
Cukup lama Assena dan Petter duduk berdua di taman. Sampai coklat panas di gelas mereka masing-masing kini telah habis.
Tanpa ada percakapan, hanya Petter sesekali berbicara sepatah dua patah kata untuk memecah kecanggungan di antara mereka. Assena hanya menanggapi dengan sedikit lirikan atau anggukan kecil. Assena merasa benar-benar canggung.
Petter pun yang biasanya banyak bicara, entahlah malam ini yang hanya berdua seperti ini lidahnya terasa begitu kelu. Ia lebih suka memandang wajah Assena dalam diam.
Sementara keramaian masih terdengar dan dentuman musik juga terdengar.
Saat dirasa tidak tahu harus melakukan apa, dengan tangan masing-masing masih memegang gelas kosong. Tiba-tiba perhatian mereka teralih ke atas langit tatkala terlihat kembang api melambung tinggi lalu memecah di atas sana. Terdengar letupan lalu cahayanya terlihat menyebar ke segala arah.
"Itu indah bukan?" Ucap Petter yang tadinya menatap langit kini tersenyum menatap Assena.
Assena yang mendengar itu, mengalihkan pandangannya kepada Petter lalu mengangguk tersenyum.
"Tapi ku pikir bukan hanya kembang api yang membuat malam ini indah." Ucap Petter masih menatap Assena.
Assena yang membalas tatapan itu kini mengerutkan dahi. "Lalu apa?" Tanyanya bingung.
"Karena malam ini melihat kembang api bersamamu, kebersamaan ini yang terasa indah bagiku." Petter tersenyum masih menatap lekat gadis dihadapannya.
Deg, mulai lagi. Mendengar setiap kata yang baru saja keluar dari bibir Petter membuat degup jantung Assena kembali meronta-ronta seperti mau keluar dari tempatnya.
Apa itu sebenarnya? apa Petter sedang mencoba bergurau?
Kini Assena membeku menatap Petter mencoba mencerna setiap perkataan Petter.
Hahaha malah terdengan tawa, ya Assena yang malah tertawa.
"Kau ini bicara apa? Kau mau mencoba merayu ku yah!" Ucap Assena masih menampakan tawanya. Ia hanya mencoba membantah untuk tidak terbawa perasaan dengan apa yang di katakan Petter. Ia hanya merasa takut kalau-kalau Petter memang hanya sedang bercanda saja.
Tapi ngomong-ngomong ini kali pertama Petter melihat Assena tertawa.
Sekarang malah Petter yang terdiam melihat tanggapan Assena yang menganggapnya sedang merayu.
"Kenapa diam?" Tanya Assena mengerutkan dahi.
"Jika sebenarnya aku tidak sedang merayumu dan aku malah sedang berbicara tentang kenyataan, bagaimana??"
Deg, dan lagi. Membuat Assena membeku seketika membalas tatapan Petter.
Dan kini kedua bola mata mereka saling bertemu dan mengunci.
Sebenarnya apa maksudnya?? aaa berhentilah mengatakan sesuatu yang membuat Assena harus bergelut dengan detak jantungnya sendiri.
Lama tatapan mereka mengunci satu sama lain, Petter perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Assena.
Ya tuhan, apa yang akan Petter lakukan?
Semakin dekat dan dekat, kini jarak wajah Petter dengan wajahnya Assena begitu tipis.
Assena membulatkan kedua matanya, apa sebenarnya yang akan di lakukan Petter terhadapnya?. Ada sesuatu yang terlintas di benaknya, tapi benarkah itu yang akan dilakukan Petter?
__ADS_1
Aaa dia harus bagaimana?
Jika bisa terdengar, mungkin kini degub jantung mereka saling bersahutan.
Bibir Petter dan bibir Assena sedikit lagi akan bertemu. Tapi tiba-tiba letupan kembang api terdengar begitu mengejutkan mereka berdua. Petter langsung terkesiap menarik kepalanya yang sudah mencondong ke arah wajah Assena itu.
Petter begitu malu, apa yang sebenarnya ia pikirkan??. Hampir saja ia melakukan itu.
Assena pun tak kalah merasa malu atas kedekatan mereka yang baru saja terjadi.
Untung saja itu tidak terjadi, itu lebih baik bukan? dari pada harus merasa lebih malu dari ini.
Kini kecanggungan seolah semakin membentang diantara mereka berdua.
"Ah lihat kembang apinya ada lagi, indah yah!" Ucap Petter berbasa-basi seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
Assena tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, ia hanya mencoba sedikit memaksakan senyumdengan telapak tangan mengusap tengkuknya.
"Emm, ku rasa aku harus pulang, ini sudah malam." Ucap Assena ingin segera lari dari kecanggungan ini.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai depan." Petter mencoba mencairkan suasana.
"Ya, aku akan mencari Jasmine dulu. Aku akan berpamitan terlibih dahulu padanya." Ucap Assena seraya bangkit berdiri dari duduknya.
Disusul Petter ikut berdiri "ayo aku antar".
"Apa kau tidak akan pulang juga?" Tanya Assena yang kini sudah melangkah bersama beriringan.
"Oh ya sudah, ini ku kembalikan padamu" Assena seraya menyodorkan mantel yang ia lepas yang sedari menempel di punggungnya.
"Tidak apa-apa. Pakai saja!" Tolak Petter seraya mendorong kembali tangan Assena yang sudah tersodor.
"Tidak, aku sudah tidak kedinginan lagi." Assena berkata sedikit memaksa Petter untuk menerima kembali mantelnya.
Tidak ada pilihan, Petter menerima mantel itu. Dan menyampaikannya di lengan kirinya.
Mereka terus melangkah kembali ke tempat di mana keramaian itu tercipta. Masih terlihat para tamu masih berkumpul-kumpul ria. Terdengar obrolan dan tawa disetiap kumpulan orang-orang tersebut. Diantaranya ada yang sedang menikmati hidangan juga.
Mata Assena kini menyapu sekitar, mencari sosok Jasmine di antara kerumunan orang-orang.
Sementara Petter membantu mencari, ia dan Assena berpencar untuk mencari Jasmine.
Assena terus berjalan memasuki keramaian, pandangan matanya terlihat masih menyapu ke segala arah. Ia berjalan ditepi kolam renang, terkadang sekumpulan orang menghalangi jalannya, membuat ia harus hati-hati melangkah takut terjatuh kedalam kolam.
Tak jauh, sepasang mata menangkap sosok Assena yang sedang bejalan di tepi kolam. Pemilik mata itu adalah Viona. Dengan tangan memegang segelas minuman, senyumnya terlihat mengembang. Tatapan matanya masih menatap tajam lurus ke arah Assena. Seolah Assena adalah mangsa baginya. Ia meneguk minumannya, dan meletakan diatas meja lalu melangkah ke arah Assena untuk mendekat.
Assena masih dengan kebingungan mencari keberdaan Jasmine, kini langkahnya terhenti ia mengeluarkan ponsel dari tas kecil miliknya. Ia hendak menghubungi Jasmine. Saat ia sibuk menunduk dengan ponselnya, tiba-tiba seseorang dari belakang mendorongngnya. Byuurrr Assena jatuh ke dalam kolam.
Pandangan semua orang langsung menuju kolam renang.
"Siapa itu?"
__ADS_1
"Siapa itu?"
Hanya itu yang terdengar, tapi tak ada yang hendak menolong.
Assena yang tercebur ke dalam kolam renang berkedalam dua meter itu, ia tidak bisa berenang. Terlihat ia kesulitan hanya sekedar menimbulkan wajahnya ke permukaan. Ia hendak minta tolong tapi mulutnya sudah penuh terisi air.
Petter yang mendengar ada seseorang telah jatuh ke dalam kolam renang. Bergegas lari dan ketika ia mengenali tubuh dengan gaun berwarna baby pink yang tengah bergerak-gerak ditengah kolam sana. "Assena" ucapnya tanpa suara.
Tanpa pikir panjang ia langsung melempar mantel yang ia bawa itu kesembarang arah. Byuurrr Ia terjun masuk ke dalam kolam untuk menyelamatkan Assena. Ia berenang dengan cepat untuk sampai lebih cepat menggapai tubuh Assena. Setelah tubuh yang sudah lemas itu ia dapati, langsung membawanya ke tepi, dan membawanya ke atas.
Dengan panik, Petter terus menggoyang-goyangkan tubuh Assena untuk meminta kesadaran Assena yang sudah hilang. "Hey Assena cepatlah sadar" teriaknya begitu panik. Di tekan-tekannya perut Assena. Uhuk uhuk Assena terbatuk dengan banyaknya air yang keluar dari mulutnya.
"Syukurlah." Petter sedikit lega dengan memeluk tubuh yang basah kuyup itu. "Apa kau tidak apa-apa?" Ucap Petter menundukkan wajahnya memperhatikan wajah Assena yang ada di pangkuannya. Dengan masih menampakan kekhawatiran di wajahnya.
Assena yang masih merasa lemas, mencoba untuk duduk. "A-aku sudah tidak apa-apa, te terima kasih telah menyelamatkanku Petter." Ucapnya terbata, dengar bibir bergetar karena kedinginan.
Petter mencoba membantu Assena untuk duduk. "Itu bukan apa-apa, yang penting kau baik-baik saja." Ucap Petter tersenyum lega.
"Tunggu sebentar!" Petter berdiri ia mencari-cari mantel yang ia lempar tadi. Ia memungutinya saat terlihat di dekat bawah meja.
Lalu memakaikannya ditubuh Assena.
Seketika Assena hanya lampu menatap wajah Petter yang sedang melekatkan mantel ditubuhnya.
Lalu seseorang dengan berteriak heboh menerobos kerumunan orang-orang yang mengelilingi Assena dan Petter.
"Astaga Assena kau tidak apa-apa??" Ia Jasmine berhambur memeluk Assena dengan cemas.
"Bagaimana kau bisa jatuh ke dalam kolam?" Kini Jasmine menghadapkan tubuhnya dengan tubuh Assena. Memegang bahu sahabatnya dengan khawatir. "Aku mencemaskanmu saat tahu kau jatuh ke dalam sana." Kini kedua bola mata Jasmine sudah mulai berkaca-kaca dan kembali memeluk Assena. Sebegitunya ia mengkhawatirkan Assena
Assena hanya tersenyum. "Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku".
Dengan cepat melapaskan pelukannya. "Bagaimana aku tidak menghawatirkan sahabatku sendir.i" Jasmine menatap wajah Assena dengan sendu.
"Sekarang sudah tidak apa-apa, aku hanya ingin pulang." Ucap Assena melirik sekelilingnya sudah mulai menyadari semua orang sedang mengerubunginya.
"Apa kau tidak mau mengganti bajumu dulu?" TanyaPetter masih menatap iba Assena.
"Tidak, aku hanya ingin pulang." Jawabnya cepat.
"Baiklah."
Kini Jasmine dan Petter membantu Assena untuk berdiri, dan membawa pergi dari tempat itu.
Semua orang masih menatap kepergian Assena, dan terdengar pula mereka membicarakan atas kejadian yang tidak terduga itu.
Setelah kepergian Assena dengan kejadian yang mengejutkan itu. Seseorang tengah berdiri dengan menatap lurus ke arah dimana Assena pergi hingga sudah tidak terlihat lagi. Tatapannya begitu kosong, lalu tertunduk sendu.
Dia adalah Alvin. Sebenarnya saat ia mengetahui Assena yang terjatuh ke dalam kolam tadi, ia hendak menyelamatkan Assena. Tapi ternyata ia kalah cepat dengan Petter.
Ia hanya mampu diam mematung menyaksikan bagaimana ia selalu kalah dari Petter untuk mendapatkan Assena.
__ADS_1