
Langkah Jasmine tiba-tiba terhenti "oh apa jangan-jangan.." Ucap Jasmine matanya membulat dengan lebar, menutup mulut dengan kedua telapak tangannya seperti terkejut.
"kalian pacaran???" Sambungnya lagi menghadapkan tubuhnya dengan memegang bahu Assena.
"Hey apa yang kau katakan, jangan asal bicara!" Jawab Assena yang tak kalah terkejut sembari melepaskan pegangan Jasmine pada bahunya.
"Lalu, lalu sedang apa kalian berdua di taman seperti orang pacaran??" Tanya Jasmine tidak percaya.
"Ya ampun.." Assena memutar kedua bola matanya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa, itu hanya kebetulan. Tadi saat Viona menghadangku, Petter membawaku pergi. Hanya itu tidak lebih." Jelas Assena lalu pergi meninggalkan Jasmine.
Jasmine masih berdiri, tampak sedang berfikir mencerna apa yang telah dikatakan Assena.
Saat sadar Assena telah beranjak pergi. "Hey kau mau kemana?" Ucap Jasmine berteriak segera menyusul.
"Masuk ke kelas, kau pikir aku mau kemana." Ucap Assena terus berjalan.
"Oh iya yah aku lupa." Ucap Jasmine terus membutut dibelakang Assena.
**
"Apa benar mereka itu pacaran?" Lirih seseorang yang bersandar pada dinding dengan memangku kedua tangannya di dada.
Ya, dia Alvin. Tidak sengaja mendengar percakapan Assena dan Jasmine tadi.
"Itu tidak boleh terjadi." Geramnya mengeratkan gerahamnnya dan mengepalkan kedua telapak tangannya.
**
Saat jam pulang, seperti biasa Assena sudah dijemput oleh pak Sur.
__ADS_1
Di perjalanan didalam mobil, nampak pak Sur seperti ragu untuk mengatakan sesuatu. Sesekali melirik Assena dari kaca spion, "emm, anu nona" ucap pak Sur dengan nada ragu.
"Iya pak ada apa?" Tanya Assena mengerutkan dahi melihat tingkah pak sur.
"Anu nona, tuan masuk rumah sakit. Apa nona mau menjenguknya atau langsung pulang ke rumah saja??" Ucap pak Sur melirik kaca spion.
Pak Sur nampak ragu karena mengetahui hubungan Arkan dan Assena yang kurang baik. Dia ragu bahwa Assena akan menolak pergi ke rumah sakit.
Tapi respon tidak diduga. "Kenapa dengan ayah pak? apa ayah sakit?" Assena nampak terkejut dan khawatir.
"Tuan tiba-tiba sakit saat berada di kantor. Langsung dilarikan ke rumah sakit. Nyonya dan nona Isabella juga sudah ada di rumah sakit." Tutur pak Sur.
"Kalau begitu langsung ke rumah sakit saja pak." Ucap Assena masih menampakan kekhawatirannya.
Pak sur menggangguk. "Baik nona." Membelokan arah untuk menuju rumah sakit.
**
Tiba-tiba, mobil mewah berwarna biru menyalip dari samping kanan dengan kecepatan tinggi yang langsung berhenti tepat di depan Petter.
Petter yang terkejut langsung mengerem mendadak. Dia tahu siapa pemilik mobil tersebut.
Ya, Petter terkejut setengah mati. Dan kau tahu?? jantung nya mau meloncat keluar saking terkejutnya. Telat mengerem saja, pasti Sudah celaka.
Langsung membuka helm. "Hey apa kau mau mencelakakan orang hah!" Teriak Petter dengan kesal.
"Mengagetkan orang saja. Bagaimana kalau aku menabrak mobilmu tadi?? Kau ceroboh sekali." Teriak lagi napasnya memburu karena merasa begitu kesal.
Sang pemilik mobil turun keluar, nampak Alvin berjalan melangkah ke arah Petter.
Dan benar, pemilik mobil itu adalah Alvin.
__ADS_1
Langkah Alvin berhenti tepat di belakang mobilnya yang menyerong ke kiri , berdiri bersandar disamping mobilnya dengan memangku kedua tangannya didada.
Petter mengerutkan dahi, tidak tahu apa maksud dan tujuan Alvin melakukan ini.
"Jauhi dia!" Ucap Alvin dengan santai tanpa menoleh ke arah Petter.
"Apa maksudmu? Dia siapa yang kau maksud itu?" Tanya Petter tidak mengerti dan bercampur kesal. Ingin sekali ia pergi meninggal kan si Alvin ini.
"Jangan pura-pura tidak tahu." Seru Alvin menoleh dan menatap tajam.
"Kau sedang mendekatinya bukan?" Ucapnya lagi.
Hahaha kini Petter tertawa, sudah mengerti siapa yang di maksud oleh Alvin.
"Maksudmu Assena pacarku itu?" Ucap Petter sengaja memanas-manasi Alvin dengan menyebut Assena itu pacarnya.
Petter tertawa karena merasa geli, siapa Alvin itu yang menyuruhnya menjauhi Assena? kalau bapaknya Assena sih bisa di mengerti. Lah ini cuma si Alvin.
Raut wajah Alvin kini tidak sesantai tadi, ia terlihat kesal dan marah mendengar Petter mengatakan Assena itu pacarnya.
"Aku tahu tidak semudah itu mendekati gadis sedingin Assena, apalagi untuk menjadi pacarnya." Seru Alvin menarik sebelah bibirnya ke atas, enggan percaya dengan apa yang di katakan Petter.
"Apa urusanmu menyuruhku menjauhi dia?" Tanya Petter tak mau kalah. "Kau bukan siapa-siapa, bapaknya juga bukan woy!" Teriak Petter.
"Dia akan mejadi milikku, dengar itu!" Tegas Alvin percaya diri.
Petter mendengus. "Sekalipun kau seorang raja atau seorang pangeran putra raja aku tidak akan mendengar perkataanmu. Ingat itu!" Ucap Petter.
"Apalagi kau hanya orang biasa tidak berkepentingan." Sambungnya mengejek.
Belum sempat Alvin menjawab lagi, Petter sudah memakai helmnya dan langsung tancap gas meninggalkan Alvin.
__ADS_1
Alvin nampak mengeratkan gerahamnya. "Lihat saja nanti." Ucap dengan geram. Masuk ke dalam mobilnya dan melaju melesat.