
Assena menghela napas dalam, sebelum ia memulai untuk bercerita. "Sebelumnya aku mau bertanya. Apa seorang laki-laki mengucapkan janji, apa ia akan menepatinya?."
Seketika Altur menatap gadis yang telah melontarkan perkataan yang mengejutkan itu. Kedua alis Altur terlihat jelas berkerut, mengekspresikan keheranan. Berbagai pertanyaan langsung bermunculan di benaknya, hatinya mulai menerka-nerka mencari arti dari kata yang ia dengar barusan. Apa maksudnya? apa ada laki-laki yang telah menjanjikan sesuatu? atau... Entahlah.
"Apa maksudmu? apa ada laki-laki yang kau maksud telah menjanjikan sesuatu padamu?" Altur tidak tahan untuk bertanya.
"Jawab saja Altur!" Assena menegaskan tidak mau meneriman pertanyaan, hanya meminta jawaban atas pertanyaannya.
Sejenak Altur terdiam, hening membentang di antara mereka berdua. Ia berpikir untuk memberikan jawaban.
"Aku hanya bisa menjawab menurut pandangan dan pemikiranku saja" Altur memberi jeda.
"Jika seseorang telah berjanji. Ada kemungkinan untuk menepati janjinya, juga tidak dapat dipungkiri bisa saja mengingkari. Bisa karena ada alasan, atau juga dengan sengaja mengingkari dan tidak mau berusaha untuk menepatinya." Sejenak Altur melirik Assena memastikan bagaimana ekspresi wajahnya.
Nampak Assena masih setia mendengarkan, lantas ia juga melirik Altur kala Altur belum melanjutkan perkataannya. Jelas sekali di wajah Assena ketidak sabaran menunggu Altur melanjutkan perkataannya.
"Seseorang akan menepati janjinya jika ia memang bersungguh-sungguh saat mengucapkan janji, maka ia juga akan bersungguh-sungguh menepati janjinya. Meskipun tidak mudah, tapi jika memang bersungguh-sungguh bagaimana pun ia pasti berusaha. Tapi sebaliknya jika mengucapkan janji hanya bualan semata, atau hanya untuk membodohi saja. Mungkin itu akan menjadi omong kosong belaka, tidak pasti untuk di tepati" Sambung Altur panjang lebar.
Assena nampak terdiam, seketika kebimbangan dan keraguan merayapi hatinya. "Apa Petter bersungguh-sungguh saat berjanji akan kembali? atau hanya....." Assena membatin.
Perubahan ekspresi wajah Assena juga di sadari oleh Altur.
"Ada apa?" Altur bertanya untuk memastikan.
"Tidak Ada apa-apa" Assena membuang muka.
Altur tahu ada yang disembunyikan oleh gadis cantik di hadapannya ini. "Jika kau mau berbagi, ceritakan saja!. Aku siap mendengarkannya. Tapi jika kau tidak mau menceritakannya tidak apa-apa, aku tidak akan memaksan." Altur memasang senyumnya.
Assena hanya terdiam, pandangannya kosong menatap lurus jauh ke depan sana.
Hening..
Hening..
"Yasudah tidak apa-apa." Altur berucap saat dirasa Assena benar-benar membungkam.
Assena menarik napas perlahan, memejamkan mata sejenak. Lalu membuka mata, jauh kedepan sana masih menjadi arah tatapan matanya. "Aku sedang menunggu seseorang," lirihnya tanpa menoleh pada Altur.
"Seseoranga? siapa?". Dengan cepat Altur menyahut.
__ADS_1
"Dia teman SMA ku, sekarang dia di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya."
"Apa dia kekasihmu?".
Pertanyaan yang di lontarkan Altur, membuat Assena menoleh. "Entahlah aku juga tidak tahu jelas bagaimana hubunganku dengannya. Setelah ia mengungkapkan perasaannya padaku, lalu ia berjanji akan kembali dengan perasamaan yang sama.
Dan dia bertanya kepadaku apakah aku akan menunggunya sampai dia kembali, aku mengatakan bahwa aku juga akan menunggunya."
"Lalu??" Altur menyela.
"Sehari setelah itu, dia benar-benar menghilang. Dan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Sampai aku mendengar kabar dari saudaranya bahwa dia telah pergi ke luar negeri." Seketika Assena menunduk, sungguh ini begitu menyesakan kala ia harus mengingat bahwa Petter telah pergi.
Altur mengetahui bagaimana perasaan Assena saat ini. Tangannya terulur mengusap bahu Assena. "Tenang saja, jika ia bersungguh-sungguh dengan janjinya maka dia akan kembali untukmu." Altur tersenyum mencoba menyemangati.
Assena menoleh menatap wajah Altur, lalu ia pun tersenyum.
***
Sudah seminggu ini, Jessy sering menyapa Assena dan Altur, juga hampir setiap hari menyempatkan waktu untuk sekedar ke kantin bersama.
Bahkan Jasmine dan Yumna juga sudah mengenal Jessy karena seringnya gadis itu ikut berkumpul bersama.
"Assena tunggu!" Suara Jessy terdengar dari kejauhan.
Terlihat gadis itu berjalan cepat untuk segera menhampiri Assena.
"Ada apa Jessy?" tanya Assena kala Jessy sudah ada di depannya.
"Aku ingin bicara berdua denganmu." Jessy setengah berbisik lalu melirik Altur yang sedang bersandar di samping mobil.
Seketika Jessy menarik tangan Assena untuk menjauh dari Altur.
Dari jauh Altur terlihat memperhatikan dua gadis yang sedang berbicara itu. "Apa yang mereka bicarakan? sampai aku tidak boleh mendengarnya." Lirihnya. Ada sedikit rasa penasaran, tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa ikut nimbrung.
"Ada apa?" tanya Assena tidak sabar untuk bertanya, karena rasa penasaran sudah memenuhi isi kepalanya.
"Emm.. Begini.." Jessy nampak ragu, sesekali ia melirik Altur yang berada jauh, yang masih sama dengan posisinya.
"A-anu... Apa aku boleh meminta nomor ponsel Altur?" Jessy dengan sedikit malu-malu.
__ADS_1
Seketika Assena tersenyum geli mendengar itu. "Jadi untuk itu kau sampai berbisik-bisik tidak mau Altur mendengarnya." Assena menggeleng-gelengkan kepala, dengan senyum masih terukir di bibirnya.
Jessy hanya tersenyum malu, menunduk saja menyembunyikan pipinya yang sudah memerah karena malu.
"Kenapa kau tidak minta langsung pada Altur?" goda Assena dengan terkekeh.
"Aku tidak berani, aku malu." Jessy masih menunduk saja.
"Baiklah, aku akan memberikannya." Assena merogoh ponselnya dari saku celana jeansnya.
Terdengar Assena menyebutkan beberapa nomor, dan Jessy dengan lincah jari tangannya mengetik di layar ponsel miliknya.
"Terima kasih Assena."
"Aku akan mendukungmu." Goda Assena, seolah ia tahu tujuan Jessy untuk mendekati Altur.
"Hentikan Assena, jangan menggodaku. Aku malu."
"Tidak usah malu, aku ada di belakangmu hehe. Dan lagi harusnya kau minta langsung pada Altur, dia itu baik. Pasti dengan senang hati memberikan nomor ponselnya pada gadis cantik sepertimu." Assena tidak henti menggoda Jessy yang kini sudah tidak bisa menyembunyikan pipinya yang sudah merah merona.
"Kau ini. Aku pergi dulu ya.. Sekali lagi terima kasih" Jessy tersenyum lalu berbalik badan dan sempat menoleh juga pada Altur. Lalu langkah kakinya yang cepat membuat ia dengan cepat sudah menjauh. Assena hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Lalu berjalan menuju Altur.
"Apa yang Jessy katakan?" tanya Altur saat Assena sudah mendekat.
"Kau yakin ingin tahu? tapi sepertinya kau akan segera tahu jika Jessy sudah menghubungimu."
"Menghubungiku? apa maksudnya?" Altur terheran-heran.
"Iya, Jessy baru saja meminta nomor ponselmu padaku." Assena tersenyum melirik Altur.
"Dan kau memberikannya?" tanya Altur.
"Tentu saja, sepertinya dia menyukaimu."
Altur hanya mematung saja, mendengar itu. Butuh waktu untuk ia mencerna kata-kata yang Assena ucapkan itu.
"Kau mau pulang atau tidak?" Teriak Assena menurunkan kaca mobil, ternyata dia sudah duduk di dalam mobil.
Seolah tersadarkan, Altur celingak-celinguk melirik kanan kiri, menyadari Assena sudah tidak ada. Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil, dan mobil yang membawa Altur dan Assena pun keluar dari area kampus dan melesat memasuki jalanan.
__ADS_1