, Mas. Mau hujan, nanti kita malah kehujanan kalo pulangnya nanti." pinta Tia.


"Tapi saya mau makan dulu, Ti."


"Kan di rumah juga bisa makan?!"


"Beda, Tia ...!!"


"Beda tempat sama menu doang kan?"


"Bukan itu ...."


"Terus apa??"


"Bedanya enggak ada kamu kalo saya makan di rumah nanti."


Tia terhenyak, pipinya sontak merona. Hatinya kembali bergejolak, ia tak dapat menyembunyikan rasa yang membuncah dalam dada.


"Apaan sih, Mas? Selain jago nyanyi, ternyata jago ngegombal juga ya?" timpal Tia, berusaha menutupi gejolak rasa di hatinya.


"Itu sih skill wajib buat para cowok, Ti." sahut Igan, cengengesan.


Tia tertawa kecil, sejenak ia lupa kalau ia merasa akan terjadi sesuatu hari itu.


"Yuk?" Igan kembali mengajak Tia masuk, entah sudah berapa kali.


Igan melangkah lebih dulu namun dengan langkah perlahan, berharap Tia tak punya pilihan lain selain mengikutinya masuk.


Namun tanpa mereka sadari, seorang pria bertopi dengan mengenakan kaca mata hitam dan bermasker berjalan cepat mendekati Tia yang masih berdiri terpaku di halaman restoran itu.


Ketika sudah dekat dengan Tia, dengan cepat ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dan dihunuskan ke perut Tia. Tia yang kaget pun spontan berteriak, namun gerakan pria misterius itu terlalu cepat kemudian berlari dan kembali masuk ke dalam taksi yang masih menunggunya.


Suara jeritan Tia membuat Igan terkejut lalu menoleh. Matanya sontak membelalak ketika ia lihat Tia perlahan ambruk sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah.


"Tia ...!!!" teriak Igan kemudian dengan cepat berlari dan mendekap tubuh Tia yang terkulai.


Beruntung banyak saksi mata yang melihat kejadian tersebut, bahkan ada beberapa orang mengendarai sepeda motor mengejar pelaku penikaman itu.


"Tia, ka-kamu, kamu tahan ya? Kita ke rumah sakit sekarang!"


Igan sangat panik, ia dibantu seorang pengunjung restoran yang kebetulan baru keluar dan hendak masuk ke mobil.


"Mas, mari saya antar ke rumah sakit." ucapnya dengan tulus.


"Iya-iya, terima kasih. Tolong bantu ya, Mas?"


Tubuh Tia dibawa ke dalam mobil lalu bergegas dibawa ke rumah sakit terdekat.


Ya Allah Tia, kenapa sampe ada kejadian begini?? Semoga kamu kuat, Ti. Kamu jangan nyerah, saya enggak mau kamu kenapa-napa. batin Igan dengan menitikkan air mata.

__ADS_1


****


__ADS_2