
Seminggu kemudian Tia sudah diperbolehkan pulang karena dinyatakan sudah membaik. Ia hanya diminta untuk kontrol luka jahitan.
Dengan wajah sumringah, Tia membereskan segala keperluannya yang ada di rumah sakit dibantu oleh Hendra, kakaknya.
Igan pun datang untuk menjemput sang kekasih dan kakaknya itu pulang ke rumah.
"Makasih ya, Mas Igan udah repot-repot jemput terus anterin kami sampe ke rumah." ucap Tia penuh kagum pada sang kekasih.
"Enggak repot kok, lagian ini kan jam istirahat kantor. Sekarang kamu istirahat ya Sayang, jangan capek-capek dulu walaupun jahitannya udah kering." ucap Igan dengan mesra.
Tia mengerutkan alis, "Sayang? Saya jadi canggung Mas panggil 'Sayang'." ucap Tia tersipu.
"Kenapa? Kan kita emang udah jadian? Wajar dong kalo saya panggil begitu?" Igan menatap wajah Tia dengan lekat membuat Tia semakin tersipu malu.
"Ya udah, terserah Mas aja." sahut Tia dengan senyum terkulum.
"Oh iya, kita makan yuk? Mas Hendra mana?" ajak Igan.
"Kak Hendra lagi di kamar, beres-beres."
"Kamu panggil Mas Hendra ya, saya mau ambil makanan dulu."
"Ambil dimana, Mas? Emang Mas Igan udah pesen?"
"Bukan cuma pesen, saya udah bawain malah di mobil. Saya beli makan siang dulu sebelum jemput ke rumah sakit. Pasti kalian belum makan kan?"
Tia mengangguk, ia merasa benar-benar jatuh hati pada sang kekasih karena tak hanya rupawan, tapi Igan adalah sosok yang sangat perhatian.
"Saya panggil Kak Hendra dulu ya, Mas?"
"Iya, Sayang."
Tia tersenyum kala mendengar Igan terus memanggilnya 'Sayang', hatinya sangat berbunga-bunga.
Mereka bertiga pun makan siang bersama. Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka, sudah melebur layaknya keluarga.
"Oh iya Mas, kapan mau mengajukan laporan ke polisi buat Ilona?" tanya Igan di sela-sela makan siang mereka.
Hendra terdiam sejenak, "Nanti-nanti aja lah Mas, selagi dia enggak berulah lagi saya rasa belum perlu kita laporin ke polisi." sahutnya.
Igan dan Tia berhenti mengunyah, mereka saling tatap.
"Tapi bukannya lebih baik kita laporin aja supaya dia enggak bikin ulah lagi?" saran Igan.
"Iya Kak, apalagi ucapannya waktu itu jelas-jelas ngancam aku." imbuh Tia.
Hendra tertegun sejenak, "Iya, nanti kalau kakak udah sempat dan kamu juga udah betul-betul sehat, kita buat laporan. Sekarang fokus aja sama pemulihan luka kamu. Tiga hari lagi kamu masih harus kontrol." ujarnya, bijak.
Tia manggut-manggut, mereka kembali melanjutkan makan siang sampai habis.
*
Pagi-pagi benar ponsel Igan berdering saat Igan sedang melipat sajadahnya seusai salat Subuh.
Igan mengambil ponselnya dari atas meja, mulutnya bergumam menyebut nama sang manajer.
"Ya Bro, kenapa pagi-pagi telepon gue?" sapa Igan saat menerima panggilan telepon dari Jio.
"Bro, ada produser rekaman yang mau rekrut lu di naungan labelnya."
"Siapa?"
"Bang Ical. Dia punya beberapa lagu karyanya sendiri yang katanya cocok sama warna suara lu, makanya dia sampein itu ke gue."
"Wih keren!! Bang Ical sekarang punya label juga??"
"Perusahaan rekamannya Om Bono kan dilelang gara-gara istrinya kena stroke mikirin suaminya yang dipenjara. Akhirnya dibeli sama Bang Ical."
Igan terdiam. Ada rasa iba yang menyelinap dalam hatinya, membayangkan bagaimana kondisi keluarga Om Bono.
"Bro, masih dengerin gue enggak?"
__ADS_1
"Iya-iya. Terus kapan mau ketemuan sama Bang Ical?"
"Secepatnya aja. Lu mau kan rekaman lagi?"
"Ya mau lah, itu kan emang passion gue. Apalagi Bang Ical kan song writer bertangan dingin, gue yakin lagunya bagus. Gini aja, nanti sore ya kalo gue udah balik kantor?"
"Lu masih ngantor?"
"Masih ... kan gue karyawan."
"Terus entar gimana bagi waktunya kalo lu masih ngantor juga?"
"Pikirin nanti aja Bro. Nanti gue musyawarahin sama bokap."
"Oh, ya udah kalo gitu. Gue tunggu kabar dari lu ya? Nanti gue ngasih jawaban dulu ke Bang Ical by phone."
"Beres! Thank you, Bro!"
"Yoi, sama-sama."
Panggilan telepon berakhir, Igan duduk di tepi ranjangnya. Tiba-tiba terbersit niatan untuk mengunjungi istri Om Bono sebagai bentuk dukungan moril.
Ia pun bergegas mandi dan bersiap untuk ke rumah Om Bono sebelum berangkat ke kantor.
"Yah, Bun, Igan mau ke rumah Om Bono dulu ya sebelum ke kantor." ujar Igan saat sedang mengoleskan selai kacang ke dua lembar roti tawar.
"Lho, mau ngapain Nak?" tanya Bulan, heran.
"Kata Jio, istrinya Om Bono kena stroke gara-gara mikirin Om Bono dipenjara, Bun. Makanya Igan mau nengokin, kasian."
"Kamu mau sama siapa ke sana?" tanya Bintang.
"Sendiri aja, Yah. Sebelum berangkat ke kantor, cuma sebentar kok."
"Tapi kamu harus hati-hati, Nak. Takutnya istrinya Bono itu marah atau bahkan ngamuk ke kamu gara-gara suaminya dipenjara." pesan Bulan.
"Orang kena stroke mau ngamuk gimana, Bun? Hehe ... Tenang aja Bun, Igan hati-hati kok." sahut Igan, santai kemudian mulai menyantap rotinya.
Bintang dan Bulan geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang putra.
Setelah berkendara beberapa lama, akhirnya Igan sampai di depan rumah Om Bono. Ia memarkirkan motornya lalu menekan bel rumah tersebut.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu, ia menatap Igan yang memakai kacamata dan bertopi dengan tatapan heran.
"Maaf, cari siapa ya Mas?" tanya wanita yang ternyata seorang ART di rumah itu.
"Maaf, bu Ratihnya ada, Bu?" tanya Igan, sopan.
"Oh, Bu Ratih ada. Tapi sedang sakit, Mas."
"Iya, saya juga dengar kabarnya. Untuk itu saya datang kemari untuk menjenguk."
"Oh begitu ... Tapi maaf, Mas siapa ya? Biar saya sampaikan dulu ke Ibu."
"Dirgantara." sahut Igan singkat dengan senyum tipis.
"Baik, kalau begitu silakan masuk dan duduk dulu, Mas. Saya panggilkan Bu Ratih dulu."
Igan mengangguk dan tersenyum ramah, ia pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu rumah itu.
Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya ART itu datang lagi sambil mendorong kursi roda dimana Ratih, istri Om Bono terduduk lemah.
Igan terkejut melihat kondisi Ratih yang cukup memprihatinkan itu, ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Ratih untuk menyalaminya.
"Apa kabar, Tante?" sapa Igan sambil berjongkok di hadapan Ratih.
Ratih menatap wajah Igan, wajahnya tampak keheranan.
"Ka-kamu ... ssss-siapa?" suara Ratih terdengar kurang jelas karena tergagap, ditambah dengan kondisi mulutnya yang agak miring akibat stroke.
Igan membuka kacamata dan topinya, kemudian tersenyum menatap Ratih.
__ADS_1
"Saya Dirgantara, Tan. Masih ingat saya kan?"
Cukup lama Ratih memperhatikan Igan, kemudian matanya mulai berkaca-kaca dan mengalirkan air mata.
"Maafin saya, baru tau kondisi Tante yang seperti ini." ucap Igan.
Ratih makin sesenggukan hingga Igan dan ART nya harus terus berusaha menenangkannya.
Di luar, terdengar deru mobil yang mendekat dan berhenti tepat di halaman rumah.
"Tante yang sabar ya? Saya juga sebenarnya enggak mau keadaannya jadi begini, tapi ... saya harap semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Dan ... ini saya ada sedikit rejeki buat Tante, semoga bisa membantu pengobatan Tante ya?" ucap Igan seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat dengan isi yang tampak tebal.
Ratih berusaha memegang tangan Igan, tangisnya masih terdengar pilu. Igan pun meraih tangan Ratih yang tampak pucat dan kurus itu.
"Ada apa ini??" seru seseorang yang baru masuk ke dalam rumah itu dengan suara lantang dan terdengar kasar.
Igan menoleh ke sumber suara, matanya membulat saat melihat Ilona sudah berdiri di belakangnya. Igan segera bangkit dan berdiri menatap Ilona.
"Mau ngapain kamu ke sini? Mau ngetawain kondisi Tante Ratih, hah??" hardik Ilona.
Ratih terperangah melihat sikap kasar keponakannya, tapi ia tak bisa apa-apa.
"Jaga mulut kamu, Lon! Aku ke sini mau jengukin Tante kamu kok." sahut Igan, tegas.
"Jenguk?? Mau apa jengukin segala?? Kan kamu yang bikin kondisinya jadi begini, kamu mau coba cari simpati publik apa gimana??"
"Terserah apa kata kamu lah, Lon!"
Igan berbalik kembali menghadap ke arah Ratih untuk berpamitan.
"Saya pamit ya, Tan? Semoga Tante cepet sehat lagi." pamit Igan dengan takzim.
Ratih hanya bisa mengangguk perlahan dan mengucap terima kasih dengan lirih.
Igan berlalu tanpa mempedulikan Ilona yang masih berdiri dan menatapnya dengan nanar. Saat sudah berada di ambang pintu, Ilona memanggilnya.
"Tunggu!" seru Ilona kemudian melangkah mendekati Ratih dan dengan kasar memungut amplop coklat yang ada di pangkuan Ratih.
Ratih tergagap, ia tampak berusaha mencegah Ilona namun kesulitan.
"Apa ini??" hardik Ilona sembari mengangkat amplop itu tinggi dan menatap tajam pada Igan.
Igan balik badan, ia tampak geram menghadapi sikap Ilona yang sangat arogan.
"Itu buat Tante Ratih, mungkin enggak bisa banyak membantu tapi paling enggak, itu bisa sedikit meringankan bebannya." sahut Igan berusaha tetap tenang.
"Lo kira Tante gue butuh duit lo, hah?? Nih, ambil balik duit lo!!" seru Ilona sembari melempar amplop coklat itu ke arah Igan.
"Astagfirullah ...." gumam Igan menahan amarah.
"Ambil balik duit lo, gue sanggup kok ngurusin Tante gue tanpa bantuan siapapun, termasuk lo!" Ilona kembali sesumbar dengan suara lantang.
"Lon ... ja-jangan be-gi-tu ...." ucap Ratih dengan susah payah.
"Tante jangan murahan dong! Pake nerima bantuan dari orang yang udah bikin hidup Tante sama Om prihatin begini!" bentak Ilona sambil menatap tantenya dengan nanar.
Ratih tak sanggup banyak bicara, ia hanya menangis sesenggukan. Hatinya semakin perih dan pilu mendapati sikap keponakannya yang sangat keterlaluan pada Igan, yang sudah tulus menjenguk dan memberinya bantuan.
"Gue enggak mau ambil lagi duit itu, kalopun enggak mau dipakai buat Tante Ratih pun terserah! Kasih aja ke anak yatim atau para tunawisma, kalo memang kalian ngerasa enggak butuh. Permisi." Igan beranjak keluar lalu naik ke punggung motornya.
Ilona menertawakannya dengan nada mencibir sampai keluar dan melihat Igan yang sedang menyalakan mesin motornya.
"Jadi gini sekarang kondisi lo, naik motor doang?? Mana mobil lo yang biasa dipake itu?? Udah miskin aja belagu!!" cibir Ilona dengan senyuman sinis.
Igan hanya menoleh dan menatap Ilona dengan tajam, tapi ia tak mau menimpali omangan yang hanya akan merusak suasana hatinya.
Igan berlalu bersama motornya untuk menuju ke kantor, sedangkan Ilona kembali masuk dan melirik ke arah amplop yang tadi ia hempaskan ke lantai.
"Bi, ambil tu amplop! Masak yang enak hari ini!" suruh Ilona sambil melenggang masuk ke dalam rumah tantenya.
Ratih menunduk dan air matanya tak henti mengalir deras.
__ADS_1
Harusnya kamu berterima kasih sama Igan, Lona ... Dia masih mau berbaik hati menjenguk tante dan kasih bantuan. Semoga kamu cepat sadar dan jangan sampai ikut terjerumus seperti om kamu. batin Ratih menahan perih hatinya.
****