
"Maafkan aku Altur.." Ucap Jessy menunduk.
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Altur penuh selidik
"Sebenarnya..." Jessy menggantungkan ucapannya, menyempatkan untuk melirik Altur.
Sedang Altur menatap tajam Jessy, ia menunggu kelanjutan apa yang akan gadis itu katakan.
"Sebenarnya a-aku dan kakakku yang merencanakan pertemuan kita untuk menjebakmu.." Sambung Jessy, kini ia benar-benar menunduk dengan menggigit bibir bawahnya. Ia tidak berani menatap pemuda yang ada di depannya, yang mungkin kini ekspresi wajahnya telah berubah.
Jelas saja ada keterkejutan dan kekecewaan bercampur menjadi satu dalam tatapan yang menajam ke arah Jessy yang masih menunduk.
Jessy memberanikan diri mengangkat wajahnya, terlihat jelas di kedua bola matanya ada bayangan Altur yang terlihat kecewa. Sebelum melihat wajah kekecewaan itu berlanjut, Jessy mencoba untuk menjelaskan.
"Tapi.. Tapi itu rencana awal dulu, kini aku menyesal Altur.. Aku sungguh menyesal." Ucap Jessy sembari mengatupkan kedua tangannya.
Altur membuang muka, "Jadi kau sengaja mendekati Assena untuk berpura-pura menjadi teman? lalu meminta nomor ponselku? lalu mendekatiku? menghubungiku? sampai sengaja mengajak bertemu. Dan itu semua adalah rencana licikmu dengan kakakmu?." Ucap Altur dengan tersenyum kecut. Menatap ke sembarang arah, itu lebih baik dari pada harus menatap wajah Jessy hanya menambah kekecewaan saja.
"Tapi itu dulu, sekarang aku menyesal dan aku ingin berteman dengan sungguh-sungguh." Sela Jessy dengan cepat, ia benar-benar berharap Altur memaafkan dan menerimannya.
"Ku pikir kau tulus berteman denganku, ternyata aku salah menilaimu. Aku terlalu bodoh percaya pada gadis bertopeng sepertimu." Ucap Altur.
Deg bagai belati tak kasat mata berhasil menusuk hati. Rasanya sakit saat pemuda itu mengatakan yang memang adalah sebuah kenyataan. Tapi rasanya terlalu sulit untuk menerima perlakuan Altur yang semula baik padanya kini berbalik 180°. Kedua mata jessy terlihat mengkilat terlapisi cairang bening yang membendung. Kini dia menyadari kesalahan dan kebodohannya.
"Ku mohon maafkan aku.." Ucap Jessy dengan gemetar, sekuat mungkin ia menahan agar tidak menangis.
Dengan terungkap semuanya itu, bagai kejutan tak terduga. Hingga untuk saat ini apa pun yang di ucapkan Jessy, bagaiman pun gadis itu mencoba meminta maaf, rasanya itu tidak bisa menghapus kekecewaan yang terlanjur merasuk.
"Aku harus pergi." Ucap Altur dengan dinginnya, ia beranjak turun dari tempat tidur.
Ia berdiri di depan Jessy, menatap untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkahkan kaki.
"Terimakasih untuk tumpangan menginapnya." Lelaki itu terus melangkah meninggalkan ruang kamar.
Jessy hanya terdiam, meneteskan cairan bening menyaksikan Altur pergi.
__ADS_1
Seketika ia tersadar, setidaknya ia masih bisa berusaha. Ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu dengan langkah cepat ia hendak menyusul Altur.
Terlihat Altur, sudah mencapai pintu mobil hendak menariknya.
"Tunggu!"
Suara Jessy berhasil membuat Altur menghentikan gerakan menarik pintu mobil tersebut, hingga kini ia terdiam enggan untuk menoleh, tapi tetap menunggu apa yang akan Jessy katakan.
"Apa kita masih bisa berteman?" tanya Jessy, ia berdiri di belakang Altur.
Seketika Altur memejamkan mata dan membuang napas secara bersamaan. Sungguh ia tidak suka keadaan seperti ini. Satu sisi ia terlanjur kecewa, satu sisi ia iba mendengar Jessy memohon seperti itu.
"Lupakan!" Lalu ia menarik pintu mobil dan masuk. Ia menghidupkan mobil, hingga terdengar suara deru mesin mobil. Sebelum melajukannya, Altur melirik Jessy dari balik kaca mobil yang gelap. Terlihat gadis itu masih berdiri menatap ke arah kursi kemudi. Meski kaca mobil yang gelap, tapi masih terlihat pandang mata mereka saling bertemu. Altur memutus pandangan mata itu dengan melajukan mobil tanpa menoleh lagi ke belakang.
Baru saja mobil yang di kemudikan Altur keluar dari gerbang.
Mobil melaju pelan, ia melirik ponselnya yang ternyata tertinggal di dalam mobil. Lalu tangannya terulur mengambil benda pipih tersebut. Saat layarnya menyala, betapa terkejutnya dia ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibunya dan juga Assena.
"Pasti ibu mengkhawatirkanku, dan juga nona Assena pasti mencariku." Ucapnya, kini ia memilih untuk membawa mobilnya menepi.
Di tempat lain.
"Kita akan kemana lagi?" tanya Yumna, sembari menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia begitu lelah berkeliling untuk mencari Altur.
"Entahlah aku bingung.." timpal Assena. Ia menyandarkan kepalanya, sementara pikirannya begitu kalut.
Tiba-tiba ponsel Assena berdering, dengan malas ia mengambil ponselnya.
Saat mendapati nama pemanggil yang tertera, Assena terkejut dengan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Ya tuhan, ini Altur." Ucapnya antusias, sembari menunjukan layar ponselnya pada Yumna. Kemudian dengan cepat ia menggeser ikon berwarna hijau.
"Hallo.." Suara Altur terdengar dari dalam ponsel.
"Altur? apa benar ini kau Altur??" tanya Assena tidak percaya.
__ADS_1
Assena sengaja menloudspeaker karena Yumna juga tak kalah ingin tahu.
"Iya ini aku.."
"Kau kemana saja? aku menarimu sedari tadi." Ucap Assena kini terdengar nada mengomel.
"Nanti aku ceritakan, sekarang aku di jalan hendak pulang."
"Di jalan mana? aku juga ada di jalan bersama Yumna."
Dan setelah percakapan lewat telepon itu usai, mereka berencana untuk bertemu.
Mobil yang di tumpangi Assena dan Yumna terparkir di lahan yang cukup luas di pinggir jalan. Tempat ini adalah tempat yang di janjikan mereka akan bertemu dengan Altur.
Mereka masih duduk di dalam mobil sambil menunggu Altur datang. Tak lama, mobil yang membawa Altur pun sampai. Assena dan Yumna langsung turun dari mobil, menghampiri Altur yang juga baru saja turun.
"Kau dari mana? apa yang terjadi?" Rentetan pertanyaan di lontarkan oleh Assena.
"Astaga, kenapa wajahmu?" Ucap Assena lagi, tatapannya menyelidiki keadaan pemuda itu.
"Ceritanya panjang." Jawab Altur. Kini ia mempimpin membawa langkah kakinya, yang di ikuti oleh dua gadis di belakangnya. Lalu mendudukan tubuhnya di atas tanah di samping dua mobil mereka yang terparkir.
Dengan posisi duduk dengan kedua kakinya di tekuk, kini Altur meletakan kedua tangan di atas lututnya. Juga di sampingnya Assena dan Yumna ikut duduk, sepertinya kedua gadis itu sangat siap mendengarkan cerita dari Altur.
Altur pun menceritakan semuanya, dari awal ia menemui Jessy di cafe, sampai berkelahi menyelamatakan Jessy, lalu sampai ia mengantarkan hadis itu ke rumahnya, juga sampai peristiwa pemukulan yang menyebabkan dirinya tak sadarkan diri. Lalu berlanjut sampai dimana poin pentingnya, yaitu terungkap rencana Jessy yang sebenarnya.
Assena dan Yumna nampak terkejut. Meski mereka sudah menduga hal ini, tapi ini benar-benar kejutan bagi mereka.
"Ku kira dia gadis yang baik, ternyata aku salah menilainya." Ucap Assena. Kini ia merasa sama kecewanya seperti Altur. jujur saja, ia yang sudah menganggap Jessy sebagai teman begitu sedih karena mengetahui gadis itu tidak tulus berteman dengannya.
"Kau benar, ku kira dia berbeda dengan Rolan. Tapi nyatanya kakak beradik itu sama saja." Yumna ikut menimpal.
"Aku juga menyesal telah mendukung hubunganmu dengan Jessy. Maafkan aku Altur ini semua salahku. Andai saja waktu itu aku tidak dengan mudah memberikan nomor ponselmu pada Jessy, mungkin kau tidak akan mengalami ini.." Ucap Assena ia melirik Altur.
"Ini bukan salahmu, jadi jangan berbicara seperti itu. Setidaknya kita tahu siapa Jessy sebenarnya." Ucap Altur yang juga melirik Assena.
__ADS_1