Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Mengkhawatirkan


__ADS_3

"Bodoh, dia hampir tertabrak.." Altur mengumpat.


Dengan cepat dia keluar dari mobil, dan berlari ke arah Jessy. Juga Assena ikut menyusul.


Sebelum tubuh Jessy terjatuh, dengan tepat Altur dapat menangkapnya.


"Hey, kau kenapa?" Altur dengan panik menepuk pipi Jessy yang sudah tak sadarkan diri.


"Dia pingsan, Altur bawa dia ke mobil!" ucap Assena yang juga panik.


Dengan cepat Altur membawa Jessy ke dalam mobil. Membaringkannya di kursi belakang.


"Bagaimana ini, apa kita bawa dia ke rumah sakit?" ucap Altur, wajahnya masih menunjukan kekhawatiran.


"Kita coba sadarkan dia terlebih dahulu, Altur tolong ambilkan tasku!"


Altur menyodorkan tas kecil milik Assena yang tergeletak di kursi depan.


Assena merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Di tangannya sudah ada sebotol kecil minyak kayu putih.


Sebelum ia membuka tutup botol minyak kayu putih itu, Assena mengangkat wajahnya memperhatikan Altur yang terlihat khawatir.


"Altur.." Panggilnya.


"Kenapa?" seketika Altur menatap wajah Assena.


"Ku lihat kau begitu mengkhawatirkannya." Sindir Assena dengan di akhiri mengulas senyum mengejek.


"Hah apa? ti tidak. Aku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Bi biasa saja." Bantah Altur yang seketika terlihat gugup.


"Benarkah???" Assena masih menggoda dengan senyum jahil.

__ADS_1


"Kau banyak bicara, aku akan menunggu di luar." Ucap Altur, yang langsung turun dari mobil.


Dengan perlahan Assena mendekatkan jarinya yang telah di olesi minyak kayu putih ke hidung Jessy. Berharap aroma minyak bisa menyadarkan Jessy.


Dan itu berhasil, kedua mata Jessy nampak mengerjap-ngerjap.


Masih mengumpulkan kesadaran, terlihat kebingungan di raut wajah Jessy.


"A Assena... Dimana aku?" ucap Jessy dengan suara lemah, sembari memegang kepalanya yang terasa berat.


"Kau tadi pingsan di pinggir jalan." Jelas Assena.


"Pingsan??" Jessy mencoba mengingat apa yang telah terjadi.


"Iya kau pingsan. Kebetulan aku dan Altur melihatmu."


"Altur? lalu dimana dia?" Mendengar nama itu, membuat Jessy begitu antusias. Ia mengedarkan pandangan untuk menemukan sosok Altur.


"Dia sedang menunggu di luar." Tutur Assena, ia menyadari begitu antusiasnya Jessy mencari keberadaan Altur.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Assena, ia memilih menghilangkan pikirannya tentang Jessy.


"Ti tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu." Timpal Jessy merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan. Kau sedang tidak sehat, biarkan aku dan Altur mengantarmu pulang." Assena bersikukuh.


Setelah kalah karena Jessy yang menolak untuk di antarkan pulang tidak di dengar oleh Assena.


Dan akhirnya, kini mereka dalam perjalan untuk mengantar Jessy pulang.


Hanya ada keheningan sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan atau apa pun. Mungkin mengingat bagaimana renggangnya hubungan mereka.

__ADS_1


"Setelah apa yang aku lakukan terhadap Altur, menipu pertemanan dengan mereka. Dan mereka masih mau berbaik hati menolongku." Jessy membatin. Mengingat kembalik kebodohannya yang lalu. Andai dia tidak sebodoh itu, dan berteman dengan sungguh bersama Altur dan Assena mungkin ia tidak akan merasa semalu ini. Juga mungkin pertemanan yang hangat sudah pasti akan tercipta. Namun sayangnya semua sudah terlanjur. Ia juga cukup sadar diri untuk sekedar memulai percakapan, ia memilih diam dalam malu dan penyesalan.


"Sudah sampai." Ucap Altur tanpa menoleh ke kursi belakang tempat Jessy terduduk.


"Cepat sekali" ucap Jessy. Ia mengedarkan pandangan keluar dan benar kini sudah berada di depan gerbang rumahnya.


"Ayo mampir lah dulu!" ajak Jessy.


"Tidak, terimakasih." Timpal Altur dengan dingin.


"Lain kali saja, kami pulang saja dulu." Assena yang sedikit lebih ramah.


"Baiklah, terimakasih sudah menolongku dan mengantarku pulang." Ucap Jessy tulus dengan mengulas senyum.


"Sama-sama" jawab Assena.


Saat Jessy baru saja membuka pintu mobil, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil Assena.


"Jadi kalian yang membawa adikku se enaknya." Teriak Rolan yang baru saja turun dari mobil.


"Kakak.." Ucap Jessy, dengan sorot mata mencoba menyampaikan bahwa 'bukan seperti itu'


Mendengar Rolan yang berteriak cukup keras, Altur menurunkan kaca mobil dan melirik Rolan dengan malas.


"Apa maksudmu dengan MEMBAWA SE ENAKNYA?" ucap Altur dengan sarkas.


"Jelas saja, aku mencari adikku kemana-mana. Dan ternyata kau yang membawanya." Ucap Rolan dengan penuh amarah.


"Kakak bukan sperti itu." Jessy mencoba menjelaskan.


"Diam Jessy!" bentak Rolan, yang langsung membuat Jessy membatu.

__ADS_1


"Jangan sekali-sekali lagi kau mendekati adikku." Ucap Rolan dengan mengankat jari telunjuk ke arah Altur dengan penuh peringatan.


"Berkaca lah terlebih dahulu, kakak macam apa kau yang tidak bisa menjaga adiknya sendiri." Timpal Altur dengan santai. Lalu melesat membawa mobil meninggalkan tempat itu, tanpa mau mendengar ocehan Rolan selanjutnya.


__ADS_2