
Bangun tidur pagi-pagi
Mata merem kejedot kaca
Haihai aku balik lagi
Selamat membacaaaa...😙
***
Mobil yang membawa mereka bertiga sudah melaju keluar area rumah Assena. Dengan Altur duduk di kursi kemudi, sementara Assena dan Yumna duduk di kursi belakang.
Sepanjang pejalanan Yumna sibuk dengan ponselnya, sedang Assena hanya melirik kaca mobil memperhatikan jalanan. Isi kepalanya masih di penuhi dengan bayangan keadaan ayahnya. Meski keadaan ayahnya sudah membaik, tapi mengetahui ayahnya tidak bisa sembuh dari penyakitnya membuat hati Assena diselimuti kekhawatiran yang luar biasa. Rasa takut begitu menghantui, takut bahwa ayahnya akan pergi meninggalkannya.
Tanpa ia sadara sepasang mata sedari tadi memperhatikannya, dari balik kaca spion.
Seketika Assena mengingat sesuatu. Ia mengubah arah pandangnya pada Altur yang dedang mengemudi.
"Altur.. Apa Jessy sudah menghubungimu?" tanyanya.
"Dia sudah menghubungi sejak setelah kau memberikan nomor ponselku padanya." Jawab Altur sembari melirik kaca spion untuk kesekian kalinya.
"Lalu bagaimana?" tanya Assena lagi.
"Bagaimana apanya nona?" Altur tidak mengerti.
"Hubungan kau dengan Jessy?"
Kenapa Assena jadi ingin tahu urusan orang lain? Tidak seperti dirinya yang biasa. Yang cuek dan acuh. Yang selalu bersikap masa bodo.
"Seperti biasa saja. Sabtu malam nanti dia juga mengajakku untuk keluar bersama." Altur berucap dengan masih menyempatkan melirik kaca spion.
"Wah.. Secepat itu ya.." timpal Assena antusias dengan tersenyum lebar.
"Apanya?" Altur masih tidak mengerti.
"Kedekatan kalian berdua, apa lagi." timpal Assena lagi.
"Dia benar-benar bersemangat sekali menyangkut kedekatanku dengan Jessy. Huh aku sendiri tidak yakin." Altur membatin.
"Jessy yang mana yang kalian bicarakan?" Yumna menyuarakan pertanyaan, ia yang mendengar percakapan antara Assena dan Altur pun menimbulkan rasa keingin tahuannya.
"Jessy yang akhir-akhir ini selalu ikut berkumpul bersama kita." Jawab Assena.
"Oh.. Jessy yang itu.." Yumna mangut-mangut.
Tak lama kemudian mobil sudah memasuki area kampus, mobil berhenti tepatnya di tempat parkir kampus.
__ADS_1
Mereka pun berjalan beriringan, ketika itu mereka berpapasan dengan Rolan dan gerombolannya.
Seketika mereka menghentikan langkahnya, saat tiba-tiba Rolan dan gerombolannya yang sekiranya berjumlah sepuluh orang itu berhenti di depan mereka.
Suasana terasa menegangkan bagi Assena. Bagaimana tidak? kejadian satu minggu ke belakang masih ia ingat dengan jelas. Kala Rolan menghadangnya. Yang ia takutkan kejadian itu akan terulang lagi. Mengingat atas kejadian itu Rolan pasti masih menyimpan dendam.
Pertama yang Rolan lihat itu Assena, lalu kemudian tatapan tajam dilayangkan pada Altur.
Altur dengan wajah santainya hanya mengangkat kedua halisnya, seolah menunggu apa yang akan dilakukan Rolan.
"Mau ku jungkir balikan lagi kau hah?" begitu batin Altur.
Sudah biasa terjadi, orang yang merasa berkuasa dan merasa senior. Ambisi untuk ditakuti oleh orang lain. Merekrut orang-orang baru untuk jadi anggota atau pengikut semacamnya. Mereka hanya memperlihatkan kesombongan saja, membuat ulah, mencari masalah, senang menebar keonaran. Untuk masalah kekerasan mereka hanya berani main keroyokan saja. Begitulah penilain Altur mengenai orang-orang seperti Rolan ini.
Cukup lama Rolan menatap tajam Altur, ada dendam dalam tatapannya. kedua bola matanya mungkin akan terlihat mengeluarkan bara api (jika dalam sebuah kartun hehe. Kemudian Rolan nampak menarik sebelah sudut bibirnya keatas, ia tersenyum sinis. Lalu melengganng pergi di ikuti oleh teman-temannya.
Assena bernapas lega sekali, kala Rolan yang serasa menjadi ancaman telah pergi.
"Dia itu kakaknya Jessy bukan? yang kalian ceritakan?" tanya Yumna.
"Ya, memang begitu." Jawab Assena.
"Ku pikir dia akan mencari masalah lagi." Altur mendengus.
"Apa kau takut?" ledek Yumna.
"Tidak, malah aku ingin menantangnya. Tapi aku enggan untuk memulai. Karena aku tidak akan pernah mencari masalah terlebih dahulu, tapi jika ada yang mencari masalah denganku aku sangat senang meladeninya. Apa lagi ini menyangku nona Assena." Ucap Altur melirik Yumna.
Mereka pun harus berpisah, karena Yumna berbeda gedung dengan Altur dan Assena.
"Pulang nanti, tunggu aku. Bye.." Yumna melambaikan tangannya, saat ia harus berjalan ke arah yang berbeda.
Assena pun membalas melambaikan tangan dengan tersenyum.
Kini hanya Assena dan Altur berjalan beriringan.
Dari kejauhan pandangan mata mereka sudah bisa melihat Jessy yang berjalan ke arah mereka.
"Hai Assena.." Sapa Jessy sedikit mengangkat tangannya di depan dadanya untuk melambai.
Lalu melirik Altur, "Hai Altur.." Sedikit malu-malu dan menunduk.
"Hai Jessy." Hanya Assena yang terdengar membalas sapaan tersebut.
Tiba-tiba seseorang berlari dengan cepat menabrak Jessy.
Dengan cepat Altur menangkap tubuh Jessy yang hampir terjatuh itu.
__ADS_1
"Maaf.. Maaf.. Aku sedang buru-buru." Terdengar teriakan orang yang baru saja menabrak Jessy, yang sedikit menoleh saja dengan terus berlari.
Kini wajah Altur dengan wajah Jessy berhadapan dengan jarak yang dekat.
Kedua bola mata Jessy menatap wajah Altur tanpa berkedip, bersamaan dengan itu detak jantung Jessy berdetak tak karuan.
"Kau tidak apa-apa?" Pertanyaan Altur seketika menyadarkan Jessy. Ia langsung terburu-buru menghindar dari dekapan tangan Altur yang menahannya untuk tidak terjatuh.
"A-aku tidak apa-apa, terimakasih." Jawab Jessy menundukan wajahnya menyembunyikan pipinya yang merah merona.
"Aku harus pergi, kakakku pasti mencariku." Dengan cepat Jessy berbalik badan dan pergi dengan langkah cepat.
Altur dan Assena saling melempar pandang, saat setelah Jessy pergi.
"Dia itu manis sekali, apa lagi terlihat salah tingkah saat kau tadi menangkapnya." Assena terkekeh mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Aku heran, kenapa kakak beradik seperti Rolan dan Jessy itu berbeda 180°. Kakaknya sombong dan arogan, sedang adiknya bisa semanis itu." Altur tersenyum geli mengeleng-gelang kepala.
"Ehm.. Kau baru sadar kalau dia itu manis." Goda Assena.
Altur jadi salah tingkah, ia merasa sudah terjerembab dalam ucapannya sendiri.
Assena benar-benar banyak berubah, ia lebih ceria, banyak bicara. Berbeda dengan ia yang dulu.
Ternyata seiring bejalannya waktu, bisa merubah seseorang.
--
Jam kuliah sudah selesai. Sekarang pukul dua siang, Assena dan Altur sudah berada di dalam mobil. Mereka masih di area parkir kampus, karena sedang menunggu Yumna.
Cukup lama, seseorang datang membuka pintu mobil. Dan itu adalah Yumna.
Altur pun menjalankan mobil, melaju keluar dari kampus dan melesat memasuki jalanan.
"Aku akan menginap lagi di rumahmu." Ucap Yumna.
"Benarkah?" Assena senang mendengarnya.
Yumna mengangguk, "Dan katanya ayahku juga sekarang ada di rumahmu." sambungnya.
"Paman Rey pasti sedang menjenguk ayah." Ucap Assena.
"Kau benar. Dan bukan hanya itu ayahku juga sengaja membawakan pakaian untukku, karena tadi aku menghubungi ayahku untuk membawakannya." tutur Yumna yang terlihat senang.
"Apa kau kapok memakai bajuku?" tanya Assena.
"Tidak, tapi lebih tepatnya iya." Lalu terdengar tawa renyah Yumna.
__ADS_1
"Kau ini.. Kenapa aku tadi membiarkanmu memakai bajuku, padahal biarkan saja kau tidak memakai baju." Ucap Assena yang ikut tertawa.
Altur yang hanya menjadi pendengar hanya geleng-geleng kepala saja, dengan sesekali melirik kaca spion untuk melihat Assena dan Yumna. Bukan, lebih tepatnya melihat Assena.