
"Kau menangis??" tanya Assena.
Namun Yumna diam saja, tak ada sahutan darinya.
"Kau menangis lagi??" tanya Assena lagi, setelah ia bangun untuk mendudukan tubuhnya. Menatap tubuh sepupunya yang meringkuk membelakangi.
Yumna yang seperti tertangkap basah sedang menangis itu, tak bisa menyembunyikannya lagi. Ia mengusap pipinya dengan punggung tangannya, lalu bangkit untuk ikut duduk.
Meski kamar dengan cahaya remang saja, tetapi masih bisa terlihat sisa air mata di pipi Yumna.
"Kenapa kau menangis?" untuk ketiga kalinya Assena menyuarakan pertanyaan yang sama. Ia menatap lekat wajah Yumna yang yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Aku tidak bisa berhenti menangis saat aku mengingatnya". Lirih Yumna yang kembali terisak dan tertunduk. Meski cahaya gelap, tapi ia tidak berani menunjukan wajahnya. Rasanya ia begitu malu dengan wajahnya yang sudah sembab.
Assena sudah menduga jika memang itu alasannya. Ia menghembuskan napas di iringi dengan memejamkan mata. Jujur saja ia merasa kasihan kepada Yumna, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan lihatlah, Yumna yang periang kini sedang terpuruk dalam kesedihannya.
"Aku mengerti, tidak akan semudah itu untuk melupakannya. Tapi aku tidak mau melihat kau terus menangis seperti ini." Ucap Assena yang masih menatap Yumna.
"Kau benar, memang tidak mudah. Aku sudah membencinya, tapi jika aku mengingat bagaimana dia telah mengkhianatiku. Rasanya begitu sakit..." Yumna masih terisak dan tidak berani mengangkat wajahnya.
"Bagaimana tidak, aku dengannya berhubungan sejak duduk di bangku SMA. Hampir tiga tahun kami menjalin hubungan." Lanjut Yumna, ia memberi jeda. Karena jujur saja begitu berat mengungkitnya.
"Tapi semudah itu dia menghianatiku......"
"Ku pikir.. Ku pikir aku ini bararti baginya. Sebagaimana aku menganggapnya begitu berarti..." Yumna terus berucap dengan masih terisak. Hingga tak jarang ia menjeda setiap kata-kata, karena menahan isakannya.
Sekali lagi Assena menatap iba.
Tiba-tiba ia teringat akan Petter. "Menjalin hubungan selama tiga tahun saja tidak menjamin kesetiaan. Apa lagi aku dengan Petter yang hanya mengenal dalam waktu singkat? Apa aku harus percaya bahwa ia akan kembali? Apa aku harus menunggunya? Atau aku harus berhenti berharap?" Assena membatin, kegelisahan melingkupi hatinya. Keraguan menyusupi pikirannya. Ia harus bagaimana? yang ia takutkan adalah ia takut akan merasakan sakit seperti Yumna jika ia masih berharap pada Petter dan jika kenyataannya Petter tidak akan kembali atau tidak setia padanya.
Ia semakin ngilu, kala melihat Yumna yang tidak berhenti menangis akibat dari dihianati seperti itu.
__ADS_1
Suara isakan Yumna yang masih terdengar menyadarkan Assena dari pikirannya yang kalut.
Assena sadar bahwa ia harus mengesampingkan perasaannya, yang terpenting sekarang adalah menenangkan sepupunya itu.
"Ku mohon jangan menangis lagi. Aku juga ikut sedih jika melihatmu seperti ini." Kedua tangan Assena terulur menyentuh kedua bahu Yumna, dan memberi usapan lebut di sana. Seolah Assena ingin memberi ketenangan.
"Aku sendiri tidak menginginkan ini, bahkan aku membenci diriku sendiri yang tidak berhenti menangisi laki-laki sialan itu." Suara Yumna terdengar menekan kata bagian terakhirnya. Seakan tersirat kebencian yang mendalam.
Sepertinya malam akan terasa panjang bagi mereka. Bagi Yumna dengan segala rasa kekecewaanya, juga bagi Assena yang harus menemaninya.
---
Malam yang sama, di tempat yang sama dengan seseorang yang berbeda.
Altur tengah terduduk di tepi ranjangnya. Sebentar ia berdiri, lalu berjalan mondar-mandir dan kembali lagi untuk terduduk. Begitu seterusnya.
Altur sedang gelisah, dengan sesekali menatap layar ponselnya. Seperti melihat ulang apa yang ada di layar ponselnya itu.
"Bagaimana ini? Apa aku harus pergi menemuinya?" Lirihnya.
Ya, Altur memang sedang memikirkan ajakan Jessy untuk bertemu. Dan waktunya itu adalah besok sabtu malam.
Bagaimana dia tidak gelisah, ini kali pertamanya ia menemui gadis, atau bisa di bilang kencan pertamanya dengan seorang gadis. Meski ini bukan keinginannya, tapi rasanya ia tidak tega menolak ajakan gadis manis seperti Jessy.
Altur bukan laki-laki yang suka mencari kesempatan, ia hanya kasihan pada Jessy. Jika lelaki lain mungkin akan dengan senang hati menerima ajakan gadis semanis itu dan akan memanfaatkannya. Tapi Altur tidak mempunyai pikiran seperti itu. Jika ia harus memutuskan menemui gadis itu, ia tulus karena menganggapnya teman.
Rasanya Altur begitu lelah memikirkan rencana pertemuannya dengan Jessy. Dan besok masih ada waktu untuk memikirkannya.
Kedua matanya juga sudah terasa lelah, hingga sudah terlihat terbuka dengan tidak lebar. Lalu ia memutuskan untuk tidur, berbaring di atas tempat tidur, tak butuh waktu lama ia tertidur dengan lelap.
**
Setelah melewati malam yang panjang, menemani Yumna dalam kesedihannya.
__ADS_1
Assena mengerjapkan mata karena sinar matahari yang masuk lewat celah jendela mengenai wajahnya. Ia mengucek kedua matanya, lalu melirik jam dinding. Ternyata ini sudah pukul 08.00 pagi.
Hari ini hari sabtu. Hari ini libur kuliah, karena hari sabtu dan minggu adalah hari liburnya.
Ia melirik Yumna yang masih tertidur lelap di sampingnya. Assena mengulas senyum, "Pasti dia lelah karena menangis semalaman."
Sebenarnya ia juga masih mengantuk dan lelah, tapi ia ingin melihat keadaan ayahnya. Ia turun dari ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Lalu ia melanjutkan dengan keluar dari kamarnya, dan menuruni satu persatu anak tangga.
Di dapur, ia mendapati Evelin sedang menyiapkan sarapan. Terlihat juga di meja makan Isabella sedang duduk menyantap sarapan, dengan sudah mengenakan seragam sekolahnya. Ya, berbeda dengan Assena. Isabella yang masih duduk di bangku sekolah dasar, hari sabtu masih jadwalnya masuk sekolah.
"Selamat pagi sayang.." Sapa Evelin, ia menyempatkan diri untuk mengangkat pandangannya untuk mengulas senyumnya. Meski tangannya sedang sibuk menata makanan di atas meja.
"Bukankah hari ini libur kuliah??" tanya Evelin.
Assena hanya mengangguk. Lalu pandangannya teralih pada semangkuk bubur yang sudah berada di atas nampan. Ia tahu itu pasti untuk ayahnya.
"Apa itu untuk ayah?" tanya Assena, menatap bubur itu lalu menatap Evelin.
"Iya ini untuk ayah, apa kau hendak mengantarakannya lagi?" Evelin seraya mengulas senyum, ia sudah bisa menduganya.
Assena pun mengangguk, dan berjalan mendekat untuk mengambil nampan berisi bubur dan segelas jangkung air putih itu.
Lalu berjalan membawanya ke kamar ayahnya. Sesaat setelah pintu yang tidak tertutup rapat berhasil ia dorong. Nampaklah Arkan tengah duduk bersandar di ranjangnya.
Wajah pucat nan keriput itu tersenyum melihat putri sulungnya.
Assena pun tersenyum melihat senyuman hangat ayahnya itu. Meski senyuman yang hanya terlukis di bibir pucat Arkan, tapi Assena melihatnya sebagai senyuman terindah bak secerah cahaya mentari pagi. Bagaimana tidak, setelah ia melihat kondisi ayahnya yang memburuk pada beberapa hari ke belakang itu. Menciptakan rasa kecemasan dan ketakutan yang luar biasa melanda. Dan saat kini ia melihat ayahnya bisa tersenyum seperti ini Assena merasa bahagia sekali.
"Ayah aku membawakan sarapan untuk ayah." Assena seraya melangkah mendekat.
Setelah Assena mendudukan tubuhnya di tepi ranjang ayahnya. "Bagaimana kabar ayah hari ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Ayah baik sayang, apalagi jika melihat putri ayah datang kemari ayah semakin merasa lebih baik." Arkan tersenyum menatap wajah Assena.