
Mereka terdiam sepersekian detik kemudian segera saling menjauhkan diri dan rasa canggung yang tadi ada menjadi kian terasa.
"Ma-maaf, saya spontan tadi gara-gara dengar kamu menjerit. Maaf ya Tia? Kalau gitu, saya pamit pulang ya?" Ujar Rey dengan canggung lalu segera beranjak pergi sebelum mendengar jawaban dari Tia.
Tia pun hanya tertegun melihat pimpinan divisinya itu berlalu masuk ke dalam mobil dan menghilang ditemani guyuran hujan.
Tia ... Tia, apa-apaan sih?! Kenapa tadi pake njerit segala! Jadi ambyar kan suasananya?!" Sesal Tia dalam hati.
Ia bergegas masuk ke dalam rumah, membersihkan diri, sholat, lalu rebahan di dalam kamar. Ingin sekali ia langsung tertidur lelap, namun bunyi perut yang keroncongan memaksanya tetap terjaga.
"Haduuuh ... sampe lupa kalo belum makan malam!" Gerutunya seraya bangkit dari tempat tidurnya.
Tia pun beranjak menuju dapur, ia membuka kulkas namun cadangan makanan ringan ternyata sudah habis. Ia beralih ke lemari dapur, dan melihat beberapa bungkus mie instan.
"Cocok! Lagi dingin-dingin gini makan mie rebus. Oke, capcus!" Ujarnya bersemangat.
Ia memasak sebungkus mie instan dicampur sayuran yang masih tersedia di dalam kulkas, lalu sebutir telur. Tak lupa ia beri cabai rawit sebagai perasa pedasnya.
"Hmmm ... mantap!" Ucapnya saat semangkuk mie rebus sudah tersaji di atas meja.
Hujan sudah mulai reda, Tia merasa kesepian karena sang kakak yang sedang bertugas dan baru pulang pada tengah malam nanti.
Ia pun mengambil ponselnya dahulu dari dalam kamar, lalu kembali ke meja makan untuk menyantap mie-nya. Sambil mengunyah makanan, ia pun iseng membuka laman media sosial. Perlahan ia menggeser layar ponselnya untuk melihat-lihat postingan akun yang ia ikuti.
Matanya sontak tak berkedip ketika melihat sebuah postingan dari akun salah satu artis yang ia ikuti. Postingan itu menampilkan foto Ilona dan Igan yang dikelilingi artis-artis ibukota.
Di foto itu tampak Igan dan Ilona bak sepasang pengantin berpakaian Eropa. Ilona tersenyum manja sambil menggelayutkan tangan di lengan Igan, sedangkan Igan tersenyum simpul.
Tia sontak teringat kata-kata Igan saat mereka bertemu, ia berkata bahwa ia dan Ilona hanya berteman. Namun kini apa yang Tia lihat justru tak tampak demikian.
Tia membaca keterangan pada postingan tersebut, namun hanya ada kata 'Selamat ...!!' dan kolom komentar juga ditutup.
Tia coba membuka akun milik Ilona lalu ia lihat juga postingan -nya. Ternyata di akun milik Ilona, ditulis keterangan 'Finally ...!!' dengan sebuah emotikon penuh cinta.
"Apa iya Mas Igan beneran nikah sama dia? Gue kok enggak yakin ya?" Tia bertanya-tanya sendiri.
Tia tak dapat mencari akun milik Igan karena Igan memang tidak memiliki akun media sosial.
Ketika ia tengah mengamati foto di layar ponselnya itu, tiba-tiba ia teringat sosok Maya, si penggoda yang dulu menjadi duri dalam kehidupan orang tuanya.
__ADS_1
Ia tersentak kaget dan hampir tersedak. Buru-buru ia meneguk segelas air putih lalu kembali tertegun.
"Kenapa tiba-tiba gue ingat pelakor itu?" Gumamnya.
Tia memang masih kecil waktu Maya masih menjadi bagian dari kehidupan ayahnya, namun ia melihat sebuah foto yang masih tertinggal di dalam lemari. Foto ketika ayahnya dan wanita itu sedang melakukan akad nikah.
Tia yang kala itu sudah SMP hanya merasa bingung, ia mengambil foto tersebut dan bertanya kepada kakaknya. Hendra kaget saat melihat foto itu masih ada di dalam rumah.
Padahal dulu ibunda mereka sempat merobek foto-foto Maya yang ada di rumah, namun rupanya sang ayah yang masih mabuk kepayang pada wanita itu menyelamatkan foto tersebut dan diletakkan di tumpukan pakaian di lemari Tia, karena itulah ia jadi tahu tentang Maya.
"Apa ada hubungannya artis-artis ini sama Maya?" Ia kembali bergumam.
Namun ia tak mau memusingkan hal itu, ia melihat jam di layar ponselnya dan sudah makin larut. Tia bergegas menghabiskan mie yang tinggal beberapa suap lagi agar bisa cepat beristirahat.
*
Ponsel Igan yang tergeletak di meja kecil bergetar di pagi buta. Hal itu mengagetkan Igan yang baru saja hendak beristirahat karena baru pulang syuting video klip di luar kota.
"Ya Allah, siapa ... lagi jam segini nelepon?" Gerutunya seraya berdecak.
Ia segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang telepon.
"Bunda?? Tumben jam segini telepon?" Gumamnya, lalu segera menerima panggilan telepon itu.
"Wa'alaikum salam. Gan, kamu lagi di mana Nak?" Suara Bulan, sang bunda terdengar panik.
"I-Igan di apartemennya Bunda. Kenapa Bun?" Igan jadi gugup menjawab.
"Ayah Gan, Ayah ...." Isak tangis Bulan mulai terdengar dan membuat Igan panik.
"Ayah?? Ayah kenapa?? Igan ke rumah sekarang ya Bun?"
"Jangan ke rumah Nak, kamu langsung aja ke Rumah Sakit Medika Raya."
"Rumah Sakit?? Ya udah-ya udah, Igan ke sana sekarang. Bunda tenang ya?"
"Ya Sayang, kamu hati-hati ya?"
"Iya Bun. Assalamu'alaikum ...."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam ...."
Panggilan telepon berakhir, sekaligus berakhir juga rencana Igan beristirahat di kasur empuknya pagi itu karena ia harus segera menyusul sang bunda yang sedang menunggui ayahnya di Rumah Sakit.
Mobil Igan melaju dengan sangat lancar pagi itu hingga tak butuh waktu lama untuk Igan segera tiba di Rumah Sakit Medika Raya.
Ia segera menelepon sang bunda untuk memberitahukan posisinya. Bulan menangis ketika melihat Igan tiba. Igan segera memeluk sang Bunda yang tampak rapuh.
"Sebenarnya ada apa Bun? Ayah kenapa?" Tanya Igan setelah sang bunda merasa lebih tenang.
"Ayah tadi ... tiba-tiba pingsan di kamar waktu mau ke kamar mandi."
"Ya Allah ... terus dokter bilang apa?"
"Dokter belum keluar dari ruangan, ayah masih diperiksa di dalam. Bunda enggak kuat ada di sana, Bunda enggak sanggup, Nak ...!!" Kembali isak tangis Bulan pecah di pelukan sang putra.
"Ya udah Bunda tenang dulu, kita tunggu kabar dari Dokter ya? Kita berdoa semoga Ayah enggak kenapa-napa." Bujuk Igan seraya merangkul pundak ibundanya.
"Iya Nak, aamiin ...."
Igan memapah sang bunda untuk duduk di kursi tunggu, tak lama kemudian datang Hendro yang berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa dua botol air mineral.
"Ini Bu, silakan diminum." Ujar Hendro sembari menyodorkannya ke arah Bulan.
"Terima kasih ya Pak Hendro?" Ucap Bulan.
"Pak Hen dari mana?" Tanya Igan.
"Dari toko di seberang jalan Mas, beli minum buat Ibu. Kasihan dari tadi nangis terus." Sahutnya.
"Makasih ya Pak Hen?" Ucap Igan.
"Sama-sama Mas. Oh iya, gimana kondisi Bapak?" Tanya Hendro.
"Dokternya belum keluar Pak, jadi belum tahu."
"Oh ... begitu?" Timpal Hendro sambil manggut-manggut.
Igan mempersilakan Hendro untuk ikut duduk di sebelahnya, menunggu dokter yang sedang memeriksa ayahnya keluar ruangan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, dokter pun keluar. Bulan, Igan, dan Hendro sontak berdiri untuk menanyakan kabar Bintang kepada sang dokter. Raut wajah penuh kecemasan terpancar jelas di wajah ketiganya, berharap sang dokter membawa kabar yang melegakan hati mereka.
***