
"Maaf, saya bicara dengan siapa?" tanya Igan dengan nada tegas.
Sejenak tak ada sahutan, kemudian ia kembali bersuara.
"Ini Mas Igan ya?"
Dahi Igan kontan berkerut karena lelaki itu juga ternyata mengenalnya.
"Maaf, siapa ya? Mungkin karena terlalu lama tidak ada komunikasi, jadi ... saya agak lupa suara Anda."
"Saya Rey, mantan kepala divisi promosi di perusahaan Erlangga. Oh iya, selamat ya Mas Igan atas pernikahannya. Saya kecewa lho enggak diundang."
Igan terhenyak, ia tak menyangka jika Rey kembali menghubungi Tia yang kini sudah menjadi istrinya, dan Rey pun ternyata sudah tahu hal itu.
"Iya, terima kasih Pak Rey. Ngomong-ngomong ... ada perlu apa malam-malam begini telepon ke nomer istri saya?"
Tia terhenyak mendengar suaminya menyebut nama Rey. Ia tak menyangka jika Rey masih menyimpan nomor teleponnya, padahal Tia sudah lama menghapus kontak Rey dari ponselnya.
"Euh ... enggak apa-apa sih, cuma mau ngobrol tadinya. Tapi ... mungkin Tia sudah tidur ya?" sahut Rey seolah tanpa dosa.
Alis Igan terangkat satu, ia terlihat kaget sekaligus kesal.
"Maaf, Pak Rey sekarang ada di mana?" Igan berusaha sabar.
"Saya enggak kemana-mana kok, masih setia di kota ini walaupun sering bolak balik luar kota."
"Kalau begitu Anda tau kan sekarang jam berapa? Saya kira Anda ada di belahan dunia yang beda dan lupa dengan waktu di kota ini."
Rey terdiam, "Iya, saya tiba-tiba aja pengin ngobrol sama Tia dan langsung cek nomernya, ternyata masih aktif." lagi-lagi Rey berkata dengan santai.
"Nomer istri saya memang masih sama, tapi dia sudah enggak simpan nomer yang menurutnya sudah enggak perlu."
Rey kembali terdiam kemudian menjawab, "Berarti nomer saya juga dihapus??"
"Nomer Anda tadi muncul tanpa nama kontak di HP istri saya, jadi menurut Anda?" tukas Igan.
"Oh ... ya sudah, tolong minta Tia untuk save lagi nomer saya ya?"
"Buat apa??"
"Lho, saya kan pernah jadi bagian sejarah hidupnya. Jadi wajar kan kalo saya masih pengin ngobrol sama dia?"
"Enggak, sangat enggak wajar! Hmmm ... udah malam, maaf saya mau istirahat."
"Maaf kalau saya sudah ganggu. Titip salam untuk Tia ya, Mas?"
Rey mau cari perkara sama gue apa ya malem-malem?? batin Igan, geram.
Tia memeluk lengan Igan, lalu tersenyum dan memberi isyarat pada suaminya agar tak menuruti emosi, karena ia melihat gelagat suaminya yang sudah mulai tersulut emosi.
__ADS_1
Igan menatap wajah cantik istrinya yang tetap terlihat walau dalam temaram. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu kembali menimpali ucapan Rey.
"Nanti saya sampaikan, tapi Anda jangan berharap istri saya akan merespon. Selamat malam." tegas Igan kemudian langsung memutus sambungan telepon.
Igan kembali menghela napas, coba melepaskan emosi yang disebabkan oleh Rey barusan. Ia menatap istrinya dengan lekat.
"Besok kamu beli nomer baru aja ya? Mas enggak mau dia telepon kamu lagi."
"Tadi beneran Pak Rey, Mas??"
"Iya, dia bilang tiba-tiba pengin ngobrol sama kamu. Jam segini mau ngobrol sama istri orang, apa namanya kalo enggak cari perkara??"
"Dia tau kita udah nikah kan, Mas?"
"Tau Sayang, malah tadi dia ngucapin selamat atas pernikahan kita. Katanya dia kecewa karena enggak diundang. Dia juga minta kamu save nomernya, plus ... dia titip salam ke kamu. Emang udah gila tuh orang!" omel Igan. Ia tampak sangat kesal.
Melihat suaminya diliputi emosi membuat Tia tersenyum. Hal itu justru membuat Igan semakin kesal.
"Kok kamu malah senyum-senyum gitu sih, Yang? Seneng ya karena Rey itu masih perhatian dan inget sama kamu?" tanya Igan dengan wajah cemberut.
Tia tertawa, lalu memeluk mesra suami tampannya itu walau sedang cemberut.
"Bukan gitu Mas ... aku seneng, soalnya Mas Igan cemburu kan?" sahut Tia sambil mendongak memandangi suaminya sambil tersenyum manja.
Igan menunduk menatap istrinya yang bersandar manja di dadanya. Tangannya mengusap lembut rambut istrinya yang tergerai indah.
"Boleh kan kalo suami cemburu?" tanya Igan sambil menatap istrinya.
"Jadi besok Mas beliin nomer baru ya?" ujar Igan.
"Iya, Mas sayang ... Ya udah yuk ke kamar?" sahut Tia dengan masih memeluk pinggang suaminya.
Alis Igan terangkat, lalu ia tersenyum penuh arti.
"Tumben ngajakin?" tanya Igan sambil menyolek dagu sang istri sambil mengedipkan mata.
"Lah kan udah malem ... tidur dong di kamar." sahut Tia, serius.
Igan menghela napas, lalu mendengus pelan.
"Kirain ...." celetuk Igan, lesu.
Tia melepaskan pelukannya lalu menuju meja untuk mengambil remote TV, ia menekan tombol off. Keadaan makin gelap tanpa adanya cahaya lampu dan sorot dari layar televisi yang sudah dimatikan.
Tanpa basa-basi, Igan langsung mendekati Tia lalu membopongnya, hingga membuat Tia sempat terkejut.
"Eh-eh, kaget aku Mas!"
"Sssttt ... katanya suruh ke kamar?" sahut Igan, berbisik lembut di telinga Tia.
__ADS_1
"Iya ... tapi enggak usah digendong segala, Mas ...."
"Biarin, mumpung kamu belum berat." sahut Igan sambil tergelak.
Tia sontak cemberut lalu menarik pelan hidung mancung suaminya, namun sejurus kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada suami tercinta.
Igan melangkah mantap menuju kamar mereka, namun karena situasi yang gelap membuat kaki Igan terantuk ujung bawah lemari pajang minimalis di ruang tersebut.
"AWWW!!!" pekik Igan sambil agak terpincang.
Tia merasa panik karena takut terjatuh dari gendongan dan dekapan suaminya. Ia langsung turun, menyalakan lampu dan berusaha menolong suaminya yang masih kesakitan.
"Kenapa, Mas??" tanya Tia, panik sambil melihat ke bawah.
"Kaki, kepentok ini nih!" sahut Igan sambil memukul lemari di dekatnya.
"Ya udah - ya udah, sini aku bantu."
"Enggak apa-apa kok, Yang. Cuma kepentok."
"Tapi sampe teriak gitu barusan?"
"Ya kaget, sakit juga, Yang. Tapi udah enggak apa-apa kok sekarang."
"Hufff ... syukur deh kalo gitu. Ya udah yuk istirahat?"
"Istirahat?" Igan membulatkan mata.
"Iya, udah malem lho!"
"Justru udah malem jangan istirahat dulu, Sayang ...." ujar Igan sambil tersenyum nakal dan mengedipkan mata. Rasa sakit akibat kaki terantuk lemari tadi seakan lenyap seketika.
Tia tersenyum, lalu melangkah menjauh.
"Eh, mau kemana Yang?" tanya Igan, heran.
"Mau matiin lampu."
Igan tersenyum sambil berdiri memandangi istrinya. Setelah ruangan tersebut kembali gelap, Tia dan Igan kembali melangkah menuju kamar mereka. Terdengar suara tawa lirih nan manja dari dalam kamar mereka, dan beberapa menit kemudian suasana jadi hening.
*
Beberapa hari berselang, pintu rumah orang tua Hendra terdengar diketuk dari luar. Hendra sekarang hanya tinggal sendiri di sana semenjak Tia menikah, dan tinggal di apartemen bersama Igan, suaminya.
Hendra yang masih mengantuk karena baru pulang tugas malam itu pun dengan malas beranjak dari kamarnya.
"Ya, sebentar." seru Hendra menyahut ketukan di pintu rumahnya yang terkesan sangat tergesa.
Saat Hendra membuka pintu, ia terlihat kaget. Matanya membulat dengan alis yang terangkat. Ia seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, sampai ia mengerjap-kerjapkan matanya yang masih mengantuk.
__ADS_1
"Hai, Hendra." sapa tamu itu sambil tersenyum.
****