
Setiap harinya di sekolah Petter tak henti terus menerus mendekati Assena, meski terkadang Assena di buat kesal karena ulahnya.
"Kenapa kau bisa dekat dengan si pembuat onar itu??" Tanya Jasmine yang duduk disebelah Assena di meja kantin.
"Aku tidak merasa dekat, dia yang selalu mendekatiku." Jawab Assena acuh. "Eh, apa maksudmu dengan menyebutnya si pembuat onar?"Tanya Assena penasaran.
Jasmine bersedekap diatas meja, menatap Assena dengan serius. "Dia itu sudah terkenal sebagai pembuat onar disekolah kita ini, masa kamu tidak tahu. Kamu terlalu cuek sih tidak mau tahu tentang apa yang ada disekitarmu." Kata Jasmin seoalah ia memberitahu Assena menjadi cuek itu tidak baik.
Assena tidak merespon ia hanya memainkan sedotan dalam gelas es teh miliknya.
"Tapi si pembuat onar itu sebenarnya tampan juga, hanya saja penampilannya selalu berantakan. Tidak pernah terlihat rapih, dia juga lucu dan konyol." Ucap Jasmine menyangga dagu dengan sebelah tangannya.
Lagi-lagi tidak ada tanggapan dari Assena, membuat Jasmine berdecak sebal.
"Hay!" Suara yang tidak asing itu, seketika Assena dan Jasmine menoleh.
Yaa dan benar itu dia Petter yang menjadi bahan perbincangan mereka.
"Kau panjang umur juga yah, baru saja Assena membicarakanmu." Ucap Jasmine nyengir kuda.
"Aw..." Rintih Jasmine yang langsung mendapat injakan pada kakinya.
Itulah sebagai pembantahan Assena yang menjadi bahan tuduhan Jasmine.
"Wah, pantas saja instingku menuntunku untuk kemari. Ternyata ada panggilan batin ternyata hehe. Ngomong-ngomong apa yang kalian bicarakan tentang diriku yang tampan ini?." Ucap Petter berbanggga diri dan antusias menunggu jawaban.
__ADS_1
"Sena bilang kau tampan, manis, imut dan menggemaskan. Kau tahu? sedari tadi dia menunggumu kedatanganmu." Ucap Jasmine sengaja memancing.
Untuk kedua kalinya diinjaklah kaki Jasmine dengan sukuat tenaga karena begitu merasa kesal.
"Mereka berdua sungguh menyebalkan." Gerutu Assena kesal.
"Benarkah? kenapa aku tidak percaya ya, karena setahuku Assena lebih suka memaki daripada memujiku." Kata Peter dengan tersenyum jenaka menatap Assena yang sudah terlihat kesal.
"Ah iya kau benar sekali." Jasmine tertawa diikuti Petter pun ikut tertawa.
"kalian berdua ini menyebalkan." Seru Assena beranjak pergi.
Jasmine dan Petter kembali tertawa lagi melihat Assena yang terlihat kesal dan mereka segera menyusul.
Assena hanya memutar bola matanya seraya bosan dengan tingkah keduanya.
Tak jauh dari mereka, sepasang mata memperhatikan keakraban mereka dan mengepalkan kedua tangannya seolah tak suka dengan apa yang dilihatnya.
Dia adalah Alvin.
**
Saat pulang, Petter melihat Assena berjalan bersama Jasmine.
Petter berniat mengajak Assena pulang bersama. Langkahnya terhenti kala melihat Alvin terlebih dahulu menghampiri Assena.
__ADS_1
"Apa kau mau pulang bersamaku, aku membawa mobil." Ucap Alvin dengan bangga.
Assena seketika terdiam. "Maaf aku sudah dijemput." Seketika berlalu melangkah pergi.
Tapi Jasmine nampak bingung, ia harus memihak pada siapa. Mengikuti Assena atau bertahan menemani Alvin.
Tapi apa dia mau bersama Jasmine? mengingat Alvin hanya mengajak Assena saja.
Karena Jasmine begitu mengidolakan Alvin. Sayang sekali pikirnya meninggalkan sang idola itu. Ia nampak jelas kebingungan menatap Assena yang sudah pergi dan menatap Alvin yang ada di dekatnya.
Ya sudahlah.
"Bye Alvin." Tangan jasmine melambai, ia lalu berjalan cepat menyusul Assena. "Assena tunggu aku".
Alvin hanya menatap punggung Assena yang semakin menjauh, ia geram ini kesekian kalinya Assena selalu menolaknya.
"Jadi dia juga sedang berusaha yah hem.." Gumam Petter menarik salh satu bibirnya keatas.
**
"Silahkan nona!" Pak Sur membukakan pintu. Assena mengangguk tersenyum kecil.
Entah kenapa pak Sur merasa nona mudanya ini sedikit berbeda, tidak seacuh dulu. Sering tersenyum dan terlihat sedikit ceria.
Pak Sur pun tersenyum sesekali melirik Assena dibalik kaca spion.
__ADS_1