
Tok tok tok
Suara ketukan membuat Assena terbangun dari alam mimpimya. Ia mengerjapkan mata, mengucek-nguceknya hingga ia bisa melihat dengan jelas, ia melirik jam dinding ternyata ini sudah jam delapan malam. Lalu di liriknya pula Yumna yang juga masih tertidur di sampingnya.
Setelah siang itu mendapat penolakan dari Assena saat Yumna mengajak nonton film usulannya, pada akhirnya dua gadis itu hanya menonton film komedi saja. Hingga mereka di buat lelah karena tertawa sampai sore, lalu mereka tertidur setelahnya.
Tok tok tok terdengar lagi ketukan.
Assena memaksakan diri turun dari ranjang, membawa langkah kakinya untuk membuka pintu.
Ceklek, pintu terbuka.
"Bibi lusi?" Assena yang mendapati ternyata bibinya lah yang ada di balik pintu, yang tak lain ibu dari Yumna.
"Assena, dimana Yumna?" tanya lusi sembari mengulas senyum.
"Yumna sedang tidur bi." Ucap Assena yang melirik ke tempat tidur.
"Ada apa?" Yumna menyaut, ternyata ia terbangun saat mendengar percakapan Assena dan ibunya.
"Sayang kau mau pulang atau mau menginap di sini?" tanya Lusi saat ia tahu anaknya terbangun.
"Aku menginap di sini saja bu." timpal Yumna yang masih enggan bangun dari posisi tidurnya.
"Baiklah ibu akan pulang."
"Hem"jawab Yumna.
"Assena bibi pulang dulu, titip Yumna ya! Jika dia menyusahkanmu bilang pada bibi." Pamit Lusi sedikit bercandan.
"Ibu aku mendengarnya..!" Yumna menyaut.
Seketika Assena dan Lusi saling melempar senyum karena merasa geli. lalu lusi pun pergi sesaat setelah berpamitan.
"Aku lapar.." Rengek Yumna.
"Aku juga" timpal Assena.
Pantas saja, karena sedari siang mereka belum makan.
__ADS_1
"Nona Assena, nona Yumna bibi bawakan makan malam." Suara bi Nem terdengar di balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Assena dan Yumna saling melempar pandang seraya tersenyum.
"Masuk saja bi!" titah Assena.
Bi Nem pun masuk dengan membawa nampan. Ia tersenyum, lalu meletakkannya di meja.
"Tadi bibi kemari karena nyonya mengajak makan malam bersama. Tapi tidak ada sahutan dari dalam, bibi pikir kalian tertidur." Ucap wanita paru baya itu.
"Benarkah? kami tidak mendengarnya bi. Karena memang kami tertidur." Timpal Assena sembari tersenyum.
"Pantas saja, baru saja saat nyonya Lusi memberi tahu nona Assena dan nona Yumna sudah bangun. Bibi langsung mengantar makan malam, kalian pasti lapar?"
"Iya bi kami lapar, terima kasih sudah mengantarkan kemari." Ucap Assena.
Bi Nem pun berlalu pergi. Assena dan Yumna pun menikmati makan malam berdua.
Usai makan malam, kini Assena di sibukkan dengan membaca buku.
Terdengar beberapa kali ponsel Yumna berdering, namun Yumna mengabaikannya.
Setiap kali ponsel Yumna berdering, mengalihkan perhatian Assena dari membaca bukunya. Hingga suara dering itu sangat mengganggu sekali.
"Untuk apa aku mengangkatnya, tidak penting sekali."
"Memangnya siapa?" kini Assena sedikit penasaran.
"Siapa lagi kalo bukan James, aku sudah beberapa kali memblokir nomor ponselnya. Tetapi setiap aku membokirnya, ia akan muncul dengan nomor ponsel baru." Keluh Yumna yang merasa lelah menyangkut mantan kekasihnya itu.
Assena mengangguk tanda mengerti. Mungkin Yumna sudah bisa move on sekarang, pikirnya. Setidaknya, Assena merasa lega, karena Yumna tidak terpuruk berkepanjangan.
**
Seminggu telah berlalu setelah peristiwa yang menimpa Altur. Saat di kampus Assena, Altur dan Yumna menghindar dari Jessy. Jasmine pun ikut menghindar juga saat setelah ia mendengar ceritanya. Terutama Altur ia sangat-sangat menghindar sekali.
Seperti halnya hari ini, Assena, Altur, Yumna dan Jasmine sengaja berangkat bersama ke kampus. Sesaat setelah meninggalkan tempat parkir, mereka berjalan beriringan. Tak jauh dari arah berlawanan Rolan dan gerombolannya terlihat berjalan menuju ke arah mereka.
Saat berpapasan, terlihat juga Jessy di antara gerombolan Rolan.
__ADS_1
Seperti biasa tatapan Rolan begitu tidak bersahabat. Sedang Jessy menatap mereka dengan tatapan sendu, rasanya gadis itu ingin menyapa. Tetapi mereka seolah berpura-pura tidak melihat Jessy. Terutama kepada Altur, Jessy menatap dalam Altur sebelum lelaki itu terlihat melangkah lebih jauh.
"Kau lihat, lelaki yang kau lindungi begitu bersikap acuh padamu." Ucap Rolan menyindir Jessy.
Jessy hanya diam, yang dikatakan kakaknya itu benar. Tetapi memang ia menyadari semuanya juga karena salah dirinya sendiri.
"Aku ingin pergi ke toilet kak" pamit Jessy. Lalu ia pergi untuk ke toilet. Saat di rasa Rolan tidak mengawasinya lagi, ia segera mengubah arah langkah kakinya untuk menyusul Altur.
Jessy menyusul Altur yang kini sudah berada di kantin kampus bersama Assena, Yumna dan Jasmine.
Langkah Jessy menjadi ragu, saat jaraknya semakin mendekat ke arah Altur. Lalu dengan cepat ia berbalik badan dan melangkah menjauh, sebelum Altur menyadari keberadaannya.
"Apa yang harus aku lakukan? jika tadi aku menghampiri Altur itu hanya akan mempermalukan diriku sendiri." Lirih Jessy, kini ia bersandar di dinding toilet yang terlihat sepi.
"Aku sudah terbiasa tidak memiliki teman, tapi kenapa saat Altur menjauhiku aku merasa tidak mau kehilangannya." Jessy memejamkan mata dengan manarik napas yang terasa berat.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu toilet yang langsung menyadarkan Jessy. Ternyata Assena lah baru saja membuka pintu toilet itu.
Pandang mata Assena terarah pada Jesst yang kala itu juga menatapnya.
Lalu dengan segera Assena melayangkan tatapan dingin, lalu membuang muka seolah berpura-pura menganggap Jessy tidak ada.
Lalu Assena berlalu memasuki bilik toilet tanpa memperdulikan Jessy.
Tak lama Assena sudah keluar lagi, namun Jessy masih di tempat yang sama. Assena pun melewati tubuh Jessy untuk mencuci tangan di westafel, di hadapannya terpampang cermin, membuat Assena bisa melihat jika Jessy tengah memperhatikannya.
Jessy pun membawa langkahnya untuk berdiri di samping Assena. Dengan sedikit ragu ia memberanikan diri melirik Assena.
"Apa kau juga membenciku sekarang?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Jessy.
Seketika membuat Assena menghentikan gerakan mencuci tangannya, ia kini melirik Jessy.
"Menurutmu bagaimana? setelah selama ini kau hanya pura-pura mendekatiku untuk menjadi teman. Lalu di balik itu kau berniat mencelakakan Altur." Ucap Assena dengan tatapan dingin.
Jessy sudah bisa menduga, Assena juga bakal mengetahui semuanya.
"Tapi sekarang aku benar-benar menyesal, aku ingin menjadi teman yang sesungguhnya." Tutur Jessy.
"Kau pikir siapa yang akan percaya? aku? atau Altur? kau telah merusak kepercayaanku, tidak mudah percaya untuk kedua kalinya. Lalu Assena pun pergi meninggalkan Jessy.
__ADS_1
Jesyy hanya mematung, mencerna setiap kata-kata yang di lontarkan oleh Assena.
"Ya, aku telah merusak kepercayaan mereka, bahkan jika aku berkata jujur pun untuk saat ini mereka tidak akan mudah percaya padaku lagi." Batin Jessy.