Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Maya oh Maya


__ADS_3

Setelah mendengar keluh kesah Yongki, Om Bono merasa memiliki sekutu untuk menghancurkan karir Igan.


"Kamu sudah ada manajer?" tanya Om Bono pada Yongki.


"Belum, Pak."


"Apa kamu bisa nyanyi?"


"Bisa, Pak. Mau dengar?" sahut Yongki, antusias.


"Boleh."


Yongki mulai memperdengarkan alunan suara indahnya di depan Om Bono dan yang lain. Suara itu terdengar hingga kamar dimana Ilona sedang berbaring.


"Suara siapa tuh? Enak juga didengerinnya." gumam Ilona.


Ia pun perlahan bangkit dari ranjang, lalu menurunkan kakinya ke lantai. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil samping ranjangnya, lalu menelepon tantenya, Ratih.


Ratih yang sedang ada di ruang tamu, bergegas masuk ke dalam kamar Ilona tanpa menerima panggilan telepon itu.


"Kenapa, Lon?" tanya Ratih tergesa-gesa masuk lalu menutup pintu.


"Lona denger ada orang nyanyi di depan, siapa Tan?" tanya Ilona sembari menaruh kembali ponselnya di ranjang.


"Kamu denger juga?"


Ilona mengangguk, "Emang siapa?"


"Dia itu Yongki, anaknya Maya. Pelakor yang udah rebut papa kamu!"


Ilona membulatkan matanya, ia tampak tak percaya.


"Maya?? Dia ke sini, Tan? Kenapa orang macam dia masih dikasih umur panjang sih??" umpat Ilona, geram.


"Sabar Sayang, dia kemari bawa anaknya untuk membela kamu. Dia juga mau minta maaf sama kita semua. Kamu mau temui dia?"


"Enggak!! Aku enggak sudi ketemu dia!!" tolak Ilona.


"Ilona ... maafin saya ya, Nak? Saya tau saya banyak salah sama keluarga kamu." ucap Maya yang ternyata sudah berada di ambang pintu kamar Ilona.


Ilona dan Ratih terhenyak, mereka kaget. Lalu Ratih dengan cepat membukakan pintu kamar, dan tampak Maya yang renta sudah berdiri dengan digandeng oleh Yongki, dan Om Bono di sebelahnya.


"Papa kenapa ajak mereka ke sini??" protes Ratih pada Om Bono.


"Jangan terus menerus dendam, enggak baik. Mereka datang untuk minta maaf, ya maafkan saja. Apalagi ... Yongki berniat untuk membalas Igan juga, Lona." ujar Om Bono.


"Kenapa memangnya?" Ilona heran.


"Igan sudah merebut apa yang seharusnya Yongki dapat, makanya dia datang ke sini buat bantu membalaskan rasa sakit hati kamu juga."


Ilona dan Ratih saling melempar pandangan, keduanya merasa tidak yakin pada Yongki dan Maya.

__ADS_1


"Pah, sini!" panggil Ratih pada suaminya.


Om Bono bergegas masuk dan berdiri di samping sang istri. Ratih mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami lalu ia tutupi dengan telapak tangan.


"Mama enggak yakin sama omongan mereka, Pah. Maya itu wanita licik, apa Papa lupa?? Yongki juga pasti sama kayak maminya, kita jangan gampang percaya Pah!" bisik Ratih.


"Mama tenang aja, Papa juga bukan orang bodoh. Papa cuma mau manfaatkan Yongki buat tenggelamkan nama Igan di blantika musik, biar dia tau akibatnya udah bikin kecewa keluarga kita." sahut Om Bono lirih dengan senyum penuh arti.


"Ah, terserah Papa aja lah!" timpal Ratih kemudian berjalan mendekati Maya dan Yongki.


"Ayo kalian ke ruang tamu lagi! Ilona mau istirahat, kalian kan tamu di sini." tukas Ratih, sangat ketus.


"Ijinkan saya bicara dulu dengan Ilona, Ratih ...." pinta Maya dengan suara paraunya.


"Aku enggak mau bicara sama kalian, pergi!!" usir Ilona.


"Kamu dengar kan? Sudah sana kembali ke ruang tamu, kalau masih ada yang mau dibicarakan. Kalau enggak ada, silakan pulang." tegas Ratih.


"Ayo Mi, kita pulang aja." ajak Yongki kemudian menggandeng Maya untuk keluar dari rumah itu.


"Sebentar!" cegah Om Bono.


Yongki dan Maya berhenti, lalu menatap Om Bono.


"Saya akan bantu populerkan nama kamu. Ketik nomor HP kamu di sini, biar saya gampang untuk hubungi kamu." ujar Om Bono seraya menyodorkan ponselnya pada Yongki.


Yongki menerima ponsel itu, lalu jemarinya dengan cekatan bergerak di atas layar untuk menyimpan nomor HP-nya, kemudian ia kembalikan lagi ponsel itu pada Om Bono.


"Makasih, Pak. Saya tunggu kabar baiknya. Kami permisi dulu." sahut Yongki dengan tersenyum senang.


"Bono, Ratih, tolong bujuk Ilona supaya mau maafin saya." pinta Maya.


Ratih tak menjawab, ia justru mendengus dan memalingkan wajah. Sedangkan Om Bono tersenyum.


"Anak itu butuh waktu, May. Jangan paksa dia, biar saja." ucap Om Bono.


Maya mengangguk lemah, lalu ia melangkah perlahan keluar dari rumah Ratih menuju sebuah mobil yang terparkir di depan rumah.


"Itu mobil kamu, May?" tanya Om Bono.


"Mobilnya Yongki." sahut Maya.


Om Bono mengernyitkan dahi, "Kamu sudah bisa beli mobil, Ki?" tanya Om Bono.


Yongki tersenyum, "Mobil seken, Om. Hasil main dari satu film belum cukup kalo beli mobil baru, itu juga ditambahin uang warisan dari Papi."


"Harusnya cukup, kalo enggak nanggung biaya berobat Mami." ucap Maya, sendu.


"Udah lah, Mi ... Jangan ngomong begitu." ucap Yongki sambil mengelus punggung maminya.


"Berarti papinya Yongki, sudah enggak ada juga May?" tanya Om Bono.

__ADS_1


Maya mengangguk pelan, "Iya, untungnya dia masih ingat anaknya. Walaupun ... dia orang yang kasar dan emosional, tapi ... harta warisannya cukup mengobati kecewa di hati Yongki."


Ternyata kalian emang sama. Sama-sama silau dengan harta! batin Om Bono kemudian bibirnya tersenyum sinis.


"Kami permisi dulu ya, Bono?" pamit Maya ketika sudah masuk ke dalam mobil bersama putranya, Yongki.


Om Bono melambaikan tangannya, lalu bergegas masuk setelah mobil yang membawa Yongki dan Maya sudah tak terlihat lagi.


Tia dan Hendra sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama karena Hendra yang sering bekerja di saat Tia sedang di rumah.


"Makan dulu yuk, Kak? Aku laper habis jalan-jalan tadi." ajak Tia ketika berada di depan sebuah gerai makanan cepat saji di lantai dasar.


"Hmmm ... boleh." sahut Hendra.


Kakak beradik itu pun masuk ke dalam gerai, lalu memesan makanan di daftar menu kemudian duduk di kursi yang saling berhadapan.


Mereka berdua mengobrol santai layaknya kakak adik yang sangat akur, hingga mata Hendra sontak tertuju pada dua orang yang baru saja masuk ke gerai tersebut.


"Kenapa, Kak?" tegur Tia.


"Kamu liat deh dua orang yang baru dateng itu." ucap Hendra agak lirih seraya memberi kode pada Tia agar menoleh ke arah orang yang ia maksud.


Tia menoleh, "Yang cowok sama ibu tua itu?" tanya Tia.


"Iya, kakak rasa enggak asing liat wajahnya."


Tia memicingkan matanya, lalu ia tersenyum.


"Itu kan artis, Kak. Masih pendatang baru banget sih, tapi udah main film sama Mas Igan. Namanya ... hmmm ... siapa ya, aku masih belum tau." sahut Tia, santai.


"Ck, bukan yang cowok. Yang ibunya itu lho, Dek ...."


Tia membulatkan matanya, lalu ia kembali menoleh ke arah wanita yang kakaknya maksud.


"Emang siapa?" tanya Tia, heran.


Hendra terdiam, alisnya tampak berkerut pertanda ia sedang berpikir keras.


"Maya, dia itu mirip Maya. Tapi ...." celetuk Hendra.


"Maya ... yang Kakak bilang selingkuhannya Ayah?" tanya Tia dengan suara yang terdengar agak kencang.


Dua orang yang Hendra maksud tadi pun sampai mendengar dan menoleh ke arah Tia. Hendra langsung menepuk tangan Tia, menyuruhnya untuk diam.


"Sori-sori. Tapi ... emang iya Kak, itu perempuan yang namanya Maya?"


Hendra tak menjawab, pandangannya justru tertuju ke arah belakang Tia dan agak mendongak.


"Kalian kenal saya?" tanya wanita tua yang ternyata Maya.


Hendra terdiam menatap wanita tua dan pemuda yang sudah berdiri di belakang kursi Tia, sedangkan Tia menoleh dan terperangah.

__ADS_1


****


__ADS_2