Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Debat Dimulai


__ADS_3

Igan seperti tersihir oleh kecantikan Ilona sore itu. Igan tak langsung menjawab karena menu yang dipesan sudah disuguhkan oleh dua orang waiter di meja besar itu.


Mereka menyantap makanan-makanan lezat itu terlebih dahulu, sambil sesekali membicarakan hal lain hingga tak terasa azan magrib sudah berkumandang.


Igan pun pamit untuk mencari musala terdekat namun Ilona mengalihkan agar Igan jangan menunaikan salat terlebih dahulu.


"Gan, tanggung lah jangan salat dulu. Makannya dihabisin dulu. Salatnya nanti aja kalo pulang." ucap Ilona sembari mengelus lembut tangan Igan dan tersenyum.


Ilona benar-benar berusaha agar Igan selalu menatap ke arahnya.


Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Igan menurut saja apa kata Ilona. Om Bono dan Tante Ratih tersenyum melihat mereka berdua.


Pertemuan dan acara makan itu berakhir tepat pukul tujuh malam. Om Bono dan Tante Ratih pamit terlebih dahulu, memberikan kesempatan bagi Igan dan Ilona untuk berdua lebih lama.


Ilona dan Igan masih berada di dalam private room yang sengaja Ilona booking sore itu.


"Jadi gimana Gan, kamu mau kan nerima aku?" tanya Ilona dengan lembut, menegaskan sebelum mereka pulang masing-masing.


Kenapa gue jadi grogi banget begini ada di deket Ilona, enggak kayak biasanya! batin Igan.


Igan tampak berkeringat dan mengusap dahinya, namun dengan cepat Ilona mengambil sapu tangan dan mengusapkannya ke wajah Igan yang tampak berkeringat.


"Kamu kok grogi sih Gan? Kenapa?" tanya Ilona sambil senyum-senyum penuh rayu.


"Hmmm ... enggak kok, enggak apa-apa." sahutnya, makin grogi karena jaraknya sekarang sangat dekat dengan Ilona.


"Jadi ... gimana, kamu mau enggak jadi pacarku?" tanya Ilona, lebih berani dengan berbisik lembut di telinga Igan.


Gan, sadar Gan! Jangan terlena, bahaya! Ini enggak bener! batinnya menjerit, berusaha menyadarkan logikanya.


Ilona berdiri semakin mendekat di depan Igan, membuat pemuda tampan itu menahan napasnya karena wajah Ilona yang sudah semakin condong ke depan wajahnya.


"Oke-oke, kita ... kita jalanin aja dulu, oke?" sahut Igan seraya bangkit dan menjauh dari Ilona.


Huff ... Ini bener-bener kacau, gila! Jantung gue jadi enggak karuan gini! lagi-lagi batin Igan berceracau.


Ilona tersenyum nakal lalu kembali mendekati Igan yang makin terlihat gugup.


"Maksudnya 'kita jalanin dulu' itu gimana, Tampan?" tanya Ilona, merayu seraya mendekat.


"Stop Lon, stop! A-aku takut ada khilaf!" seru Igan.


Ilona tertawa kecil, ia benar-benar tampak berbeda hari itu. Ilona tampak jelas lebih agresif dan 'nakal'.


"Ya udah ... kamu jelasin dong maksudnya apa?" tanya Ilona, masih dengan suara lembut nan menggoda.


Igan menarik napas dalam-dalam, lalu dengan cepat mengangguk.


"Ya, kita jadian sekarang." ucapnya.

__ADS_1


Yesss!!! akhirnya lu jadi milik gue sekarang, Gan! batin Ilona, puas.


Dengan cepat Ilona menghambur memeluk dan mengecup pipi kanan Igan. Igan sangat terkejut dengan tingkah Ilona tersebut, ia merasa ada yang aneh tapi lagi-lagi seperti terkena sihir, ia pun tak bisa menolaknya dengan tegas.


"Makasih ya Sayang, akhirnya yang aku impikan bisa tercapai juga. I love you, honey ...." ucap Ilona, bahagia.


"I ... i love you, too." balas Igan, terbata.


Hah, i love you??? Ngomong apa sih gue?? Gue kenapa?? batin Igan, meronta.


"Ya udah, sekarang kita balik yuk, Sayang?" ajak Ilona seraya melingkarkan tangan dengan manja di lengan Igan.


Igan mengangguk, mereka pun berjalan keluar private room tersebut setelah Ilona membayar tagihannya.


"Kamu hati-hati ya Sayang, jangan ngebut." ucap Ilona ketika sudah berada di area parkir.


Igan mengangguk dan menatap Ilona dengan lekat, Ilona kembali memberikan senyum yang mengandung magnet bagi Igan.


Ketika Igan membuka pintu mobilnya dan hendak masuk, Ilona menarik tangan Igan kemudian memeluknya dengan cepat.


"Aku cinta banget sama kamu, Gan. Mudah-mudahan ini bisa berlangsung lama." Ucapnya agak lirih.


Cukup lama Ilona memeluk erat tubuh Igan, dan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan ada yang mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel.


"Lona, udah-udah jangan begini terus! Malu tuh diliatin orang!" tegas Igan seraya menjauhkan tubuh Ilona darinya.


"Ck! Iya sih ... tapi kita belum nikah, enggak etis peluk-pelukan begini, Lon!" tukas Igan sembari berdecak kesal.


"Ya udah deh ... kita pulang aja yuk?" usul Ilona.


Igan mengangguk lalu membuka pintu mobilnya dan bergegas meninggalkan lokasi tersebut, begitupun Ilona.


****!!! Gue kenapa sih?? tadi gue bener-bener ngerasa aneh di deket Ilona, kayak ada yang beda sama sosoknya. batin Igan menggerutu sembari menyetir mobilnya.


Ia benar-benar tak habis pikir dengan dirinya sendiri karena merasa apa yang ia alami tadi sejujurnya bertentangan dengan nurani, tapi ia seolah tak bisa menolak.


Saking ia tak habis pikir tentang dirinya sendiri, ia hampir saja menerobos lampu merah.


"Astagfirullah!! Duh, hampir aja!" serunya, menggerutu.


Igan segera menginjak pedal rem, beruntung tak sampai menabrak kendaraan di depannya. Igan celingukan melihat ke sekitar dan tak sengaja ia melihat seseorang yang tak asing baginya tengah berada di dalam sebuah mobil, tepat di sisi kanan mobilnya.


Ia memicingkan mata agar bisa lebih jelas melihat.


"Itu Tia kan? Dia sama siapa tuh?" gumamnya.


Igan kembali memicingkan mata untuk memastikan siapa yang ia lihat.


Hatinya sontak terasa getir ketika netranya sudah melihat dengan jelas orang yang sedang menyetir di sebelah Tia dalam mobil tersebut.

__ADS_1


"Ternyata itu Rey. Mereka mau kemana ya? Ternyata mereka beneran udah deket banget!" gumam Igan.


Igan tak berpaling dari mobil di sebelah kanannya itu hingga lampu hijau kembali menyala. Ia melihat mobil itu melaju lebih dulu dan hendak mengejarnya. Tetapi ia urungkan niatnya, karena ia tak ingin merusak hubungan mereka.


"Ah enggak usah kepo deh, mereka mau kemana kek! Kan mereka udah jadian, serius juga keliatannya pake ngasih kalung segala." gumamnya lagi kemudian membelokkan laju mobilnya menuju arah pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Igan disambut oleh Bulan yang sudah menunggunya.


"Assalamu'alaikum, Bun." ucap Igan sembari mencium punggung tangan Bulan.


"Wa'alaikum salam ... dari mana kamu, Nak?"


"Hmmm ... habis ... ketemuan sama Om Bono dan istrinya, Bun."


"Sama Ilona juga kan?" tebak Bulan.


"Hmmm ... kok Bunda tau?"


Bulan tak menjawab, ia hanya merogoh saku baju santainya dan mengambil ponsel. Tanpa bicara apa-apa, jemari Bulan sibuk berselancar di atas layar ponselnya.


"Ini buktinya." ujar Bulan seraya menghadapkan layar ponselnya ke arah Igan.


Igan terhenyak, ia melihat beberapa foto tepat ketika ia sedang bersama Ilona tadi.


Waduh, itu kan waktu gue sama Lona di resto tadi! Siapa sih yang diem-diem ambil foto terus di- upload ke medsos? batin Igan, kesal.


"Ada acara apa Nak? Kok sampe peluk-pelukan begitu sama Ilona? Gimana kalo Ayah sampe liat?" tegur Bulan dengan tegas.


Igan tertunduk, "Maafin Igan, Bun. Tapi itu enggak yang aneh-aneh kok! Tadi itu ...."


Bulan menatap putranya dengan lekat, menantikan jawaban apa yang akan ia terima sebagai alasan.


"Tadi itu ... Lona ungkapin perasaannya ke Igan, Bun. Dia juga ajak Om Bono sama Tante Ratih sekalian makan-makan."


Bulan membulatkan matanya kala mendengar perkataan Igan.


"Dia ... bilang cinta ke kamu??" tanya Bulan.


Igan mengangguk pelan, "Enggak apa-apa kan, Bun?" tanya Igan.


"Maksud kamu enggak apa-apa gimana? Kan kamu tau Ayah kurang suka kalo kamu ada hubungan spesial sama Ilona, kenapa kamu masih bisa tanya 'enggak apa-apa' ?" tukas Bulan.


Igan tertunduk, dia hanya bisa terdiam.


"Apa jangan-jangan ... kamu udah terima cinta Ilona?" tebak Bulan.


Baru saja Igan hendak menjawab, namun sebuah suara terdengar dari dalam yang membuat Igan dan Bulan terkejut.


***

__ADS_1


__ADS_2