Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Apa kau gila?


__ADS_3

"Ayo kita pulang!" ajak Altur, ia bangkit dari duduknya, lalu disusul oleh Assena dan Yumna yang ikut berdiri.


Baru beberapa saja hendak menghampiri mobil, tiba-tiba ponsel milik Altur berdering. Seketika itu pula ia menghentikan langkahnya hendak merogoh ponsel dari dalam saku celananya jeans panjang yang di kenakannya.


Kedua alis Altur nampak berkerut, saat mendapati nomor yang tidak dikenal meneleponnya. Segera mungkin ia menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab rasa penasarannya.


"Halo siapa ini?" tanya Altur.


"Ini aku Alvin? apa Assena ada?" suara di dalam telepon.


Seketika Altur langsung melirik Assena yang kala itu tengah berdiri bersandar pada samping mobil karena menunggu Altur. Assena yang menyadari Altur meliriknya pun bertanya.


"Ada apa?"


"Ini temanmu menelepon.." Altur sembari menyodorkan ponsel miliknya.


Assena keheranan, tapi tak urung langsung mengambil alih ponsel tersebut. Lalu menempelkan di telinganya.


"Halo.." Sapanya.


"Halo Assena, kau tidak lupa bukan hari ini kita akan bertemu." Ucap Alvin terdengar dari dalam telepon.


"Astaga aku lupa!!" batin Assena, menyadari kelupaannya.


"Emm maaf Alvin, lain kali saja. Hari ini aku tidak bisa." Tutur Assena, karena ia merasa lelah sekali karena mencari Altur. Di tambah lagi dengan ke adaan Altur seperti ini, tidak mungkin ia memaksakan jika Altur harus mengantarnya. Meski Altur tidak akan menolak, tapi setidaknya Assena masih mempunyai hati untuk membiarkan Altur untuk istirahat, mengingat apa yang telah menimpa pemuda itu.


"Tapi kenapa?" Alvin bertanya. Mungkin saat ini ia merasa kecewa.


"Aku lelah sekali, aku ingin istirahat. Lain kali saja ya!" jelas Assena, ia memberi alasan yang memang seperti itu kenyataannya.


"Baiklah, aku akan menagihnya nanti!" Alvin mengalah saja, jika harus memaksa juga ia akan terlihat buruk di mata Assena sebagai laki-laki pemaksa. Begitu pemikirannya.


Setelah itu panggilan terputus. Mereka pun pulang ke rumah Assena. Dengan Assena satu mobil dengan Altur, dan Yumna dengan mobilnya sendiri. Yumna pun ikut pulang ke rumah Assena.


Kemudian mereka pun sampai di rumah Assena.


"Cepat temui ibumu! karena dia sudah mengkhawatirkanmu.." Ucap Assena sebelum ia turun dari mobil.


Altur pun hanya mengangguk, ia segera turun dan membawa langkah kakinya lewat halaman belakang untuk segera menemui ibunya.


"Bukankah itu mobil dokter tampan itu... Emm maksudku dokter Ro-rogi... Ah iya dokter Roghi?" Seru Yumna saat ia baru saja turun dari mobil dan melihat mobil putih milik dokter Roghi terparkir.


"Sepertinya begitu, mungkin hari ini jadwal pemeriksaan ayahku." Timpal Assena.

__ADS_1


Seketika senyum Yumna mengembang, ia begitu bersemangat sekali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, dengan menggandeng tangan Assena.


Saat di ruang tengah, pandangan mata Yumna mengedar seperti sedang mencari.


"Kenapa kau diam? Ayo ke kamarku!" Ajak Assena saat melihat Yumna menghentikan langkahnya di ruang tengah.


"Tunggu sebentar! aku ingin duduk di sini dulu, aku sangat lelah sekali." Yumna berpura-pura terlihat lesu sembari mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah. Tatapan matanya terarah ke pintu kamar Arkan yang setengah terbuka. Karena samar-samar ia mendengar suara dokter Roghi dari dalam sana.


Assena merasa heran, ada apa dengan sepupunya itu? karena biasanya jika Yumna datang ke rumahnya, pasti ia lebih betah di kamar Assena.


"Baiklah aku tinggal" Assena pun pergi ke kamarnya, meninggalkan Yumna sendiri di ruang tengah.


Sepuluh menit, Yumna belum juga melihat dokter Roghi keluar dari kamar Arkan. Ia merasa bosan sekali.


"Kak Yumna.." Sapa Isabella yang baru saja muncul, dan mendudukan tubuhnya di samping Yumna.


Yumna pun tersenyum, ia berpikir ada alasan ia duduk di sini. Lalu ia mengajak Isabella untuk menonton televisi bersama.


Mereka pun menonton kartun Upin dan Ipin. Gelak tawa mereka pun pecah saat (Upin dan ipin di marahi kak Ros)


Tak lama dokter Roghi pun keluar, terlihat ia yang masih menggunakan jubah putih itu meneteng tas miliknya.


Seketika Yumna pun menoleh saat terdengar langkah kaki suara sepatu bersentuhan dengan lantai. Ia pun tersenyum melihat sosok yang ia tunggu-tunggu.


"Yumna sudah pulang?" tanya Evelin yang juga baru saja keluar.


"Selamat siang nona." Sapa dokter Roghi dengan tersenyum.


Yumna terkesima saat mendengar dokter tampan itu menyapanya, ia menatap wajah dokter Roghi tanpa berkedip.


Tapi seketika itu ia tersadar, ia pun menjadi salang tingkah.


"Emm se-selamat siang juga dokter." Ucap Yumna sedikit gugup.


Dokter Roghi nampak mengedarkan pandangannya, "Dimana nona Assena? saya tidak melihatnya."


"Oh iya dimana Assena Yumna?" tanya Evelin.


"Assena ada di kamarnya bi, dokter." Jawab Yumna melirik Evelin dan dokter Roghi silih berganti.


Setelah itu dokter Roghi berpamitan untuk pulang. Dan tak lama setelah itu juga Yumna berpamitan untuk pergi ke kamar Assena. Karena tidak ada alasan lagi untuk ia berada di ruang tengah.


Gadis berambut sebuhu itu menaiki anak tangga satu persatu, ia membuka pintu kamar dan mendapati Assena bersandar di sofa dengan mata terpejam. Yumna mengira Assena mungkin tertidur.

__ADS_1


"Kau kemari? Apa dokter Roghi nya sudah pergi?" tanya Assena yang seketika melirik Yumna.


Yumna terlonjak, karena ia mengira Assena sedang tidur.


"Tentu saja dia sudah pergi, kalau tidak mana mungkin aku kemari." Timpal Assena dengan polos, kata-kata itu lolos begitu saja.


"Ma-maksudku.. Ya mungkin saja dia sudah pergi, aku tidak tahu." Ucap Yumna setelah ia menyadari keceplosan berbicara seperti tadi.


Assena hanya tersenyum sembari menggeleng-geleng kepala karena ia mengerti.


Yumna pun mendudukan tubuhnya di samping Assena.


Mereka hanya duduk bersandar saja, cukup lama Yumna merasa bosan.


"Aku bosan sekali, baiknya kita melakukan apa?" Ucap Yumna yang masih bersandar, arah pandangnya menatap langit-langit kamar.


"Baca buku?" usul Assena.


"Tidak, aku tidak mau" timpal Yumna menggelengkan kepala.


"Nonton drama korea?" usul Assena lagi.


"Tidak..." Yumna masih menggelengkan kepala.


"Lalu kau mau melakukan apa?" tanya Assena.


"Ah aku tahu!" Ucap Yumn antusias yang sontak langsung bangun dari sandarannya.


"Apa?" Assena penasaran.


"Kita nonton film," jawab Yumna melebarkan senyumnya memperlihatkan deretan giginya. Seperti penuh maksud.


"Film korea? komedi? atau apa?" tanya Assena masih penasaran.


"Bukan, bukan itu semua." Yumna mengegelengkan kepala seraya tersenyum penuh arti.


"Ini film seru, memberikan sensasi berbeda. Kau akan ketagihan jika menonton film ini." Sambung Yumna masih tersenyum.


"Apa itu?"


Lalu Yumna mencondongkan kepalanya, mendekatkan bibirnya di telinga Assena. Lalu ia membisikan sesuatu.


Seketika kedua mata Assena membulat dengan sempurna, kedua alisnya terangkat, juga mulutnya ikut menganga.

__ADS_1


"Apa kau gila?" Ucap Assena sedikit berteriak. Betapa ia terkejut sesaat setelah Yumna berbisik padanya.


"Tidak, aku tidak mau." Tolak Assena dengan cepat.


__ADS_2