
Cekiiit... suara sepede motor berhenti tepat di depan mereka.
Sontak Assena dan Jasmine menoleh bersamaan. Kerutan terlihat di dahi mereka.
Membuka helm berwarna merah yang senada dengan motor sport yang dikendarai.
"Hai.." Sapa seseorang yang berada di atas motor itu, dengan senyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Petter!!" Ucap Assena dan Jasmine bersamaan.
Ya siapa lagi kalau bukan si Petter.
"Ahaha ternyata aku terkenal juga yah, baru buka helm kalian sudah tahu kalau ini aku." Ucapnya bangga.
"Hey aku kan memang sudah mengenalmu dasar aneh." Gerutu Jasmine.
"Ah dan siapa kau? Aku tidak mengenalmu." Jawab Petter santai pura-pura tak kenal.
"Dasar kau bocah tengik!" Jasmine menghampiri hendak memukul.
"Tunggu! Tunggu dulu, sekarang aku ingat kau itu Jasmine kan temanku yang cantik itu?" Ucap Petter mengangkat kedua telapak tangannya karena takut dipukul.
"Baru tahu kau yah!" Jasmine berkacak pinggang.
"Ngomong-ngomong tumben sekali kalian belum pulang?" Tanya Petter melirik Assena yang sedari tadi hanya diam.
Yaa Assena terdiam terkesima melihat tingkah kedua temannya ini. Yang sama-sama bertingkah konyol.
"Aku dan Sena sedang menunggu." Jawab Jasmine.
"Tumen sekali telat." Petter masih melirik Assena.
"Iya. Padahal kami mau pergi berbelanja." Jasmine lagi yang menjawab.
"Berbelanja?" Dahi Petter mengkerut heran.
"Iya untuk persiapan acara pesta ulang tahun Alvin nanti malam, kami harus membeli gaun yang baru dan bagus." Jelas Jasmine.
"Oh kalian juga akan datang yah." Petter mangut-mangut.
Assena sedari tadi hanya diam, mendengarkan percakapan kedua temannya. Sesekali melirik ke jalan mencari-cari yang di tunggu.
"Apa aku boleh ikut? Sepertinya menyenangkan menguntit gadi-gadis yang sedang berbelanja." Ucap Peter menatap dua gadis di depan nya silih berganti. Berharap mereka mengizinkannya untuk ikut.
"Yang benar saja?" Kini Assena menimpal karena terkejut.
Mana ada, mau belanja harus dikuti laki-laki. Inikan acara perempuan.
"Memangnya kenapa? Aku bisa jadi bodyguard. Supaya tidak akan ada yang berani macam-macam pada kalian." Ucap Petter merasa ada alasan yang mendukung.
"Bodyguard?" Dengus Jasmine. "Kau saja badannya kerempeng, tidak berotot sama sekali." Ledeknya.
"Tapi apa ada gunanya jika kau ikut?" Jasmin nampak berpikir.
"Ah iya kau kan laki-laki, nanti kau bisa menilai mana gaun yang cocok untukku nanti." Ucapnya dengan heboh.
Assena hanya memutar kedua bola matanya, mendengar ide bodoh Jasmine.
"Wah kau pintar sekali yah!" Petter tak kalah heboh. langsung turun dari motor dan berhambur mendekati Jasmine.
Kini Jasmine dan Petter sudah memegang tangan satu sama lain sambil meloncat-loncar berputar.
Ya tuhan, begitulah jika mereka bersatu.
Lagi, Assena hanya mampu memutar kedua bola matanya. Melihat yang ada di depannya bertingkah seperti anak kecil.
Tin...Tin suara klakson mobil yang ditunggu sudah datang.
__ADS_1
Menghentikan aktivitas Petter dan Jasmine.
Pak Sur terburu keluar "Maaf nona bapak terlambat"
"Tidak apa-apa, aku dan temanku ingin pergi berbelnja dulu. Bisakah pak Sur mengantar ke pusat perbelanjaan terdekat?".
Seketika pak Sur tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak seperti ragu.
"Emm anu nona...".
"Tidak perlu khawatir, aku sudah mengubungi ayah. Dia sudah mengizinkanku." Ucap Assena seolah tahu penyebab keraguan pak Sur.
"Baiklah kalau begitu". Ucap pak Sur merasa lega.
Berjalan menghampiri mobil membuka pintu "Silahkan nona!".
Assena melirik Jasmine, isyarat untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Jasmine yang menyadari langsung ikut membuntut di belakang, dan menoleh pada Petter yang masih diam berdiri. "Hey kau mau ikut atau tidak?".
Membuat Assena yang hendak masuk, ikut menoleh ke arah Petter.
"Tentu saja aku akan ikut." Langsung bergegas menghampiri sepeda motornya.
**
Di perjalanan, Petter nampak membuntuti mobil mewah yang ditumpangi Assena dan Jasmine.
Yang di dalam mobil sesekali melirik ke belakang untuk melihat Petter.
"Kenapa juga dia harus ikut, kau ini ada-ada saja." Gerutu Assena.
"Biarkan saja, dia akan berguna untuk membantu kita memilih gaun yang bagus, yang terlihat indah dimata laki-laki. Dia kan laki-laki." Jawab Jasmine bersemangat.
"Terserah kau saja!" Dengus sebal Assena.
Jalanan nampak lenggang, memungkinkan akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan.
**
30 menit, sampailah di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota.
Mobil terpakir di halaman parkir yang luas, disusul sepeda motor milik Petter.
**
Kini Assena, Jasmine dan Peteer berkeliling, mencari toko yang menjual gaun yang bagus.
Sedang pak Sur menunggu di dalam mobil.
"Disini ada salah satu butik, langganan keluargaku, ayo ikuti aku!" Ajak Petter berjalan medahului mereka.
Assena dan Jasmine hanya mengikuti.
Setelah ditemui butik yang di maksud. Mereka bergegas masuk.
"Selamat datang." Sapa salah satu pelayan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan itu melirik Petter yang dirasa tidak asing.
"Kami sedang mencari gaun untuk pesta." Ucap Jasmine.
"Mari ikuti saya nona!" Ucap pelayan itu dengan tersenyum ramah.
Mata Jasmine membulat dengan sempurna, ia terkagum banyak gaun yang indah, beragam warna dan model.
Ia langsung menghambur menghampiri, menyentuhnya satu per satu. Pindah ke sisi satu ke sisi lainnya.
__ADS_1
Assena hanya berdiri sambil melihat-lihat.
"Apa kau mau tetap berdiri di situ?" Ucap Petter melihat Assena yang tidak bergerak untuk memilih gaun.
Assena hanya menoleh.
"Ayo aku akan bantu mencarikan!" Ajak Petter menggandeng tangan Assena.
Assena terhentak, mengikuti langkah Petter dengan terus menatap tangannya yang digenggam erat oleh Petter.
Deg. Ini lagi, yang membuat jantung Assena berdegub kencang.
Aaaa dia ini kenapa yah?
"Yang ini bagus." Ucap Petter menunjuk gaun berwarna merah.
Seketika Assena mengangkat wajahnya, memperhatikan gaun yang ditunjuk.
"Tidak, aku tidak suka." Jawab Assena, kini memilih berbalik badan melepaskan gegaman tangannya dari Petter.
Lebih baik menghindar, jika berdekatan seperti itu membuat jantungnya mau meledak saja.
Di sisi lain ruangan ini terdengar hebohnya Jasmine, yang sedang memilih gaun.
Assena terus berjalan, melihat-lihat gaun, sedang Petter membuntut dibelakang.
Langkahnya terhenti, tatkala melihat gaun yang menarik perhatiannya.
Gaun dress berwarna baby pink, selutut, dari pinggang kebawah terlihat mengembang. Simple juga untuk remaja seusia Assena.
Ia memperhatikan keseluruhan gaun itu dari atas sampai bawah, depan dan belakang. Ia Sentuh setiap bagian gaun itu.
"Itu juga bagus dan cantik, pasti cocok sekali kalau kau memakainya." Ujar Petter. Membuat Assena menoleh.
Merona seketika pipinya, mendengar itu.
"Bagaimana menurut kalian?" Seru Jasmine keluar dari ruang ganti memakai gaun berwarna biru muda.
Assena dan Petter menoleh bersamaan.
"Bagus, cocok sekali." Assena memuji.
"Wah, benarkah?" Jasmine nampak bahagia berputar-putar. Bergaya dengan gaunnya.
"Hey kau Petter, bagaimana menurutmu? kau kan laki-laki, dimata mu apa ini bagus untukku?" tanya Jasmine pada Petter.
"Itu cocok sekali, kau terlihat cantik sekali. Sampai-sampai tadi aku pikir kau bidadari turun dari langit." Ucap dengan ekspresi kagum yang di buat-buat. Petter sengaja berlebihan.
Assena sontak, menahan tawanya dengan menutup mulut dengan telapak tangan, mendengar perkataan Petter itu.
"Kau bisa saja." Jasmine malu-malu.
**
Sampai satu jam lamanya, Assena dan Petter harus menyaksikan Jasmin yang hampir sepuluh kali mencoba gaun. Dengan model dan warna yang berbeda-beda.
Dan sampai pada akhirnya hanya gaun yang pertama berwarna biru muda yang Jasmine pilih.
Membuat Assena dan Petter Tepak jidat.
Bosan dan sedikit kesal menuruti kemauan Jasmine yang harus memberi penilaian di setiap gaun yang ia coba.
Assena sudah memilih satu gaun yang berwarna baby pink tadi.
Tapi tidak di coba terlebih dahulu, ia merasa sedikit malu. Karena ada Petter yang harus ikut melihat nanti.
Meski sudah di paksa oleh Jasmine dan Petter. Tetap ia tidak mau mencobanya.
__ADS_1
Sungguh ini kali pertama bagi Petter menguntit para gadis.