Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Penolakan


__ADS_3

Terlepas dari pembahasan tentang perjodohan yang membuat Assena merasa tidak nyaman. Ia ingin segera mengakhiri pertemuan ini.


"Apa yang akan kau ceritakan tentang Petter?" kini Assena langsung menanyakan apa yang menjadi alasan ia bertemu dengan Alvin, yaitu mendengar cerita tentang Petter.


Jelas saja, raut wajah Alvin semakin menampakan ketidak sukaan. Sesaat yang lalu mendengar pernyataan Assena yang menyakitkan, kini ia harus di hadapi dengan pembahasan soal Petter, yang sejujurnya membuat sakit telinga dan sakit perasaannya. Tetapi bagaimana pun ia telah menjanjikan hal itu pada Assena.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar yah." Cetus Alvin dengan mendengus, namun tak urung memaksakan senyumnya.


"Sepertinya kau sudah tahu, bukankah itu tujuanku menemuimu." Telak Assena sembari mengangkat kedua alisnya.


"Sabar Alvin, kau hanya harus sedikit lebih bersabar lagi." Batin Alvin, ia mencoba menyembunyikan kekesalannya.


Alvin membuang napas yang telah ia hirup dengan panjang. "Baiklah, dengarkan aku!"


"Aku dan Petter hanya saudara tiri saja.." Tutur Alvin.


"Aku tahu" timpal Assena dengan cepat.


"Apa Petter yang telah memberi tahu mu?" tanya Alvin.


Assena mengangguk.


"Ck, Sudah ku duga." Gerutu Alvin dalam hati.


"Apa kau tahu kenapa bocah nakal itu... Maksudku Petter sampai harus kuliah di luar negeri?" tanya Alvin, sebisa mungkin ia menstabilkan emosinya. Jujur saja ia enggan membahas tentang saudara tirinya sekaligus yang menjadi rivalnya.


Assena menggelengkan kepala, "Tidak, memangnya apa yang membuat Petter sampai harus kuliah ke luar negeri?" Assena balik bertanya, ada rasa penasaran yang menyelinap. Karena memang selama ini ia tidak tahu apa-apa tentang alasan kepergian Petter.


"Karena dia berkelahi denganku, membuat aku babak belur karena ulahnya. Lalu ayah marah padanya dan mengirim paksa dia ke luar negeri, tempat dimana kakek dan neneknya tinggal." Jelas Alvin.

__ADS_1


Assena sedikit tersentak mendengarnya, kedua alisnya nampak berkerut. "Apa yang membuat kalian berkelahi?"


"Apa kau masih ingat saat malam dimana keluargaku dan keluargamu bertemu untuk acara makan malam bersama?" tanya Alvin, mencoba mengingatkan.


"Hem, aku masih ingat." Timpal Assena di iringi anggukan kepala.


"Setelah aku dan Petter tahu bahwa kau adalah anak dari sahabat orang tua kami. Aku senang karena itu, karena ada peluang untuk mendekatimu.." Ucap Alvin menatap lekat kedua bola mata indah milik gadis yang ada di depannya.


"Mendekatiku?" Assena membeo.


"Karena itu lah aku dan Petter berkelahi, karena kami tengah memperebutkanmu. Karena itu pula Petter mendapat hukuman. Seperti halnya Petter yang ingin mendapatkanmu, aku pun sama. Karena aku juga menyukaimu.."


"Jadi karena berkelahi denganmu Petter harus pergi jauh ke luar negeri? tapi kenapa harus Petter yang mendapat hukuman?" protes Assena, ia begitu terkejut tentunya mendengar alasan di balik kepergian Petter.


"Apa? sial. Bahkan dia tidak menanggapi sama sekali aku yang telah menyatakan perasaanku padanya. Malah dia membela bocah nakal itu dan berbalik seperti ingin menyalahkanku. Sial sial sial.." Batin Alvin menggerutu. Kesal, marah, kecewa campur aduk.


Ini di luar rencananya, niatnya mengiming-imingi akan menceritakan Petter untuk memancing Assena untuk mau menemuinya. Dan rencananya adalah Alvin memang sengaja menceritakan tentang Petter dan alasan kepergiannya, juga di balik itu ia akan menyatakan persaannya. Namun niatnya untuk mendapatkan simpati dari Assena karena ia yan rela berkelahi dengan Petter itu tidak berbuah manis. Malah sekarang apa yang ia dapat bukan rasa simpati melainkan malah berbalik seperti di salahkan.


Namun Assena segera meredam rasa kesalnya, bagaimana pun ia tidak ada hak menyalahkan Alvin.


"Tapi sungguh aku tidak bermaksud membuat Petter menerima hukuman yang meyebabkannya harus pergi. Aku hanya melakukan perlawanan karena aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu." Alvin mencoba menjelaskan, supaya Assena tidak salah menyangka.


"Sudahlah lupakan. Apa tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan tentang Petter? kalau tidak aku harus pergi. Altur sudah lama menungguiku." Assena sudah merasa muak, ketika Alvin masih terus mengungkapkan bahwa ia menyukai Assena.


Assena sudah ingin mengakhiri pertemuannya ini dan ingin segera pergi.


"Tapi bagaimana tanggapanmu tentang persaanku padamu." Seru Alvin dengan cepat, ia ingin mencegah Assena yang sudah ingin pergi.


Sejenak Assena terdiam menatap Alvin dengan serius. "Dengar Alvin, sejak SMA kau adalah sang idola bagi para gadis. Kau tidak seharusnya menyatakan itu padaku, karena aku tidak memiliki rasa yang sama sepertimu. Pasti banyak di luar sana gadis yang menyukaimu. Jadi maafkan aku, aku harus pergi.." Tutur Assena serius penuh ketegasan.

__ADS_1


"Wah.. Wah.. Sedang apa kalian berdua di sini? apa kalian sedang reuni? boleh aku bergabung?" Suara perempuan terdengar yang kini juga telah mendudukan tubuhnya di salah satu kursi di antara Assena dan Alvin. Dia itu yang tak lain adalah Viona. Yang pernah satu sekolah saat SMA, juga gadis yang selalu berusaha menyingkirkan Assena. Karena yang selalu merasa tersaingi untuk mendapatkan Alvin.


Sontak Assena yang menyadari kehadiran Viona itu, seolah menambah alasan untuk ia segera pergi.


"Aku harus pergi, terima kasih sudah menceritakan semuanya." Pamit Assena yang langsung bangkit berdiri dan pergi.


Suara Alvin yang terdengar memanggil namanya, tidak ia gubris. Assena dengan langkah cepat segera keluar dari restaurant mewah tersebut.


Tak jauh, sepasang mata memperhatikan gerak tubuh Assena yang melangkah keluar. Tatapannya begitu sendu dan memperlihatkan kesedihan, ia adalah Jasmine.


Tak ada yang menyadari, bahwa sedari awal mula Assena dan Alvin datang ke restaurant ini, Jasmine yang kebetulan mengadakan acara bersama keluarganya melihat dan memperhatikan mereka.


Ada kecemburuan di hatinya, melihat Assena dan Alvin duduk berdua seperti itu. Namun ia tidak berani menghampiri, ia hanya bisa menyaksikan saja.


"Apa yang mereka lakukan di sini? sepertinya mereka membahas hal serius.. Tapi aku tidak menyukai kedekatan mereka, tapi untuk marah pun apa hakku??" Batin Jasmine, setelah Assena sudah tidak terlihat lagi, kini arah pandangnya kembali memusat dimana tempat Alvin yang masih terduduk yang kini sudah bersama Viona.


"Lihatlah, bahkan setelah Assena pergi kini ada lagi gadis lain yang bersamanya. Aku sendiri tidak pernah berkesampatan untuk bisa dekat dengan Alvin. Dan apa lagi gadis tengil seperti Viona yang dekat dengan Alvin, begitu menyakiti penglihatanku.." Gerutu Jasmine dalam hati. Meski menyakitkan, namun ia selalu ingin melirik Alvin. Menatap penuh puja, laki-laki yang sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.


--


"Sudah selesai?" tanya Altur yang sedari tadi menunggu di mobil.


"Hem.." Jawab Assena di iringi anggukan.


"Sekarang kita kemana?" tanya Altur yang sudah menghidupkan mobil.


"Pulang saja.."


***

__ADS_1


Hai hai... Maaf yah akhir-akhir ini gak bisa up. Karena author kerja lembur pulang malem terus. Jadi gak ada waktu buat up.


Jangan lupa kasih dukungan yah dengan like, komen, rate 5 juga votenya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2