
Bulan sontak menoleh ke belakang sedangkan Igan hanya diam membeku ketika suara penuh wibawa itu terdengar dari dalam, dan semakin lama semakin mendekat ke arah mereka.
"Siapa yang lagi cinta-cintaan? Kenapa sebut-sebut nama gadis itu?" tanya Bintang yang berjalan perlahan semakin mendekat.
"A-ayah? Kok ada di sini, bukannya tadi lagi nonton TV di kamar?" tanya Bulan, terkejut.
"Kenapa kalian keliatan panik begitu? Ada yang mau dirahasiakan dari Ayah ya?" tebak Bintang.
"Hmmm ... mendingan kita duduk dulu deh, biar lebih rileks ngobrolnya. Ayo, Nak!" ajak Bulan.
Igan hanya mengangguk lalu membuntuti langkah kedua orang tuanya menuju ruang keluarga.
"Sekarang ceritain, ada apa? Kenapa tadi Ayah dengar dari dalam Bunda sebut-sebut nama Ilona?" tanya Bintang ketika semuanya sudah duduk dengan nyaman di ruang keluarga.
Bulan dan Igan saling tatap, mereka bingung bagaimana harus menjawab karena sudah terbayangkan respon sang kepala keluarga akan seperti apa.
"Kok diem semua? Fix, berarti memang ada yang Bunda sama Igan rahasiakan dari Ayah, iya kan?" ujarnya.
"Hmmm ... sebenarnya sih bukan masalah yang besar, Yah. Bunda rasa ... Ayah enggak usah khawatir deh. Mending kita ke ruang bioskop aja, gimana? Bunda udah lama loh enggak nonton!" sahut Bulan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Beneran bukan masalah besar? Bunda tau kan kalo Ayah paling enggak suka dibohongi?" tegas Bintang namun dengan nada lembut.
Bulan menghela napas dalam, lalu perlahan ia hembuskan berusaha untuk mengurangi beban di hatinya.
Bintang tak mau beranjak sekalipun istrinya mengajak untuk bersantai sambil menonton film, ia yakin benar kalau ada yang sedang disembunyikan oleh istri dan anaknya.
"Begini Yah, Igan mau jujur sama Ayah. Tapi tolong Ayah jangan langsung marah ya?" Igan buka suara.
Bintang tersenyum lalu mengangguk, "Sekalipun Ayah marah nanti atas kejujuran kamu ke Ayah, itu enggak akan membuat Ayah benci sama kamu Nak. Daripada kamu sembunyikan sesuatu yang jelas-jelas Ayah enggak suka." imbuhnya.
Bulan menatap putranya dengan cemas, ia khawatir jika suaminya akan benar-benar marah terhadap Igan.
"Sebenarnya ... Igan ... udah jadian sama Ilona, Yah." ujar Igan, jujur.
Mendengar hal itu Bintang spontan memicingkan mata dan menatap heran ke arah Igan, ia tak habis pikir kenapa sang putra sekarang justru membelot padahal biasanya Igan selalu patuh pada nasehat orang tuanya.
"Kok kamu berani jadian sama dia? Ayah kan sudah jelas-jelas melarang kamu, kenapa kamu nekat?"
"Igan rasa enggak ada yang salah, Yah. Ilona juga gadis baik-baik, apalagi dia keponakan Om Bono. Igan bisa begini kan karena jasa Om Bono juga." ujar Igan menjelaskan.
"Apa kamu sudah jatuh cinta sama gadis yang enggak tau sopan santun itu?"
__ADS_1
Igan terdiam, ia bingung. Jauh di lubuk hatinya sekan menolak tetapi angannya selalu terbayang sosok dan senyuman Ilona yang mendadak memikat hatinya.
"Apa kamu jadian sama dia cuma untuk balas budi ke Bono?" lagi-lagi Bintang mencecar Igan dengan pertanyaan yang sulit untuk Igan jawab.
"Jawab Ayah!" tegas Bintang.
Igan tak menjawab, ia lantas berdiri lalu beranjak pergi begitu saja menuju kamarnya.
"Igan! Mau kemana kamu, sini dulu! Ayah belum selesai bicara!" seru Bintang.
"Udah Yah ... sabar, Igan butuh waktu. Lain waktu aja ya diobrolin lagi? Igan juga mungkin capek, biar dia istirahat dulu."
"Sejak kapan dia jadian sama gadis itu? Apa Bunda udah lama tau tentang hubungan mereka? Kenapa enggak kasih tau Ayah??" omel Bintang.
"Bunda juga baru tau tadi kok, Yah." sahut Bulan.
"Bunda liat sendiri kan, sikap anak kita jadi berubah pas udah jadian sama gadis itu! seru Bintang penuh emosi.
Bulan hanya terdiam, ia tak menyangka jika suaminya itu bereaksi sangat frontal, menolak keputusan putra mereka untuk menjalin hubungan istimewa dengan Ilona.
Ayah sampe marah banget begitu, berarti memang dia beneran enggak bisa nerima Igan dekat dengan Ilona.
*
Saat jam pulang kantor, Rey memanggil Tia untuk mengajaknya makan malam.
" Ti, kamu nanti malam ada acara enggak?" tanya Rey.
Tia terdiam sejenak untuk berpikir.
"Hmmm ... kayaknya enggak ada, emang kenapa Pak?"
"Kalo saya ajak kamu makan malam, mau?"
"Ma-makan malam?" Tia balik bertanya.
Rey mengangguk mantap, "Saya mau ajak kamu makan malam di suatu tempat sekalian ada yang mau saya omongin, penting supaya kamu tau tentang saya."
Apa maksudnya ... Pak Rey mau ngomong soal masa lalunya itu ya? Pikir Tia.
"Tapi saya harap, kamu pakai kalung yang saya kasih waktu itu." imbuh Rey.
__ADS_1
Kayaknya emang Pak Rey mau bahas soal itu deh. batin Tia.
"Hmmm ... oke Pak, nanti saya pakai." sahut Tia, mantap.
"Ya sudah, nanti malam jam tujuh saya jemput kamu ya?"
Tia mengangguk setuju, Rey pun tersenyum. Mereka berjalan bersama hingga ke area parkir kemudian berpisah karena Rey langsung pulang dengan mobilnya, sementara Tia menemui Hendra yang mulai bertugas sore itu.
"Kak, aku nanti malam jam tujuh mau keluar ya?" ucap Tia ketika sudah bertemu Hendra di pos jaga.
"Mau kemana?" tanya Hendra.
"Diajak makan malam sama Pak Rey."
Jawaban Tia sontak membuat mata Hendra membulat, ia terkejut lalu mengajak Tia menjauh dari pos jaga agar bisa lebih leluasa bicara.
"Dek, kamu serius cuma berdua makan malam sama Pak Rey, dimana?? Jangan nekat kamu, Dek!! Waktu dia anterin kamu pulang aja dia berani peluk kamu, gimana nanti??" tukas Hendra namun agak berbisik.
"Kakak tenang aja, ini kesempatan aku buat tau soal kalung itu dan cewek yang namanya Susan." tegas Tia, yakin.
"Enggak, Kakak enggak setuju!"
"Kak, plis Kak ... tadi Pak Rey juga bilang kalo ada yang mau dia sampein ke aku, katanya supaya aku tau tentang Pak Rey. Aku yakin, dia mau ngomongin soal masa lalunya. Ijinin aku ya, Kak? pliiissss ....!!!"
Hendra menghela napas dalam lalu menatap sang adik dengan lekat.
"Huff!!! ya udah lah. Tapi inget, kamu harus jaga diri!" pesan Hendra dengan serius pada Tia.
"Oke-oke, pasti Kak!!!" sahut Tia bersemangat.
Ia mencium punggung tangan kakaknya lalu bergegas menuju motornya yang terparkir di ujung, dan pulang untuk bersiap pergi makan malam dengan Rey.
*
Tepat pukul tujuh malam, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah bercat biru itu. Tak lama berselang, Tia mendengar daun pintu rumahnya diketuk tiga kali, lalu beranjak untuk membukakan pintu.
Tampak Rey berdiri gagah di depan pintu rumah Tia lalu tersenyum menyapa gadis cantik itu, "Kamu sudah siap?"
Tia mengangguk dan tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, Tia keluar lalu mengunci pintu, kemudian berjalan bersama Rey masuk ke dalam mobil menuju suatu tempat yang sudah Rey siapkan.
***
__ADS_1