
Sejak pertemuan Igan dengan Ilona beberapa waktu lalu membuat komunikasi keduanya menjadi intens. Ilona yang tak ragu untuk menghubungi Igan terlebih dahulu pun mendapat respon baik dari Igan.
Ilona merasa sangat senang dengan kedekatan mereka, walaupun hubungan itu masih wajar sebatas rekan kerja.
Apa yang diyakini oleh Om Bono pun nyata, lagu yang dinyanyikan berdua oleh Igan dan Ilona pun meraih popularitas di blantika musik tanah air. Undangan menyanyi duet pun mulai meramaikan jadwal Igan dan Ilona.
Tak jarang mereka mendapat undangan menyanyi hingga ke luar pulau. Dengan begitu, mereka semakin sering beraktivitas bersama dan menjadikan keduanya menjadi semakin dekat secara personal.
"Gan, aku beneran enggak nyangka deh bisa kayak sekarang ini. Ini berasa kayak mimpi buat aku." Ujar Ilona di sela-sela waktu mereka di belakang panggung.
"Emang cita-cita kamu dulu apa?" Tanya Igan dengan santai.
"Aku dulu pengin jadi pramugari, tapi sama mama ku enggak boleh."
"Padahal kamu cocok lo jadi pramugari."
"Euh, kenapa emangnya?"
"Pramugari kan identik dengan wajah yang cantik." Ujar Igan dengan tanpa melihat Ilona dan tetap fokus dengan ponselnya.
Ilona terhenyak sejenak sebelum akhirnya memberanikan bertanya pada Igan.
"Berarti ... menurut kamu, aku ini ... cantik?"
Igan sontak berhenti fokus pada ponselnya, lalu menoleh ke arah Ilona yang sedang menatapnya penuh harap.
Bukannya menjawab, Igan justru terkekeh.
"Kok ketawa?" Tanya Ilona, cemberut.
"Ya kamu emang cantik, terus apa? Masa aku harus bilang kamu ganteng?" Seloroh Igan lalu kembali fokus pada ponselnya.
Ih, nyebelin sih Gan! Enggak peka banget jadi cowok! Gerutu Ilona dalam hati.
Tanpa disadari, Ilona menghentakkan sepatunya dengan sangat kasar sambil mendengus kesal, lalu berusaha menjauh dari Igan yang masih duduk santai dengan ponselnya.
Igan menyadari perubahan sikap Ilona pun segera menarik tangan Ilona untuk menahannya. Ilona terkejut, ia menatap pemuda tampan itu.
"Mau kemana?" Tanya Igan dengan lembut.
"Mau ambil minum!" Sahut Ilona dengan ketus.
"Oh, tolong ambilin juga dong." Pinta Igan sambil tersenyum jahil, seperti sengaja meledek gadis itu.
Ilona semakin mendengus kesal, lalu melangkahkan kakinya yang berbalut sepatu hak tinggi dengan hentakan kasar.
Nahas, ketika Ilona sedang berjalan dengan penuh emosi justru langkahnya harus terhenti akibat terjatuh. Hak sepatunya yang tinggi itu mendadak oleng hingga membuatnya limbung.
Namun dengan sigap Igan segera menangkap tubuh Ilona yang hampir terjerembab ke lantai. Kejadian itu tak pelak menjadi pusat perhatian banyak mata yang memandang.
"Cie cieee ... sebelum manggung sempet-sempetnya romantisan dulu." Ledek Rani, salah seorang pendukung acara yang sama-sama berada di back stage.
"Romantisan gimana orang Lona mau jatuh gitu?!" Elak Igan.
__ADS_1
Ilona yang masih berpegangan di bahu Igan pun sontak terkejut lalu melepaskan pegangannya dan berdiri.
"Thanks Gan." Ucapnya.
"Kamu hati-hati Lon, enggak inget ya kalo hak sepatu kamu itu setinggi Monas?" Ledek Igan.
Ilona pun jadi tersenyum, padahal sebelumnya ia merasa kesal dengan Igan yang dianggap tak peka menerima kode perasaan darinya.
"Ya udah kamu duduk aja, biar aku yang ambil minum." Ujar Igan.
Ilona merasa tersanjung melihat kebaikan Igan kepadanya.
"Lon, kalian udah jadian ya? Cinlok apa gimana nih?" Tanya Rani.
"Enggak, gue sama Igan cuma temen kok."
"Tapi emang lu enggak ada deg-degan gitu kalo lagi sama dia?"
"Ng-enggak, biasa aja kok." Elak Ilona, namun sorot matanya memancarkan kebohongan.
Rani tersenyum penuh arti sambil menatap mata Ilona, ia tahu ada yang Ilona sembunyikan.
"Jangan kelamaan kalo emang lu suka sama dia, bilang aja! Keburu si Igan gue gebet, hehehe ...." Ledek Rani.
Ilona membulatkan matanya lalu bersungut-sungut ke arah Rani.
"Tuh kan marah, gue tau kok lu itu suka sama Igan. Ga usah malu kenapa Lon?!" Imbuh Rani.
"Siapa yang suka sama gue?" Tanya Igan yang ternyata sudah berada di belakang mereka sambil membawa dua botol air mineral.
"Nih minumannya." Ujar Igan seraya menyodorkan sebotol air mineral kepada Ilona.
"Thanks." Ucap Ilona menerimanya.
"Gue enggak dibawain Gan?" Ledek Rani.
"Ambil sendiri aja Ran, tuh di panitia." Tukas Ilona.
Rani dan Igan kompak menoleh ke arah Ilona.
"Iya deh iya ... Gue ambil sendiri. Takut ya kalo ...."
"Udah buruan sana ambil minum, ngoceh mulu kayak burung!" Seloroh Ilona bermaksud membuat Rani menjauhi mereka, ia tak mau kalau Rani bicara yang macam-macam di depan Igan.
Rani tertawa senang melihat reaksi Ilona yang gugup di depan Igan, ia justru semakin meledek Ilona dengan mengedipkan mata yang mengisyaratkan sesuatu kepada Ilona kemudian berlalu.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Igan.
"Enggak, enggak apa-apa kok." Sahut Ilona, cepat.
"Oh, ya udah kita siap-siap soalnya tadi panitia bilang habis ini giliran kita perform." Ujar Igan.
"Oke."
__ADS_1
Seusai acara ...
Igan dan Ilona tampak berjalan beriringan menuju ke area parkir di mana mobil mereka berada.
"Gan." Panggil Ilona tiba-tiba.
"Heum?" Igan menoleh, namun Ilona justru terdiam.
"Kenapa?" Tanya Igan.
"Hmmm ... enggak jadi deh."
"Kok enggak jadi?"
"Enggak apa-apa."
"Ngomong aja Lon."
"Enggak deh, kayaknya belum waktunya."
"Belum waktunya apa?"
"Enggak ... Udah ah, yuk cepetan balik? Udah malem nih."
"Kamu berani pulang sendiri?"
"Emang kalo aku enggak berani, kamu mau nemenin aku Gan?"
"Ayo aja aku sih."
"Hah, serius??"
"Ya serius lah, toh kita searah jadi mobil kita bisa konvoi. Kan sama aja aku nemenin kamu?" Sahut Igan sambil terkekeh.
"Ih kamu tuh bener-bener enggak peka deh jadi cowok!" Gerutu Ilona.
"Lo, enggak peka gimana? Bener dong, soalnya kan kita bawa mobil masing-masing?" Elak Igan membela diri.
Ilona terdiam, dalam hati ia membenarkan ucapan Igan dan merutuk dirinya yang terlalu berharap.
Huff ... kayaknya gue emang terlalu cepat berharap sama Igan. Enggak seharusnya cewek terlalu agresif begini, gue harus pelan-pelan dapetin Igan.
"Kok jadi ngelamun Lon?" Tegur Igan.
"Ah enggak kok, ya udah aku balik duluan ya?" Pamit Ilona sembari memasuki mobilnya.
"Hati-hati Lon, jangan ngebut biar aku bisa tetep ada di belakang kamu."
Ilona tersenyum, Kamu enggak harus selalu di belakang ku Gan, harusnya kamu ada di sampingku. Batin Ilona.
Tak lama kemudian mobil mereka masing-masing mulai melaju meninggalkan area tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing.
Malam itu Igan pulang ke rumah orang tuanya karena sudah janji dengan sang bunda, namun untuk selanjutnya ia tak bisa karena ada jadwal manggung di luar kota.
__ADS_1
***