
Hari sudah sore. Terhitung dari siang sepulang sekolah tadi, hampir tiga jam lamanya Jasmine dan Petter menemani Assena. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, bercanda juga perdebatan konyol juga sesekali terjadi antara Petter dan Jasmine. Membuat Assena geleng-geleng kepala, kadang juga membuat Assena tersenyum geli dengan tingkah kedua temannya itu.
Dan sampailah waktu dimana Patter dan Jasmine berpamitan untuk pulang.
"Sayang sekali hari sudah sore, aku masih ingin bersamamu. Tapi aku harus pulang" ucap Jasmine sedih seperti enggan meninggalkan Assena.
Assena tersenyum, "tidak apa, kita akan segera bertemu kembali saat aku masuk sekolah nanti".
"Cepatlah sembuh, aku sangat menantikan itu" Jasmine seraya memeluk Assena.
"Mengenai ponselmu, aku tidak bisa menemukannya" ucap Petter merasa bersalah.
"Begitu ya, tidak apa-apa Petter. Terima kasih sudah mau mencarikannya untukku" Assena tersenyum.
"Terima kasih, kalian sudah datang dan menemaniku" ucap Assena tersenyum menatap kedua temannya silih berganti.
"Itu lah gunanya teman, saling menemani kapanpun dan apapun keadaannya". Jasmine tersenyum menatap kedua manik Assena yang menampakan keharuan.
Sekali lagi, mereka saling berpelukan.
Petter tersenyum melihat apa yang ada di hadapannya, "Apa aku boleh ikut bergabung untuk berpelukan?" godanya dengan wajah jenaka.
"Kau berbeda jenis, kau kan laki-laki tidak boleh ikut berpelukan" timpal Jasmine meledek.
"Terserah terserah" Petter pura-pura merajuk.
"Ayo, aku akan mengantar kalian sampai depan" ucap Assena mencoba bangkit dan turun dari ranjang.
Tapi dengan cepat Petter dan Jasmine melarangnya.
"Tidak perlu, kau istirahat saja di sini" ucap Jasmine menahan tubuh Assena yang hendak berdiri itu.
"Baiklah, aku pulang dulu" Jasmine seraya berdiri. "Sampai jumpa di sekolah nanti ya" ucapnya tersenyum melambaikan tangan dan mulai melangkah.
Petter pun mengikuti langkah Jasmine, dan sebelum sampai di ambang pintu ia berhenti sejenak menoleh ke arah Assena yang kala itu menatapnya, Petter juga menatapnya lalu tersenyum.
Assena membalas senyuman itu, hingga Petter pergi tak terlihat lagi.
**
Jasmine dan Petter berpamitan pada Evelin juga Arkan yang tengah berada di ruang tengah.
Hingga motor sport milik Petter kini melaju keluar dari halaman rumah Assena.
Assena yang berdiri di balkon, menatap kepergian kedua temannya itu.
**
"Itu teman lelakinya Assena, aku baru melihatnya" ucap Arkan yang berada di ruang tengah.
"Iya, yang ku tahu dari dulu juga temannya hanya Jasmine saja." timpal Evelin.
__ADS_1
"Dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik, tak heran jika dia juga punya teman lelaki kan?" ucap Arkan.
Arkan dan Evelin sibuk membicarakan teman lelaki Assena itu. Karena bagi mereka ini kali pertamanya Assena memiliki teman lelaki.
**
Kini Assena duduk ditepi ranjang, sepi kembali ia rasakan.
Sebelumnya dikamar ini terdengar tawa dan kegaduhan dari kedua temannya.
Kini pandangannya teralih ke meja yang ada disamping ranjangnya. Terlihat buah-buahan yang dibawakan oleh Petter dan Jasmine tadi.
"Aku senang memiliki teman seperti kalian" ucapnya pelan, dan tersenyum masih menatap buah tangan dari sahabatnya itu.
Tok tok tok, suara ketukan itu mengalihkan pandangannya.
"Kakak, apa aku boleh masuk".
Suara Isabella terdengar dari balik pintu.
Assena berdiri dan melangkah meraih handle pintu. Ceklek pintu terbuka, nampak Isabella tengah berdiri mendekap sebuah buku di dadanya.
"Apa aku boleh menggambar di kamar kakak? ibu sudah melarangku untuk kemari, karena ibu takut aku akan mengganggu istirahat kakak. Tapi aku berjanji aku tidak akan mengganggu dan tidak akan berisik" ucap Isabella dengan mata penuh harap.
"Kau boleh masuk, kakak tidak akan merasa terganggu" Assena tersenyum.
"Terima kasih kakak" Isabella melangkah memasuki kamar.
Kini buku gambar dan pensil warna sudah berserakan di atas lantai, Isabella terus menggambar dan mewarnai.
"Apa kakak tahu? aku merasa kesepian belajar sendiri di kamar" ucap Isabella mendongkakan wajahnya menatap kakaknya sejenak.
Assena yang mendengar itu, terkejut merasa tersadarkan. Mereka tinggal serumah tapi tidak dekat satu sama lain. Karena Assena pun merasa kesepian di rumah ini, tidak memiliki teman dekat untuk sekedar saling menemani.
"Benarkah?" tanya Assena menatap Isabella yang kembali sibuk menggambar.
"Bolehkan aku untuk sering-sering datang kemari? aku janji tidak akan berisik dan tidak akan membuat kamar kakak berantakan" Isabella kembali mendongkak menatap wajah Assena.
Assena terdiam sesaat, lalu menarik bibirnya membentuk senyuman. "Tentu saja, kau boleh datang kapan saja".
"Benarkah?" mata Isabella berbinar merasa senang mendengar itu.
Assena mengangguk tersenyum.
"Lihatlah, ini ibu, ini ayah, ini kakak dan ini aku" ucap Isabella memperlihatkan hasil menggambarnya dengan jari telunjuk menunjuk satu persatu yang ada digambarnya.
Assena tersenyum melihat hasil gambar Isabella, "kau pandai sekali menggambar" pujinya mengacak-ngcak rambut Isabella.
"Benarkah? tapi disini ayah terlihat jelek sekali" Isabella menunjuk lagi pada gambar.
Dan terdengarlah tawa dari kakak beradik itu.
__ADS_1
**
Dua hari sudah Assena menghabiskan waktunya di kamar, ia sudah merasa bosan dan ingin segera kembali masuk sekolah.
Dan selama itu pula Isabella sering datang ke kamarnya untuk menemaninya atau sekedar meminta bantuan mengejakan PRnya. Membuat Assena tidak terlalu merasa kesepian lagi. Ia menikmati waktu bersama adik tirinya itu.
Pagi ini, Assena sudah bersiap-siap untuk sekolah. Ia urun kebawah untuk sarapan.
"Selamat pagi sayang" sapa Evelin yang tengah menata menu sarapan pagi ini di meja makan
"Apa kau yakin untuk masuk sekolah hari ini? apa kau benar-benar sudah merasa baik?" tanya Arkan masih mengkhawatirkan Assena.
"Aku sudah jauh lebih baik, aku sudah ingin masuk sekolah" jawab Assena seraya menggeser kursi dan duduk.
"Baiklah, kalau begitu".
**
Assena melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Hanya tidak masuk selama dua hari saja, rasanya ia rindu dengan sekolah ini.
Ia terus melangkah dengan semangat.
"Assena, tunggu!" suara seseorang berteriak dari belakang.
Assena mengenali suara itu, ia berhenti lalu berbalik.
Terlihat Alvin melangkah cepat untuk mendekat.
Assena masih diam berdiri, menatap Alvin yang kian mendekat.
Alvin sudah berada di depan Assena. Ia terdiam sejenak menata gadis yang ada di depannya.
Assena seketika mengerutkan dahi "ada apa?".
"Aku ingin mengembalikan ini". ucap Alvin seraya menyodorkan ponsel ditangannya.
"Ponselku" Assena seraya mengambil benda itu dari tangan Alvin.
"Aku menemukannya, di dekat kolam" ucap Alvin.
Jujur saja, Alvin kini terlihat sidikit gugup. Tidak seperti Alvin yang biasa sombong dan arogan.
"Terima kasih sudah mengembalikan ini" ucap Assena. lalu berbalik dan melangkah.
Baru saja dua langkah, "tunggu" seru Alvin lagi yang berhasil menghentikan langkah Assena.
"Ku dengar kemarin kau sakit. Maaf, aku merasa bersalah. Karena kejadian kau yang terjatuh ke kolam itu" ucap Alvin.
"Tidak perlu merasa bersalah, itu hanya kecelakaan, aku yang ceroboh membuat aku terjatuh" Assena menatap wajah Alvin yang terlihat murung itu.
"Tapi aku...." Suara Alvin menggantung.
__ADS_1
Dengan cepat Assena menyela, "Sudahlah, ini benar-benar bukan salahmu. Aku harus pergi" Assena dengan cepat berbalik dan melangkah pergi.
Alvin hanya diam menatap kepergian Assena, "kenapa sesulit ini untuk mendekatinya" lirihnya.