
**
"Selamat pagi." Setengah berteriak Jasmine dari belakang menepuk pundak Assena.
"Ya tuhan anak ini mengagetkan saja." Gerutu Assena.
"Setelah lulus nanti kau mau melanjutkan kuliah kemana??" Tanya Jasmine menggandeng tangan Assena.
"Entahlah, mungkin ayahku yang akan menentukannya." Jawab Assena.
"Kemanapun kau pergi aku akan ikut." Jasmine tersenyum lebar. "Asal jangan keluar negeri saja," sambungnya.
"Aku pun akan menolak jika ayah mengirimku kuliah diluar negeri." Ucap Assena melirik jasmine.
"Aku ingin melanjutkan kuliah disini bersamamu." Sambungnya tersenyum.
"Aaaah kau sungguh manis sekali." Jasmine memeluk.
Tiba-tiba, segerombol murid lelaki menghadang.
Ya, itu dia Alvin dengan para pengikutnya.
"Hay!" Alvin melambaikan tangan. "Datanglah ke acara pesta ulang tahunku minggu depan!" Katanya menyodorkan undangan berwarna gold berlogo SPECIAL.
Untuk semua murid yang di undang hanya di beri surat undangan yang biasa. Untuk yang mendapat surat undangan yang berlogo SPECIAL hanya untuk orang tertentu, hanya untuk orang yang dianggap istimewa.
Ya, mungkin Assena salah satu yang teristimewa bagi Alvin.
__ADS_1
Assena mengambil surat undangan itu, dengan wajah datar.
"Kau juga ku undang." Alvin menyodorkan surat undangan pada Jasmine.
Jasmine menerima surat undangan dengan antusias. "Terimakasih, kami pasti datang." Ucap Jasmine bersemangat.
"Itu pasti." ucap Alvin tersenyum pada Assena dan berlalu pergi.
"Kau beruntung sekali dapat undangan berlogo SPECIAL seperti ini!" Jasmine mengerucutkan bibirnya merasa iri.
Assena menyodorkan undangan itu. "Ambil saja, aku tidak tertarik." Ucapnya malas seolah itu bukan apa-apa.
"Percuma saja itu khusus untukmu." Sanggah Jasmine masih cemberut.
Seseorang datang dan merampas surat undangan ditangan Assena. "Bisa-bisanya gadis sepertimu mendapat undangan seperti ini." Ucap seseorang itu, ia adalah Viona murid cantik terpopuler disekolah. Ia salah satu murid yang mengejar Alvin.
"Diam kau, aku tidak berbicara denganmu." Bentak Viona kesal.
"Dia temanku, siapapun yang mengganggunya aku tidak akan tinggal diam." Balas Jasmine mendongkak melototkan keduan matanya.
"Ambilah jika kau mau, aku akan memberikannya dengan sukarela untuk orang yang membutuhkan sepertimu." Assena berucap dengan wajah malas dan berlalu memasuki kelas.
"Dengar itu!" Ejek Jasmine menjulurkan lidahnya dan langsung menyusul Assena.
"Awas saja kalian." Viona yang geram mengeratkan gerahamnya.
**
__ADS_1
Jam istirahat, Assena dan Jasmine baru saja keluar dari kantin.
"Sena aku mau ke toilet dulu yah." Ucap Jasmine berbelok ke arah toilet.
"Kau pergi saja ke kelas terlebih dahulu!" Sambungnya terus berjalan.
Baru saja Assena bejalan beberapa langkah, lagi Viona dan kedua teman nya mengahadang.
"Hey dengar, urusan kita belum selesai." Ucapnya memangku kedua tangannya di dada.
Assena memutar kedua bola matanya. "Apa maumu?" Ucapnya malas.
Viona maju selangkah dengan masih memangku tangan di dada. Seketika tangannya terulur hendak menarik baju Assena.
Tapi tiba-tiba.
Permisi" Petter berjalan cepat ditengah mereka, menjadi penyekat diantara Viona dan Assena. Dengan sengaja sembari menginjak kaki Viona.
"Aw..." Ringis Viona terjingkat-jingkat.
"Maaf Viona aku tidak sengaja, habisnya kau menghalangi jalanku." Ucap petter pura-pura merasa bersalah lalu tersenyum melirik Assena.
"Kau pasti sengaja kan Petter?." Teriak Viona merasa jengkel.
Assena masih mematung menatap Petter yang datang dengan tiba-tiba itu. Dan kemudian Petter langsung menarik tangannya mengajaknya pergi meninggalkan Viona yang masih marasa kesal.
"Awas kau Petter, dasar kau si pembuat onar." Teriak Violin lagi dengan geram.
__ADS_1
Petter hanya tertawa mendengar teriakan Viona yang memakinya, sambil terus berjalan menarik tangan Assena.