
Tia dan Hendra tampak tak percaya dengan berita di televisi itu.
"Ternyata mereka jadian juga." celetuk Tia.
"Kakak bilang juga apa, mereka bisa aja cinlok gara-gara sering ketemu." sahut Hendra.
Tia terdiam, ia beranjak kembali ke dapur untuk lanjut membuat kue.
"Oh iya Kak, nanti siang aku diajak Pak Rey makan siang di rumahnya." ujar Tia.
"Makan siang di rumahnya?"
"Iya."
"Kenapa enggak di rumah makan aja?"
Tia mengangkat bahu sembari tangannya cekatan mulai membuat adonan.
"Ya udah, yang penting kamu hati-hati ya Dek?" ujar Hendra, berpesan.
"Beres lah Kak ...!"
*
Siang hari pun tiba, deru mobil Rey sudah terdengar dan berhenti tepat di depan rumah Tia.
Rey bergegas turun dan mengetuk pintu rumah kekasihnya itu, lalu tampak Hendra yang membukakan pintu.
"Siang Hen, apa Tia sudah siap?" sapa Rey, tanpa basa-basi.
"Sedang siap-siap, Pak. Silakan masuk dulu." sahut Hendra, mempersilakan.
"Oh, baik Hen. Makasih." Rey beranjak masuk ke ruang tamu, ditemani Hendra.
"Mau ada acara kemana, Pak?" tanya Hendra, basa-basi kendati Tia sudah cerita.
"Loh, Tia belum ijin sama kamu ya? Ini ... saya mau ajak Tia makan siang berdua di rumah saya, sekalian biar Tia tau rumah saya. Jadi ... kalau nanti sudah nikah, dia sudah terbiasa dengan lingkungan rumah saya." sahut Rey sembari tersenyum penuh percaya diri.
Nikah? Kayaknya enggak secepat itu, soalnya gue masih ada ganjalan di hati soal hubungan Tia sama Pak Rey. batin Hendra.
"Oh ... gitu, Pak? Ya sudah, tolong jaga adik saya ya Pak? Dia itu suka kesurupan kalo di tempat baru yang dia rasa kontra. Makanya kalo Tia ngerasa enggak nyaman, mending langsung bawa pulang aja. Dia kalo kesurupan tuh ... ngeri soalnya!!" ujar Hendra, bersiasat.
Mendengar hal itu membuat Rey terperanjat, ia tampak tak percaya dengan penjelasan Hendra namun ia teringat dengan kejadian di jalan dengan arwah nenek Kinasih.
"Memangnya ... Tia itu beneran indigo ya, Hen?" tanya Rey agak berbisik.
Nah, kena perangkap! batin Hendra, girang.
__ADS_1
"Iya Pak, emang Pak Rey belum tahu?"
"Oh, euh ... su-sudah sih, cuma ... saya mau memastikan aja ke kamu."
Tak lama kemudian, Tia menemui mereka di ruang tamu. Ia tampak sangat anggun dengan dress selutut warna salem dengan bordiran bunga kecil di bagian dada, dipadu dengan tatanan rambut yang elegan namun tetap terkesan chick , ditambah sandal heel rendah dengan model apik dengan warna senada.
Rey terperangah beberapa detik memandang Tia, ia sontak memuji dalam hati melihat kecantikan Tia yang melonjak berkali-kali lipat dari hari biasa jika bertemu di kantor.
Cantik banget! Dia jauh lebih cantik begini daripada pakai pakaian kantor. Andaikan ke kantor boleh pakai outfit begini! batin Rey, memuji Tia.
"Pak, kenapa? Kok bengong begitu? Ada yang salah ya sama penampilan saya?" tanya Tia, heran.
"Oh, eng-enggak kok Ti. Saya ... hmmm ... ka-kamu sudah siap kan? Kita berangkat sekarang?" Rey mendadak salah tingkah hingga membuatnya tergagap.
"Boleh." sahut Tia, singkat.
"Mau sekarang?" tanya Hendra.
"Iya Kak, aku pamit dulu ya?" pamit Tia seraya mencium punggung tangan Hendra.
Rey melihat kebiasaan Tia seperti itu pun mendadak bingung, ia tampak ragu untuk berpamitan pada Hendra.
Tia cium tangan ke Hendra, apa gue juga harus begitu ke Hendra? Tapi ... dia kan bawahan di kantor, masa gue yang cium tangan ke dia?? Hmmm ... tapi dia kan kakaknya Tia, pacar gue. batin Rey sedang berkecamuk.
"Pak, kenapa?" tegur Tia saat melihat tingkah Rey yang mendadak canggung.
"Oh, eng ... enggak apa-apa. Hen, saya pamit ya mau ajak Tia dulu." pamit Rey sambil refleks mencium punggung tangan Hendra, persis seperti yang Tia lakukan tadi.
Rey meringis, "Kan kamu calon kakak ipar saya, Hen." sahutnya, masih dengan keyakinan penuh.
Hendra manggut-manggut, sedangkan Tia yang sudah berdiri di belakang Rey berusaha untuk menahan tawa.
"Ya-ya udah, hati-hati ya kalian semua." ucap Hendra masih dengan ekspresi tak percaya.
Rey bergegas menuju mobilnya, sedangkan Tia menatap Hendra kemudian berbisik, "Kapan lagi seorang kepala bagian cium tangan sekuriti?" ucap Reva sembari mengerlingkan mata kanannya kemudian tertawa kecil.
Hendra jadi tersipu dan ikut tertawa lirih.
"Sayang, ayo!" ajak Rey pada Tia agar cepat masuk ke dalam mobil.
Tia pun bergegas menyusul Rey yang sudah menunggu dan membukakan pintu untuknya.
Hendra melambaikan tangan seiring dengan mobil Rey yang merangkak dengan membawa sang adik.
Di perjalanan, Rey bertanya soal kalung pemberiannya pada Tia karena siang itu Tia tak memakainya.
"Sayang, kalungnya mana? Kok enggak dipake?"
__ADS_1
Tia sontak meraba bagian lehernya, ternyata ia lupa.
"Waduh, saya lupa Pak! Masih ada di rumah." sahut Tia dengan panik.
Rey menoleh dan menatap Tia, kemudian tersenyum.
"Status kita sudah meningkat loh, kita sudah jadian. Tapi ... kamu kok masih panggil saya 'Pak' sih?" tegur Rey dengan lembut.
Tia terhenyak, ia baru menyadarinya karena memang ia tak pernah berpikir sedetil itu.
Tia meringis lalu menoleh menatap Rey yang sudah kembali fokus menyetir.
"Terus ... enaknya saya manggil apa dong, Pak?" tanya Tia, malu-malu.
"Terserah kamu aja, Sayang. Mau panggil 'Mas' boleh ... panggil 'Sayang' juga lebih baik, hehe ...." timpal Rey, terkekeh.
"Hmmm ... saya panggil 'Mas' aja deh, Pak." sahut Tia.
"Kenapa enggak panggil 'Sayang'?" tanya Rey, penasaran.
"Hmmm ... enggak apa-apa sih ... tapi saya lebih terbiasa untuk sebut 'Mas', kayak saya manggil Mas I ...." sahut Tia yang mendadak terhenti, karena ia menyadari kalau ia hampir keceplosan menyebut nama Igan.
Hufff ... untung rem mulut gue pakem!! batin Tia.
"Mas I ... siapa , Yang?" selidik Rey.
"Hmmm ... Mas Idrus!! itu loh Pak, yang punya kantin di kantor." elak Tia.
Rey tampak terkejut karena Tia ternyata tahu nama pemilik kantin yang sudah meninggal dua tahun lalu.
"Mas Idrus?? Kok kamu bisa tahu, Yang?"
"Loh, emangnya kenapa?"
"Mas Idrus itu ... sudah enggak ada sejak dua tahun lalu!" sahut Rey, tegang.
Sekarang gantian Tia yang terhenyak dan tegang.
"Kamu ketemu dia di mana memangnya?" tanya Rey, penasaran.
Aduh!! Gue jelasinnya gimana ya? Gue kan emang beda sama orang lain. gerutu Tia dalam hati.
"Kata Hendra, kamu itu indigo ya, Yang?" celetuk Rey.
Tia terhenyak lalu menoleh ke arah Rey yang juga tengah memandangnya untuk meminta jawaban.
"Saya juga enggak tahu Pak, tapi yang jelas ... saya bukan ghost buster , hehehe ...." kelakar Tia.
__ADS_1
Rey pun tertawa kecil kemudian mereka kembali fokus dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya tiba di kediaman Rey.
****