Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Igan Merana, Ilona Bahagia


__ADS_3

Akhirnya Igan memutuskan untuk pamit, ia tak mau hatinya semakin perih lantaran melihat Rey dan Tia.


"Hmmm ... Tia, saya pamit dulu ya?" Ucapnya seraya berdiri dan menatap Tia.


"Loh, kok buru-buru Mas? Kan belum lama nyampe?" Tanya Tia, heran.


"Hmmm ... iya, saya baru ngerasain capek nih. Pengin istirahat cepat, besok kan saya mulai sibuk lagi. Dimakan ya martabaknya?" Sahut Igan.


"Oh, ya udah deh Mas. Hati-hati di jalan ya?" Ucap Tia.


Igan mengangguk, lalu beranjak mendekati Hendra.


"Mas, saya pamit dulu. Mudah-mudahan Mas Hendra cepat sehat ya?" Ucap Igan sambil menyalami Hendra yang masih terbaring lemah.


"Iya Mas Igan, terima kasih banyak sudah banyak membantu saya dan Tia. Lain waktu kalau saya sudah sehat, silakan mampir ke rumah. Kita ngobrol bareng." Sahut Hendra.


"Iya Mas, insyaallah. Ya sudah, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...." Sahut Hendra dan Tia.


Baru beberapa langkah, Igan kembali berbalik dan mendekati Rey lalu mengajaknya bersalaman.


"Saya pamit Bung. Dimakan dong martabaknya, enak kok!" Ujar Igan sembari tersenyum penuh arti pada Rey.


Rey mengangguk sambil tersenyum puas.


Kena lu gue kadalin! Gue sengaja bahas soal kalung itu di depan lu biar lu sangka, gue sama Tia udah ada hubungan serius! Batin Rey, licik.


Mas Igan kayaknya keliatan kesel deh pas Pak Rey bahas soal kalung ini. Kenapa ya? Apa dia cemburu? Tapi ... ah enggak mungkin! Siapa gue coba sampe bisa bikin Mas Igan cemburu? Pikir Tia.


Igan berjalan turun dari lantai dua menuju ke area parkir. Apa yang ia bayangkan jadi berantakan, semangat dan sikap sumringah yang tadi ia tunjukkan sejak di rumah, mendadak jadi sendu dan gundah.


Ia kemudikan mobilnya ke sebuah kafe, ia ingin meminum kopi favoritnya sekadar untuk mengobati rasa panas di hatinya.


Di perjalanan, ponsel Igan berdering. Ia segera memasang bluetooth handsfree agar tidak mengganggu aktivitasnya berkendara.


"Halo?" Sapanya singkat.


"Gan, kamu lagi dimana?" Tanya si penelepon yang ternyata adalah Ilona.


"Lagi di jalan. Kenapa?"


"Di jalan? Emang darimana?"


"Kepo aja kamu Lon. Aku lagi suntuk nih! Ada perlu apa kamu nelepon?"


"Aih, ketus amat sih Gan? Kalo kamu suntuk mending kita ngopi-ngopi yuk? Aku juga bete di rumah."


Ilona kok pas banget ya ngajakin ngopi? Gue juga lagi mau ke kafe ngilangin bete liat si Rey sama Tia. Pikir Igan.


"Hei, kok diem aja? Mau enggak?" Tegur Ilona di seberang telepon.


"Oh, hmmm ... oke lah. Kita ketemu di kafe Amarta aja gimana?" Usul Igan.


"Deal. Aku siap-siap dulu ya? See you ...." Ujar Ilona seraya mengakhiri panggilan teleponnya.


Igan melepas handsfree lalu ia letakkan kembali ke wadahnya. Ia kemudikan mobilnya menuju kafe Amarta yang berjarak sekitar dua puluh menit dari lokasinya saat itu, jika tidak ada kendala macet.

__ADS_1


Beberapa menit sebelum tiba di kafe, terdengar kumandang azan magrib. Ia pun segera menuju masjid atau musala terdekat untuk menunaikan salat magrib.


Ia pun belok memasuki sebuah pelataran masjid yang cukup luas. Setelah memastikan mobilnya terparkir rapi dan aman, ia bergegas menuju ke area wudu khusus pria sebelum menunaikan salat.


Selama menunaikan salat, ia mematikan daya ponselnya sementara agar tidak mengganggu kekhusyukan beribadah.


Selesai menunaikan salat, Igan menyempatkan diri untuk berzikir dan bermunajat terlebih dahulu. Dalam munajatnya, ia sontak terbayang wajah Tia yang sedang tersenyum.


Hatinya bergetar dan terucaplah sebuah permohonan kepada Sang Pencipta, agar dimudahkan jalan untuk bisa bersama Tia jika memang berjodoh.


Setelah selesai bermunajat, Igan keluar dari dalam masjid lalu merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Ia hidupkan kembali daya ponselnya, dan beberapa saat kemudian terdengar notifikasi panggilan tak terjawab beruntun sebanyak lima kali.


Igan menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak dan bergumam, "Lona ... Lona, udah tau waktunya salat, masih aja neleponin!"


Igan berniat untuk menelepon balik Ilona, namun belum sempat ia menelepon ternyata Ilona sudah kembali meneleponnya.


"Ya ...? Aku habis salat Lon, ini baru selesai. Kamu udah sampe Amarta?" Tanya Igan.


"Oh, pantesan aku teleponin enggak diangkat-angkat. Aku masih on the way, sebentar lagi nyampe. Tadi habis mampir dulu ke minimarket." Sahut Ilona.


"Sama, aku juga hampir sampe kok." Ujar Igan.


"Ya udah, sampe ketemu ya Gan ...."


"Iya ...."


Igan segera masuk ke dalam mobil kemudian lanjut menuju kafe Amarta yang akan sampai sebentar lagi.


Setibanya di kafe Amarta, Igan dan Ilona ternyata bertemu di area parkir. Ilona tampak senang sekali bisa bertemu Igan malam itu.


Igan tersenyum.


"Eh, aku mau yang outdoor aja gimana? Bagus tuh suasananya, cantik banget!" Usul Ilona, antusias.


Igan mengangguk saja, ia benar-benar tak ada semangat untuk banyak bicara. Ilona refleks menggandeng tangan Igan dan berjalan cepat menuju sebuah meja di luar ruangan.


Igan berusaha melepaskan pegangan tangan Ilona namun gadis itu bersikeras tak ingin melepaskan.


"Lon, biasa aja kenapa sih?" Protes Igan, pelan agar tak menjadi pusat perhatian.


"Biarin ah, habis kamu jalannya kayak keong!" Omel Ilona.


Igan segera menghempaskan tangan Ilona setibanya mereka di spot yang dituju.


"Nah, kalo di sini kan keren suasananya!" Ucap Ilona sambil menarik kursi di hadapannya, kemudian duduk.


Keren sih, tapi harusnya ke sini sama pasangan, bukan sama teman! Gerutu Igan dalam hati lalu duduk di kursi yang tepat berada di depan Ilona.


"Selamat malam Kakak-Kakak, beruntung sekali kafe kami kedatangan artis papan atas malam ini. Boleh enggak kalau nanti kami minta fotonya pakai latar kafe kami ini? Mau kami pajang sebagai kebanggaan kalau artis ibukota sudah datang kemari." Ujar seorang waitress menyapa mereka berdua.


"Oh, boleh-boleh Mbak. Silakan." Sahut Ilona, ramah.


"Baik kalau begitu, terima kasih sebelumnya. Oh iya, Kakak tampan dan cantik mau order apa?" Tanya waitress itu seraya menyodorkan daftar menu


"Saya pesan Moccacino sama pie buah ya, Mbak." Ujar Ilona, setelah membaca daftar menu yang ada.


"Baik, kalau Kakak tampan?"

__ADS_1


"Hmmm ... saya mau Doppio aja, Mbak." Sahut Igan.


Ilona membulatkan matanya ke arah Igan, ia terkejut.


"Doppio saja, Kak?" Tanya waitress itu, menegaskan.


"Iya, saya lagi butuh semangat Mbak." Celetuk Igan.


Waitress itu tersenyum lalu mengulangi pesanan Ilona dan Igan, untuk memastikan ia tidak salah mencatat.


"Kamu kok cuma pesan kopi, Gan?" Tanya Ilona selepas waitress itu pergi.


"Iya, aku udah kenyang tadi makan martabak di rumah sakit." Sahut Igan, jujur.


"Di rumah sakit?? Emang siapa yang dirawat?" Tanya Ilona, penasaran.


"Kakaknya Tia." Sahutnya, santai.


"Kamu masih aja deket sama mereka?" Tanya Ilona, ketus.


"Emang kenapa?" Igan balik bertanya.


"Mereka itu bawa ...."


"Bawa sial??" Sergah Igan, memotong kata-kata Ilona.


"Nah itu kamu tau!"


Igan terdiam, kemudian menghela napas dalam-dalam dan ia hembuskan dengan perlahan seperti sedang coba mengurangi beban batinnya.


"Tapi ... mungkin untuk selanjutnya, aku bakal jaga jarak sama Tia." Ucap Igan.


Mendengar itu, tatapan mata Ilona sontak berbinar. Ia menyambut baik keputusan Igan tersebut.


"Nah, keputusan bagus tuh! Akhirnya kamu sadar juga kalo kakak beradik itu emang suka bawa sial!" Celetuk Ilona, bersemangat.


Igan menatap Ilona dengan lesu kemudian menyahut, "Bukan karena itu, Lon."


"Lantas?"


"Tia udah punya pacar, malah kelihatannya mereka udah serius banget!" Ucap Igan, lesu.


Ilona bersorak dalam hati, ia bersyukur atas kenyataan yang terjadi.


Bagus! Artinya gue bisa lebih gampang buat deketin Igan, jalan gue makin lebar dan leluasa tanpa cewek rese itu! Batin Ilona, bahagia.


Tak lama kemudian, menu pesanan mereka berdua pun datang.


"Silakan Kakak ...." Ucap waitress itu, mempersilakan.


"Makasih ya Mbak ...." Ucap Ilona, ramah.


Waitress itu mengangguk dan tersenyum. Ketika ia sedang berjalan ke dalam kafe untuk melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba Ilona memanggil seraya berjalan mendekatinya.


Ilona tampak membisikkan sesuatu ke telinga waitress itu, lalu kembali ke kursinya seakan tak terjadi sesuatu.


***

__ADS_1


__ADS_2