Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Musuh bagi Dirgantara


__ADS_3

Dua pekan berlalu, Ilona sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Banyak pewarta yang sudah menunggu kehadirannya di pelataran rumah sakit, untuk meminta keterangan mengenai kondisinya pasca kecelakaan itu.


"Ilona-Ilona, gimana kabarnya?" tanya para wartawan saling berebut posisi terdekat dengan Ilona.


"Maaf ya kawan-kawan wartawan, saya yang akan menjawab pertanyaan kalian mewakili Ilona. Keponakan saya ini baru sembuh, jadi jangan banyak ditanya-tanya dulu. Oke?" sahut Om Bono.


"Tapi kondisi Ilona sekarang sudah sehat kan Om, karena sudah diijinkan pulang sama dokternya?" tanya wartawan yang lain.


"Sudah, Ilona sudah dinyatakan sembuh. Tinggal recovery saja di rumah, tidak ada yang fatal kok." sahut Om Bono.


"Untuk penyebab kecelakaannya, apa sudah bisa diinfokan ke awak media, Om?"


Ilona dan Om Bono saling pandang, lalu dengan tegas Om Bono kembali menjawab dan memberi pernyataan yang mengejutkan.


"Keponakan saya ini cerita ke saya, apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Dan saya dapat menyimpulkan kalau penyebab Ilona mengalami nahas hari itu adalah, Igan!"


Para wartawan itu makin memburu dan mendesak Om Bono untuk memberikan penjelasan lebih rinci.


"Kenapa Igan, Om? Bukannya mereka sudah tunangan?"


"Ya, mereka memang sudah tunangan. Tapi dengan teganya Igan memutuskan tali pertunangan dengan keponakan saya ini, menurut kalian bagaimana? Seorang lelaki yang terlihat memiliki attitude sangat baik dan terhormat, apalagi dia adalah anak dari pengusaha kelas kakap, tapi ternyata cuma seorang lelaki plin-plan!" tukas Om Bono.


"Alasan Igan memutuskan pertunangan apa, Om?"


"Oh, kalo soal itu kalian tanya aja sendiri sama orangnya, ya? Kami mau pulang dulu, kasihan Ilona biar istirahat. Terima kasih semuanya!" ujar Om Bono.


"Ilona tinggal di rumahnya sendiri atau di rumah Om Bono?" tanya wartawan.


"Sementara ini, tinggal di rumah saya dulu sampai Lona benar-benar pulih. Sudah ya wawancaranya? Kami permisi dulu." pungkas Om Bono, kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Ilona menuju ke mobilnya untuk pulang.


Berita tentang pernyataan Om Bono itu pun langsung menjadi headline di berbagai media pemberitaan. Keluarga Erlangga pun merasa terusik, terutama Igan.


Ia tak habis pikir dengan Ilona dan Om Bono karena mereka bisa sampai menyalahkan dirinya. Tanpa banyak bicara, Igan langsung meluncur menuju rumah Om Bono untuk menanyakan maksud kata-katanya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Om Bono ketika Igan sudah berada di ambang pintu rumahnya.


"Maksud Om apa nyalahin saya di depan wartawan?" tanya Igan, tanpa basa-basi.


"Memang semua itu salah kamu! Kamu bilang seolah-olah kamu enggak ada niat buat tunangan sama Ilona, itu bikin dia jadi frustasi, tau kamu?!" bentak Om Bono.


"Ya tapi memang saya enggak pernah ada niatan buat jadian sama Ilona, apalagi tunangan! Itu di luar kemauan saya, Om!" tegas Igan.


"Terserah kamu! Yang jelas, mulai sekarang kamu sudah putus kontrak dengan perusahaan saya! Dan kamu, akan saya tuntut!"


"Tuntut buat masalah apa, Om? Karena saya mutusin hubungan tunangan sama Lona?? Jangan becanda sama urusan hukum deh, Om!" tukas Igan.


"Saya tuntut kamu sebagai penyebab Ilona kecelakaan!"


Mendengar itu, Igan mengerutkan dahi kemudian terbahak.


"Go ahead ... silakan aja, Om. Saya enggak takut! Polisi juga enggak bodoh, Om!" timpal Igan dengan tatapan tajam lalu balik badan dan meninggalkan kediaman Om Bono dengan mobilnya.

__ADS_1


Om Bono mendengus kesal, ia tahu kalau sedang mati kutu karena ucapannya barusan itu hanya sebuah gertakan. Namun ia juga sadar, kalau Igan adalah lelaki pintar. Ia tak mudah gentar, apalagi jika ia ada di posisi yang benar. Om Bono terbawa emosi hingga berkata yang tak semestinya.


Om Bono pun kembali masuk dan menutup pintu rumahnya. Namun baru beberapa menit ia duduk termangu di ruang keluarga, bel rumahnya kembali berbunyi.


Om Bono menoleh tanpa semangat, ia juga tak beranjak dari tempat duduknya. Hingga Ratih, istrinya datang dari arah dapur dan menegurnya.


"Pah, kok enggak dibukain pintunya?"


"Males, Mah. Udah sana Mamah aja yang bukain."


Ratih geleng-geleng lalu melangkah menuju pintu utama rumahnya. Ratih terhenyak, ia memicingkan mata seperti tengah mencoba untuk mengenali orang yang berdiri di hadapannya.


Mereka siapa ya, kok yang wanita ini keliatan enggak asing? tapi ... aku lupa! Kalo yang laki-laki muda ini, siapa? pikir Ratih.


"Selamat siang, apa betul ini rumahnya Pak Subono?" tanya pemuda yang berdiri sambil merangkul wanita yang sudah tampak tua di sampingnya.


"Maaf, kalian siapa ya?" Ratih balik bertanya.


"Ka-kamu ... istrinya Bono ya, adiknya Dea?" tanya wanita tua itu dengan tatapan antusias.


Ratih kembali terhenyak, ia tak menyangka jika tamunya itu ternyata mengenalinya.


"Siapa, Mah?" tanya Om Bono agak berteriak dari dalam.


Ratih menoleh, "Pah, sini deh! Ada tamu!" panggilnya.


Tak lama kemudian Om Bono muncul dari ruang tengah mendekat ke arah istrinya.


Langkahnya sontak terhenti ketika melihat sosok wanita tua itu, tatapannya seakan tak percaya.


"Bono, masih kenal saya?" tanya wanita itu dengan tersenyum penuh harap.


"Saya enggak mungkin lupa sama kamu, Maya!" ucap Om Bono dengan tatapan tajam.


Ratih terperangah mendengar nama 'Maya' disebut oleh suaminya.


"Ja-jadi, kamu itu ... Maya?? Pelakor yang sudah rebut suami kakak saya, hah?!" seru Ratih.


"Maaf Bu, Pak. Maksud kedatangan kami kemari untuk menyambung hubungan keluarga yang terputus, Mami saya juga mau minta maaf sama Ilona." ujar pemuda di sebelah Maya, bernama Yongki.


"Kamu anaknya perempuan ini?" tanya Ratih, sinis.


"Iya, Bu. Nama saya Yongki."


"Apa Ilona masih ada di sini? Saya dengar di berita katanya dia habis kecelakaan dan sekarang tinggal di rumah kalian. Saya pengin ketemu dia." ujar Maya.


"Buat apa? Kedatangan kalian cuma nambahin luka buat dia. Mendingan kalian pergi dari sini!" usir Ratih.


"Justru kedatangan saya kemari untuk membantu Ilona balas dendam ke Igan, Bu." sahut Yongki.


"Maksud kamu?" tanya Om Bono.

__ADS_1


"Boleh kami masuk dulu? Nanti saya jelaskan di dalam." ujar Yongki.


Ratih menoleh ke arah Bono, berharap sang suami yang memberi keputusan.


"Kenapa kamu mau bantu Ilona?" tanya Om Bono.


"Saya juga ada dendam sama Igan, jadi ... saya mau kerja sama dengan Ilona." sahut Yongki dengan raut wajahnya yang mulai terlihat licik.


Om Bono akhirnya mempersilakan Maya dan Yongki masuk. Mereka berkumpul di ruang tamu untuk membahas tujuan Maya dan Yongki datang ke rumah mereka.


"Maya, sebetulnya kalian datang darimana? Kenapa tiba-tiba sudah ada di depan rumah kami?" tanya Om Bono.


"Saya sudah lama ada di kota ini, pindah dari Manado sejak mendiang papanya Ilona tiada. Tapi ... kondisi saya sudah mulai sakit-sakitan, jadi tidak bisa langsung mencari keberadaan kalian dan Ilona."


"Tapi kenapa kamu masih berani temui kami? apa kamu ingat dulu kamu sudah hancurkan rumah tangga kakak saya??" tukas Ratih, emosional.


"Maafkan saya, Ratih. Dulu ... saya memang bejat, tak peduli lelaki beristri, kalau saya suka pasti saya goda."


Ratih tetap sinis, ia masih sangat marah pada Maya akibat perangainya dulu.


"Saya harap, kalian dan Ilona mau maafkan saya. Tapi ... itu dulu, sekarang saya sudah berubah." imbuh Maya.


"Ya jelas kamu sudah berubah, liat aja rupamu sekarang! Lebih seram dari mak lampir!" ejek Ratih.


Maya hanya terdiam, ia pasrah menerima segala ejekan dan penolakan dari orang-orang yang pernah kecewa atas perbuatannya dulu.


"Bu, maaf ya jangan terus-terusan bersikap kasar sama Mami saya. Dia kan sudah minta maaf!" tukas Yongki.


"Wajar istri saya marah ke mami kamu, kamu itu enggak tau apa-apa!" tukas Om Bono.


Om Bono menatap Yongki yang terlihat jauh lebih muda dari Ilona, namun sikapnya sangat dewasa.


"Lalu ... Yongki ini anak kamu dengan siapa, May?" tanya Om Bono.


"Yongki ini anak dengan suami saya yang terakhir, setelah papanya Ilona meninggal. Tapi ... saya cuma empat bulan sama dia."


"Kenapa??" Om Bono tampak sangat penasaran.


"KDRT. Dia temperamental, saya hamil muda pun dipukulinya cuma gara-gara telat membuatkan kopi." tutur Maya dengan wajah sendu.


"Itu balasan buat pelakor kayak kamu!" tukas Ratih.


Maya mengangguk-angguk, "Ya, makanya saya terima saja. Tapi ... lama-lama saya pikir, saya harus selamatkan anak di kandungan, jadi saya memilih kabur dan kembali ke kota ini sampai Yongki besar."


"Lalu kenapa kamu punya dendam dengan Igan? Apa kamu pernah ketemu sama dia?" tanya Om Bono.


"Ya, Pak. Dulu saya sempat ikut audisi untuk main film, awalnya lolos sebagai pemeran utama. Tapi ... waktu mulai proses reading, entah kenapa tokoh yang mau saya bawakan justru dikasih ke Igan. Katanya supaya lebih menarik dan lebih cocok sama dia. Saya jadi digeser ke peran pembantu utama." tutur Yongki, kesal.


Om Bono manggut-manggut, ia paham betul yang sedang dirasakan oleh Yongki. Dan ... ia tersenyum penuh arti pada pemuda itu.


****

__ADS_1


__ADS_2