Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Bimbang


__ADS_3

Pagi itu, matahari tampak sumringah menaungi langit kota seolah ingin memberi semangat baru bagi para penduduk bumi untuk beraktifitas.


"Udah siap, Dek?" Tanya Hendra.


"Ya Kak, sebentar." Sahut Tia dari dalam kamar.


Hendra duduk di sofa sederhana ruang tamunya, menunggu adiknya siap untuk berangkat. Hari itu merupakan hari yang istimewa bagi adiknya, karena ia akan segera menyandang gelar sarjana.


Hendra memandangi foto kedua orang tuanya yang tergantung di dinding ruang tamu, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang teramat karena di hari bahagia adiknya mereka sudah tidak ada untuk mendampingi.


Yah, Bun ... hari ini Tia mau wisuda, Hendra yakin Ayah sama Bunda pasti bangga. Hendra janji akan jaga Tia, Hendra enggak mau nikah dulu sebelum Tia ketemu jodohnya. Ayah sama Bunda bahagia ya di sana? Jangan khawatir, yang tenang. Ucap Batin Hendra.


"Ayo Kak, aku udah siap!" Ujar Tia yang sudah keluar dari kamar disusul seorang tetangganya yang bekerja di salon kecantikan.


Hendra menoleh ke arah sang adik lalu tersenyum bangga.


"Wih, cantik banget kamu, Dek!" Puji Hendra sambil tersenyum lebar.


Tia tersenyum malu. Ya, Tia memang tampak semakin cantik hari itu dengan balutan kebaya dan kain jarik, dipadu polesan flawless di wajah hingga tatanan rambut yang apik.


"Tia udah rapi nih Ndra, aku pamit ya?" Ujar Opi, tetangga mereka yang sengaja disewa Hendra untuk mendandani sekaligus menyediakan pakaian untuk acara wisuda hari itu.


"Oh iya Mbak Opi, makasih banyak ya? Nanti uang sewanya sekalian kalau ngembaliin baju." Sahut Hendra.


"Iya, tenang aja. Kalau enggak nanti aja habis maghrib, nunggu aku pulang kerja."


"Oh, oke kalau begitu."


"Makasih ya Mbak Opi ...." Ucap Tia.


"Iya Cantik ...." Sahut Opi kemudian beranjak pulang.


"Yuk kita tunggu di teras, barangkali taksi online-nya sampai." Ajak Hendra.


Tia mengangguk lalu keduanya berjalan ke teras rumah, menunggu taksi online yang sudah dipesan oleh Hendra lewat aplikasi.


Tak berapa lama taksi yang dipesan pun datang dan membawa Hendra dan Tia menuju lokasi acara wisuda.


*


Sementara itu di Surabaya, Igan dan Ilona sedang menjalankan aktivitas hari terakhir mereka di sana yaitu menjadi bintang tamu di sebuah stasiun radio swasta. Kemudian mereka menyempatkan berkeliling kota Pahlawan itu sebelum terbang kembali ke Jakarta.


Ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan di sebuah toko sentra oleh-oleh, salah seorang pengunjung toko itu mengenali Igan dan Ilona yang memakai kaca mata hitam dan bertopi.

__ADS_1


"Maaf, ini Mas Dirgantara sama Mbak Ilona yang artis itu kan?" Celetuk seorang wanita muda sembari memandangi Igan dan Ilona yang tengah sibuk memilih oleh-oleh.


"Iya ...." Sahut Ilona sambil tersenyum ramah, sedangkan Igan hanya mengangguk dan tersenyum ramah.


"Wah ... boleh foto bareng enggak? Saya ngefans banget lo sama kalian." Pinta wanita itu.


"Hmm ... boleh-boleh." Sahut Ilona.


Mereka bertiga pun berpose bersama di depan lensa kamera ponsel si penggemar.


"Makasih ya Mbak Lona, Mas Igan."


"Iya Mbak, sama-sama ...." Sahut Igan dengan ramah.


"Saya doain biar Mbak Lona sama Mas Igan berjodoh, soalnya cocok." Celetuk wanita itu sebelum berlalu.


Igan dan Ilona sontak saling berpandangan dengan wajah terkejut, namun sejurus kemudian Ilona dengan mantap berujar, "Aamiin ...."


Sedangkan Igan hanya tersenyum tanpa memberi komentar.


"Kok kamu bilang 'aamiin' Lon?" Tanya Igan.


"Ya ... emang kenapa? Itu kan doa yang baik, siapa tahu kita emang beneran jodoh." Sahut Ilona dengan entengnya.


Igan hanya menghela napas, ia sontak teringat pesan ayahnya yang melarang keras dia menjalin hubungan spesial dengan Ilona.


"Halo Om ..." Sapa Ilona sambil menatap layar ponselnya dan sedikit menjauh dari Igan.


"Hai Lon, kamu masih di Surabaya?" Tanya Om Bono.


"Masih Om, ini lagi beli oleh-oleh soalnya dua jam lagi ke airport buat balik ke Jakarta."


"Oh, save flight ya nanti."


"Iya Om, makasih ... Oh iya, Om sama Tante mau dibeliin apa? biar sekalian nih."


"Yang enak-enak aja lah pokoknya, hehehe ...."


"Enak-enak semua lo di sini, ya udah nanti beres deh pokoknya spesial buat Om sama Tante."


"Sip, gitu dong keponakan Om yang cantik. Oh iya, ngomong-ngomong kamu udah jadian sama Igan ya? Cie ... cie ... pake tulis caption 'di rumah camer' segala waktu posting foto tempo hari. Walaupun kamu enggak nyebut nama Igan, tapi Om tahu banget kalau itu rumah orang tuanya Igan. Om beberapa kali diajak main ke sana."


Mendengar perkataan Om Bono, membuat Igan yang sedang melakukan pembayaran di kasir sontak menatap Ilona dengan tatapan penuh pertanyaan.

__ADS_1


Ilona memandang Igan dengan salah tingkah, lalu beranjak semakin menjauh dari tempat Igan berdiri. Igan menangkap bahwa ada yang sedang Ilona sembunyikan darinya.


Ilona berani memposting seperti itu karena Igan tidak memiliki akun sosial media seperti artis lainnya, jadi ia tidak merasa khawatir Igan akan melihat postingannya. Igan pernah berkata jika ia belum merasa butuh untuk berinteraksi di sosial media.


"Hmmm ... maaf Om, udahan dulu ya? Lona udah selesai belanjanya nih." Ujar Ilona, gusar.


"Kamu sendirian belanjanya, Igan di mana?" Tanya Om Bono.


"Aku di sini Om, tadi lagi antre di kasir. Apa kabar Om?" Sahut Igan yang ternyata sudah berdiri di belakang Ilona sambil menenteng belanjaannya dan belanjaan Ilona.


"Nah ini dia calon keponakan Om, alhamdulillah kabar baik Gan."


"Udah dulu ya Om, kita mau balik ke hotel dulu terus langsung ke airport. Bye Om ....!" Timpal Ilona buru-buru.


"Oke-oke ... Om ganggu ya? Dari tadi maunya udahan terus video call -nya." Ledek Om Bono.


"Bukan gitu Om ... tapi emang kita udah selesai belanjanya." Sahut Ilona.


"Ya udah deh ... kalian hati-hati ya?"


"Iya Om ...."


Panggilan video pun berakhir. Ilona menatap Igan dengan was-was, ia khawatir lelaki tampan itu akan menginterogasinya.


"Yuk balik?" Ajak Igan dengan santai.


Ilona heran dengan sikap santai Igan, seolah ia tak mendengar apapun yang tadi diucapkan Om Bono.


Loh, Igan kok santai banget? apa dia enggak dengar yang tadi Om Bono bilang? Tanya Ilona dalam hati.


"Kamu mau aku tinggal ke bandara?" Tegur Igan mengagetkan lamunan gadis cantik itu.


"Eh, jangan! Ayo lah, cusss kita balik." Sahut Ilona.


Mereka kembali ke hotel untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal lalu bergegas menuju bandara.


Selama mereka di bandara menunggu waktu untuk terbang ke Jakarta, dan bahkan ketika mereka sudah tiba di Jakarta, Igan tak sekalipun menyinggung soal tema obrolan Ilona dengan Om Bono di telepon tadi, walaupun Igan dengan jelas mendengarnya.


Igan sudah cukup paham kalau rekan duetnya itu diam-diam ada rasa padanya, namun ia memilih untuk pura-pura tidak tahu.


Ia pikir, jika ia bertanya dan Ilona berkata jujur tentang perasaannya justru itu akan menyulitkan hubungan kerja mereka.


Igan memang tidak memiliki perasaan apapun kepada Ilona tetapi ia merasa tak tega jika harus menolak mantan teman satu sekolahnya itu, terlebih Igan tak enak hati terhadap Om Bono yang notabene paman Ilona.

__ADS_1


Kamu emang cantik Lon, tapi maaf aku enggak ada hati sama kamu. Mudah-mudahan kamu cepat ketemu lelaki lain yang bisa rebut hatimu, Lon." Harap Igan dalam hati.


***


__ADS_2