
Setengah jam berlalu, mereka sudah selesai menyantap bubur pagi itu dan sudah waktunya Igan untuk pamit pulang karena harus berangkat ke kantor.
"Sudah jam segini, saya pulang dulu ya Ti?" pamit Igan setelah melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Iya Mas, silakan. Sekali lagi, makasih ya buburnya?" ucap Tia.
"Iya, sama-sama. Enak enggak buburnya? Kalo enak biar besok saya bawain lagi."
"Enak, tapi enggak usah repot-repot Mas. Nanti jatah makan dari rumah sakit malah mubazir. Mas Igan kalo mau mampir ke sini mampir aja, enggak usah repot-repot bawa sesuatu." ujar Tia sambil tersenyum.
Igan mengulum senyum, ia kembali menatap sang gadis pujaan dengan lekat. Hendra lagi-lagi harus menyaksikan situasi yang membuatnya bimbang.
"Maaf, katanya Mas Igan mau pamit? Ayo saya antar sampai ke parkiran!" celetuk Hendra.
Igan terkesiap, begitupun dengan Tia. Keduanya tampak salah tingkah dan malu-malu.
"Oh, i-iya Mas Hen. Ayo?" sahut Igan.
Hendra dan Igan berjalan menuju pintu namun saat keduanya baru berada di ambang pintu, Tia memanggil Igan.
"Mas Igan!"
Igan berhenti melangkah dan menoleh ke arah Tia, diikuti oleh Hendra.
"Hati-hati ya?" ucap Tia dengan wajah tersipu.
Igan tersenyum dan mengangguk, "Kamu cepet sembuh ya, Ti!" ucap Igan.
Tia mengangguk dan melambaikan tangannya pada Igan yang dibalas lambaian juga oleh Igan.
Igan dan Hendra kembali melangkah keluar ruangan menuju area parkir dimana mobil Igan berada.
"Hmm ... Mas Igan saya liat sudah akrab banget ya sama Tia?" celetuk Hendra membuka percakapan saat sedang berjalan menyusuri koridor menuju area parkir.
"Euh? Ya ... saya memang ngerasa nyaman sama Tia sejak pertama ketemu."
"Nyaman yang kayak gimana maksud Mas Igan?"
"Ya ... nyaman aja. Saya nyaman ngobrol sama Tia, dia bisa jadi temen ngobrol yang asik, dia juga gadis yang pinter dan menyenangkan. Kenapa Mas Hendra tau-tau nanya begitu ke saya?"
Hendra terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Igan.
__ADS_1
"Berarti cuma sebatas itu ya, Mas?" tanya Hendra.
Igan mengerutkan dahi menatap Hendra, namun sejurus kemudian ia tersenyum.
"Jujur, enggak cuma sebatas itu sih Mas. Saya sayang sama Tia, dan pengin lebih dari sekedar teman. Tapi ... saya juga enggak bisa gegabah dalam bertindak. Saya perlu meyakinkan hati sebelum mengambil keputusan."
"Tapi ... saya rasa, Mas Igan mendingan jaga jarak sama adik saya."
Igan terkejut, ia langsung berhenti melangkah dan menatap penuh tanya pada Hendra.
"Kenapa??" tanya Igan.
"Saya enggak mau adik saya jadi sasaran orang yang ingin menjatuhkan Mas Igan lagi."
"Lho, tapi kan Yongki sama Om Bono sudah ditangkap polisi, Mas! Memangnya ada lagi orang yang berniat buruk ke saya selain mereka?? Saya enggak ngerasa punya musuh lho!"
"Saya juga enggak tau, Mas. Tapi kalo melihat status Mas Igan sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis Erlangga, pastinya Mas punya pesaing kan?"
"Kalo soal pesaing, setiap orang pasti punya. Jangankan yang punya bisnis atau artis seperti saya, orang dengan status sosial biasa pun punya pesaing, Mas. Tapi ... selagi pesaingnya itu bersaing secara sehat, ya enggak masalah kan?"
"Justru itu yang saya takutkan. Pesaing Mas Igan itu enggak bersaing secara sehat, jadi beresiko buruk juga ke orang yang ada di dekat Mas Igan."
"Maaf Mas, tapi saya rasa lebih baik Mas Igan dan Tia saling menjaga jarak. Perbedaan status sosial keluarga kita masing-masing juga terlalu jauh, Mas. Saya enggak mau adik saya dicap matre."
"Mas Hendra kok mendadak aneh sih? Emang siapa yang bilang Tia matre gara-gara deket sama saya??"
Hendra terdiam, ia memang belum pernah mendengar ada yang bicara begitu.
"Siapa Mas??" Igan kembali bertanya.
Hendra hanya menggelengkan kepala.
"Nah, enggak ada kan?? Mas Hendra cuma ngerasa ketakutan sendiri, padahal belum tentu ada yang niat bilang begitu."
"Saya cuma jaga-jaga, jangan sampai apa yang saya takutin beneran kejadian dan ujung-ujungnya adik saya lagi yang jadi korban."
Igan menghela napas panjang, "Saya ngerti perasaan Mas Hendra, dan saya bener-bener minta maaf soal kejadian penikaman itu. Tapi tolong ngertiin perasaan saya juga, Mas. Saya sayang sama Tia." ucap Igan penuh perasaan sambil menatap Hendra.
Hendra terdiam, ia memilih untuk tidak berkomentar dan melanjutkan langkah mengantar Igan menuju area parkir rumah sakit tersebut.
"Saya pamit dulu ya, Mas? Nanti saya ke sini lagi buat jengukin Tia." ujar Igan ketika sudah berada tepat di samping mobilnya.
__ADS_1
"Hati-hati, Mas. Soal ucapan saya tadi ... tolong dipikirkan ya? Ini demi kebaikan kita semua." ujar Hendra.
"Saya akan pikirkan baik-baik, tapi tolong Mas Hendra juga pikirin perasaan saya." sahut Igan kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Igan membunyikan klakson sebagai tanda berpamitan pada Hendra yang masih terpaku menatapnya. Hendra melambaikan tangan dan tersenyum melepas Igan yang makin menjauh bersama mobilnya.
Hendra balik badan lalu melangkah untuk kembali ke ruang perawatan sang adik.
*
Pukul sepuluh pagi, Hendra memutuskan pulang dulu ke rumah untuk menaruh pakaian kotor di laundry dan mengambil pakaian bersih untuk ganti.
"Dek, kakak balik dulu ya mau naruh baju di laundry, sekalian ambil baju bersih." pamit Hendra.
"Ya Kak, hati-hati."
"Kamu juga hati-hati ya? Kalo ada apa-apa, langsung telepon kakak. Oke?"
Tia mengangguk lalu mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum pada sang kakak.
Hendra beranjak keluar ruangan meninggalkan Tia yang terbaring di atas tempat tidur pasien. Tia memilih untuk menyalakan televisi di ruang perawatannya itu untuk mengusir suntuk, dan rasa sunyi yang tiba-tiba menyergap saat Hendra beranjak keluar.
Sekitar lima belas menit berselang, terdengar suara ketukan pintu di kamar Tia.
Siapa ya? Apa dokter yang mau visit hari ini? Tapi biasanya kan bukan jam segini visitnya? pikir Tia.
Pintu kembali terdengar diketuk, dan akhirnya Tia pun mempersilakan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Masuk!" seru Tia.
Gagang pintu kamar itu terlihat bergerak dari luar seiring dengan terbukanya daun pintu. Tia menatap ke arah pintu itu dengan seksama untuk melihat siapa yang datang.
Daun pintu bergerak perlahan memberikan celah bagi orang yang hendak masuk. Tampak sebuah kaki bersepatu hak tinggi warna merah menyembul dari balik pintu.
Tia masih menatap penasaran pada sosok tamunya itu, hingga matanya terbelalak ketika orang itu sudah tampak memasuki ruangan dan berjalan mendekati Tia.
Suara hak sepatu yang menghentak terdengar samar dengan suara televisi di sana.
"Kamu??" gumam Tia dengan tetap menatap pada orang yang sedang melangkah mendekatinya.
****
__ADS_1