
Waktu sudah larut ketika Igan tiba di rumah orang tuanya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan aman, ia bergegas masuk dengan modal kunci cadangan yang diberikan oleh bundanya.
"Alhamdulillah, kamu beneran pulang ke sini Nak." Ujar Bulan yang ternyata masih menunggu Igan.
"Loh, Bunda kok belum tidur?" Tanya Igan terkejut.
"Bunda sengaja nunggu kamu, Nak."
"Igan enggak lupa kok sama kata-kata Igan tadi pagi, nih Igan beneran pulang ke sini kan? Bunda jangan khawatir ...."
Bulan tersenyum teduh lalu mengelus lengan putra tercintanya dengan penuh kasih.
"Ya udah ... sekarang Bunda istirahat ya? Udah malam banget lo ini. Ayah juga pasti udah istirahat kan Bun?"
"Iya, Ayah udah tidur. Tadi sih sempet nemenin Bunda nunggu kamu di sini, tapi Bunda lihat Ayah udah kecapekan jadi biar tidur duluan."
Igan tersenyum, ia meraih kedua tangan yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih itu lalu ia kecup dengan penuh takzim.
"Makasih ya Bun, selalu perhatian dan sayang sama Igan. Igan sayang ... banget sama Bunda dan Ayah." Ucapnya penuh perasaan.
"Bunda sama Ayah enggak akan lelah menyayangi dan mendoakan kamu, Nak." Sahut Bulan dengan mata berkaca-kaca.
"Ya udah, kalo gitu sekarang Bunda nyusul Ayah ke kamar buat istirahat. Igan juga mau ke kamar, capek banget Bun." Ujar Igan sambil merangkul Bundanya lalu berjalan bersama menuju kamar masing-masing.
"Iya Nak, kamu istirahat ya?"
Igan mengangguk lalu mencium punggung tangan sang bunda sebelum akhirnya Bulan masuk ke dalam kamarnya dan Igan berjalan menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar, baru saja Igan meletakkan tasnya di meja tiba-tiba ponselnya berbunyi. Layar ponsel pintar itu menyala dan tampak sebuah pesan masuk saat Igan mengambilnya dari saku.
"Ilona? Tuh anak ngapain chat gue jam segini. Bukannya tidur juga!" Gerutu Igan, lirih sambil menggeser layar ponselnya.
[ Udah sampe rumah Gan? ]
Igan dengan cekatan membalas pesan tersebut.
[ Aku baru sampe rumah, kamu udah nge-chat aja.Tidur gih, udah malem! ]
Terkirim.
[ Syukur deh, met istirahat ya Gan? Aku juga mau tidur nih! ]
[ Oke ]
Terkirim.
Igan tertegun sejenak, ia merasa akhir-akhir ini Ilona jauh lebih perhatian padanya namun segera ia tepis karena Igan merasa, Ilona dan dirinya hanyalah rekan kerja.
__ADS_1
Igan segera menuju kamar mandi di kamarnya untuk membersihkan diri kemudian bersiap untuk tidur.
*
Pukul enam pagi, Igan tampak sedang berlari di atas treadmill. Ia sangat bersemangat menjalani olah raga tersebut.
"Wah, anak ayah udah olah raga aja nih. Nyampe rumah jam berapa kamu, Nak? Ayah sama Bunda nunggu kamu sampe ngantuk-ngantuk lo semalam!" Sapa Bintang saat melihat putranya di ruang gym.
"Eh Ayah, udah malem banget sih Yah. Ayah juga udah istirahat semalam, tapi Bunda masih nungguin Igan sambil nonton TV." Sahut Igan sambil terus berlari.
"Oh ... pantes. Hari ini jadwal kamu apa?"
"Igan nanti siang mau keluar kota Yah, ada acara tiga hari di Surabaya."
"Surabaya? Wah, Bunda mu pasti kesepian nih. Kamu kok sering banget keluar kota sih Nak?"
"Ya ... mau gimana lagi Yah? Kan udah tuntutan pekerjaan. Ayah juga sering keluar kota dulu, Igan masih inget loh."
"Ya ... tapi kan beda ...."
"Beda apanya Yah ...? Kan sama-sama keluar kota buat urusan kerjaan."
"Eh ... ada apa ya ini, pagi-pagi kok udah debat aja?" Tegur Bulan yang berjalan dari arah dapur.
Ayah dan anak itu hanya tertawa kecil lalu kompak menjawab, "Enggak apa-apa kok Bun."
"Bunda bawa apa tuh? kelihatannya enak." Tanya Igan yang mulai melambatkan laju treadmill nya.
"Ini Bunda kemarin pulang kantor beliin kue kesukaan kamu dari kecil, tapi karena kamu pulangnya udah kemaleman jadi Bunda simpan di kulkas."
"Wah, bolu tiramisu?" Igan tampak antusias hingga akhirnya berhenti berolah raga dan menghampiri bolu yang tampak lezat di atas piring keramik.
"Igan mau bawa ya Bun buat bekal nanti ke Surabaya." Imbuhnya dengan semangat.
Bintang terkekeh melihat tingkah putranya.
"Kamu masih kayak Igan yang dulu, suka banget sama bolu itu dan pasti minta dijadiin bekal sekolah." Kenang Bintang sambil tersenyum.
Igan sontak tersipu, wajah tampannya terlihat malu-malu.
"Memang di mata Bunda, Igan itu tetap bocah kok Yah. Walaupun sekarang dia udah gagah begini, tingginya juga melebihi Ayah tapi di hati dan pikiran Bunda, Igan masih anak-anak."
"Oh ... pantesan semalam Bunda rela nungguin Igan pulang, ternyata itu alasannya? Bunda masih merasa Igan anak kecil, ya?" Seloroh Igan.
"Iya Nak, Bunda takut kamu kesasar mungkin, udah malam kok belum pulang-pulang?!" Ledek Bintang sambil terkekeh.
Igan pun tertawa mendengar kelakar sang ayah.
__ADS_1
"Tapi semalam juga ada lo yang bolak-balik minta Bunda supaya nelfonin kamu, nanyain udah sampai mana? udah makan belum?" Timpal Bulan sembari melirik Bintang yang mendadak salah tingkah.
"Oh ... ternyata Ayah lebih protektif ya ke Igan?" Seloroh Igan sambil tersenyum menatap ayahnya.
"Begitulah Ayah mu." Timpal Bulan.
Saat mereka tengah asyik bercengkerama, tiba-tiba terdengar suara ponsel Igan berdering.
"Sebentar ya Yah, Bun? ada telepon." Pamit Igan seraya berjalan ke sebuah meja kecil lalu mengambil ponselnya.
Ilona? Batin Igan bertanya.
"Halo?" Sapa Igan ketika menerima panggilan itu.
"Gan, kamu udah bangun?" Tanya Ilona.
"Belom, aku lagi ngigau sekarang. Kenapa?"
"Kamu nih makin hari makin lucu aja, mau nyoba jadi pelawak juga?"
"Kamu juga, makin hari makin aneh aja. Udah tau aku angkat telepon, masih nanya juga. Ada apa sih Non ...?" Sahut Igan.
"Aku bosen di rumah sendirian Gan, boleh ke rumah kamu enggak sambil nunggu waktu ke Surabaya nanti siang?"
"Aku sekarang lagi di rumah orang tua, bukan di apartemen. Kamu pasti enggak tau alamatnya."
"Siapa bilang? Aku udah di depan kok."
Mendengar hal itu membuat Igan terkejut. Ia segera berjalan cepat menuju ke gerbang depan rumah.
Tampak mobil Ilona sudah terparkir di depan pintu dengan kondisi gerbang yang sudah dibuka oleh penjaga.
Igan segera berjalan mendekati mobil tersebut, perlahan kaca mobil pun terbuka dan tampak Ilona yang menebar senyum padanya.
"Pagi Gan, kaget ya?" Sapa Ilona.
"Kamu ... tau darimana alamat rumah ini?" Tanya Igan, heran.
"Kamu lupa kalo aku ini keponakannya Om Bono?" Sahut Ilona dengan percaya diri.
Igan manggut-manggut, ia paham benar jika Om Bono adalah salah seorang yang berperan penting sejak awal karirnya. Ia pun sudah merasa dekat dengan beliau, hingga ia tak sungkan untuk mengenalkannya pada sang ayah dan bunda.
"Ya udah yuk masuk?" Ajak Igan.
Ilona tampak sumringah mendengar ajakan Igan. Ia bergegas menyetir mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah yang luas itu, kemudian turun mendekati Igan.
***
__ADS_1