Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Memandikan burung


__ADS_3

Assena mengangkat tangannya yang terlepas dari genggaman ayahnya, ibu jarinya mengusap pipi ayahnya yang sudah basah oleh air mata.


"Aku sudah melupakannya ayah, bagaimana pun ayah di masa lalu. Yang terpenting adalah di masa sekarang. Dan aku bisa merasakan bagaimana ayah menyayangiku. Bagaimana ayah mencoba memperbaiki semuanya..." Ucap Assena, terlihat beberapa tetes cairan bening itu keluar dari kedua bola matanya. Lalu ia meletakan kepalanya di atas paha ayahnya. Matanya terpejam, menemukan kenyamanan.


Tangan Arkan mengusap lembut rambut Assena. Hampir 10 tahun ia tidak pernah lagi sedekat ini dengan putri sulungnya itu. Kini mengingat kembali kenangan-kenangan Assena kecil yang manja. Dulu seberapa sering ia bisa menggendong Assena. Tertawa bersama, bermain bersama. Semua nya tergambar kembali dalam ingatan Arkan. Hingga wajah yang masih memperlihatkan sisa air mata yang belum mengering itu kini tersenyum tipis. Di usap lagi rambut panjang nan hitam milik Assena.


"Apa itu artinya kau sudah memaafkan ayah?" Tanya Arkan yang masih mengelus lembut rambut Assena.


Assena mengangkat wajahnya, menatap wajah sang ayah. Lalu ia pun mengangguk pelan.


Arkan mengembangkan senyumnya. Inilah yang ia harapkan selama ini. Ia menatap lamat-lamat kedua bola mata milik Assena, kedua bola mata yang sama dengan ibunya. Arkan bisa melihat ada bayangan Anna dalam diri Assena. Karena Assena lebih mirip Anna, Assena yang cantik mewarisi kecantikan ibunya.


Arkan masih tidak menyangka dengan yang terjadi hari ini, ia melihat perubahan pada diri putrinya.


Assena yang sebentar lagi menginjak usia 19 tahun ini, terlihat lebih dewasa. Setidaknya di usianya yang sekarang telah banya mengubah kepribadiannya. Ia sudah bisa belajar mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu, ia juga belajar untuk memaafkan.


Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting bagaimana mereka mencoba berubah dan berusaha memperbaikinya. Begitu pemikiran Assena.


"Jadi apa yang ayah inginkan dariku?" tanya Assena.


"Ayah senang jika kau sudah bisa memaafkan ayah." Arkan tersenyum.


"Itulah harapan ayah selama ini..."


"Apa ayah bisa meminta satu keinginan lagi?" Arkan berucap memperhatikan dengan lekat wajah Assena.


"Tentu saja ayah...Apa itu?" Assena tersenyum.


"Ayah ingin melihat anak-anak ayah akur dan rukun juga...." Arkan memberi jeda. Memikirkan kembali apa yang hati kecilnya inginkan.


Sontak Assena mengangkat kedua alis, ia menunggu kelanjutannya.


"Dan juga... dengan ibumu... Meski dia hanya ibu sambungmu, tapi percayalah dia begitu menyayangimu.." Sambung Arkan menatap wajah Assena, menunggu bagaimana reaksi putri sulungnya itu.

__ADS_1


Seketika Assena terdiam butuh waktu untuk mencerna apa yang ayahnya katakan.


Setelah itu senyuman terlukis di bibir mungilnya.


"Tentu saja ayah. Aku akan menjalin hubungan baik dengan adikku Bella, juga dengan ibu tentunya." Kata-kata itu terucap dengan begitu mudahnya. Ini kali pertama ia menyebut Evelin dengan sebutan ibu. Assena tidak merasa terpaksa sedikit pun. Karena memang ia sudah benar-benar mengikhlaskan semuanya. Ia juga sudah bisa menerima adik tirinya Isabella juga ibu sambungnya Evelin.


"Matahari sudah terasa panas, ayo kita masuk ke dalam ayah!" Ajak Assena yang kini keningnya sudah terlihat berkeringat.


Arkan pun mengangguk tanda setuju, karena tidak dapat dipungkiri ia juga sudah merasa kepanasan.


Saat Assena hendak mendorong kursi roda untuk kembali ke dalam rumah. Tiba-tiba terlihat Evelin menghampiri mereka.


"Sayang di ruang tamu sudah ada tuan Jemmy dan keluaraganya." Ucap Evelin dengan tergesa-gesa.


"Jemmy kemari?" tanya Arkan memastikan. Evelin pun mengangguk.


"Baiklah, aku akan menemuinya." Sambungnya.


Evelin pun menghampiri lebih dekat untuk mengambil alih mendorong kursi roda.


Assena pun mendorongnya, melaju mengikuti langkah kaki Evelin yang mendahuluinya.


Sesampainya di ruang tamu, sudah di dapati Jemmy, Iretta dan juga Alvin.


"Bagaimana kabarmu? maaf aku baru bisa menjengukmu." Terdengar Jemmy memulai percakapan.


Lalu setelahnya seperti biasa saling menyapa dan menanyakan kabar. Assena hanya tersenyum menanggapi Jemmy dan Iretta yang menyapanya.


Assena yang masih mengenakan piyama tidurnya itu merasa risih karena sedari pertama ia masuk ke ruang tamu Alvin terus menatapnya, Assena hanya membuang muka berpura-pura tidak melihat Alvin.


Lalu Assena pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Lagi pula ia malas berlama-lama melihat Alvin.


Entah kenapa selama di bangku SMA pun Assena sudah tidak begitu menyukai Alvin. Meski Alvin adalah salah satu bintang di sekolah saat SMA, banyak di gemari para gadis. Tapi sedikit pun Assena tidak seperti para penggemar Alvin.

__ADS_1


Mungkin karena Alvin terkenal arogan dan banyak tingkah yang membuat Assena tidak begitu menyukainya. Atau mungkin karena Alvin selalu mencoba mendekatinya? Entahlah.


Assena menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar, dan di lihatnya Yumna masih tertidur. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi tanpa berniat membangunkan Yumna. Rasanya ia tidak tega membangunkannya.


Selesai mandi Assena menyuruh bi Nem membawakan sarapan untuk Yumna, juga ia memesan secangkir coklat panas.


Setelah bi Nem membawakan sarapan dan meletakannya di meja samping tempat tidur.


Assena pergi ke balkon dengan membawa secangkir coklat panas di tangannya. Akhir-akhir ini ia sering menikmati coklat panas, dan mungkin menjadi kesukaan barunya. Karena menurutnya secangkir coklat panas itu mengingatkan ia akan sesuatu.


Assena sudah berdiri di balkon kamarnya. Dengan meletakan sebelah tanggannya diatas railing balkon, dan sebelah tangan lainnya memegang secangkir coklat panas. Pandangan matanya lurus kedepan menatap luasnya langit berwarna biru cerah yang membentang. Ia menikmati tiupan angin dan terjangan sinar mentari bersamaan. Sesekali ia menyesap coklat panasnya.


Tiba-tiba suara siulan mencuri perhatiannya. Assena pun mencari dimana arah siulan itu.


Ia berjalan ke bagian sisi balkon, dan ia melihat kebawah. Terlihat Altur sedang memandikan burung di halaman samping kiri rumah, dengan sesekali bersiul untuk menggoda burung.


Assena tersenyum melihat Altur. "Hey Altur.." Teriaknya, dengan begitu semangat ia memanggil pemuda itu.


Altur pun menoleh, mengangkat pandangannya ke arah dimana suara panggilan itu berasal. Ia dapat melihat Assena dari bawah sana. Ia pun tersenyum melihat gadis cantik yang menjadi anak dari majikannya itu.


"Aku akan ke sana.." teriak Assena lagi. Seolah ada ketertarikan saat melihat Altur memandikan burung.


Assena pun bergegas keluar dari kamar, dan turun ke bawah untuk menemui Altur. Ia pun melewati pintu belakang. karena memang lebih dekat lewat pintu belakang, juga jika lewat pintu depan ia malas jika harus melihat Alvin.


Dengan langkah semangat Assena menghampiri Altur. Ia melebarkan senyumnya. "Boleh aku mencobanya?" pinta Assena pada Altur untuk memandikan burung.


"Tentu saja..." Altur menyodorkan alat semprot itu berisi air itu.


Dengan antusias Assena menerimanya. Dengan riang ia menyemprot-nyemprotkannya pada burung yang ada di dalam sangkar yang terbuat dari kayu jati yang bercat warna airbrush itu.


Altur mengulas senyum tipis, ia begitu gemas melihat Assena yang nampak kekanak-kanakan itu.


**

__ADS_1


Author sangat butuh dukungan dari para pembaca, supaya semangat buat up. Juga semangat berimajinasi πŸ˜‚πŸ˜‚


Tinggalkan jejak, dengan like, komen dan vote😊


__ADS_2