
Sepuluh menit berlalu, dan Altur belum selesai juga. Jessy pun turun dari mobil, berjalan menghampiri Altur yang masih sibuk mengotak-ngatik mesin mobil.
"Apa masih lama?" tanya Jessy yang kini berdiri di samping Altur dengan ikut menengok bagian mesin mobil itu.
"Sebentar lagi.." Jawab Altur.
Tiba-tiba ponsel milik Jessy berdering menandakan ada panggilan masuk. Jessy melirik Altur sebelum ia pamit untuk mengangkat telepon.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu." Jessy embari membawa langkah kakinya menjauh dari Altur.
"Halo kak..." Sapa Jessy sesaat setelah ia menggeser ikon berwarna hijau.
"Sebentar lagi, aku masih di jalan. Mobilnya mogok," Ucapnya lagi dengan benda pipih itu masih menempel di telinganya.
Entah siapa dan apa yang dikatakan seseorang yang bicara di dalam telepon itu hanya Jessy yang tahu.
Setelah panggilan itu berakhir, Jessy hendak kembali. Tetapi sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Jessy. Dua orang pria terlihat turun dan langsung menghampiri Jessy dan menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil. Sontak membuat Jessy menjerit meminta tolong.
"Altur tolong!!" Jessy menjerit sembari meronta-ronta untuk melepaskan diri, tetapi cengkraman kedua pria itu lebih kuat hingga usaha Jessy pun sia-sia.
Suara jeritan Jessy terdengar di telinga Altur, ia berbalik badan dan melihat Jessy sedang di seret dua orang pria. Menyadari Jessy dalam bahaya, dengan cepat ia berlari ke arah Jessy.
Bugh, satu tendangan mendarat di punggung salah seorang pria itu, hingga membuat tubuh pria itu tersungkur. Lalu satu pria lain yang masih terus menyeret Jessy dengan kasar menjadi sorotan mata Altur. Ia pun menyerangnya dengan satu tendangan mengenai perutnya, hingga jatuh tersungkur.
Altur pun membawa Jessy untuk menjauh dari dua pria itu. Tak lama dua pria itu sudah bangkit berdiri dan hendak menyerang Altur.
Jessy masih bersembunyi di belakang punggung Altur.
"Tunggulah di sini!" perintah Altur, lalu ia melangkah maju untu menyambut dua pria itu.
Hingga terjadilah perkelahian satu lawan dua, meski begitu Altur masih terlihat unggul meski kalah dalam jumlah. Gerakannya yang cepat menghindar dan menangkis dari serangan lawan.
Jessy hanya bisa menangis, dan berteriak histeris dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat melihat adegan yang menegangkan.
Meski Altur juga mendapat beberapa pukulan, ia masih bisa berdiri dengan tegap. Tetapi keadaan kedua pria itu sudah terlihat babak belur dan tersungkur.
Terlihat Altur berdiri dengan napasnya yang memburu.
Jessy membulatkan kedua matanya, saat ia melihat ada lagi seorang pria di belakang Altur yang sudah mengangkat senjata tajam, yang siap menerkam Altur dari belakang.
__ADS_1
"Altur awas di belakangmu.." Teriak Jessy.
Sebelum pria itu berhasil melukai Altur dengan senjata tajam, Altur terlebih dahulu berbalik badan dengan cepat dan langsung menangkisnya. Hingga benda tajam itu terpental jauh. Altur telihat mengambil ancang-ancang untuk menyerang balik pria yang hampir saja mencelakainya itu.
"Ayo pergi!" ajak pria itu berlari menuju mobil, ternyata dia lebih memilih kabur daripada menghadapi Altur.
Dua orang pria yang sudah babak belur itu, bersusah payah untuk bangkit dan nampak mereka berjalan tertatih-tatih menahan sakit untuk menyusul temannya masuk ke dalam mobil.
Saat mobil hitam itu melesat jauh, Altur pun menghampiri Altur.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Altur dengan khawatir sembari memegang kedua bahu Jessy.
Jessy yang masih menangis ketakutan menggelengkan kepala pelan.
Lalu Altur memapahnya untuk masuk ke dalam mobil. Sementara ia harus melanjutkan untuk memperbaiki mesin mobil yang sempat tertunda.
Sepuluh menit saja, Altur kembali ke kemudi untuk mencoba menghidupkan. Dan akhirnya mobil sudah bisa hidup kembali.
Kini Altur sudah berada di kursi kemudi, hendak melanjutkan perjalanan menuju rumah Jessy.
Sebelum ia menghidupkan mobil, ia melirik Jessy sejenak.
"Siapa mereka itu?" tanya Altur kini ia sudah melajukan mobil.
Mendengar itu, Altur tiba-tiba merasa kesal. Ingin sekali ia mengumpat kata-kata kepada kakaknya Jessy itu.
"Bagaimana tidak seorang seperti Rolan itu pasti memiliki banyak musuh. Sikapnya yang sombong dan Sok jagoan itu yang hobi menindas orang." Batin Altur, ia hanya mengutarakan kekesalan dalam hati saja.
"Kalau begitu berbahaya sekali jika kau keluar sendirian seperti malam ini." Ucap Altur tatapannya masih lurus kedepan jalan.
"Ya karena itu lah kakakku selalu melarangku bepergian sendiri. Kemana pun aku pergi aku harus di kawal." Jelas jessy.
"Lalu kenapa malam ini kakakmu mengizinkanmu untuk keluar sendiri? apa lagi sekarang kau tanpa mengawal?" Altur bertanya dengan heran, menyempatkan untuk melirik gadis yang duduk di sampingnya itu, sebelum ia memfokuskan kembali arah pandangnnya ke depan.
Seketika Jessy menjadi gugup, ia tidak tahu alasan apa yang akan ia katakan. Dia hanya menunduk dan menggigit bibir bagian bawahnya.
Menyadari tak ada jawaban atas pertanyaannya, Altur tidak mempermasalahkannya ia hanya harus fokus berkemudi.
"Emmm... Altur.." Ucap Jessy sedikit ragu.
__ADS_1
Altur pun melirik sekilas, "Ada apa?" tanyanya.
"Terimakasih sudah menolongku." Jessy berucap sembari menunduk.
"Itu sudah semestinya, karena kau adalah temanku." Altur sembari tersenyum.
Melihat Altur tersenyum Jessy ikut tersenyum tipis. Lalu setelah itu hening membentang diantara mereka berdua.
Kini Jessy sudah mulai gelisah, ia terlihat mengetik di layar ponselnya, sepertinya ia tengah mengirim pesan. Beberapa kali terlihat Jessy mengecek ulang ponselnya, lalu kembali mengetik dengan pandang mata yang tidak tenang.
"Kau kenapa?" tanya Altur yang menyadari tingkah Jessy.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jessy seraya menggelengkan kepala.
"Ke arah mana rumahmu?" tanya Altur saat ia mendapati persimpangan di depan.
"Ke arah kiri," jawab Jesst singkat.
Altur pun membawa mobil melaju ke jalan yang di arahkan oleh Jessy.
"Bisakah kau menurunkan aku di sini saja! rumahku sudah dekat."
Kening Altur nampa berkerut. "Kenapa harus di sini? aku akan mengantarmu sampai rumah." Timpal Altur masih menjalankan mobil.
"Tapi.. Ini sudah dekat.." Protes Jessy.
"Sudah diam, tunjukan saja jalannya!" Altur tidak mau di bantah lagi.
Sesuai dengan arahan Jessy, kini mobil sudah berhenti di depan gerbang rumah yang cukup besar dan megah.
"Ini rumahmu?" tanya Altur.
Jessy mengangguk.
Seorang penjaga ke amananan nampak mengetuk kaca mobil. Altur pun menurunkan kaca mobil, dilihatnya penjaga keamanan berseragam hitam itu.
"Maaf dilarang parkir di sini." Ucap penjaga tersebut.
Mendengar itu, Altur mengerutkan kedua alisnya. "Siapa yang mau parkir?" batinnya, ia pun melirik Jessy.
__ADS_1
"Pak ini mobil temanku." Ucap Jessy sembari memajukan kepalanya, agar penjaga tersebut mengenalinya.
"Oh nona Jessy, maafkan saya nona." Ucap penjaga itu dengan sedikit membungkuk.