
Flashback
Malam dimana keluarga Jemmy dan keluarga Arkan mengadakan Acara pertemuan makan malam bersama di sebuah Restaurant.
Setelah acara selesai, Alvin mengajak Petter untuk pulang bersama dengan mobil milik mobilnya, memilih terpisah dengan orang tuanya.
"Ayah, ibu, Petter akan ikut pulang bersamaku." Ucap Alvin pada Jemmy dan Iretta.
"Bukan begitu Petter?" ucap Alvin melirik Petter.
Petter yang mendengar itu, hanya memanautkan kedua alisnya,benarkah begitu?. Seoalah mengepresikan apa kau bawa-bawa diriku!
Karena pada saat pergi, Petter pergi bersama Jemmy dan Iretta. Maka ia sedikit menaruh curiga, kenapa Alvin tiba-tiba mengajak pulang bersama.
"Yasudah, hati-hati kalian berdua!" ucap Jemmy.
"Hati-hati sayang!" ucap Irreta seraya melambaikan tangan sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Mobil yang membawa Jemmy dan Iretta telah melaju terlebih dahulu.
Sedang Alvin dan Petter masih di tempat.
"Kenapa kau mengajakku pulang bersama?" ucap Petter menatap tajam.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" Alvin menjawab santai dengan menaikan kedua alisnya.
"Aku curiga" tukas Petter.
"Sudahlah, ayo masuk!" titah Alvin.
"Kau mau pulang atau tidak?" teriak Alvin, nampak kepalanya keluar dari jendela mobil. Saat melihat Petter tak bergeming dari tempatnya.
"Baiklah, baiklah." Ucap Petter malas, membawa tubuhnya masuk ke dalam mobil Alvin.
Di tengah perjalan, Alvin sengaja berhenti dan menepi.
"Kenapa berhenti?" tanya Petter.
Petter mendengus. "Jadi ini ya alasan kau mengajakku pulang bersama hah?" Petter menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Iya, sekarang kau sudah tahu bukan?. Mulai sekarang jauhi Assena."
"Itu tidak akan pernah."
"Kita lihat saja, kenyataannya Assena adalah anak dari teman dekat ayah. Ini akan memudahkanku untuk mendapatkan dia. Aku akan meminta ayah untuk menjodohkan aku dengan Assena. Karena perjodohan dalam pertemanan antara kedua orang tua itu sudah biasa." Ucap Alvin yang tanpa sadar sudah menyulut amarah Petter.
Bukan, bukan tanpa sadar. Tapi memang sengaja menyulut amarah rivalnya.
__ADS_1
Wajah Petter memerah, ia menggeram, mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar terpancing emosi. "Dasar licik, bersainglah secara jujur jika memang kau benar laki-laki." Petter mendaratkan pukulan di wajah Alvin.
Alvin yang tidak terima, balas memukul. Mereka berkelahi di dalam mobil, hingga Alvin tersurung keluar. Dan tidak sampai di situ, mereka terus adu pukulan di pinggir jalan.
Alvin sengaja, tidak banyak melawan, ia sengaja membiarkan dirinya terlihat kalah dalam perkelahian ini.
Hingga disini Alvin lah yang paling babak belur, luka lebam di wajahnya bertubi-tubi. Tapi tak urung membuat ia tersenyum penuh kemenangan.
**
"Hentikan alasan omong kosongmu Petter, ayah tidak mau mendengar alasan apa pun itu. Ayah sudah terbiasa mendengar kenakalanmu di sekolah, tapi kali ini kau keterlaluan hingga memukuli saudaramu sendiri." Ucap Jemmy dengan penuh kemurkaan.
"Tapi ayah, dia yang memulai...." Petter mencoba membela diri.
"Cukup!" bantah Jemmy. "Kau sudah membuat Alvin masuk rumah sakit, dia babak belur seperti itu karena ulahmu."
"Ayah akan mengirimmu ke luar negeri, kau akan kuliah disana. Itu hukuman atas ulahmu yang mengecewakan." Ucap Jemmy tak terbantahkan, ia keluar dari dalam ruangan itu, membanting pintu dengan keras.
Petter bersimpuh dilantai, ia mengacak-ngacak rambutnya dengan prustasi. "Kenapa? kenapa ayah selalu membela dia, ayah lebih percaya anak itu dari pada anak kandungnya sendiri." Lirih Petter, ia merasa begitu kacau malam ini.
Petter tidak mau jika harus pergi ke luar negeri. Bukan, lebih tepatnya ia tidak mau jika harus berpisah dengan Assena.
Tapi ia juga tahu bahwa keputusan ayahnya tidak bisa di bantah, ia lebih tahu watak ayahnya.
__ADS_1
"Aku harus bertemu dengannya. Ya, aku harus bertemu untuk perpisahan atau sekedar ucapan selamat tinggal." Lirihnya tersenyum getir.