
Assena kembali ke kamarnya. Saat mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka itu, terdengar suara sesengukan orang menangis. Saat pintu didorong untuk terbuka lebar, terlihat Yumna sedang menangis.
Kenapa? kenapa Yumna tiba-tiba menangis?. Apa karena di tinggal oleh Assena? Rasanya tidak masuk akal jika itu alasannya.
Assena begitu terkejut, kala melihat Yumna terduduk di lantai. Rambutnya terlihat kusut karena belum menyisir rambut usai mandi tadi. Handuk yang tadinya melilit di kepalanya kini sudah tergeletak di sembarang arah. Yumna tertunduk menatap ponselnya, ia masih sesengukan. Sepertinya dia tidak menyadari kedatangan Assena.
"Sialan! Laki-laki sialan kau James!. Aku membencimu mu.. Sungguh membencimu.." Lirih Yumna, suaranya terdengar pelan, tapi terdengar mengandung kemurkaan.
"Hey kau kenapa?" Assna yang sejenak berdiri mematung, kini berhambur menghampiri Yumna.
Assena mendudukan tubuhnya di samping Yumna, seketika Yumna mengangkat. pandangannya menatap Assena. Matanya terlihat sembab, air mata juga masih terlihat membasahi pipinya. Dengan cepat ia memeluk Assena.
"Assena.. hiks.. hiks..." lirihnya, seolah ia ingin mengadu.
Assena pun membalas pelukan Yumna, ia mengusap punggung Yumna. "Ada apa? kenapa kau menangis" tanya Assena.
Namun Yumna tidak menjawabnya, ia masih sesengukan saja. Assena membiarkan sepupunya itu tenggelam dalam pelukannya. Terasa sekali kini baju Assena sedikit basah karena air mata, gemetar tubuh Yumna juga begitu terasa. Sepertinya Yumna tengah menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Menangislah! jika itu membuatmu lega." Ucap Assena masih dengan mengelus-ngelus punggung sepupunya itu.
Seketika suara tangis Yumna pecah. Assena sontak memejamkan kedua matanya. Bagaimana tidak? Yumna memecah tangisannya tepat dekat telinga Assena.
Begitu menyakiti telinganya kah??
Kini Yumna sedikit tenang, ia melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya dengan kasar.
Assena menatap iba Yumna yang terlihat kacau. Tangannya terangkat menyentuh kedua bahu Yumna.
"Sebenarnya apa yang membuatmu menangis? ceritakan padaku." Assena berucap dengan lembut.
Yumna yang tertunduk memberanikan mengangkat pandangannya, menatap Assena yang juga sedang menatapnya. Kini matanya kembali terlihat berkaca-kaca.
"Aku sudah tahu, mengapa James tidak memberi kabar dan sulit di hubungi. Ternyata dia sudah memiliki kekasih baru." Yumna memberi jeda, dan James itu nama dari kekasihnya.
"Dan apa kau tahu? dia berselingkuh dengan sahabatku sendiri. lucu sekali bukan?" Yumna tertawa, ia menertawakan penghianatan berkedok kekasih dan sahabat baik. Lalu setetes air mata terlihat terjun bebas dari tempatnya. Bagaimana pun dikhianati itu memang sangat menyakitkan.
Terlihat keterkejutan di wajah Assena, matanya membulat. "Selingkuh? dengan sahabatmu?" ia membeo.
__ADS_1
"Ini benar-benar jahat." Kini Assena merasa ikut kesal mendengarnya.
"Bahkan belum genap sebulan aku meninggalkannya, dia sudah berulah." sambungnya Yumna dengan tersenyum getir.
"Aku muak jika mengingat dia telah berjanji untuk setia meski jarak memisahkan. Nyatanya lelaki itu semua sama. Sama-sama pendusta." kini bukan hanya satu tetes saja air mata yang keluar, ia kembali lagi menangis
Deg, perkataan Yumna barusaja telah mengusik hatinya secara tiba-tiba.
Janji? setia?
Seketika nama Petter terlintas dalam benaknya.
Namun melihat Yumna yang kembali menangis, Assena berusaha melupakan apa yang ada dalam pikirannya. Ia mencoba fokus pada sepupunya yang malang ini.
"Aku mengerti ini pasti menyakitkan, tapi kau tidak perlu terus menerus membuang emosimu hanya untuk laki-laki yang sudah menghianatimu dan belum tentu juga dia memikirkan dirimu." Telapak tangan Assena membuat gerakan mengusap pada kedua bahu Yumna.
"Lupakan saja, masih banyak yang lebih baik. Ku mohon berhentilah membuang air matamu hanya untuk laki-laki itu." Kini sebelah tangan Assena menyingkab rambut Yumna yang terlihat kusut itu, yang menutupi sebagian wajah Yumna.
"Kau gadis yang baik dan cantik. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik." Assena tersenyum mencoba memberi semangat.
---
Malam pun tiba.
Tok tok tok, Suara ketukan pintu.
"Nona Assena.. Nona Yumna waktunya makan malam. Nyonya sudah menunggu di bawah." Suara bi Nem terdengar dari luar.
Assena dan Yumna yang tengah tengkurap diatas tempat6 tidur. Dengan layar di depan mereka. Ya, mereka tengah menonton Film komedi. Untuk menghilangkan kesedihan Yumna, Assena mengajak Yumna menonton film komedi. Nyatanya itu berhasil, sedari awal menonton mereka tidak berhenti tertawa. Hingga pada saatnya terdengar suara ketukan pintu, mengalihkan perhatian mereka.
"Ayo kita turun ke bawah!" ajak Assena yang sudah dengan posisi duduk.
"Aku tidak mau." Yumna menggelengkan kepala.
"Kenapa? kau belum makan dari siang. Kau tidak lapar?" tanya Assena.
"Bukan begitu, aku malu jika turun dengan mataku yang masih sembab seperti ini." Jelas Yumna, memang benar apa yang di katakannya. Matanya masi terlihat sembab.
__ADS_1
Assena diam sejenak, membenarkan apa yang Yumna ucapkan. "Baiklah, aku akan menyuruh bi Nem untuk mengantarkannya kemari.". Assena berajak turun dari tempat tidur.
Ceklek, Assena membuka pintu. Ternyata bi Nem masih berdiri di balik pintu.
"Bi, bisakah antarkan makan malamnya kemari!".
"Baiklah nona, bibi akan membawakannya kemari. Apa ada yang lain yang ingin bibi bawakan?"
"Tolong bawakan juga cemilan ringan ya bi!" Mengingat ia sedang menonton, cocoknya ditemani cemilan. Begitu pikirnya.
Hanya lima belas menit saja, bi Nem sudah kembali dengan membawa makan malam juga cemilan.
Assena dan Yumna pun menunda film yang mereka tonton untuk makan malam bersama.
Setelah makan selesai, mereka lanjut menonton.
Sampai larut malam, Assena sudah beberapa kali menguap.
"Aku mengantuk." Ucapnya dengan mata sedikit berair karena terus menguap.
"Baiklah, ayo kita tidur! Aku juga mengantuk." Yumna segera mematiakan filmnya.
Tak butuh waktu lama Assena tertidur lelap.
Berbeda dengan Yumna yang ikut bebarting di samping Assena. Ia nampak berguling-guling, rasanya begitu sulit memejamkan mata. Bayangan James masih berputar-putar di kepalanya.
--
Assena yang sudah terlelap, tiba-tiba-tiba mengerjapkan matanya. Ada sesuatu yang mengganggu tidurnya. Terdengar, Yumna menyeka ingus.
Assena menoleh ke arah belakangnya, terlihat Yumna dengan posisu tidur meringkuk memungungi. Assena tahu jika Yumna tidak tidur, saat terdengar suara ia menarik ingusnya dari hidungnya. Juga terlihat tubuh Yumna sedikit begetar, menciptakan hentakan pada ranjang empuk itu.
"Kau menangis??" tanya Assena.
jangan lupa tinggalkan jejak ya! Buat dukung author.
Like, komen juga votenya di tunggu😊😊
__ADS_1