Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Teman masa kecil


__ADS_3

**


Cahaya matahari menebus celah jendela, membentuk garis lurus di dalam ruang kamar.


Assena sudah bangun, tapi ia masih bermalas-malasan. Ia begitu enggan untuk beranjak dari tempat tidur.


Ia tahu ini sudah hampir siang, tapi karena ini masih libur dan tidak ada kegiatan, ia memilih untuk setia di tempat tidur untuk sekedar tidur ayam saja.


Sarapan yang bi Nem antarkan di atas meja, belum tersentuh sama sekali. Segelas susu yang tadinya panas, kini sudah menjadi dingin.


Ceklek, seseorang membuka pintu dan terdengar langkah kaki. Assena mendengarnya, tapi ia benar-benar malas untuk sekedar membuka mata. Ia mengira bahwa bi Nem lah yang baru saja memasuki kamarnya.


Gorden jendela telah terbuka, sinar matahari langsung menerpa wajah Assena.


"Bibi jangan dibuka gordennya, aku masih mau tidur." Ucapnya dengan suara parau sembari membalikan tubuhnya untuk menghindari sinar matahari.


"Kau yakin tidak mau bangun?" ucap seseorang yang kini duduk di tepi ranjang.


Assena terkejut mendengar itu, ia langsung membuka mata. Ia begitu mengenali suara itu, seketika membalikan tubuhnya.


Dan siapa yang kini ada di hadapannya?


Ketika matanya melihat siapa yang ada di depannya, seketika ia bangun terduduk.


"Ya tuhan, Yumna!" pekiknya. Mantanya membulat penuh, telapak tangannya terangkat menutup mulutnya karena begitu tidak menyangka.


Yumna tersenyum, seraya membuka kedua tangannya, seolah meminta Assena untuk memeluknya.


Seketika saja Assena berhambur memeluk gadis cantik dengan rambut lurus sebahu itu, yang tak lain adalah sepupunya.


"Aku merindukanmu." Ucap Yumna ditengah pelukannya.


"Aku juga merindukanmu." Ucap Assena terlihat cairan bening itu jatuh dari sudut matanya. Ia begitu terharu, bahagia rasanya bertemu sepupunya itu.


"Kapan kau kembali? kenapa tidak memberi tahuku" ucap Assena seraya melepaskan pelukannya.


"Kemarin malam aku baru sampai, sengaja tidak memberi tahumu. Aku mau memberimu kejutan." Ucap gadis cantik itu tersenyum.


"Dan kau berhasil membuat ku terkejut setengah mati." Assena seketika mencubit pipi Yumna.


"Apa kau senang aku kembali?".


"Tentu saja aku sangat senang, aku senang kau akan kuliah di sini bersamaku."


"Aku juga tidak menyangka ayah mengajakku untuk pindah lagi kemari, aku sangat senang kita akan bersama lagi."


"Lalu dimana paman Rey dan bibi Lusi?" tanya Assena.


"Ayah dan ibu ada di bawah."

__ADS_1


"Benarkah? aku sangat merindukan bibi. Sudah lama tidak bertemu."


"Cepatlah kita turun ke bawah!" ajak Yumna.


"Sebentar, aku akan mandi dulu." Assena berajak turun dari tempat tidur, ia masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Yumna, memperhatikan seisi ruang kamar. Ia berjalan menghampiri poto mendiang ibunya Assena, menatap dalam dan lama. "Bibi" lirihnya.


Lalu ia berjalan ke arah balkon, ia berdiri memperhatikan sekitar dari atas sana. Perhatiannya teralih pada seseorang di bawah sana, seorang pemuda yang tengah memandikan burung dalam sangkar, yang terlihat menyemprot-nyemprotkan air dengan alat khusus untuk memandikan burung.


"Siapa laki-laki itu?" batinnya.


"Apa yang kau lihat?" suara Assena begitu mengagetkan.


Yumna menoleh, terlihat Assena tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Yumna melirik ke bawah sana, ia tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


Seketika Assena mengikuti arah pandang Yumna. "Dia Altur, apa kau masih ingat dengannya?" tanyanya.


"Altur?" dahi Yumna mengerut.


"Iya, anak bi Nem dan pak Sur."


"Altur teman bermain waktu kita kecil dulu?" Yumna menyuarakan dengan keterkejutan. Mengangkat pandangannya untuk menoleh pada Assena.


Assena mengangguk. "Dia akan kuliah di sini bersama kita, dia baru datang kemarin."


"Ya begitulah." Ucap Assena seraya mengangkat bahu.


"Ayo kita sapa dia, apa dia masih mengingatku." Ajak Yumna seraya menggandeng tangan Assena.


"Tunggu sebentar, aku mau menyisir rambutku dulu".


--


Satu persatu Yumna menuruni anak tangga dengan semangat sembari menggandeng tangan Assena.


Di ruang tengah sudah ada Arkan dan Evelin juga ada Rey dan Lusi.


Rey dan Lusi seketika berdiri, kala melihat Yumna dan Assena datang.


"Sayang apa kabar?" ucap Rey memeluk keponakannya itu.


"Aku baik paman," jawab Assena tersenyum.


"Sudah lama tidak bertemu, bibi merindukanmu." Kini bergantian Lusi yang memeluk Assena.


"Aku juga merindukan bibi," ucap assena seraya tersenyum.

__ADS_1


"Ayo cepat Assena!" ajak Yumna yang sudah menarik tangan Assena.


"Kalian mau kemana?" tanya Arkan.


"Kami mau berkeliling dulu paman, aku mau melihat-lihat sekitar sini." Jawab Yumna.


"Oh baiklah."


Langkah kaki Assena dan Yumna mengarah keluar, hendak menghampiri Altur yang tengah memandikan burung itu.


Terlihat Altur berdiri memunggungi mereka.


"Ayo!" bisik Yumna menarik tangan Assena yang diam berdiri tidak mau melangkah lagi untuk mendekat ke arah Altur.


"Kau saja, kau kan yang mau menyapanya." Tukas Assena setengah berbisik juga.


"Kau juga harus menemaniku."


"Tidak!"


"Ayo!"


"Tidak!"


Suara kegaduhan itu sudah berhasil membuat Altur memperhatikan kedua gadis itu. Ia berdiri dengan kening berkerut dan masih memegang alat semprot di tangannya.


Ketika menyadari bahwa Altur sedang memperhatikan mereka, seketika kedua gadis itu merasa sedikit malu, lalu Yumna berdehem.


"Eh hay.." Yumna sedikit mengangkat tangannya melambai dengan tersenyum gugup.


Altur membalasnya dengan senyuman.


"Apa kau masih mengingatku?" tanya Yumna.


"Apa kau mengenalku?" Altur malah balik bertanya.


"Aku Yumna, kita teman masa kecil dulu." Ucap Yumna.


Sejenak Altur nampak berpikir mengingat-ngingat gadis yang ada di depannya.


"Ah iya, Yumna sepupunya nona Assena ya? aku ingat, aku ingat." Ujar Altur seraya mangut-mangut.


"Baguslah jika kau masih mengingatku, bagaimana kabarmu?" tanya Yumna seraya menyodorkan tangannya.


"Seperti yang kau lihat." Altur menyambut uluran tangan itu.


"Sudah lama ya." Sambung Altur tersenyum tapi tak jarang tatapannya melirik Assena yang hanya diam.


Akhirnya tiga teman masa kecil itu berbincang-bincang panjang lebar, dengan duduk di kuris besi yang ada di taman. Semua tentang Yumna dan Altur, karena Assena hanya menyimak saja, ia tidak banya bicara.

__ADS_1


Mereka larut dalam perbincangan mengingat masa keci dulu.


__ADS_2