Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Lama sekali


__ADS_3

Karena Assena tidak tahu alamat rumah Alvin, dimana tempat penyelenggaraan pesta ulang tahun itu.


Dengan bantuan Jasmine yang mengirim lokasi lewat ponselnya, lalu menunjukannya pada pak Sur.


"Bukan kah ini arah ke rumah temannya nona Assena yah?" Ucap pak Sur teringat saat sore tadi Petter masuk ke arah ini.


Seketika Assena nampak berpikir mendengar perkataan pak Sur. "Temanku? siapa?"gumamnya.


Pak Sur yang menyadari raut wajah Assena yang bingung terlihat dari balik kaca spion. "Yang tadi sore itu, siapa namanya? bapak lupa."


"Ah iya Petter, iya Petter. teman nona Assena yang tadi sore itu." Sambung pak Sur dengan cepat sebelum Assena menyela.


Seketika Assena melirik keluar memperhatikan jalan. "Ah iya, sepertinya begitu pak".


"Jadi begitu yah, Rumah Petter dan Alvin se arah?" Gumam Assena dalam hati.


**


Ditempat berbeda, ditempat kediaman Alvin penyelenggara pesta perayaan ulang tahunnya.


Rumah besar nan mewah. Tepat dihalaman samping rumah yang luas, ada kolam renang berbentuk persegi panjang yang jadi tempat untuk perayaan pesta ulang tahunnya. Sengaja memilih tempat dengan adanya kolam renang supaya lebih bernuansa santai.


Tempat itu sudah didekorasi sedemikian rupa. Nuansa air berpadu cahaya lampu yang memberi kesan romantis. Terlihat juga lampu dibagian depan gerbang berkedip-kedip berwarna-warni, menghiasi setiap jalan yang akan dilewati para tamu undangan. Dentuman musik slow terdengar memeriahkan. Juga orang-orang sudah mulai berdatangan, silih berganti menyalami sang tuan rumah Alvin untuk memberi ucapan selamat dan doa-doa yang mereka sampaikan.


Tamu undangan yang sebagian besar teman sekolahnya, para remaja tentunya. Terlihat muda-mudi datang berpasangan, beramai-ramai, atau seorang diri juga ada. Dengan masing-masing menenteng kado, dengan bentuk dan warna yang beda-beda. Sebagai hadiah untuk yang sedang berulang tahun.


Ada yang datang dengan kendaraan pribadi, ada juga yang datang dengan taxi.


Dengan penampilan terbaik mereka pastinya. Terlihat juga para gadis dengan gaun yang indah dan tampilan cantik mereka. Karena mereka tahu ini kesempatan emas bisa menghadiri pesta perayaan ulang tahun sang idola tampan, keren dan terpopuler disekolah yang mereka puja-puja.


Tidak sedikit dari mereka mencoba tebar pesona dan mencoba memikat hati sang idola dengan penampilan terbaik.


Tapi berbeda dengan sang tuan rumah nampak gelisah, sesekali ia harus berkeliling. Tatapan matanya menyapu sekitar, seperti mencari sesuatu. Atau sedang mencari seseorang.

__ADS_1


Yaa mungkin ada yang ia cari. Apa dan siapa?


--


Ditempat yang sama, seseorang yang sedang mondar-mandir di depan gerbang. Matanya terus melihat ke arah kendaraan yang datang, sesekali mengecek ponselnya.


Begitu jeli memperhatikan setiap mereka yang datang. Dan kala tahu itu bukan seseorang yang di tunggu, nampak sekali ia begitu prustasi.


Ya dia Jasmine, sedang menunggu Assena.


Terkadang security penjaga di depan gerbang, sudah menegurnya beberapa kali.


Tapi Jasmine tidak menyerah untuk menunggu, ia terus mondar mandir dengan gelisah. Dengan tangan kanan memegang ponsel dan tangan kiri menenteng sebuah kado berbentuk paper bag bercorak warna biru muda, senada dengan gaunnya. Dan menyangkut isinya hanya dia yang tahu.


Tatapannya masih menyapu menelisik siapa saja yang datang.


"Kenapa dia lama sekali?" Gerutunya sudah kesal sedari tadi.


**


Karena sebenarnya ia melupakan hal itu, hingga saat ditengah jalan tadi, ia meminta pak Sur berhenti untuk membeli kado.


Meski ia kebingunan harus membeli apa, dengan asal-asalan ia memilih jam tangan laki-laki yang kebetulan ada di depan matanya saat memasuki toko tersebut.


Pak Sur yang menunggu dimobil, menoleh saat Assena sudah berjalan mendekat. "Sudah membeli kadonya nona?" Tanyanya.


"Sudah pak, ayo!" Assena masuk ke mobil saat pak Sur sudah membukakan pintu mobil untuknya.


**


Jalanan cukup ramai kendaraan, mobil yang membawa Assena tidak bisa melaju dengan cepat. Membuat Assena was-was takut terlambat mengingat ini sudah pukul 09.00. Juga sederetan pesan dari Jasmine begitu menambah kegelisahannya.


"Akhirnya kau mengangkat teleponku juga yah, kau kemana saja? Acaranya sudah di mulai. Aku jengkel sekali menunggumu disini. Aku sudah berdandan cantik dan sekarang aku begitu berantakan karena lama menunggumu, aku digigit nyamuk, aku haus tidak sempat minum juga. Itu karena aku menunggumu, kau tahu itu?" Itulah rentetan kekesalan yang terdengar dari seberang sana. Saat Assena mengangkat telepon dari Jasmine.

__ADS_1


Assena hanya mampu menarik napas dan memutar kedua bola matanya.


"Maaf, barusan aku harus membeli kado. karena aku lupa tidak mempersiapkannya. Sebentar lagi sampai, aku sudah di depan dan karena kendaraan banyak yang masuk jadi mobilku berjalan pelan." Tutur Assena mencoba menjelaskan.


"Dan hey aku sudah bisa melihatmu." Assena berucap antusias kala melihat sahabatnya sedang berdiri di depan gerbang terlihat memempelkan ponsel pada telinganya.


Seketika Assena langsung menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Jasmine yang kala itu juga melihatnya.


Assena membuka pintu mobil dan turun. Sementara pak Sur membawa mobil ke tempat parkir yang tersedia.


Dan Jasmine tersenyum lebar melihat sahabatnya melangkah mendekat, seolah ia sudah melupakan kekesalannya.


Jasmine langsung berhambur memeluk sosok yang ia tunggu sedari tadi. Dan juga yang telah membuat ia begitu kesal dan prustasi.


Ia melepaskan pelukannya dan memperhatikan keseluruhan penampilan Assena, dari atas sampai bawah. Bahkan ia memutar-mutarkan tubuh Assena. "Ya tuhan kau cantik sekali" pujinya dengan masih terus memperhatikan, menyentuh wajah, rambut dan bahu bergantian. Dan masih saja memutar-mutarkan tubuh Assena .


Pujian tak henti Jasmine lontarkan. "Apa kau benar-benar Assena, sahabatku yang sedingin es batu itu? astaga aku hampir tak mengenalimu. Kau sungguh cantik" ucapnya begitu mengagumi.


"Ngomong-ngomong siapa yang mendandanimu seperti ini? Yang ku tahu kau tidak pernah memakai ake up." Celotehan masih terdengar.


Hingga mereka masih saja berada didepan dan belum juga masuk ke dalam.


Assena yang diperlakukan seperti itu, nampak jengah. "Kau berlebihan sekali!" Gerutunya sebal.


Seolah teringat kembali pada kekesalannya, Jasmine menatap tajam. "Kau jahat sekali membuatku menunggu." Ucapnya mengerucutkan bibirnya.


Assena hanya tersenyum geleng-geleng kepala. "Baru saja kau bersikap manis padaku, sekarang kau sudah mulai merajuk lagi." Ucapnya mencoba menggoda sahabatnya.


Jasmine pun tersenyum. "Habisnya kau lama sekali".


"Yasudah ayo kita masuk, kita sudah terlambat!" Ucapnya seraya menggandeng tangan Assena.


Assena mengangguk tersenyum, mengikuti langkah kaki Jasmine. Ia mencoba menyeiramakan langkah Jasmine yang memang sedikit cepat. Mungkin karena Jasmine terlalu bersemangat, dari wajahnya sudah terlihat berbinar.

__ADS_1


Ya persahabatan mereka cukup manis bukan?


Mereka pun berjalan bersama melewati jalan khusus tamu yang terlihat indah dengan hiasan di setiap sisinya, dengan lampu berwarna warni yang berkedip-kedip.


__ADS_2