
Selesai mandi dan berganti baju yang dibawakan oleh Rey, Yumna masih dengan handuk melilit di kepalanya, menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia memperhatikan layar ponsel di tangannya, raut wajahnya sudah menunjukan kekesalan.
"Dia itu kemana, sudah beberapa hari tidak ada kabar sama sekali. Susah dihubungi, ah rasanya ingin ku banting saja ponsel ini." Yumna melempar ponselnya ke sudut sofa.
"Kau kenapa?" Tanya Assena saat mendengar sepupunya itu menggerutu. Assena tengah duduk dengan kaki berselonjor di tempat tidurnya, juga dengan sebuah buku di tangannya. Ia tengah membaca novel kesukaannya.
"Aku sedang kesal, sudah beberapa hari ini kekasihku menghilang tanpa kabar." Yumna menjawab dengan wajah merengut, memangku kedua tangannya di dada. Dengan masih melirik tajam ponselnya yang tergeletak di sudut sofa. Sepertinya ia menyimpan dendam pada ponselnya yang tidak bisa mendapatkan kabar dari kekasihnya.
Ya, benda malang itu menjadi sasaran kekesalannya. Bagaimana dia bisa memyalahkan benda pipih itu??
"Mungkin kekasihmu itu sedang sibuk." Timpal Assena tanpa menoleh. Pandangannya masih tak lepas dari barisan-barisan kata yang ia baca.
"Tapi dia tidak pernah seperti ini sebelumnya." Yumna masih meradang, seolah belum membuatnya tenang dengan apa yang di ucapkan Assena.
Assena pun mengangkat pandangannya, terdengar helaan napasnya. "Mungkin ada alasan dibalik kekasihmu itu menghilang. Tak lama lagi dia pasti menghubungimu. Bersabarlah!"
Yumna tidak berkata lagi, ia lelah. Ada benarnya perkataan Assena barusan, bersabar dan menunggu saja yang bisa ia lakukan saat ini. Ia bersandar, hingga wajahnya menengadah ke atas langit kamar. Sejenak menatap langit-langit kamar, pikiranya melayang kemana-mana.
Assena menutup buku yang ada di tangannya, rasanya ia sudah kehilangan selera membacanya. Ia turun dari ranjang, dan melangkah ke arah pintu, tangannya sudah meraih handle pintu.
Saat suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Yumna. "Kau mau kemana?" tanyanya melihat Assena yang sudah berada di ambang pintu.
"Aku mau turun untuk melihat ayah." Jawab Assena tanpa menoleh, ia berjalan keluar meninggalkan kamarnya.
Karena sepulang kuliah siang tadi, Assena belum melihat ayahnya lagi.
Sampai hari sudah sesore ini, Assena menuruni anak tangga satu persatu.
Sesaat setelah ia sampai di meja makan, Assena mendengar suara orang yang tengah mengobrol berasal dari dapur. Ia pun menengok ke arah dapur untuk menjawab rasa penasarannya.
Terlihat di dapur itu, bi Nem dan Altur tengah berdiri di depan westafel. Sepertinya Altur sedang membantu ibunya mencuci piring. Altur memang anak yang rajin dan mandiri.
Terdengar obrolan ringan diantara mereka, lalu setelahnya terdengar tawa renyah Altur. Entah apa yang mereka bicarakan.
Assena hanya tersenyum, menatap dua punggung ibu dan anak itu. Ada rasa takjub. Bagaimana tidak? Altur seorang laki-laki tapi tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan perempuan.
__ADS_1
"Selain pintar bela diri, dia juga rajin." Batin Assena. Ia pun berbalik badan, betapa terkejutnya dia.
"Kakak sedang apa?" Tanya Isabella yang entah sejak kapan ada di sana.
Assena hampir saja berteriak kaget, sontak kedua tangannya menyentuh dada. Seolah bagian itu lah yang paling bereaksi. matanya masih membulat melihat Isabella.
"Kau mengaggetkan saja." Ucap Assena.
"Aku penasaran saja. Apa yang kakak lihat? sampai-sampai diam tak bergerak seperti itu." Isabella berucap dengan dengan penasaran.
"Nona Sena.. Nona Bella.." Suara bi Nem terdengar. Ya, suara mereka baru saja telah membuat bi Nem menghampiri mereka.
Assena hanya memaksakan senyumnya, ia mendadak gugup. Bagaimana pun ia takut di kira diam-diam memperhatikan bi Nem dan Altur. Apa lagi saat di lihat Altur juga tengah memperhatikannya.
"Anu... Emmm... Tadinya aku mau minta dibuatkan.... teh. Ah, iya teh hangat bi. Tapi karena bibi sedang mencuci piring jadi aku tidak mau mengganggu bibi." Ucap Assena setengah ragu. Karena bagaimana pun ia sedang berbohong, untuk mencari alasan saja.
"Ya Sudah bibi buatkan sekarang." Bi Nem sudah melangkah untuk mengambil apa saja untuk membuat teh.
"Tidak usah bi, nanti saja." Assena segera pergi dari sana.
Namun di antara yang lain, Isabella lah yang paling merasa terheran-heran. Bagaimana tidak? kakaknya itu sedang apa tadi?
Dengan cepat Isabella pun menyusul Assena.
"Kakak tunggu!." teriaknya saat melihat Assena sudah berdiri di ruang tengah.
Assena menoleh, "Ada apa?" ia curiga adik tirinya itu masih akan membahas apa yang terjadi di dapur.
Sebelum Isabella bersuara, dengan cepat Assena menyela. "Aku mau melihat ayah, kau mau menemaniku?".
Seketika Isabella yang hendak membuka mulutnya itu, diam sejenak. "Baiklah ayo!". jawabnya dengan semangat, seolah lupa dengan niat awalnya.
Mereka pun melangkah bersama menuju kamar ayahnya.
"Tadi dokter Roghi datang, sepertinya masih ada di dalam." Ucap Isabella.
__ADS_1
Assena menghentikan langkahnya, sedikit lagi ia sampai di pintu kamar ayahnya yang setengah terbuka itu. Terdengar suara dokter Roghi dari dalam sana, seolah memperjelas apa yang baru saja di katakan Isabella.
Sebenarnya ia sedikit ragu jika kenyataannya di dalam sana juga ada dokter Roghi, tapi keinginannya untuk melihat ayahnya tidak bisa membuat ia mengurungkan niatnya.
Assena pun mencoba melangkahkan kakinya lagi untuk masuk, saat ia dan Isabella sudah ada di ambang pintu.
Seketika dokter Roghi dan Evelin yang ada di sana menoleh bersamaan.
Dokter Roghi melempar senyum saat ia melihat Assena.
"Sayang kalian kemari? kalian mau melihat ayah? masuklah!" Evelin tersenyum melihat Assena dan Isabella.
Assena dan Isabella pun melangkah masuk. Assena melihat Arkan tengah duduk bersandar itu. Terlihat senyuman hangat terukir dari bibir yang pucat milik Arkan itu.
Setelah dokter Roghi pamit pulang, karena telah selesai memeriksa Arkan. Evelin pun ikut mengantar keluar.
Kini di kamar itu hanya ada Assena, Isabella dan ayahnya.
"Bagaimana kabar ayah sekarang?" tanya Assena sembari mendudukan tubuhnya di tepi ranjang.
"Ayah baik sayang." Jawabnya dengan suara lemah. "Ayah senang melihat anak ayah dekat dan akrab seperti ini." Sambungnya dengan tersenyum.
Seketika Assena da Isabella pun saling melempar pandang, lalu saling tersenyum setelahnya.
"Kami juga senang jika ayah sudah membaik." Assena tersenyum mengusap punggung tangan ayahnya.
Terlihat kedua mata Arkan sudah menyipit, seperti mangantuk. Mungkin itu pengaruh obat.
"Anak-anak biarkan ayah istirahat." Suara Evelin terdengar, ia sudah kembali.
Assena pun mau tak mau harus meninggalkan ayahnya untuk istirahat.
Ia kembali ke kamarnya. Saat mendekati pintu kamarnya yang sedikit terbuka itu, terdengar suara sesengukan orang menangis. Saat pintu di dorong untuk terbuka lebar, terlihat Yumna sedang menangis.
Kenapa? kenapa Yumna tiba-tiba menangis?. Apa karena di tinggal oleh Assena?. Rasanya tidak masuk akal jika itu alasannya.
__ADS_1