
Setelah penjaga itu membuka gerbang, mobil yang membawa Altur dan Jessy kini melaju mamasuki rumah Jessy.
Mobil sudah terparkir di halaman depan rumah yang cukup luas.
"Kau tidak turun?" tanya Altur dengan menautkan kedua alisnya. Ia heran kerena Jessy hanya diam tak kunjung turun.
Tapi Jessy nampak ragu, "Emm.. Aku akan turun." Ucapnya melirik Altur terlebih dahulu, kemudian ia membuka pintu.
Saat Jessy sudah turun, ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Ia mengehembuskan napas lega saat ia tidak menemukan apa pun atau siapa pun selain dirinya dengan Altur tentunya.
"Rumahmu besar." Ucap Altur sesaat setelah turun dari mobil, dengan memperhatikan bangunan rumah yang besar nan megah di hadapannya.
"Ya begitu lah.." Kini Jessy memimpin langkah untuk menuju teras depan rumah.
"Tapi terlihat sepi sekali." Altur berucap sembari membuntut di belakang.
"Ya, karena di sini hanya ada aku dan kakakku saja. Orang tuaku sedang berada di luar negeri. Ah bukan, lebih tepatnya mereka tinggal di luar negeri." Ucap Jessy dengan tersenyum getir, mengingat ia begitu jauh dengan kedua orang tuanya.
"Apa kau tidak merindukan orang tuamu?" tanya Altur menatap punggung gadis yang ada di depannya itu.
Mendengar ucapan Altur barusan, membuat Jessy yang sudah mencapai handle pintu, mengurungkan niatnya untuk memutar handle pintu tersebut. Lalu ia berbalik badan hendak menjawab pertanyaan Altur.
Tapi tiba-tiba Jessy begitu terkejut, ia membulatkan kedua bola matanya. Di lihatnya seseorang yang berada di belakang Altur tengah mengangkat kayu balok, mengambil ancang-ancang untuk memukul Altur dari belakang.
"Jangaaaan.." Teriak Jessy.
Tetapi semuanya telah terjadi, Altur yang terlambat menyadarinya. Bugh suara benturan yang begitu mengilukan. Ya, suara kayu balok membentur belakang kepala Altur. Hingga tubuh Altur terhuyung jatuh ke lantai, hanya suara jeritan Jessy yang terakhir terdengar sebelum kesadarannya menghilang.
**
Sinar mentari menebus celah jendela, membentuk garis lurus ke dalam ruang kamar. Terlihat seorang gadis masih tertidur dengan kain selimut menyelimuti sampai lehernya, hingga menyisakan wajahnya saja yang terlihat. Ia yang tak lain adalah Assena. Terlihat matanya mengerjap, bulu matanya yang lentik ikut bergerak seiring dengan kedipan. Seolah meminta kesadaran karena sinar mentari yang mengenai wajahnya.
Rasanya ia malas untuk bangun, terlebih lagi kini ia sendiri karena Yumna sudah pulang sore kemarin di jemput oleh Rey.
Dengan menggeser tubuhnya untuk menghindari sinar matahari yang mengganggu. Ia beniat untuk meneruskan tidurnya, menaikan selimut menutupi kepalanya. Tapi seketika ia mengingat sesuatu, di singkabnya selimut lalu melirik jam dinding. Ternyata ini sudah pukul 08.00 pagi.
__ADS_1
"Bukankah hari ini aku harus menemui Alvin?" lirihnya, membuang napas dengan mengembungkan bibir bawahnya hingga tertiup ke wajahnya. Rasanya ia begitu malas sekali jika harus menemui lelaki itu. Tetapi jika teringat nama Petter, yang menjadikannya alasan untuk bersedia menemui Alvin.
"Apa dia sudah menghubungi Altur untuk memberitahu kapan dan dimana tempatnya?" lirihnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Ah iya, Altur.. Bukan kah tadi malam dia pergi untuk berkencan dengan Jessy?" Ucapnya bangun dan terduduk. Sungguh ia menemukan sesuatu yang menarik untuk segera mencari tahu kelanjutannya.
Assena pun turun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum ia berniat menemui Altur untuk menanyakan perihal Alvin, juga tentunya ingin mencari tahu tentang kencan Altur semalam.
Ternyata *b*ibit-bibit KEPO sudah mulai tumbuh di diri Assena.
Kakinya yang memakai sandal berbulu yang berwarna merah yang senada dengan piyama tidurnya, kini menuruni anak tangga satu persatu. Saat ia sudah berada di meja makan, ia melihat Evelin sedang menyiapkan sarapan yang di bantu bi Nem. Seperti biasa saat ia melihat semangkuk bubur, ia bersemangat ingin membawa semangkuk bubur itu untuk menyuapi ayahnya.
Saat itu juga terlihat Arkan datang dengan duduk di atas kursi roda. Seperti yang sudah diketahui, Arkan bisa dengan mudah menjalankan kursi rodanya yang otomatis tanpa bantuan orang lain untuk mendorong.
Senyum Assena mengembang melihat ayahnya. "Selamat pagi ayah.." Sapanya sembari melangkahkan kaki untuk mendekat.
Arkan pun tak kalah mengembangkan senyumnya, beberapa hari terakhir ini sangatlah berbeda baginya. Seperti pagi ini, Assena yang menyapa dengan hangat tak mengalahkan hangantnya sinar mentari di luar.
"Apa kita akan sarapan di taman lagi ayah?" tanya Assena bersemangat.
"Selamat pagi semuanya..." Suara Isabella terdengar, nampak ia masih di balut piyama tidur sepertinya ia baru bangun tidur.
Seketika Assena tersenyum melihat adik perempuannya itu.
"Apa kita semua bisa sarapan di luar bersama?" Assena menyuarakan usulnya, sepertinya itu akan menyenangkan sekali.
"Apa aku juga ikut?" tanya Isabella dengan polos.
"Tentu saja. Kita semua, bersama ibu juga tentunya." Ucap Assena seraya tersenyum lalu melirik Evelin.
Evelin yang mendengar itu pun menatap wajah Assena lalu ia mengulas senyum di bibirnya. Benar, Assena kini telah banyak berubah. Bahkan saat Assena memanggilnya dengan sebutan ibu, itu sangat-sangat mengharukan bagi Evelin. Jika ia tidak bisa menahannya, mungkin saat ini ia akan menangis karena bahagia. Ya, bahagia karena Assena sudah mulai bisa menerimanya.
"Ayo kita bersiap!" Ucap Evelin bersemangat.
Di bantu oleh bi Nem, kini di taman di bawah pohon rindang sudah tersedia beberapa menu sarapan di atas tikar karpet yang sudah di pasang. Kini terlihat Assena, Evelin dan Isabella duduk di atas tikar karpet mengelilingi menu sarapan. Dan Arkan duduk di kursi rodanya.
__ADS_1
Pagi ini mereka sarapan dengan hikmat, dengan suasana berbeda tentunya. Di selingi canda tawa, membuat pagi ini pagi termanis sepanjang masa.
Ya, pagi ini di hari minggu adalah yang pertama satu keluarga itu berkumpul dengan riang, layaknya keluarga yang utuh nan bahagia.
Menyantap sarapan bersama di bawah pohon rindang, dengan hangatnya sinar mentari di pagi hari juga semilir angin sejuk begitu terasa. Meski hanya duduk diatas tikar karpet, nyatanya kesederhanaan itu menjadi saksi atas kebersamaan mereka.
Kedua mata Arkan terlihat mengkilat, terlapisi cairan bening yang terbendung di kedua bola matanya. Senyumnya begitu merekah mendapati putri sulungnya begitu akrab dengan adik dan ibu tirinya. Sungguh, meski pisiknya sedang rapuh, tapi hatinya merasa benar-benar bahagia.
Sarapan pagi ini, sudah selesai. Evelin sudah membawa Arkan ke dalam rumah karena harus meminum obat. Begitu juga dengan Isabella, ia juga sudah masuk ke dalam.
Kini hanya ada bi Nem sedang membereskan sisa sarapan yang di bantu oleh Assena.
Seperti menemukan momen yang tepat, bi Nem pun melirik Assena ia hendak bertanya.
"Emm.. Nona.." Ucap bi Nem sedikit ragu.
"Ada apa bi?" tanya Assena.
"Apa nona tahu kemana Altur pergi?" tanya bi Nem, tangannya masih bekerja tapi sembari melirik Assena.
"Apa Altur belum pulang?" Assena balik bertanya, ia begitu terkejut karena ia yang berniat ingin menemui Altur, nyatanya pemuda itu belum pulang.
*
***Seperti biasa di hari kerja author up satu eps setiap malam. Jika ada yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya mohon kasih dukungan yah😊 Tapi... tapi author ragu, memang ada yang penasaran dengan kelanjutan cerita ini?😂😂
POKOKNYA...
Hujan turun basah bajunya..
Nanem bunga di pot..
Di harap dukungannya..
Dengan like, komen juga vote..😊😊😊***
__ADS_1