
Sekembalinya rombongan Erlangga Group dari plesiran di sebuah lokasi wisata, Igan memilih pulang ke rumah orang tuanya. Ia merasa hidupnya galau, ada kejanggalan yang ia rasakan karena merasa hari-hari yang telah lalu seakan tak sepenuhnya ia sadari.
"Assalamu'alaikum ...." Igan mengucap salam ketika kakinya mulai melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Wa'alaikum salam ... eh, Mas Igan pulang? Kok enggak bareng sama Bapak dan Ibu, Mas? tanya Marni yang sedang mengelapi perabotan di ruang tamu.
"Iya Mbak, Bunda sama Ayah yang pulang duluan. Oh iya, Ayah sama Bunda di mana, Mbak?"
"Ada Mas, lagi di kolam belakang."
"Ya udah, saya ke sana dulu. Makasih ya, Mbak?"
"Silakan, Mas. Sama-sama ...."
Igan bergegas menuju belakang rumah di mana terdapat kolam ikan sebagai salah satu tempat favorit keluarga untuk bersantai.
"Assalamu'alaikum, Yah-Bun?" ucap Igan ketika sudah hampir mendekati kedua orang tuanya.
"Wa'alaikum salam ... Igan, kamu sudah pulang Nak?" sahut Bulan dengan bahagia.
Igan tersenyum lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Gimana, Nak? Enak kan refesing di sana?" tanya Bintang.
Igan mengacungkan kedua ibu jarinya, "Mantul, Yah! Idenya siapa sih kita refresing ke sana?" tanya Igan.
"Ya ide Ayah dong!" sahut Bintang dengan bangga.
"Tapi sayang ...." ucap Igan.
"Sayang kenapa?" tanya Bintang, penasaran.
"Sayangnya cuma dua hari, harusnya satu minggu Yah."
"Ya ... itu kan acara kantor, masa mau sampe seminggu? Nanti lah, kapan-kapan kita sekeluarga aja yang ke sana lagi." sahut Bintang.
Lagi-lagi Igan mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Kamu mau nginep di sini kan, Nak?" tanya Bulan.
Igan terdiam sejenak, wajahnya berubah serius. Membuat kedua orang tuanya merasa penasaran.
"Igan mau tinggal di sini lagi, boleh enggak Bun-Yah?" tanya Igan.
"Alhamdulillah ... justru itu yang Bunda sama Ayah harapkan, Nak. Kenapa kamu tanya begitu? Sekalipun kamu nanti sudah punya istana sendiri, tapi rumah Ayah dan Bunda ini ya rumah kamu juga. Kamu kan anak satu-satunya, Nak ... Kalo bukan buat kamu, emang mau buat siapa?" ucap Bulan penuh syukur.
Igan tersenyum, "Makasih ya Bun, Yah?"
"Hmmm ... memangnya kenapa kamu jadi mau tinggal di sini lagi, Nak?" tanya Bintang, menyelidik.
"Enggak apa-apa sih Yah, cuma ...." sahut Igan, menggantung.
"Cuma ... apa, Nak?" tanya Bulan.
"Igan ... Igan ngerasa ada sesuatu yang ngganjal di hati dan pikiran Igan, Bun."
Alis Bulan berkerut, "Ngganjal gimana?"
__ADS_1
"Igan ngerasa ... hidup Igan kemarin-kemarin itu kayak separuh mimpi. Igan tau kalo dilakuin, tapi ... itu kayak ngalir gitu aja, sama sekali bukan maunya Igan."
Bulan dan Bintang saling menatap penuh arti.
"Maksudnya kayak mimpi itu, kamu kayak enggak sepenuhnya sadar, begitu?" tanya Bulan, menelisik.
Igan termangu, bola matanya hanya terfokus ke satu titik kemudian kembali menatap kedua orang tuanya.
"Iya." sahut Igan, singkat.
"Termasuk ... pertunangan kamu, dengan ... gadis itu?" tanya Bintang dengan hati-hati.
Igan menatap sang Ayah, "Iya Yah, Igan masih terus mikir-mikir soal itu."
"Bukannya kalian tunangan itu karena saling cinta?" tanya Bulan, kembali mengorek informasi dari sang putra.
"Jujur, Igan bukan cinta ke Lona, Bun. Dia memang cantik, pintar, dan sayang sama Igan. Tapi ... Igan cuma anggap dia sebatas sahabat dan rekan kerja, enggak lebih. Soalnya ... sudah ada gadis yang buat Igan kagum."
"Tapi kamu sampai nentang Ayah lho, Nak waktu Ayah larang kamu berhubungan sama gadis itu. Malah kamu lebih milih tinggal di apartemen lagi, kan?" ledek Bintang.
Igan kembali termangu, ia seperti sedang coba mengumpulkan kepingan puzzle di dalam memorinya beberapa waktu terakhir, yang rasanya seperti mimpi bagi Igan.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu saja dulu Nak. Soal itu ... nanti pasti ada jawabannya." ucap Bulan.
"Hmmm ... ya sudah Bun, Yah. Igan ke kamar dulu ya?" pamit Igan.
"Iya Nak, kamu istirahat aja dulu." sahut Bulan.
*
Sore harinya, ponsel Igan berdering. Dengan malas ia mengambil benda canggih itu dari atas meja kecil di kamarnya.
Ia menekan tombol senyap kemudian meletakkan lagi ponselnya ke atas meja, lalu kembali larut membaca buku di tangannya.
"Biarin aja Lona nelponin, lagi males gue! Pengin rehat juga, mumpung mobil lagi dibawa ke bengkel sama Pak Hendro." gumamnya santai sembari membalik halaman buku yang sedang ia baca.
Ilona yang merasa kesal karena teleponnya tak pernah direspon Igan beberapa kali pun memutuskan untuk mendatanginya ke apartemen. Ia ingin mengajak Igan makan-makan di rumah Om Bono.
Namun Ilona tak mendapati Igan di apartemennya. Dengan marah, ia kembali coba menelepon tunangannya itu berkali-kali. Nihil, itulah hasilnya. Igan tetap tak merespon panggilan telepon Ilona, bahkan pesan chat yang menanyakan keberadaannya pun tak dibaca.
Akhirnya Ilona memutuskan untuk mencari Igan di rumah orang tuanya. Ilona ingin sekaligus menanyakan perihal cincinnya sewaktu ia titipkan pada Bulan, ibunda Igan.
Ilona merasa, sikap Igan mulai berubah setelah cincinnya dititipkan ke Bulan. Ia takut ternyata cincinnya sempat terjatuh ke laut sehingga efek pemikat untuk Igan mulai pudar.
Ilona mengendarai mobilnya menuju kediaman Erlangga. Segala rasa sudah berkecamuk dalam benaknya, antara penasaran, kesal, juga was-was.
Setibanya di depan gerbang kediaman Erlangga, ia membunyikan klakson untuk meminta sang penjaga membukakan gerbang.
"Di sini juga enggak ada mobilnya Igan, ke mana dia?" gumamnya ketika pintu gerbang sudah terbuka dan mobilnya mulai merangkak masuk ke halaman.
Ia turun setelah memarkirkan mobilnya.
Tapi ... kalo Igan lagi enggak di sini juga enggak apa-apa sih, aku juga mau ketemu sama Tante Bulan. batin Ilona.
Ia melangkah ke arah pintu utama yang besar, lalu menekan bel. Untungnya, tak perlu menunggu lama pintu tersebut terbuka. Tampak Marni yang membukakan pintu.
"Selamat malam, mau cari siapa Mbak?" tanya Marni, sopan.
__ADS_1
"Igan ada di sini enggak? kok saya cari di apartemen enggak ada, diteleponin juga enggak diangkat-angkat!" tanya Ilona dengan ketus dan tanpa basa-basi.
Marni terhenyak sejenak, ia menatap Ilona dari ujung kaki sampai ubun-ubun dengan tatapan penuh arti.
Ini Mbak Ilona yang tunangane Mas Igan, terus yang nyanyi bareng juga tho? Walaaah ... judes tenan! Pantesan Mas Igan tadi pesen supaya jangan bilang kalo lagi di sini. Puas kowe Mbak, dikerjani Mas Igan! hehe .... batin Marni.
"Eh Mbak, ditanyain kok diem aja? Igan ada enggak di sini?" tanya Ilona, membentak.
"Oh, ng-enggak ada Mbak, Mas Igan lagi enggak ada di sini. Apa mungkin udah ada di apartemennya?" sahut Marni, tergagap.
Ilona membulatkan mata dan mengerutkan alisnya, ia tampak makin emosi menghadapi Marni.
"Tadi kan saya udah bilang dia enggak ada di apartemen! Ah udah lah, minggir kamu! Panggilin Tante Bulan aja sana!" hardik Ilona yang ampuh membuat Marni langsung balik badan dan berlari kecil memanggil sang nyonya rumah.
Ilona langsung melangkah masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa empuk, tanpa menunggu dipersilakan terlebih dahulu.
Lima menit kemudian, Bulan tampak datang menghampiri Ilona di ruang tamu.
"Lona, apa kabar? Kamu darimana, tumben mampir kemari?" sapa Bulan, basa-basi.
"Dari apartemennya Igan, Tan. Tapi dia enggak ada di sana. Dia kemana sih, Tan?" sahut Ilona, hanya fokus pada tujuannya.
Bulan terdiam sejenak, ia menghela napas lalu ia hembuskan perlahan seraya tersenyum tipis pada gadis cantik di hadapannya.
"Tante kurang tau Igan di mana, memangnya ada perlu apa?" Bulan terpaksa berbohong demi kebaikan sang putra, karena tadi Marni sudah memberitahu pesan dari Igan.
"Saya mau ajak Igan ke rumah Om Bono untuk makan-makan."
"Oh ... begitu?"
"Oh iya Tan, saya mau tanya soal cincin ini." ujar Ilona sembari menunjuk cincin yang sedang ia pakai.
Bulan tetap tenang, karena ia sudah mengira jika cepat atau lambat Ilona pasti akan bertanya.
"Iya, kenapa cincinnya?" tanya Bulan, tenang.
"Waktu cincin ini saya titipin ke Tante, cincin ini ... enggak kenapa-napa kan?"
Bulan mengerutkan dahi, pura-pura tak paham.
"Maksud kamu, enggak kenapa-napa gimana?"
"Ya ... maksudnya enggak jatuh ke dalam laut kan?"
"Oh ... cincin itu? enggak kok, itu buktinya bisa kamu pakai lagi." sahut Bulan dengan senyuman.
Cincin itu memang enggak pernah jatuh ke laut Lon, karena yang kamu pakai itu ... cincin saya! batin Bulan.
"Justru cincin yang Tante pakai yang hilang." imbuh Bulan dengan memasang raut wajah sedih.
Ilona menatap jemari Bulan, ia terhenyak.
"Hilang di mana, Tan?" tanya Ilona, menyelidik.
"Di tengah laut, waktu perjalanan pulang kemarin."
"A-apa??" pekik Ilona, terkejut.
__ADS_1
Ilona tampak sangat terkejut dan panik.
****