Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Apa yang lucu?


__ADS_3

Altur masih menatap wajah cantik Assena. Gadis yang tengah berdiri di bawah sinar matahari, terlihat wajahnya yang bercahaya nan rambut yang berkilau. Begitulah yang terlihat oleh Altur.


"Kenapa dia cantik sekali hari ini.. Eh tidak, dia memang selalu terlihat cantik setiap hari." Altur membatin mengulas senyum tipis dalam pandangannya yang tidak berkedip sekalipun.


Tetapi ada sesuatu yang teringat. Ia pun berdehem.


"Nanti malam nona Assena mau kemana?" tanyanya.


Karena berkaitan dengan rencananya bertemu dengan Jessy, maka ia harus memastikan Assena tidak memiliki kegiatan ke luar rumah. Karena jika begitu, Altur harus menemani Assena kemana pun kapan pun sesuai tugasnya.


Tentunya sebagai pengawal pribadi.


Assena yang mendengar itu pun melirik Altur, keningnya terlihat berkerut. "Kenapa kau bertanya seperti itu? bukankah kau tahu jika waktu malam aku tidak pernah kemana-mana." Jawabnya dengan merasa heran.


Altur sudah membuka mulut hendak menyaut.


"Tunggu..." Assena menyela dengan cepat sebelum Altur membuka suara. "Apa kau hendak menemui Jessy?" tanyanya.


Altur terperangah. "Bagaimana kau bisa tahu?" ia bertanya dengan heran.


"Apa kau lupa, kau pernah mengatakannya padakku." timpal Assena seraya memutar kedua bola matanya. Dengan tangannya masih sibuk menyemprot burung yang sudah basah kuyup itu.


Altur hendak menyauti lagi, tapi terurung tatkala melihat burung jenis Mountain bluebird itu terlihat basah kuyup. Seketika ia membulatkan kedua bola matanya. Bagaimana mungkin burung kesayangan tuannya kini terlihat diam di pojok sangkar karena sudab benar-benar basah karena Assena yang terus menerus menyemprotnya dengan air. Burung itu sudah tidak bergerak lincah lagi, karena bulu-bulunya sudah basah semua. Hanya bisa terpojok karena semprotan air masih terus menerjang burung malang itu.


Apa? kenapa? tidak mungkin juga dia memarahi anak dari tuannya itu bukan??


"Sudah hentikan! burungnya bisa mati jika terus menerus kau semprot." Altur merebut alat semprot itu dengan cepat. Tubuhnya terasa lemas dan bergetar. Ia takut burung yang harganya mahal itu akan mati.


Lalu jika mati, dia bisa dimarahi majikannya, juga jika harus mengganti rugi juga ia takan sanggup.


Lalu siapa yang harus di salahkan?


Melihat wajah cantik nan manis itu, aaa rasanya ia tak sanggup memarahinya.


"Maaf aku tidak tahu." Assena mengerucutkan bibirnya, karena memandikan burung sangat menyenangkan ini harus berakhir.


Altur segera membawa sangkar burung itu untuk berjemur di bawah terik matahari, agar cepat mengering sayap dan bulu-bulunya. Altur hanya menatap dengan was-was semoga burung itu tidak mati.


Mungkin jika hanya karena semprotan air saja burung itu tidak akan mati, tetapi Altur yang dilanda kecemasan yang berlebihan. Karena mengingat burung itu kesayangan tuan Arkan dengan harganya yang mahal.


"Jadi kau akan kencan dengan Jessy?" tanya Assena sesaat mereka duduk berdua sembari menunggu burung itu dijemur.

__ADS_1


Sebenarnya Altur merasa keberatan saat Assena menyebutnya adalah acara kencan. "Yaa.. Jika nona Assena mengizinkannya," jawab Altur.


Hahaha Assena malah tertawa, "Memang apa hakku melarang orang untuk berkencan?" Assena merasa begitu geli.


Altur mendengus. "Maksudku jika nona Assena tidak akan keluar rumah."


Masih terdengar tawa Assena. "Sekali pun aku harus ke luar rumah, aku akan pergi sendiri. Aku tidak akan mengganggu orang yang akan berkencan." Ia sembari menepuk bahu Altur dengan merasa lucu.


Altur semakin merasa sebal saja. Baginya kata 'kencan' itu terdengar seperti ledekan. Meski mungkin Assena tidak berniat meledeknya.


"Apa yang lucu? kenapa seolah dia sedang menertawakanku." Gumam Altur dalam hati sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal itu.


Apa? apa yang lucu? dimana letak lucunya?


"Pergilah! aku mengizinkanmu. Dan juga aku mengizinkan kau membawa mobil." Ucap Assena.


"Emm... Aku rasa tidak perlu membawa mobil..." Timpal Altur sedikit ragu.


"Kau meragukan jika izinku tidak berpengaruh begitu?" tanya Assena selidik.


"Bukan begitu... Aku takut tuan Arkan tidak mengizinkannya..." Jawab Altur sudah merasa serba salah.


"Bukan... Bukan..." Altur menggelengkan kepala di iringi tangannya yang terangkat memberi gerakan sebagai bantahan.


"Kalau begitu turuti saja!" Ucap Assena tegas tak mau dibantah.


Altur menghembuskan napasnya. "Kenapa hari ini dia begitu menyebalkan." Batinnya.


Altur pun tidak bisa membantah lagi, ia membungkam mulutnya untuk tidak bersuara. Ia takut menjadi serba salah lagi.


Lima belas menit sudah, Altur mengangkat sangkar burung yang tergantung itu. Sayap dan bulu-bulunya sudah terlihat mengering, juga burung itu sudah terlihat lincah bergerak. Altur pun menghembuskan napas lega.


Ia meletakan sangkar burung itu di bawah, hendak memberi makan pada burung itu.


Terlihat ia membawa wadah yang berisi makanan burung, ada beri dan kacang-kacangan.


Assena pun dengan antusias membantu memberi makan burung, terlihat tangannya terulur memberi beri pada burung yang berwarna biru dan abu-abu kusam itu.


--


Keluarga Jemmy hendak pulang. Saat sudah berada di depan rumah, saat Jemmy dan Iretta sibuk berpamitan dengan sang tuan rumah Arkan dan Evelin. Tidak sengaja Alvin mendengar suara Assena dengan samar. Ia pun mencari arah suara itu, dengan pergi ke halaman samping kiri rumah.

__ADS_1


Alvin tersenyum saat ia sudah mendapati Assena, ia pun melangkah mendekat. "Hei Assena..."


Assena melirik ke arah suara itu berasal, dan air mukanya mendadak berubah. Menandakan ketidak sukaan.


Ia pun tidak menyautinya, ia berpura-pura sibuk memberi makan burung.


"Nona dia memanggilmu..." Altur berucap mengingatkan.


"Aku tahu, aku tidak tuli.. Bisakah kau diam saja Altur..." Assena membatin dengan kesal.


Dan kini malah Assena melirik tajam Altur. Altur yang menyadari langsung menunduk saja.


Assena pun mau tidak mau memaksakan untu melirik Alvin. "Ada apa? ku kira kau sudah pulang." Cetus Assena dengan memasang wajah sedatar mungkin.


"Apa dia sedang mengusirku secara tidak langsung?" batin Alvin.


"Aku hanya ingin mengajakmu untuk sekedar minum kopi bersama." Ucap Alvin dengan mengulas senyum.


"Apa besok kau bersedia menemaniku?" sambungnya lagi dengan tidak menghilangkan senyumnya.


"Tidak, aku tidak ada waktu." Sanggah Assena dengan cepat.


"Kau yakin tidak mau??" Alvin memastikan dengan mengankat kedua alisnya.


"Aku sangat yakin." Jawab Assena menatap tajam Alvin.


"Sayang sekali yaa.. Tadinya aku mau berbagi cerita tentang Petter" Alvin berbicara dengan santai, karena ia tahu ini bisa memancing Assena.


Seketika tubuh Assena serasa membeku mendengar nama Petter. Bagaimana tidak, lelaki yang bernama Petter itu yang tengah ia tunggu-tunggu, yang berhasil membuatnya merindu. Juga yang berhasil pula membuat Assena di landa kegundahan hati karenanya.


"Jadi bagaimana?" tanya Alvin.


"Apa kau tidak sedang berbohong?" Assena menyuarakan pertanyaan dengan ragu.


"Tidak, aku tidak berbohong." Jawab Alvin seraya mengelengkan kepala.


Assena terdiam sejenak, ia nampak berfikir. Apa ia harus menemui Alvin untuk mencari tahu tentang Petter? begitu pikirnya.


"Baiklah, aku akan pergi. Beri tahu dimana dan jam berapa" Ucap Assena.


"Apa? sial.. Ternyata Petter begitu berpengaruh sekali. Lagi pula apa bagusnya bocah nakal itu di banding diriku yang tampan dengan sejuta pesona ini." Alvin membatin seraya menahan kesal.

__ADS_1


__ADS_2