
**
Mobil mewah yang di kemudikan pak Sur membawa Assena berhenti di parkiran di salah satu rumah sakit terbesar dan terbaik di kota ini.
"Mari nona bapak antar." Ucap pak Sur seusai membukakan pintu.
Assena membuntut di belakang, wajahnya masih terlihat akan kecemasan.
Meski Assena membenci ayahnya karena masa lalu. Tetapi bagaimana pun dia ayahnya, dan masih ada rasa sayang di atas kebenciannya.
Sampai di lantai tiga usai menaiki lift, tepat di depan pintu salah satu ruang perawatan VIP.
"Nona ini ruangan tuan" tunjuk pak sur tepat ke arah pintu.
"Terimakasih pak." Ucap Assena tersenyum.
"Kalau begitu bapak menunggu di bawah, jika perlu sesuatu panggil bapak." Ucap pak Sur seraya meninggalkan tempat tersebut.
Ketika Assena hendak membuka pintu, ia sedikit ragu.
Sudah memegang handle pintu tapi masih ragu untuk membukanya.
Perlahan dilihatnya kaca jendela disamping pintu, lalu mendekatkan wajah pada kaca jendela ada celah kaca yang tidak tertutup gorden.
Nampaklah didalam ruangan itu ayahnya sedang terbaring, disampingnya nampak juga ibu tirinya dan juga Isabella.
Terlihat di dalam ruangan itu mereka seperti sedang mengobrol, lalu tersenyum bersama dan saling memeluk satu sama lain.
"Lihatlah mereka seperti keluarga kecil yang sempurna, saling memeluk, bercanda bersama. Mereka keluarga kecil yang bahagia." Batin Assena seketika tatapannya berubah menjadi sendu.
"Isabella kau sungguh beruntung memiliki keluarga yang lengkap, sedang aku kehilangan ibuku karena orang tuamu. Ini tidak adil bagiku." Lirihnya menunduk, bola matanya sudah berkaca-kaca menahan bendungan air mata.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. "Assena." Ucap seorang pria.
Suara itu? ya, Assena mengenali suara itu.
Assena mendongkak menatap seseorang yang ia kenali dari suaranya.
__ADS_1
"Pa Paman Rey" ucapnya terbata seperti tak percaya orang yang ada di hadapannya.
Dia adik dari ayahnya, Paman Reyhan.
Kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca tatapan Assena yang sendu, itu lah yang pertama terlihat oleh Rey pada diri Assena.
Seketika Rey mencari sesuatu yang menjadi penyebab kesedihan keponakannya ini.
Rey lalu melihat sisi kaca jendela yang menampakan kebersamaan Arkan, Evelin dan Isabella.
"Jadi itu yang membuatnya sedih." Batin Rey seketika mengerti dan menunduk menatap Assena.
Seolah ikut merasakan kesedihan Assena, ia merengkuh memeluk Assena.
Assena hanya mematung.
"Paman merindukanmu. Apa kabarmu sayang?" Ucap Rey melepas pelukannya lalu memegang kedua bahu Assena.
"Aku baik Paman, bagaimana kabar Paman? Lalu dimana Yumna? Apa dia ikut?" Deretan ucap Assena tersenyum mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Yumna adalah anak Rey, sepupu Assena.
"Tapi apa kau tahu? Yumna akan kuliah disini bersamamu." Sambung Rey mengulas senyum.
"Benarkah itu paman?" Ucap Assena tersenyum lebar, matanya berbinar.
Ya, ini kabar bahagia bagi Assena. Kuliah bersama sepupunya itu akan menyenangkan.
"Benar sayang. Apa kau senang??"
"Tentu saja paman, aku menantikan kedatangan Yumna" Assena tersenyum bahagia.
Rey tersenyum mengusap pucuk kepala Assena.
Ceklek, pintu terbuka dari dalam.
Nampak Evelin terkejut dengan apa yang ada di balik pintu.
__ADS_1
"Rey, Assena kalian sudah di sini. Kenapa hanya diam di luar? Kenapa tidak masuk ke dalam?" Ucap Evelin tersenyum.
"Baru saja aku akan masuk, sudah terlebih dahulu kau membukakan pintu." Jawab Rey dengan wajah datar.
Ya, Rey tidak begitu menyukai Evelin.
**
Dulu
Karena kehadiran Evelin yang menghancurkan keluarga kakaknya (Arkan). Menyebabkan kematian kakak iparnya (Anna), dan mengubah Assena kecil yang ceria tumbuh jadi Assena yang pendiam dan dingin dalam kesedihan.
Itulah alasan Rey tidak menyukai Evelin.
Karena itu juga menyebabkan renggangnya hubungan Rey dan Arkan.
Rey kecewa atas kebodohan Arkan menyia-nyiakan Anna, yang menyebabkan Assena korban dalam rumah tangga yang hancur.
Meski Rey tahu Evelin bersikap baik pada Assena, tetapi tetap ia tidak menyukainya.
Dulu Rey beserta istrinya (Lusi) dan ananknya (Yumna) tinggal di kota ini.
Saat Rey harus menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri, lalu ia membawa keluarganya pindah ke luar negeri.
Saat Rey pindah ke luar negeri, itu saat tak lama meninggalnya Anna ibu dari Assena.
Saat itu ia begitu bersalah meninggalkan Assena yang baru berusia 10 tahun dalam duka kepergian ibunya.
Rey sudah mencoba membawa Assena untuk ikut serta, tapi Assena menolak karena ia tak mau jauh dari makam ibunya.
Saat itu Assena seusia dengan Yumna, mereka sangat dekat dan akrab.
**
Hingga tidak heran sekarang Assena yang sudah tumbuh dewasa begitu merindukan Yumna.
Bahkan setiap tahun Rey dan Yumna menyempatkan mengunjungi Assena. Hingga ada kesempatan Assena dan Yumna bersama seminggu setiap tahunnya.
__ADS_1
Waktu bersama Yumna itu cukup bagi Assena untuk melupakan kesedihannya.