Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Dihadang senior


__ADS_3

**


Suara ponsel membuat Assena merogoh ponselnya dari dalam tas.


Ternyata panggilan masuk dari Jasmine, segera ia menggeser ikon berwarna hijau.


Lalu benda pipih itu sudah menempel di telinganya.


"Kau dimana?" suara Jasmine dari dalam sana.


"Aku di tempat parkir" jawab Assena.


"Baiklah, tunggu aku ya. Aku segera ke sana".


Panggilan sudah diakhiri. Assena memasukan ponselnya ke dalam saku celana jeansnya.


"Ada apa nona?" tanya Altur yang sedari tadi memperhatikan Assena.


"Tunggu sebentar Altur, aku sedang menunggu temanku."


"Baiklah." Diiringi anggukan kepala.


Tak lama Jasmine sudah datang dengan langkah cepatnya.


"Assena aku rindu." Ucapnya dengan sedikit manja. Lalu memeluk tubuh Assena.


Setelah hari kelulusan SMA itu, Jasmine dan Assena tidak bertemu lagi. Maka tak heran saat hari pertama kuliah mereka menyempatkan waktu untuk bertemu.


Assena juga membalas pelukan itu, "aku juga merindukanmu".


"Aku sedih kita berbeda gedung, aku sudah terbiasa satu kelas bahkan sebangku denganmu saat SMA. Ah aku sedih sekali berjauhan denganmu." Ucap Jasmine dengan wajah sedih setelah melepas pelukannya.


"Kau ini berlebihan sekali, kita masih bisa bertemu di sini. Kita masih satu kampus." Ucap Assena tersenyum mengusap bahu Jasmine.


"Tetap saja aku sedih," Jasmine mengerucutkan bibirnya.


"Sekarang apa kita bisa pergi untuk sekedar minum?" sambung Jasmine semangat.


"Ayo!" timpal Assena menggangguk.


"Kita akan kemana nona?" tanya Altur yang sedari tadi memperhatikan percakapan kedua gadis itu.


Seketika Jasmine menoleh ke arah suara itu, dahinya mengkerut. "Siapa laki-laki itu Assena?" bisiknya sembari terus melirik Altur.


"Dia Altur, temanku." Jawab Assena. "Altur ini Jasmine temanku". Sambungnya menatap Altur lalu melirik Jasmine.


Altur menyodorkan tangan, lalu Jasmine menerimanya. Mereka berjabat tangan tanda perkenalan.


Altur masih memperlihatkan senyum ramahnya usai berkenalan dengan Jasmine. Tapi ada sesuatu yang lain yang ia pikirkan, ia sempat dibuat terkejut saat Assena menyebutnya sebagai teman, meski ia saat ini hanya ditugaskan untuk menjaga Assena oleh Arkan.


Altur hanya merasa sebagai seorang anak pelayan yang harus menghormati dan mematuhi Assena sebagai majikan. Tetapi sesaat setelah Assena mengatakan bahwa ia adalah temannya, membuat Altur tersenyum.


"Baiklah ayo kita berangkat!" ucap Jasmine bersemangat.


"Tunggu sebentar!" Ucap Assena sembari memperhatikan layar ponselnya. Yang baru ia rogoh dari saku celananya, karena terus bergetar.


Ternyata ada pesan masuk dari Yumna.

__ADS_1


Yumna: Kau dimana? aku baru selesai.


Assena: Aku di tempat parkir.


Yumna: Baiklah, aku akan segera ke sana.


"Tunggu sepupuku dulu ya!" ucap Assena seraya melirik Jasmine lalu kepada Altur.


"Sepupumu?" tanya Jasmine dengan heran.


"Iya, yang pernah aku ceritakan, yang baru kembali dari luar negeri."


"Oh.." Jasmine mangut-mangut dengan bibir membentuk hurup O.


"Itu dia!" Assena menoleh ke arah Yumna yang sedang berjalan mendekat.


"Hay, eh ada Altur juga." Yumna tersenyum mengangkat tangannya melambai.


"Siapa ini?" tanya Yumna menyadari ada seseorang yang tidak ia kenal.


"Hay, aku Jasmine teman Assena." Ucap Jasmine tersenyum seraya mengulurkan telapak tangan hendak menyalami.


"Aku Yumna sepupu Assena. Salam kenal ya!" Yumna balas tersenyum dengan menerima uluran tangan Jasmine.


"Aku sudah mendengar tentangmu, Assena sering menceritakannya kepadaku." Ucap Jasmine.


"Benarkah?" ucap Jasmine masih tersenyum ramah seraya menoleh Assena. Seolah bertanya benarkah kau sering menceritakan tentang diriku?.


Lalu mereka berempat pergi ke cafe terdekat. Jamine dan Yumna pergi dengan mobil masing-masing, dan Assena sudah tentu dengan Altur.


**


Setiap hari Assena pergi kuliah bersama Altur, juga satu mobil bersama Altur.


Sudah sedewasa ini Assena belum di izinkan ayahnya untuk membawa mobil sendiri, terlebih lagi sekarang tugas Altur juga menjaga Assena atau seperti pengawal pribadi untuk Assena. Assena merasa ini begitu berlebihan, terkadang ia merasa iri kepada Yumna dan Jasmine yang sudah di izinkan membawa mobil sendiri.


Dan kenyataannya sekarang, Assena seperti anak kecil yang harus dijaga.


Assena pun merasa Arkan sudah sangat berlebihan. Meski begitu, apa lagi yang bisa ia lakukan selain menurut saja.


**


Mobil sudah sampai di tempat parkir kampus, Altur bergegas turun dan segera membukakan pintu belakang.


"Silahkan nona!" ucap Altur dengan sopan.


Assena sudah turun dari mobil, berdiri di samping mobil dan berhadapan dengan Altur.


"Bisakah kau panggil namaku saja." Ucap Assena menatap Altur.


"Tapi nona....".


"Panggil namaku." Tegas Assena tidak mau dibantah.


Seketika Altur terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi.


"Anggap saja aku temanmu, kita kan memang berteman. Aku tidak merasa nyaman jika kau tetap memanggilku seperti itu, apa lagi di tempat umum seperti ini."

__ADS_1


"Tapi kan nona sebagai majikan...".


"Altur kau tidak perlu menganggapku sebagai majikan. Aku menganggapmu sebagai teman." Sekali lagi Assena menegaskan.


"Aku merasa tidak enak, apa lagi jika tuan mendengarnya, aku ti...".


"Dengar, jika begitu, di luar rumah kau harus memanggil namaku selayaknya teman. Jika di rumah di depan ayah, lakukan semaumu mau memanggilku apa pun itu".


"Baik no..." Altur menghentikan kata-tatanya saat mendapat tatapan tajam dari gadis yang ada di depannya.


"Baik A-Assena" ucapnya sedikit ragu dan gugup.


"Bagus, anak pintar." Ucap Assena tersenyum menatap Altur.


Altur pun tersenyum, lalu mengikuti langkah kaki Assena yang sudah berjalan mendahuluinya.


Di sisi lain Altur merasa senang Assena benar-benar menganggapnya teman, tapi di sisi lain juga ia merasa canggung karena ia sadar diri dimana posisinya berada. Hanya sebagai anak pelayan yang di tugaskan mengawal anak majikannya. Kuliahnya pun sepenuhnya dibiayai oleh Arkan.


Sudah terlihat banyak orang, hingga Assena dan Petter berjalan beriringan dengan orang lain.


"Jasmine dan Yumna sudah datang apa belum ya?" gumam Assena dalam hati seraya melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang ia cari dalam setiap kumpulan orang-orang di sekitarnya.


Assena menghentikan langkahnya lalu melirik Altur yang setia mengiringi langkahnya. "Jam kuliah masih setengah jam lagi, ayo Altur kita ke kantin. Aku haus" ucapnya sembari memegangi tenggorokannya.


Altur yang ikut menghentikan langkahnya pun, segera mengangguk.


Lalu mereka berbelok arah untuk pergi ke kantin. Mereka melangkah beriringan, Altur benar-benar setia mengiringi langkah Assena.


Dari kejauhan segerombol pemuda memperhatikan langkah Assena dan Altur, mereka saling berbisik dan saling melempar pandang. kiranya berjumlah 8 orang, diantaranya ada satu gadis di tengah para pemuda itu.


Ketika Assena dan Altur melewati tepat di depan segerombolan pemuda itu. Salah satu dari mereka berdiri dan melangkah mendekat ke arah Assena.


Dengan langkah sok keren pemuda itu berhenti tepat di depan Assena.


"Hay manis.." godanya dengan mencolek dagu Assena.


Dengan cepat Altur menepis tangan pemuda itu dengan kasar. "Jaga tanganmu untuk tidak sembarangan menyentuh temanku."


Terdengar gelak tawa dari pemuda itu, memandang remeh Altur. Dengan sembari menoleh ke arah teman-temannya yang sedang menonton. "Lihat siapa yang berani menepis tanganku, bocah ini tidak tahu siapa aku." Ucapnya dengan angkuh menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Sepertinya tidak perlu untuk mengetahui siapa dirimu, aku hanya minta menjauhlah jangan menghalangi jalan kami." Ucap Altur dengan santai tapi terdengar menantang bagi pemuda yang ada di depannya.


"Kau anak baru, bisa-bisanya memberi perintah pada senior." Pemuda itu mendengus.


"Sudahlah Altur ayo kita pergi!" ajak Assena menarik tangan Altur, ia sudah merasa keadaan sudah memanas dan tidak akan baik jika meladeni orang-orang sok berkuasa itu.


"Tidak secepat itu manis." Lagi-lagi pemuda itu menyentuh wajah Assena.


Di tepis lagi dengan cepat oleh Altur. "Sudah ku bilang jangan sembarangan menyentuh temanku". Kini Altur menggeram, menatap tajam pemuda itu. Ia sedang menjalanlan tugasnya untuk menjaga Assena dari orang-orang seperti yang ia hadapi sekarang.


Pemuda itu terlihat murka, mengeratkan gerahamnya, mengepalkan kedua tangannya.


"Beri pelajaran bocah itu!"


"Hajar saja!"


"Habisi dia!"

__ADS_1


Begitu yang terdengar teriakan dari para teman-temannya.


__ADS_2