
Pukul lima sore Igan sudah tampak rapi dan bersiap menuju rumah sakit untuk menemui Tia dan Hendra.
Sore itu ia memakai kaos lengan pendek berkerah warna biru tua, dipadu dengan celana jeans panjang dan sebuah arloji di pergelangan tangan kiri. Itu sudah cukup menambah kadar ketampanan seorang Dirgantara yang memang sudah di atas rata-rata.
"Bun, Yah, Igan mau keluar dulu ya?" Pamitnya seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Mau kemana Nak?" Tanya Bulan dengan suara lembut.
"Mau ketemu temen, Bun. Sekalian jengukin kakaknya yang sakit dan lagi dirawat."
"Ngomong-ngomong tentang orang sakit, Ayah jadi ingat Hendra. Tadi kata Pak Irwan dia ijin enggak masuk karena sakit. Sakit apa ya dia?" Ujar Bintang, berpikir.
"Maksud Ayah, Hendra kakaknya Tia?" Tebak Igan.
"Iya-iya, betul. Kamu kok tahu?" Tanya Bintang.
"Kan Igan bilang kalau Igan kenal sama Tia dan kakaknya, Ayah lupa ya?" Sahut Igan sambil tersenyum.
"Oh ... iya-iya, Ayah baru ingat. Berarti sekarang kamu mau jengukin Hendra?" Tanya Bintang.
"Iya Yah."
"Ya sudah, titip salam buat mereka ya? Oh iya, kamu mungkin bisa mampir belikan martabak manis rasa keju buat Hendra dan Tia, mereka pasti suka." Pesan Bintang.
Bulan dan Igan mengernyitkan dahi, mereka heran.
"Ayah tahu darimana kalau mereka suka martabak keju?" Tanya Igan.
"Iya, kedengarannya kok Ayah kenal dekat sama mereka?" Imbuh Bulan, tak kalah heran.
Bintang menghela napas dalam, lalu ia hembuskan perlahan dan tersenyum.
"Iya, Ayah memang belum pernah cerita ke Bunda dan kamu juga, Nak. Dulu mendiang ayahnya Hendra dan Tia itu teman kuliah Ayah, Taufan namanya. Orangnya baik banget, kami sering diskusi bareng waktu itu. Dia juga punya usaha yang cukup maju ...." Bintang duduk seraya menerawang, mengenang sosok Taufan yang baik.
"Tapi gara-gara dia kena rayu wanita lain yang cuma mengincar hartanya, usahanya jadi hancur. Istrinya jadi sakit parah dan akhirnya meninggal. Setelah Pak Taufan bangkrut, wanita itu juga tinggalin dia." Imbuh Bintang.
"Waktu Pak Taufan sudah bangkrut, Ayah pernah ketemu lagi waktu dia pulang kerja dan mampir beli martabak keju, katanya itu makanan kesukaan dua anaknya."
"Dia juga minta tolong sama Ayah supaya kasih anak-anaknya pekerjaan kalau nanti mereka sudah waktunya bekerja. Dan ... waktu Hendra sudah kerja di kantor Ayah, Pak Taufan meninggal." Imbuh Bintang dengan raut wajah sedih.
"Jadi Hendra dan Tia tahu kalau mereka itu anak dari teman baik Ayah?" Tanya Igan.
"Enggak, mereka enggak tahu. Ayah dan Pak Taufan sepakat untuk merahasiakan hal itu, supaya enggak ada beban dan bisa kerja maksimal sesuai pendidikan dan keahlian yang mereka punya." Sahut Bintang.
Bulan dan Igan mengangguk.
__ADS_1
"Kamu juga tolong jaga rahasia ini ya, Nak?" Pesan Bintang.
"Iya Yah." -Igan terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan duduk di dekat sang ayah- "Yah, Igan mau bilang sesuatu sama Ayah. Kebetulan Ayah cerita soal keluarga Tia." Ujar Igan.
Bintang dan Bulan saling pandang, dan menatap sang putra dengan penasaran.
"Mau bilang apa sih, Nak? Bikin penasaran aja." Tanya Bintang yang direspon anggukan oleh Bulan.
"Hmmm ... begini Yah, Bun. Kalau misalnya Igan dekat sama Tia, menurut Ayah sama Bunda gimana?"
"Dekat ... maksudnya?" Tanya Bintang.
"Ya ... dekat, lebih dari sekadar teman." Sahut Igan, tersipu.
Lagi, Bintang dan Bulan saling pandang namun kali ini disertai senyuman.
"Memangnya kamu sudah kenal betul karakter Tia kayak gimana, Nak?" Tanya Bulan, lembut.
"Terus, kamu sudah berapa lama kenal Tia? Kok enggak pernah cerita ke Ayah?" Imbuh Bintang.
"Sudah Yah, mungkin Ayah yang lupa. Igan memang belum lama sih kenal Tia sama Hendra. Karakternya juga ... Igan belum paham betul. Tapi Igan yakin, dia sama Hendra itu orang baik."
"Ayah sih enggak masalah, mengingat Tia dan Hendra itu keturunan orang baik-baik. Dia juga gadis yang cerdas." Sahut Bintang.
"kalau Bunda?" Tanya Igan.
"Ya boleh dong Bun, tapi enggak dalam waktu ini soalnya kan dia lagi ngurusin kakaknya di rumah sakit."
"Iya, kapan-kapan aja."
Igan tersenyum, kemudian ia kembali pamit untuk menemui Tia di rumah sakit.
Mobil Igan berjalan pelan keluar dari pelataran rumah orang tuanya, menyusuri jalan pemukiman elit tersebut. Namun tanpa ia sadari, ketika di sebuah jalan bercabang ada sebuah mobil yang dikemudikan seseorang dan mulai membuntutinya perlahan.
Di tengah perjalanan, ia melihat sebuah gerobak penjual martabak kemudian ia ingat kata-kata sang ayah.
Ia menepikan mobilnya di dekat penjual martabak itu, namun sayang ia harus mengantre dari seorang pembeli lain yang sudah lebih dulu tiba.
"Mas, martabak keju spesial dua ya?" Pinta Igan pada si penjual.
"Baik Mas, tapi silakan tunggu dulu ya? Sebentar lagi kok." Sahutnya.
Igan mengangguk lalu memilih duduk di sebuah bangku yang tersedia.
"Maaf, ini Mas Dirgantara kan?" Celetuk seorang wanita muda dengan dandanan seperti wanita nakal, ia sedang menunggu pesanan martabaknya.
__ADS_1
Igan tersenyum dan mengangguk ramah.
"Mas, boleh selfie enggak?" Pintanya seraya mengeluarkan ponsel pintar dari sakunya.
"Hmmm ... boleh." Sahut Igan, agak ragu.
Igan dan wanita tersebut lantas berpose berdua, namun wanita itu tiba-tiba merangkul pundak Igan dan mendekatkan bibirnya ke pipi Igan, lalu segera memotretnya.
"Eh, maaf Mbak. Jangan begini, biasa aja fotonya! Coba saya lihat tadi hasilnya? Tolong dihapus aja ya?" Tukas Igan yang terkejut dan tampak tak nyaman.
"Iya Mas, maaf tadi khilaf, soalnya saya ngefans banget sama Mas Dirgantara. Saya hapus kok nanti." Ucap wanita itu.
"Mbak, ini martabaknya sudah jadi." Ucap penjual martabak seraya menyodorkan sebuah kotak berisi martabak.
"Oh, oke Mas. Ini uangnya, makasih." Sahut si wanita memberikan sejumlah uang lalu bergegas pergi.
"Eh Mbak, nanti dulu! Fotonya dihapus dulu yang tadi!" Seru Igan.
"Eh, iya Mas. Ini sudah saya hapus kok. Maaf ya." Sahutnya sembari memperlihatkan isi galeri ponselnya, kemudian pamit pergi.
Igan hanya geleng-geleng kepala mengingat kejadian barusan."
"Resikonya orang ganteng terkenal gitu ya Mas? Banyak yang ngajak foto bareng. Kalo kayak saya mah boro-boro, nembak cewek diterima aja untung, hehehe ...." Seloroh penjual martabak sembari membuatkan pesanan Igan.
"Bisa aja Mas. Tapi saya sering khawatir jadinya, takut foto-foto itu disalahgunakan. Mau nolak, enggak enak. Tapi dibolehin malah kebablasan posenya!"
"Oh iya, Mas yang lagi rame dibilang suka main-mainin cewek itu ya?" Tanya nya.
"Iya, Mas update berita juga?"
"Enggak sih Mas, cuma beberapa pembeli sama sodara cewek saya di rumah pada ngomongin soal berita itu."
"Terus, pada percaya?"
"Hmmm ... kemarin sih ada pembeli yang nyinyir gitu ngomongnya, bilang sok kegantengan mainin perasaan orang. Tapi kebanyakan sih enggak, sodara saya aja enggak percaya."
"Syukur deh kalau masih ada yang percaya sama saya. Soalnya semua itu gosip, Mas! Saya juga enggak ngerti bisa sampe ada berita gituan."
"Yang sabar deh Mas, ujian. Mas kan karirnya bagus, lagunya ngetop terus, apalagi yang duet sama Ilona. Mungkin ada yang sewot."
"Iya Mas."
Percakapan berhenti, si penjual fokus membuat martabak pesanan Igan sedangkan Igan termenung mengingat wanita muda yang tadi sangat berani berpose, saat mengajaknya berswafoto.
Beberapa meter dari sana, tampak mobil yang tadi membuntuti Igan tengah terparkir seperti sedang mengawasi Igan.
__ADS_1
"Pelan-pelan, gue pastikan karir lu di dunia hiburan bakal ancur!" Gumam orang yang ada di dalam mobil tersebut dengan senyum menyeringai dan penuh dendam.
***