
**
Setelah acara pertemuan dengan banyak kejutan. Setelah pertemuan dengan Petter pada acara malam itu.
Selama tiga hari Assena tidak melihat Petter di sekolah. Kabarnya selama tiga hari itu Petter tidak masuk sekolah.
Assena bertanya-tanya kenapa Petter tidak masuk sekolah. Ia yang terbiasa dengan kehadiran Petter merasa ada yang hilang.
**
Malam ini, Assena duduk bersandar dengan kaki berselonjor diatas ranjangnya. Ia sibuk dengan buku ditangannya, satu per satu lembar buku ia baca. Tapi nyatanya ia tak sefokus itu, ada sesuatu mengganjal dihatinya. Maka dengan sesekali ia menutup buku itu, lalu menghela napas. Seperti ada sesuatu yang menggagu. Ada nama Petter yang terlintas dibenaknya.
Benarkah ini tentang Petter?? entahlah.
Assena sudah bosan dengan buku itu, ia tidak berminat lagi untuk terus membaca. Karena tujuan ia membaca buku itu untuk menghilangkan kegundahan hatinya, tapi kenyataannya kegundahan hati lebih menguasai hingga membaca buku pun tidak ada gunanya.
Apa yang sebenarnya ia pikirkan, ia pun merasa heran ada apa dengan dirinya? ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Tapi apa? Assena pun tidak bisa mengartikannya. Hanya saja nama Petter sering kali terlintas di benaknya. Apa ini tentang Petter? Entahlah dirinya sendiri menyangkal akan hal itu.
Ketika Assena hendak turun dari ranjang untuk menyimpan buku. Tiba- tiba ponselnya berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk.
Seketika ia urungkan niatnya, ia menoleh pada arah suara itu, terlihat layar ponselnya itu menyala. Ia meraih benda pipih itu yang sedari tadi tergeletak di atas ranjang di sampingnya.
Dahinya mengkerut tatkala ada pesan masuk dari nomor ponsel yang tidak ia kenal.
"Hai Assena, apa kau sudah tidur?" begitu isi pesannya.
Assena mengetik untuk membalas, hendak menanyakan siapa yang telah mengirim pesan padanya.
Baru saja beberapa huruf yang terketik, sudah ada lagi pesan baru yang masuk. Seketika ia menghapus kembali huruf-huruf yang sudah diketik, lalu membuka pesan yang baru saja masuk itu.
Ternyata pesan itu dari nomor yang sama.
"Ini aku Petter, maaf telah menghubungimu. Aku mendapatkan nomor ponselmu dari Jasmine, apa tidak apa-apa jika aku menghubungimu?" isi pesan itu.
Seketika, seulas senyum terbentuk dibibir mungilnya. Ada rasa lega dan rasa senang mengetahui bahwa Petter menghubunginya.
Assena: Tidak apa, ada apa menghubungiku?
Petter: Besok hari minggu, apa kau hendak mengunjungi makam ibumu?
__ADS_1
Assena: Sepertinya begitu.
Petter: Aku ingin mengajakmu mengunjungi bersama-sama. Apa kau mau jika pergi bersamaku?
Petter: Maksudku, kita pergi bersama dan aku akan menjemputmu. Bagaimana apa kau mau?
Butuh waktu lama untuk Assena mencerna isi pesan yang terakhir itu. Ia nampak berpikir dan bingung harus menjawab apa.
Assena: Entahlah, aku akan meminta izin terlebih dahulu pada ayahku.
Petter: Baiklah, kabari aku jika kau bersedia pergi bersamaku.
Setelah mengakhiri percakapannya lewat pesan singkat, Assena meletakan ponselnya diatas meja yang berada di samping ranjangnnya. Lalu mematikan lampu.
Ia berbaring, menatap langit-langit kamarnya. Dengan cahaya remang masih bisa terlihat bahwa Assena tengah tersenyum. Ia tidak menyangka Petter menghubunginya dan mengajaknya pergi bersama untuk mengunjungi makam ibunya. Dengan adanya kabar dari Petter, entah kenapa kegundahan hatinya hilang sudah, berganti dengan rasa bahagia dan rasa lega menyelimuti hatinya.
Meski Assena belum bisa mengartikan perasaannya saat ini, tapi ia yakini bahwa ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini.
**
Keesokan paginya, Assena bangun pagi dihari minggu ini, ia nampak bersemangat sekali.
Ketika ia meyampaikan maksudnya untuk meminta izin pada Arkan bahwa ia akan pergi mengunjungi makam ibunya bersama Petter, dan untuk pertama kalinya tanpa di antar pak Sur.
Setelah mendapat izin, Assena langsung mengirim pesan bahwa ia bersedia untuk pergi bersama Petter.
Usai sarapan, Assena kembali ke kamar. Ia duduk disofa yang ada di balkon kamarnya. Ia sedang menunggu Petter datang menjemputnya. Ia sengaja menunggu di balkon karena dengan sangat mudah bisa melihat kedatangan Petter dari atas sana.
Tak lama yang di nanti akhirnya terlihat juga, nampak Petter dengan motor sportnya yang berwarna merah memasuki gerbang da melaju ke halaman depan rumah Assena.
Assena yang melihat Petter bergegas turun, bersemangat menuruni satu persatu anak tangga.
Sampai didepan, Assena sedikit terkejut karena sudah ada Arkan dan Evelin yang tengah menyapa Petter.
Saat Petter melihat Assena datang, ia menatap Assena dan tersenyum.
"Apa kita pergi sekarang?" tanya Petter masih menatap Assena.
Assena hanya mengangguk.
__ADS_1
"Apa nak Petter tidak mampir dulu sebentar kedalam?" ucap Evelin seraya tersenyum.
"Maunya sih seperti itu bibi, tapi kami akan pergi sekarang." Ucap Petter tersenyum.
"Baiklah, lain waktu saja. pergilah dan hati-hati!" ucap Evelin.
"kami pamit pergi paman, bibi." Pamit Petter.
"Hati-hati nak Petter, titip putri paman ya!" ucap Arkan tersenyum.
"Siap paman, dengan senang hati." Ucap Petter dengan senyum lebarnya.
Setelah Assena dan Petter berpamitan, motor yang membawa mereka kini sudah melaju keluar dari area rumah Assena.
**
Diperjalanan tidak ada percakapan antara Assena dan Petter, mereka diam saling membisu.
Ini kali pertamanya Assena menaiki motor, ia merasakan sensasi yang berbeda. Terasa angin menampar wajahnya seiring laju motor semakin cepat. Sesekali Petter dengan sengaja menambah kecepatan laju motornya, yang membuat Assena begitu erat berpegangan pada jaket jeans yang di pakai Petter. Semakin erat pegangan Assena pada jaket Jeansnya semakin membuat Petter tersenyum dibalik helm berwarna merah yang menutupi sebagian wajahnya itu.
"Kalau kau takut jatuh, peluk saja aku. Tidak apa-apa." Ucap Petter sengaja memancing.
Meski tidak terlalu jelas karena memakai helm dan suara bising motor, Assena masih bisa mendengarnya. Ia malah terdiam, ia tidak seberani itu jika harus memeluk laki-laki.
Petter yang sudah bisa menebak bahwa Assena tidak akan berani memeluknya, kini melajukan motornya dengan lebih cepat lagi.
Assena yang sudah benar-benar merasa takut terjatuh dengan refleks langsung memeluk.
Petter yang merasakan pelukan itu pun tersenyum.
Seolah tersadar telah memeluk Petter, dengan cepat Assena melepaskan pelukannya.
Bugh, satu pukulan mendarat dibahu Petter. "Bisakah kau mengurangi kecepatannya! Kau mau membuatku mati karena ketakutan." Seru Assena berteriak sedikit kesal.
Petter yang mendapat pukulan itu, tersenyum geli. Lalu ia menuruti perkataan Assena dengan sedikit mengurangi kecepatannyan.
"Memangnya apa yang kau takutkan?" goda Petter.
"Aku takut terjatuh."
__ADS_1
"Sudah ku bilang kau bisa memelukku jika kau takut terjatuh."
Bugh, satu pukulan lagi di bahu Petter, "Kau sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan." Cibir Assena.