
**
Tiga bulan sudah berlalu. Selama itu juga persahabatan Assena, Jasmine dan Petter semakin erat saja.
Sedang keadaan rumah sudah sedikit berbeda, Isabella yang sudah semakin dekat dengan Assena. Layaknya hubungan kakak beradik pada umumnya.
Keadaan selama tiga bulan itu sudah merubah Assena, sedikitnya ia sudah tidak sedingin dan sependiam seperti dulu. Ia menikmati kebersamaan bersama kedua temannya di sekolah, juga kedekatannya dengan Isabella saat di rumah. Ruang jiwa yang hampa kini seperti terisi dengan kenang-kenangan indah bersama Jasmine dan Petter.
Meski sebenarnya ada sesuatu di balik ikatan persahabatannya dengan Petter.
Juga Assena menyadari perubahan pada ayahnya yang kian terlihat sedikit kurus dan pucat. Dokter Roghi juga lebih rutin memeriksa ayahnya dari dua minggu sekali kini menjadi seminggu sekali.
Ada sebersit tanya di pikirannya, ada apa sebenarnya dengan ayahnya itu. Ia juga sempat menannyakan pada dokter Roghi mengenai ayahnya. Tapi dokter Roghi mengatakan bahwa ayahnya baik-baik saja, hanya pemeriksaan kesehatan biasa saja yang ia jelaskan pada Assena.
Meski terasa ganjil baginya, tapi apa yang bisa ia lakukan selain percaya.
**
Hingga satu malam, tidak biasanya Arkan meminta Assena untuk menemuinya. Sepertinya ada hal yang ingin ayahnya sampaikan pada dirinya.
Saat usai makan malam bersama, Assena yang sudah kembali ke kamarnya. Tak lama Evelin datang dan menyampaikan bahwa Arkan meminta Assena untuk menemuinya diruang kerja.
Assena tak punya pilihan selain menurut saja, juga ia memang merasa sedikit penasaran.
Tok tok tok, Assena mengetuk pintu ruang kerja Arkan.
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam.
Assena membuka pintu, lalu melangkah masuk.
Terlihat Arkan tengah duduk disofa yang ada diruang kerjanya.
"Kemarilah" titah Arkan menepuk sofa yang ia duduki, memberi kode supaya Assena duduk disampingnya.
Assena hanya menurut saja. Ia duduk di samping ayahnya dengan isi kepalanya yang penuh pertanyaan.
Lama terdiam, Arkan memulai menyampaikan maksudnya. "Nak..." Ucapnya meraih tangan Assena dalam genggamannya.
Eh, ada apa ini?
Assena menatap wajah ayahnya yang sudah tak lagi muda ini. Terlihat begitu pucat dan sedikit kurus. Dan tiba-tiba ia merasa sedih melihat ayahnya, ia merasa ayahnya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Kenapa? ada apa dengan ayah? begitu batinnya.
"Iya ayah, ada apa?"
Terdengar helaan napas Arkan yang begitu berat. "Ayah ingin memintamu hadir di acara pertemuan dengan keluarga sahabat ayah besok malam. Ayah ingin memperkenalkanmu pada mereka, karena selama ini kau tak pernah ikut hadir dalam setiap pertemuan dengan sahabat ayah. Apa kau bersedia sayang?" ucap Arkan yang masih menggenggam tangan putrinya itu.
Sebenarnya Assena begitu enggan untuk ikut hadir. Tapi melihat wajah Arkan begitu pucat, ia tidak tega untu menolak. Ia bingung harus menjawab apa, bisa saja ia menolak dengan mudah seperti yang sudah-sudah saat sesering apa Arkan mengajaknya untuk ikut hadir di acaranya. Tapi kali ini berbeda, begitu sulit untuk mengatakan tidak. Meski setiap hari ia sudah terbiasa melihat Arkan, tapi melihat dengan jarak dekat dan hanya berdua seperti ini begitu terlihat jelas dan begitu menyadarkan Assena bahwa pisik ayahnya memang sudah jauh berubah. Semakin lama ia menatap wajah ayahnya, semakin begitu memilukan hati.
"Tidak ada salahnya bukan, jika sekali-sekali menuruti kemauan ayah" gumamnya dalam hati.
Lama berkutat antara iya dan tidak di dalam pikirannya, Assena menarik napas pelan. "Baiklah ayah, aku akan ikut sesuai dengan permintaan ayah."
"Benarkah itu nak, kau benar-benar bersedia?"
Assena mengangguk pelan.
"Terima kasih sayang", senyum Arkan mengembang, rasanya ia ingin berhambur memeluk putri sulungnya itu. Tapi ia tidak seberani itu, mengingat hubungannya tidak lah sedekat itu. Ia hanya takut Assena akan menolak jika ia memeluknya.
"Jika ayah sudah selesai aku akan kembali ke kamar."
"Baiklah, beristirahatlah nak!" ucap Arkan.
**
Assena sudah berbaring diranjangnya yang empuk, ia begitu sulit memejamkan mata. Berguling kesana kemari menjelajahi ranjangnya dari sisi ke sisi lainnya.
Permintaan ayahnya untuk hadir ke acara pertemuan itu membuat ia gelisah, ia masih belum yakin untuk pergi ke sana.
"Baiklah, hanya datang, lalu selesai dan pergi. Hanya itu saja" batinnya, ia berulang kali meyakinkan dan menenangkan hatinya yang gelisah. Sampai matanya sudah terasa berat dan jatuh terlelap.
**
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hari menjelang malam.
Arkan sekeluarga sengaja melewatkan makam malam karena malam ini tepatnya acara pertemuannya dengan keluarga sahabatnya di restaurant bintang lima, makan malam bersama tentu itulah acaranya.
Assena yang masih bersantai di dalam kamarnya, sedang membaca buku dengan duduk berselonjor diranjangnya.
"Sayang..." Terdengar suara Evelin memanggilnya di luar kamarnya.
Seketika pintu terbuka, Evelin melangkah masuk. Ia sudah terlihat rapih dengan gaun berwarna biru tua.
__ADS_1
"Sayang kau belum bersiap-siap? ini ibu bawakan gaun untukmu." Ucap Evelin menyodorkan gaun berwarna crem itu.
Seketika pandangannya teralihkan pada gaun crem yang Evelin bawa itu, terlihat baru. Dahinya mengkerut, rasanya tidak perlu memakai gaun baru seperti itu, karena ia memiliki gaun yang banyak yang masih bagus. Rasanya begitu berlebihan jika Evelin sengaja membelikan gaun untuk acara malam ini.
"Cepat pakailah, nanti kita terlambat!" ucap Evelin menaruh gaun itu di atas ranjang.
"Tunggu sebentar, ibu akan segera kembali." Evelin berlalu pergi keluar kamar.
Dengan malas Assena mengambil gaun itu, dan terpaksa memakainya.
Assena sudah berdiri didepan cermin dengan gaun crem itu sudah melekat di tubuhnya. Ia memperhatikan dirinya di balik cermin itu. Gaunnya memang terlihat indah.
"Gaun yang indah bukan? kau sangat cantik."
Evelin yang sudah berdiri diambang pintu, mengalihkan peehatian Assena untuk menoleh pada Evelin. Terlihat Evelin membawa beberapa alat make up.
"Ayo ibu akan meriasmu!" Evelin seraya mendekat, menyimpan alat make up itu di atas meja rias.
Assena hanya menurut saja, ia enggan harus didandani seperti ini. Sebenarnya ada yang aneh, kenapa mereka menyiapkan gaun dan juga mendandani Assena. Seperti acara malam ini khusus untuknya. Padahal bisa saja Assena memakai gaun miliknya dan berpenampilan biasa saja tanpa harus didandani. Toh itu lebih sederhana dan tidak akan mempermalukan keluarganya dengan penampilan seperti itu.
Sepuluh menit saja, Evelin selesai merias wajah dan rambut Assena. Kini Assena begitu cantik dan anggun dengan make up tipis dan rambut yang dibiarkan tergerai hanya menyelipkan jepit rambut berbentuk pita dibagian sisi. Begitu pas diusianya yang masih remaja.
"Selesai!!" Ucap Evelin seraya menarik Assena untuk berdiri, dan mengajak memperhatikan penampilannya bersama-sama di balik cermin.
"Kau cantik sekali!" Puji Evelin dengan mengulas senyum.
"Ayo, ayah dan Isabella sudah menunggu!" Ajak Evelin seraya menarik tangan Assena.
**
Mereka sudah berada didalam mobil, Arkan dan Evelin duduk di depan dengan Arkan yang sengaja mengendarai mobil sendiri, tidak memakai jasa pak Sur. Sedang Assena dan Isabella duduk dibelakang.
Mobil yang mereka tumpangi sudah melesat jauh melaju di jalanan yang sedikit lenggang.
Sesekali terdengar Isabella melontarkan pujian pada kakak tirinya itu.
"Kakak cantik sekali." Puji Isabella. Yang berhasil membuat wajah Assena merah merona.
Karena jalanan yang lenggang tidak memakan waktu lama untuk sampai di tempat tujuan.
"Ayo anak-anak kita sudah sampai." Ucap Arkan seraya turun dari mobilnya.
__ADS_1