Seberkas Cahaya

Seberkas Cahaya
Ciuman pertama


__ADS_3

**


Kini Assena dan Petter tengah duduk dibawah pohon rindang, di suguhi pemandangan indah yang menyejukan mata, sebuah danau terbentang dihadapan mereka. Dengan warna air biru kehijauan itu, juga hijau lumut menambah warna, begitu indah memenuhi pandangan mata mereka.


Petter merasa senang mengetahui bahwa Assena sangat-sangat senang di bawa ke tempat seperti ini. senyum kepuasan dan tatapan takjub dari Assena menjadi pemandangan yang tidak membosankan bagi Petter.


Hanya 2 botol air mineral, juga makanan ringan sebagai cemilan menemani mereka menikmati pemandangan indah.


Angin semilir begitu menyejukan, menyentuh lembut diwajah, menyapu rambut hingga teruntai-untai karenanya.


Meski ini tengah hari, dimana matahari dengan gagahnya bersinar di atas langit sana memancarkan hawa panas. Tapi berbeda di tempat mereka berada, hawa panas seoalah tidak terasa, terhalang hawa dingin yang melingkupi. Karena banyaknya pepohonan begitu segar udaranya juga air danau yang jernih menyejukan.


"Kau menyukainya??" Tanya Petter melirik Assena yang sedang menikmati pemandangan.


Assena mengangguk mengulas senyum, rasanya ia ingin berterima kasih pada Petter yang telah membawanya ke tempat indah seperti ini. Mengingat Assena hanya anak rumahan yang jarang keluar rumah, selain bersekolah dan mengunjungi makam ibunya.


Petter tersenyum. "Ini tempat pavoriteku, aku sering kemari. Hanya sekedar untuk menenangkan hatiku, juga membuang kegundahan."


"Kau tahu, kau orang pertama yang ku ajak ke tempat ini." Sambung Petter menatap lurus ke depan.


Seketika Assena menoleh menatap wajah Petter, kata-kata yang keluar dari mulut Petter itu seperti mengandung makna bahwa Assena istimewa bisa datang ke tempat ini bersama Petter.


"Benarkah?" kata itu yang hanya lolos dari bibir Assena.


Petter hanya menggangguk dan tersenyum.


Assena masih menatap wajah itu, mengingatkan kembali apa yang ada di wajah Petter, yang terlihat memar di bagian pipinya itu.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Assena.


"Ada apa dengan wajahku, apa aku terlihat semakin tampan?" jawab Petter tersenyum lebar berpura-pura tidak tahu dengan menyelipkan canda.


Assena mencebik sebal. "Wajahmu memar, apa yang terjadi?".


"Apa? memar? ah bahkan aku tiak tahu jika wajahku memar." Ucap Petter nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya dengan menggaruk belakang kepala yang tidak terasa gatal itu.


Petter tidak ingin menceritakannya, ia rasa bahwa Assena tidak boleh tahu cerita di balik penyebab pipinya memar itu.


Petter mengubah arah pandangannya, kini menatap Assena, yang juga sama menatapnya.


Pandangan mata mereka bertemu, memaku dan mengunci.


Seolah setiap mata bertemu mata ada ungkapan di hati mereka, dan tentang isi ungkapannya hanya pemilik hati yang tahu.

__ADS_1


Seperti pandang mata yang mengunci, seperti menarik diri untuk mendekat dan ingin memiliki.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Petter.


Deg, entah kenapa Assena merasa apa yang akan di ucapkan Petter itu, menyangkut hati dan rasa.


Entah terlalu sok tahu, atau ini hanya naluri hati.


Seketika membuat Assena salah tingkah, memutus tatapannya dengan mengubah pandangan ke arah danau.


Itu lebih baik, ketimbang menatap si pemilik mata yang akan membuat wajahnya merah merona saja.


Jantung Assena sudah berdetak kencang tidak karuan, *sungguh jika Petter bisa mendengarnya, itu akan sangat memalukan.


Dan siapa yang tahu, bahwa sebenarnya detak jantung Petter pun tak kalah berdebar lebih mengerikan*.


"Apa yang ingin kau katakan?" ucap Assena masih menatap lurus ke arah danau, ia tidak berani lagi menatap wajah Petter.


Petter mengubah arah tubuhnya untuk menghadap pada gadis itu, helaan napas terdengar, sepertinya ia sedang mengumpulkan keberanian.


Perlahan tangan Petter terulur menyentuh tangan Assena dan membawa pada gengamannya.


Assena yang mau tak mau kini melirik ke bawah dimana tangannya ada dalam genggaman Petter, lalu menaikan pandangannya menatap wajah yang ada di hadapannya. Tidak ada dorongan dalam dirinya untuk menolak itu, tak dapat dipungkiri bahwa kedekatannya memang tarasa nyaman, meski kadang harus begelut dengan detak jantung yang berdebar karenanya. Meski belum bisa mengartikan tentang semuanya.


Banyak pertanyaan dan tebakan dalam benaknya, apa yang akan Petter katakan sebenarnya.


"Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku, aku tidak tahu tentang rasa ini. Rasa ingin selalu memperhatikanmu, rasa ingin mendekatimu, bahkan ada rasa ingin memilikimu. Sampai saat ini aku bisa dekat denganmu hanya sebatas teman saja aku bersyukur akan hal itu."


"Aku berusaha menahan untuk mengungkapkan ini, aku takut jika aku mengatakan ini menghancurkan pertemanan kita, aku taku kau malah membenci dan menjauhiku. Aku takut menghancur kedekatan kita meski hanya sebatas teman ini. Tapi apa kau tahu? aku mengharapkan lebih dari teman. Mungkin selamanya aku akan menyimpan semuanya, tapi jika aku harus pergi aku ingin mengatakan ini. Setidaknya kau tahu tentang rasaku ke padamu. Aku ingin meninggalkan rasa ini sebelum aku pergi, hingga suatu saat aku kembali menjemput rasa yang tertinggal itu."


"Pergi?" kata itu yang hanya keluar dari bibir Assena.


"Sepertinya aku sudah bisa mengartikan persaanku selama ini, bahwa aku menyukaimu." Sambung Petter dengan masih menatap kedua manik gadis yang ada dihadapannya.


"Menyukaiku?" Assena hanya membeo saja, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Dengan ketekejutan pernyataan Petter itu.


Petter mengangguk pelan dan tersenyum. "Iya aku menyukaimu, aku bisa menyebutkan bahwa kau adalah cinta pertamaku. Kau gadis pertama yang menumbuhkan rasa aneh ini, rasa ingin memilikimu."


Mendengar itu Assena hanya mampu menatap kedua bola mata Petter, dari pandangan mata Petter, Assena tahu tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku, bahkan aku ragu jika kau akan memiliki rasa yang sama seperti yang aku miliki terhadapmu. Yang aku tahu kau hanya menganggapku teman biasa yang selalu menyebalkan bukan?" ucap Petter di akhiri senyuman, seperti menertawakan kenyataan bahwa dirinya hanya laki-laki menyebalkan.


"Aku hanya ingin kau tahu, aku menyukaimu. Jika aku harus pergi dalam waktu yang lama, kau harus tahu, bahwa aku akan kembali dengan rasa yang sama."

__ADS_1


Kini Petter mengangkat kedua tangannya menangkup kedua sisi pipi Assena.


"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku sudah mengatakan semuanya, aku hanya ingin meninggalkan jejak sebelum aku pergi."


"Kau akan pergi kemana?" Assena tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Ada rasa yang tidak menyenangkan kala mendengar Petter akan pergi. Ada rasa takut dalam hatinya bahwa ucapan Petter itu benar.


Tapi Petter tidak menjawab hanya tersenyum semakin menatap dalam kedua bola mata milik Assena.


"Petter!!" ucap Assena seoalah memaksa meminta jawaban.


Petter menggeleng pelan. "Aku hanya bisa berjanji aku akan kembali menjemput rasa yang kutinggalkan untukmu."


Assena semakin merasa bingung, ia semakin merasa bahwa Petter benar-benar akan pergi. Tapi kenapa? begitu pertanyaan yang ada alam benaknya saat ini.


Apa yang harus Assena katakan saat ini, ia bingung. Apa ia harus mengatakan tentang perasaannya kepada Petter, meski ia sendiri tidak bisa mengartikan rasa itu.


"Petter..." Lirih Assena pelan.


Petter hanya menatap Assena seolah menunggu kelanjutan apa yang ingin Assena katakan, dengan masih mempertahankan tangkupan telapak tangannya dipipi gadis itu.


Assena nampak ragu untuk mengatakannya, butuh waktu untuk berucap kembali. "Kau laki-laki pertama yang dekat denganku, aku tidak bisa mengartikan perasaanku kepadamu. Apa lagi aku tidak tahu rasa jatuh cinta itu seperti apa."


Hening mengambil alih diantara mereka berdua, sebelum Assena melanjutkan lagi.


"Yang aku rasa setiap dekat denganmu, jantungku berdebar hebat. Tapi di sisi lain ada rasa nyaman saat bersamaan. kedekatan itu selalu teringat dan ingin selalu mengingatnya."


Petter tertegun mendengar apa yang keluar dari bibir gadis yang ada di depannya itu, ia tidak menyangka Assena mengatakan itu. Senyumnya seketika mengembang seolah ia mendapatkan jawaban yang sangat tidak diduga juga sangat ia inginkan tentunya.


"Apa kau bersedia untuk menungguku kembali?" tanya Petter.


Butuh waktu untuk terdengar sebuah jawaban, karena Assena hanya diam terpaku nampak berpikir.


"Entahlah aku tidak tahu, tapi saat ini ada rasa yang mendorongku untuk mengatakan IYA." Assena tersenyum, dengan rasa yang masih bergelut dalam dirinya. Apa benar ia sudah mengatakan itu. Ia malu untuk mengakui itu, tapi entah dari mana ada dorongan untuk mengatakannya.


Senyum terukir dibibir Petter, perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Assena.


Kini wajah yang ada dalam tangkupan telapak itu semakin dekat dan dekat. Jaraknya semakin menipis seiring Petter memajukan wajahnya secara perlahan.


Assena hanya diam terpaku, menatap kedua manik yang semakin mendekat. Degub jantungnya yang semakin berdetak hebat, ia hanya menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


Perlahan mata Petter terpejam, bibirnya telah menyentuh bibir Assena.


Disela pertautan antara kedua bibir itu. "Kau telah mencuri ciuman pertamaku." Batin Petter.

__ADS_1


Dan mungkin Assena juga mengatakan hal yang sama dalam hatinya.


Juga lantunan lagu dari SETIA BAND berjudyl PENGORBANAN terdengar menemani, yang entah kapan lagu itu terputar dari ponsel milik Petter.


__ADS_2