Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Telah Pergi


__ADS_3

**


Dua minggu kemudia..


"Hey.." Jasmine menepuk pundak Assena.


"Astaga kau mengagetkan saja," gerutu Assena.


"Kau ini kenapa melamun saja, sedari tadi aku bicara pun kau tidak mendengarkannya." Jasmine menatap heran sahabatnya ini.


"Tidak, aku tidak melamun." Bahtah Assena. Tatapan matanya lurus ke depan, memperhatikan sekumpulan orang yang ia kenal. Ia tengah memperhatikan Alvin bersama orang tuanya Jemmy dan Iretta, juga terlihat Arkan dan Evelin yang ikut berkumpul untuk saling menyapa.


Tapi ia tidak melihat seseorang yang ia cari.


"Apa yang kau lihat?" tanya Jasmine sembari mengikuti arah pandang Assena. "Itu kan Alvin bersama orang tuanya, mereka akrab sekali dengan orang tuamu." Ucapnya kala menangkap sekumpulan orang-orang yang tengah diperhatikan Assena itu.


Tapi Assena seolah tak mendengarkan apa yang dikatakan Jasmine.


"Ku pikir hari ini kau akan datang." Gumam Assena dalam hati. Entah mengapa tatapannya menjadi sendu tatkala ia tidak menemukan seseorang yang ia cari.


Hari ini hari kelulusan, semua murid hadir dengan kedua orang tuanya. Begitu juga Arkan dan Evelin hadir untuk menyaksikan kelulusan Assena.


Dimana hari ini para murid telah lulus, tanda berakhirnya masa belajar di sekolah ini.


Dimana waktu perpisahan antara guru dan murid, juga teman antar teman.


Banyak sekali pemandangan saling berpelukan teman antar teman dengan begitu harunya. Ini perpisahan bagi mereka yang harus terpisah untuk melanjutkan pendidikan.


Sejak menghabiskan waktu seharian bersama Petter dua minggu yang lalu, setelah hari itu Petter benar-benar tidak terlihat lagi. Tidak pernah masuk sekolah lagi, bahkan dihari kelulusan pun Petter tidak datang. Seolah inilah bukti dari ucapan Petter pada hari itu, bahwa dirinya akan pergi.

__ADS_1


Assena sempat berharap mungkin dihari kelulusan Petter akan datang, tapi nyatanya tidak.


Kemana Petter? itu lah pertanyaan Assena yang belum terjawab sampai saat ini. Bahkan di sekolah pun tidak ada yang tahu, hanya terdengar kabar dari mulut ke mulut antar murid bahwa anak nakal seperti Petter mungkin sedang ingin bolos sekolah saja.


Selama menghilangnya Petter, Assena merasakan ada yang hilang. Dan entah kenapa hatinya terasa perih saat ia tak kunjung mendapat kabar dari Petter, seseorang yang telah menumbuhkan rasa yang aneh, rasa yang baru Assena rasakan.


Lelaki itu telah pergi, setelah menyatakan perasaannya, setelah mengatakan bahwa Assena cinta pertamanya, setelah mengucap janji bahwa ia akan kembali, setelah membuat Assena merasakan bagaimana rasanya ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Petter, setelah memberikan rasa yang pertama kali Assena rasakan, setelah semua yang telah dilewati bersama. Dan dia benar-benar pergi.


Ya, kini dia sudah pergi.


Assena ingin sekali menanyakan pada Alvin, tapi selama dua minggu itu juga Alvin tidak masuk sekolah.


Assena merasa heran apa yang terjadi sebenarnya antara Petter dan Alvin yang menghilang selama dua minggu. Sampai hari ini pun hanya Alvin yang terlihat hadir tapi tidak dengan Petter.


Assena bertekad hari ini ia akan menanyakannya pada Alvin.


Ketika Alvin terlihat pergi meninggalkan orang tuanya yang sedang mengobrol dengan orang tua Assena itu.


"Kau mau kemana?" suara Jasmine terdengar.


"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Assena tanpa menoleh dan terus berjalan cepat.


Alvin berjalan menuju toilet, ketika hendak menggapai handle pintu toilet.


"Tunggu!" Suara itu, suara yang ia kenal, membuat ia menoleh.


Alvin tersenyum kala mendapati yang ada di hadapannya itu adalah Assena.


"Assena, ada apa?" sapanya tersenyum ramah dengan maju dua langkah untuk bisa lebih dekat.

__ADS_1


"Dimana Petter?"


Seketika senyum Alvin memudar, ia begitu tidak suka bahwa Assena menemuinya hanya untuk menanyakan Petter. Kenyataan begitu mengecewakan baginya, ketika ia menumbuhkan harapan bahwa Assena mau menemuinya tanpa menyangkut tentang Petter.


"Hanya itu yang ingin kau katakan?" ucap Alvin dengan memasang wajah datarnya.


"Memangnya kenapa? aku tidak melihatnya selama dua minggu ini. Dimana dia? kau pasti tahu bukan?" itu serentetan kata yang Assena utarakan.


Alvin mendengus, "Bahkan kau menghitung waktu seberapa lama kau tidak melihatnya. Aku penasaran ada hubungan apa antara kalian? sampai kau mau repot-repot menanyakan keberadaannya. Kau berbeda jauh sekali dari biasanya jika menyangkut Petter." Tatapan Alvin menajam menelisik setiap ekspresi dari gadis yang ada di depannya.


Seketika Assena tercengang, seolah tersadar. Benarkah ia sudah mau repot-repot mencari keberadaan Petter.


Apa sebenarnya yang membuat ia begitu memaksakan diri untuk sekedar mencari kabar tentang Petter.


"Itu bukan urusanmu, aku hanya ingin tahu dimana dia?".


"Sayangnya jika ku beri tahu sekalipun, kau tak akan bisa bertemu lagi dengannya."


"Apa maksudmu berbicara seperti itu?".


"Dia sudah pergi jauh, ayah dan ibuku telah mengirim anak nakal itu ke luar negeri. Dia akan melanjutkan kuliahnya di sana." Ucap Alvin dengan senyum sinisnya. "Sekarang kau sudah tahu bukan?" sambungnya lagi, lalu berbalik badan dan masuk ke toilet.


Assena mematung, "Keluar negeri?" ucapnya tanpa suara. Rasanya ia begitu lemas, ingin ambruk saja saat mengetahui kebenarannya. Kebenaran yang ia cari-cari selama ini, yang nyatanya begitu mengejutkan. Ada rasa nyeri di hatinya, seketika ia memegang dadanya dan mencengkam bajunya dengan kuat.


Sementara di dalam tiolet, tepat dibalik pintu. Alvin bersandar di dinding toilet. Matanya terpejam, sesekali menarik napas yang terasa begitu berat.


"Kenapa? kenapa harus Petter yang kau tanyakan. Aku bersusah payah menjauhkan dia darimu, tapi tak membuatmu melupakannya". Lirih Alvin, rasanya ia begitu frustasi menghadapi kenyataan ini, kenyataan yang tidak memihak padanya.


Ia mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar, lalu terdiam setelahnya.

__ADS_1


"Mungkin butuh waktu. Ya, ini hanya masalah waktu untuk membuatnya melupakan Petter. Setelah itu dia akan menjadi milikku." Lirihnya lagi dengan mengulas senyum.


__ADS_2