
Hari ketiga, Danisha masih ditinggal sendiri di rumah. Ia duduk di depan televisI, bukan untuk menyaksikan acara yang ditayangkan, melainkan untuk mengusir sepi yang ia rasakan. Matanya justru terfokus pada layar ponsel yang digenggamnya.
Pukul 9 malam, ia belum merasa mengantuk sampai ia bosan bermain game di ponselnya, hingga berselancar di dunia maya.
Tiba-tiba ponselnya berdering ketika Danisha baru saja meletakkan ponsel di sisinya. Manik matanya melirik ke benda kecil yang berbunyi itu, tampak nama Olivia salah satu teman yang sering mengajaknya clubbing.
"Ya, Liv?" sapa Danisha.
"Lo lagi ngapain, Dan? ke tempat biasa yuk?" ajak Olivia.
"Enggak ah!"
"Ya ... enggak asik lo! Robin ngundang lo ke party-nya dia."
"Robin? Kenapa enggak dia langsung yang invite gue? by phone kek??"
"Dia mau, tapi enggak enak katanya. Ini dia nyuruh gue kok buat sampein ke lo. Nih ada orangnya di sebelah gue lagi nyetir. Bin, lo ngomong sendiri deh sama Danisha!" oceh Olivia.
"Hai Dan, sori ya kalo ganggu." ucap Robin.
"Ya, enggak apa-apa." sahut Danisha.
"Hmmm ... kayak yang barusan Oliv bilang, gue ngundang lo ke party gue, di klub yang biasa buat nongki-nongki kita dulu. Mau kan?"
Danisha terdiam sejenak, ia berpikir.
Gue kan dilarang Papa sama Mas Hendra buat ke klub, apalagi semenjak kejadian itu. Tapi sekarang gue bete banget, bosen di rumah terus, mana sendirian lagi!"
"Halo, Dan?? Lo dengerin gue enggak?" tegur Robin.
Danisha terkesiap, "Iya-iya, gue denger. Tapi ... bokap gue enggak ijinin gue ke klub lagi. Mending party nya lo pindahin aja ke rumah gue, sepi nih rumah!"
Robin tertawa, "Masalahnya ... gue udah booking itu tempat, Nona Danisha ...."
"Emang lo ngundang orang se-agensi apa, sampe harus booking tempat segala?"
"Ya enggak gitu ... tapi gue emang maunya ini jadi private party, enggak kecampuran pengunjung lainnya."
"Udah deh Dan enggak usah bawel, sekarang mending lo siap-siap. Kita udah deket rumah lo nih!" tiba-tiba Olivia menyerobot obrolan.
"Hah?? Gila lo! Ngomong aja barusan, udah mau jemput paksa aja! Emang gue tahanan??" omel Danisha.
"Bodo amat! Yang penting lo harus ikut, titik!" tukas Olivia kemudian mematikan telepon.
"What?? Dasar Oliv!!" gerutu Danisha kemudian beranjak menuju kamar untuk berganti baju.
Suara klakson mobil terdengar di halaman depan rumah Danisha.
"Dan ... come on ...!!!" seru Olivia sembari menyembulkan kepala dari jendela mobil.
Tak lama, Danisha keluar dari dalam rumah. Ia sudah terlihat lebih rapi, dan lebih cantik pastinya dengan make up.
Robin yang duduk di balik kemudi didampingi Olivia di kursi sebelahnya, lalu ada seorang teman duduk di tengah dan dua orang lagi duduk di jok belakang, mereka tampak tersenyum senang melihat Danisha yang ternyata mau ikut serta.
Danisha mengunci pintu rumahnya, lalu melangkah cepat menuju mobil.
"Ini malem woy, pake teriak-teriak segala lo!" omel Danisha pada Olivia.
"Alah ... cuek! Paling udah pada tidur orang-orang. Yuk ah, let's go!" timpal Olivia.
Danisha masuk ke dalam mobil, lalu mereka semua berangkat menuju lokasi yang dituju.
Sepanjang perjalanan tampak suasana ramai dengan riuh candaan anak-anak muda yang berada di satu agensi model yang sama, walau kini Danisha sudah tidak lagi bergabung di sana semenjak kejadian itu.
__ADS_1
"Eh Dan, lo sekarang udah keliatan biasa lagi ya? Udah bisa lupain kejadian itu?" celetuk Olivia.
Robin langsung menoleh ke arah Olivia dengan tatapan tak suka, kemudian ia mencubit lengan gadis itu.
"Awww!!! Apaan sih, Bin?? Sakit tau!" pekik Olivia sambil melotot kesal ke arah Robin.
Robin yang sedang menyetir mobil hanya memberi kode, agar gadis yang duduk di sebelahnya itu tidak membahas hal sensitif tersebut pada Danisha.
Danisha yang duduk tepat di belakang mereka tersenyum getir, ia coba menguasai emosinya yang sontak meluap ketika teringat kejadian itu.
"Ya, gue coba buat bersikap biasa sih. Walapun ... gue masih tetep berharap bisa nemuin cowok yang udah minta jasa si mucikari itu buat cariin mangsa." sahut Danisha.
"Terus kalo lo udah ketemu tu cowok dan tau dia orangnya, lo mau ngapain Dan?" tanya salah satu teman yang duduk di belakang.
"Hmmm ... i don't know, maybe i'll k*ll him?!" sahut Danisha sambil tertawa.
Yang lain pun kompak tertawa mendengar ucapan Danisha yang asal ceplos, karena mereka menganggap itu hanya gurauan.
Mereka tiba di tujuan pukul 10 malam, suasana sudah tampak riuh dengan suara house music yang menghentak, membuat siapapun ikut larut menikmati alunan musik itu.
Danisha berjalan perlahan, ia tampak sedikit canggung memijakkan kakinya lagi di tempat yang identik dengan maksiat itu. Namun, baginya bukan tempatnya yang salah. Tapi perilaku orang-orangnya yang menggunakan tempat tersebut untuk menambah dosa.
Danisha selama membaur dengan kawan-kawannya di tempat tersebut, tetap dapat menjaga diri dari minuman memabukkan dan perbuatan tak baik lainnya. Kejadian malam itu pun, bukan terjadi di sana.
"Dan, ayo ke sana!" ajak Robin dengan berteriak karena berpacu dengan suara musik yang sangat keras.
Danisha mengangguk saja, lalu mengekor langkah Robin dan Olivia serta kawan-kawan lainnya.
Di sudut ruangan dengan kursi panjang dan meja yang sudah penuh dengan botol-botol, gelas dan makanan ringan, tampak beberapa orang asyik berbincang sambil tertawa lepas.
Beberapa orang dari mereka sudah familiar bagi Danisha, karena mereka orang dari agensi tempatnya bernaung dulu. Sedangkan seorang lagi, ia tidak mengenalnya.
"Hei ... Robin ... kenapa baru dateng?? Masa yang punya acara baru nongol sih??" sambut Nathan, orang dari agensi Brigitta's Charming.
"Iya ... gue harus jemput nona muda dulu nih!" kelakar Robin sembari menoleh ke arah Danisha.
"I'm good." sahut Danisha sambil tersenyum ramah dan menjabat tangan Nathan.
"Oh iya Dan, kenalin ini orang yang punya andil keuangan di agensi. Namanya Pak Rey." imbuh Nathan sembari mengenalkan lelaki yang duduk di antara mereka, namun Danisha belum mengenalnya.
Danisha menoleh ke arah Rey, lalu tersenyum. Rey pun menatap Danisha penuh arti, seakan matanya sedang berbicara.
"Halo Danish, saya Rey. Nice to meet you." Rey mengulurkan tangannya pada Danisha sambil tersenyum.
Danisha menyambut uluran tangan Rey, lalu mereka saling bersalaman.
"Saya Danisha, Pak Rey. Nice to meet you, too."
"Ayo sini, kita ngobrol bareng." ajak Nathan.
"Kamu tau enggak Dan si Robin bikin private party gini buat apaan?" tanya Olivia.
Danisha menggeleng.
"Dia itu udah masuk top model internasional dan bakal terbang ke Perancis, buat ikut peragaan di acara fashion week di sana. Keren kan??"
"Iya Dan, Robin kemungkinan besar juga bakal berkarir di sana." imbuh Nathan.
Mata Danisha berbinar mendengar hal itu. Jujur, itu juga jadi salah satu impian terbesarnya dalam dunia modelling. Namun ... takdir memberi suratan berbeda.
Ia harus mundur dari agensi karena dalam perjanjian tidak boleh ada model wanita yang menikah apalagi sampai hamil selama bergabung dalam agensi tersebut.
Andaikan kejadian itu enggak menimpa gue, mungkin gue bisa ikut juga. batin Danisha, menyesal.
__ADS_1
"Sori Dan, bukan maksud kita bikin lo sedih. Gue cuma mau berbagi bahagia sama lo, walaupun lo udah enggak bareng lagi sama kita." ucap Robin sembari mengusap lengan Danisha dengan lembut.
Danisha tersenyum getir, ia merasakan jika Robin masih berempati padanya dan mengingatnya sebagai teman baik.
"Enggak apa-apa kok, Bin. Gue aman kok, gue ikut seneng lo bisa berkarir lebih bagus lagi. Semangat terus ya?" ucap Danisha.
"Makasih ... Lo juga harus semangat ya? Jangan berhenti kejar mimpi lo."
Danisha ingin sekali menangis mendengar kata-kata Robin, namun ia berusaha tegar dan tersenyum walau hatinya remuk dan pedih.
"Ya udah yuk kita minum-minum, jangan melow-melow lah!" ajak Olivia.
Rey hendak menuangkan minuman beralkohol untuk Danisha, tapi Danisha menolak dengan sopan.
"Maaf, saya enggak minum itu Pak."
Rey menatap Danisha beberapa saat, kemudian tersenyum. Ia mengganti botol minuman beralkohol itu dengan sekaleng minuman soda.
"Kalau ini mau kan?" tanya Rey sambil tersenyum.
Danisha mengangguk, "Makasih, Pak."
Obrolan demi obrolan mengalir santai disela hentakan musik yang membuat siapapun ingin menggerakkan badan.
Tiba-tiba Danisha merasa ingin ke kamar kecil, ia pun pamit pada yang lain. Sedangkan Olivia mengajak Robin dan yang lain untuk bergoyang ke tengah ruangan dengan iringan musik tersebut.
Olivia sudah mulai sedikit mabuk, sedangkan Robin masih sedikit terkendali. Rey tampak membuang air soda di dalam kaleng milik Danisha, lalu menuangkan minuman beralkohol dari botol sebanyak seperdelapan dari tinggi kaleng.
Ketika Danisha kembali ke meja, ia hanya mendapati Rey yang duduk di sana. Sedangkan Olivia dan Robin sedang asyik bergoyang di lantai dansa.
"Kamu enggak turun, Dan?" tanya Rey.
"Oh, enggak Pak. Saya enggak bisa." sahut Danisha, kikuk.
"Ah masa? Ayo saya ajarin?"
"Oh, ng ... enggak usah, Pak. Saya ... saya takut kecapean juga nanti." sahut Danisha yang semakin kikuk lalu menenggak minuman dalam kaleng soda miliknya.
Mimik wajah Danisha berubah, alisnya berkerut. Ia merasa ada yang aneh pada minumannya. Ia melihat kaleng yang ada di tangannya dengan tatapan heran.
"Kenapa, Dan?" tanya Rey.
"Hmmm ... ini ... bener minuman saya tadi kan? Kok rasanya beda ya??" tanya Danisha.
"Iya, itu betul punya kamu kok. Beda gimana emangnya?" Rey pura-pura tak mengerti.
"Rasanya kayak bukan yang tadi."
"Masa sih?? Ah, kamu mabok soda ya?" ledek Rey.
"Enggak kok, saya enggak mabok! Masa cuma minum soda bisa mabok??"
"Ya udah coba kamu minum lagi, mungkin lidah kamu tadi lagi error!" bujuk Rey dengan liciknya.
Entah kenapa Danisha menuruti ucapan Rey, hingga minuman dalam kaleng yang tinggal sedikit itu ia habiskan.
Semakin malam, suasana semakin tak karuan. Sudah banyak dari mereka yang mabuk minuman, begitu juga dengan Olivia dan teman-teman lain yang tadi datang bersamanya.
Tampak Danisha pun mulai oleng, ia tak bisa duduk tegak, kepalanya mendadak agak pening.
"Pak, ssss - saya pulang, ya?" pamit Danisha seraya berusaha bangkit, namun limbung.
Rey segera menangkap tubuh sintal Danisha. Lalu ia bopong keluar dari lokasi tersebut. Tak ada yang menyadari hal itu karena semua orang di sana sudah terlalu berat untuk menstabilkan diri mereka sendiri.
__ADS_1
Rey menidurkan Danisha di kursi belakang mobilnya, lalu bergegas pergi ke suatu tempat.
****