Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Kucing Pussy


__ADS_3

***


Siang hari ini, Assena tengah duduk di kampus saling berhadapan dengan Jasmine, tak lupa juga Altur ikut duduk di sebelah Assena.


Namun ada yang berbeda, Jasmine nampak diam tak banyak bicara. Makanan dan minuman yang telah di pesan pun hampir habis, namun Jasmine tak banyak mengeluarkan suara.


Bagi Assena ini terasa aneh saja, sahabat dekatnya yang paling cerewet kini diam membisu.


"Ehem.." Assena berdehem.


"Jasmine kamu sakit?" tanyanya.


Jasmine yang sedang mamainkan sedotan dalam gelas minumannya pun kini mengangkat wajahnya, menatap dengan heran atas pertanyaan yang di lontarkan Assena.


"Tidak, aku tidak sakit." Timpal Jasmine yang di iringi gelengan kepala.


"Mengapa bertanya seperti itu?" sambungnya.


"Sedari tadi kau diam saja. Tidak seperti biasanya." Ucap Assena.


Seketika Jasmine terdiam dan nampak berpikir. Menatap Assena cukup lama. Kemudian terdengar helaan napas setelahnya.


Sebenarnya ia juga tidak mau seperti ini, mendiamkan sahabat baiknya.


"Assena..." Lirih Jasmine.


"Ada apa? bicara padaku jika ada sesuatu?" tanya Assena, ia sudah merasa sedikit curiga.


"Emm... Begini.." Ucap Jasmine sedikit ragu.


Sedang Assena menatap Jasmine dan menunggu apa yang akan dibicarakan.


"Hari minggu yang lalu aku melihatmu di restaurant X bersama Alvin. Emmm..." Tiba-tiba Jasmine menggantungkan kalimatnya.


"Iya aku memang ada bertemu dengan Alvin di restaurant itu, kenapa kau bisa tahu?" tanya Assena penasaran.

__ADS_1


"Kebetulan hari itu juga aku ada di sana bersama keluargaku."


"Lalu ada apa?" tanya Assena.


"Emmm... A apa kau sedang berkencan dengan Alvin?"


"Hah apa?" lalu Assena pun tertawa.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Jasmine dengan ketus, karena menurutnya ia sedang serius dan tidak ada yang lucu sama sekali.


"Kau yang kenapa Jasmine?" tanya Assena yang berusaha menahan tawanya.


"Pertanyaanmu menggelikan sekali, mana mungkin aku kencan dengan Alvin." Ucap Assena yang di akhiri menyeka air mata d sudut matanya.


"Lalu sedang apa kalian di sana?"


"Aku dan Alvin hanya membahas tentang Petter saja." Kemudian Assena menatap lekat Jasmine, sepertinya ia sudah bisa menerka apa maksud Jasmine.


"Apa kau sedang cemburu?" tanya Assena dengan menyipitkan matanya menatap Jasmine.


"Aku tahu..." Goda Assena.


"Jangan bicara lagi!" ucap Jasmine.


"Jadi hanya karena ini kau mendiamkanku??"


"Maaf aku tidak bermaksud begitu" ucap Jasmine dengan memelas.


"Iya iya aku tahu karena kau cemburu."


"Jangan bicara seperti itu lagi, ada Altur aku malu." Ucap Jasmine yang sedikit mengecilkan volume bicaranya.


"Aku dengar." Cetus Altur yang sedari tadi diam saja seperti obat nyamuk di antara dua gadis itu.


**

__ADS_1


Sore ini setelah pulang dari kampus, Assena duduk berselonjor di sofa kamarnya. Sedang tangannya mengusap lembut kucing yang ada di pangkuannya. Matanya menatap lekat gelang ukir yang melingkar di tangannya. Sepertinya ada seseorang yang tengah di rindukannya.


Tok tok tok


Suara ketukan itu membuyarkan lamunan Assena.


"Masuk!" perintahnya.


"Kakak apa kakak melihat Pussy?" tanya Isabella dengan mengedarkan pandangan matanya mencari.


Ya, Pussy adalah nama kucing yang ceritanya adalah kado dari Isabella saat Assena ulang tahun.


"Ini" tunjuk Assena pada kucing yang ada do pangkuannya.


"Heh ternyata kau di sini, aku lelah mencarimu dari tadi." Ucap Issalbela berkacak pinggang, seperti seorang ibu yang sedang mengomel pada anaknya.


"Kucing nakal kucing nakal" jari telunjuknya menunjuk-nunjuk pada kucing.


Assena hanya tersenyum melihat tingkah adiknya.


"Sebenarnya ini kucing siapa? kenapa kau memarahi kucing kakak?"


"Hehe ini memang kucing kakak, boleh aku pinjam Pussy kak?" pinta Issabella dengan mata berbinar.


"Ambilah! bukan kah setiap hari juga Pussy memang selalu bersamamu." Assena menyodorkan kucing itu.


"Terima kasih kak" Issabella mengambil alih kucing itu ke pangkuannya.


"Kakak harus berterima kasih padaku, karena aku merawat Pussy, mengajaknya bermain. Hingga dia tidak kesepian saat kakak pergi ke kampus." Isabella berceloteh dengan menggesekan pipinya ke kepala kucing dengan gemas.


"Iya iya kakak sangat berterima kasih." Assena berdiri dan mengacak-ngacak rambut Isabella dengan lembut.


"Baiklah, aku akan membawa Pussy untuk bermain" ucap Issabela yang berjalan keluar dari kamar Assena.


Assena hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2